"Stanislav"

Stanislav, terdengar seperti itu namanya ketika ia diperkenalkan.   “Stanislav” sudah tua namun masih energik dan penuh semangat.  Ia melakukan tugasnya sebagai seorang pekerja sosial (Social Worker) di sebuah pusat penampungan di Cesky Tesin.  Selain itu, ia juga mengerjakan tugas lain yaitu sebagai motivator, pemain musik dan pembantu pastor dalam sebuah persekutuan kharismatik di kota ini.
Bersamanya, saya makan siang di sebuah rumah makan yang langganannya kebanyakan adalah para pekerja kasar, seperti tukang bangunan dan pengemudi kendaraan berat.  Disini saya mencicipi makanan bernama Gulas yang terdiri dari kari daging sapi dan 5 potong roti beserta sup yang rasanya aneh.
Saat pulang makan, kami terhenti sejenak di sebuah titik dekat rel kereta api dimana disitu ada dua orang yang sedang duduk di sebuah tempat yang dijadikan lokasi istirahat darurat.  Mereka adalah “homeless people” di Eropa Timur, yang setiap hari tidur di Night Shelter atau tempat penampungan di malam hari.   Setelah itu, kami kembali ke tempat penampungan.
Ada perbedaan antara homeless people di Eropa dan Indonesia.  Suatu sistem layanan sosial disini memberikan mereka tunjangan sosial bulanan yang jumlahnya cukup untuk membeli keperluan makanan sehari-hari.  Namun demikian, Indonesia juga tidak kalah hebat, contohnya Jakarta juga punya program yang memberikan fasilitas rumah susun sewa kepada kalangan yang belum punya rumah.
Ada beberapa hal yang saya renungkan hari ini yaitu:
1.  Setiap orang harus mengambil peran sebagai penyeimbang di dalam lingkungan sosial melalui pekerjaan, pelayanan ataupun uluran tangan untuk membantu sesama  sesuai kebutuhan mereka.
2.  Tuhan bekerja di seluruh dunia sesuai dengan rencana-Nya yang indah.  Bukan hanya di Indonesia ada kegerakan kebangunan rohani, namun dimana-mana Tuhan juga bekerja dengan kuasa-Nya dalam pribadi-pribadi yang mencari Dia.
3. Kita harus memperlakukan orang lain sebagai manusia yang seutuhnya yaitu dengan penuh rasa hormat dan penghargaan akan keberadaan dan dirinya, walaupun orang itu nampak miskin dan kotor serta tidak layak.
Kembali ke awal cerita, sebenarnya apa itu stanislav?  Stanislav mengandung arti kemuliaan perkemahan.  Sebuah nama yang bagus, dan di dalamnya mengandung makna mengenai menjadi alat kemuliaan Tuhan. Stanislav benar-benar telah menjadi pribadi yang membawa kemuliaan Tuhan di tempat penampungan itu.  Demikianlah kita juga harus dapat menjadi kemah kemuliaan-Nya.  Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” (Galatia 5:14)
“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” (1 Petrus 4:10)

 

Minggu Yang "Beristirahat"

polandiaHari Minggu lalu, saya menyempatkan diri pergi ke daerah perbatasan menuju ke area Polandia, di sebuah kota kecil bernama Cyiezin, berseberangan dengan kota Cesky Tesin pada bagian Republik Ceko.  Kotanya nampak indah dan bangunan-bangunan bersejarahnya begitu bagus terpelihara sampai sekarang.  Taman dan lapangan atau mungkin kalau bisa disebut alun-alunnya begitu luar biasa nampaknya.
Namun, ada satu hal yang juga nampak begitu menarik yaitu banyak sekali toko dan layanan yang tutup pada hari Minggu. Seorang teman dari Hungaria mengatakan bahwa di negaranya ada suatu aturan yang melarang toko dan kantor buka pada sabtu dan minggu.  Dan ada sanksi bagi yang melanggar, kecuali untuk beberapa jenis layanan publik.
Melihat itu semua dan mendengar cerita teman, saya merenungkan betapa taatnya mereka terhadap aturan tersebut walaupun mereka sebagian besar bukanlah orang yang beriman pada Kristus. Namun mereka melakukan hal itu sebagai suatu bentuk ketaatan, dengan tidak mempedulikan keuntungan pribadi.
Firman Tuhan berbicara soal lamanya bekerja bagi kita.  Tertulis perintah-Nya agar enam hari lamanya kita bekerja dan pada hari yang ketujuh harus beristirahat.  Ini merupakan suatu aturan yang harus ditaati dan menjadi prinsip bagi kita. Bila Tuhan menyuruh beristirahat satu hari, maka haruslah kita taati dengan sungguh-sungguh karena ada maksud Tuhan yang indah dan baik di dalam setiap perintah-Nya.  Mari lepaskanlah satu hari yang biasanya kita pakai untuk bekerja atau bisnis dan memulai suatu gaya hidup baru yang sesuai dengan kehendak-Nya.
Bacaan Imamat 23:3

"Anjing" Yang Tak Mau Pergi

anjingBeberapa hari ini, saya tidak sempat menulis apalagi mengupload renungan, namun disitulah saya yakin merupakan kesempatan untuk kita semua membuat suatu perenungan secara pribadi dan mengenali identitas diri kita di hadapan Tuhan.  Bagaimanakah saya selama ini ? Apakah saya sudah hidup benar di hadapan-Nya? Apakah tujuan hidup saya? Dan berbagai perenungan lainnya.
Dalam hidup kita yang kita jalani di dunia ini, kita mempunyai suatu tanggung jawab pelayanan.  Ada dua macam pelayanan yang harus kita lakukan yaitu:
1. Pelayanan kepada Allah
2. Pelayanan kepada sesama.
Dua macam pelayanan ini dinyatakan secara jelas dalam perkataan  Tuhan Yesus tentang kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama.  Kasih berhubungan erat dengan pelayanan.  Kasih tanpa pelayanan bukanlah kasih, dan pelayanan yang tidak didasarkan kasih bukanlah sebuah pelayanan.
Berperan sebagai pelayan haruslah menjadi seperti orang yang berdiri di tengah-tengah yang berfungsi sebagai jembatan.  Peranannya dalam posisi tersebut adalah menjadi pendoa bagi orang-orang yang membutuhkan dan pendoa yang berdiri di atas kehendak Allah.
Markus pasal 15:27 tertulis demikian: “Kata perempuan itu: “Benar, Tuhan.  Namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”   Jawaban ini keluar dari mulut seorang ibu yang sedang berjuang untuk memohon kesembuhan dari Tuhan Yesus bagi anaknya yang sakit keras.   Pernyataan ibu ini merupakan pernyataan iman yang keluar dari dalam hatinya yang sangat dalam.  Jawaban Tuhan Yesus kepada ibu tersebut dalam ayat ini merupakan suatu  ujian iman yang nampaknya seolah Tuhan menolak untuk menyembuhkan, padahal sebenarnya Tuhan Yesus sedang menguji dan menguatkan hati ibu ini.
Setelah melihat kegigihan ibu tersebut, Tuhan Yesus mengatakan : “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.”
Ada beberapa hal yang dapat kita renungkan dalam kisah ini sehubungan dengan bagaimana menjadi seorang pelayan Tuhan dan sesama:
1. Seorang pelayan Tuhan harus memiliki belas kasihan kepada sesamanya
Dalam peristiwa dalam ayat tersebut, ibu ini begitu berbelas kasihan kepada anaknya.  Dan kasih yang seperti ini haruslah menjadi motivasi kita dalam melayani sesama.
2. Seorang pelayan Tuhan harus memiliki persekutuan erat dengan Tuhan
Apa yang dilakukan ibu ini menggambarkan bagaimana seharusnya seorang pelayan Tuhan memposisikan dirinya dalam sebuah persekutuan yang erat dengan Tuhan.  Ia berbicara selayaknya seorang hamba yang rendah hati dan begitu mengandalkan Tuhan serta percaya penuh kepada-Nya.
3.  Seorang pelayan Tuhan harus gigih dalam berdoa
Ketekunan dan kegigihan ibu ini menjadi teladan yang benar tentang peran seorang pelayan Tuhan dalam mendoakan sesamanya melalui doa syafaat yang benar-benar dilakukan dari hati yaitu penuh kesungguhan dan ketekunan.
4.  Seorang pelayan Tuhan harus merendahkan dirinya senantiasa
Walaupun diumpamakan seperti seekor “anjing”, ibu ini tidak merasa bahwa harga dirinya diinjak-injak.  Namun, ia dengan rendah hati merefleksikan dirinya seperti seekor anjing itu dan mendapatkan suatu perkataan yang mengagumkan yakni bahwa “anjing itu makan dari remah-remah yang jatuh dari meja tuannya”.   Ini tidak akan terjadi bila sang ibu tidak memiliki kerendahan hati.  Di segala situasi sulit, apapun itu, kita harus selalu rendah hati dan mengesampingkan segala ego dan rasa harga diri kita.
Marilah kita menjadi seorang pelayan Tuhan yang setia dan tekun berdoa, memiliki persekutuan dengan Tuhan dan berbelas kasihan serta rendah hati. Amin.

Terpenjara Karena Kristus

Efesus 3 ayat 1 tertulis demikian:
“Itulah sebabnya aku ini, Paulus, orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu orang-orang yang tidak mengenal Allah.”
Paulus adalah seorang rasul yang terpenjara karena Kristus Yesus demi pemberitaan Injil agar orang-orang yang tidak mengenal Allah dapat mengenal-Nya dan memperoleh kasih karunia keselamatan di dalam Kristus melalui iman kepada-Nya.
Ayat ini memberikan suatu makna tentang pengorbanan dan kerelaan untuk menderita bagi Kristus Yesus.  Setiap murid Tuhan yang sejati akan memiliki kerelaan untuk menderita karena kerinduan dan belas kasihan kepada jiwa-jiwa yang belum mengenal Allah.
Kerelaan dan kesediaan untuk mengorbankan diri tercermin dalam sikap hidup rasul Paulus yang dalam segala aspek hidupnya benar-benar memberikan diri bagi pekerjaan Kerajaan Allah.  Seorang pelayan Tuhan tidaklah boleh termotivasi untuk mencari keuntungan dalam mengerjakan panggilan Allah.  Inilah yang dapat kita teladani dari rasul Paulus, bukannya mendapat keuntungan materi namun ia mengorbankan segala-galanya bagi Tuhan.
Apakah motivasi kita mengikut dan melayani Tuhan? Hal ini perlu kita renungkan senantiasa.  Apa yang telah mendorong kita untuk melayani Dia? Apa yang membuat kita bertahan dalam kesetiaan kepada-Nya?
Apakah harta, kedudukan dan kehormatan duniawi?  Ataukah sungguh-sungguh hanya iman dan kasih kepada Allah?
Hari ini kita belajar satu hal untuk kita lakukan dalam kehidupan ini yaitu kerelaan untuk mengorbankan diri dan menderita bagi Kristus demi pekabaran Injil keselamatan. Amin.

Tujuan Keberadaan Manusia

Apakah yang menjadi maksud dan tujuan keberadaan kita di dunia ini?
Tentu pertanyaan ini bisa muncul dalam pikiran kita dan memang merupakan satu pertanyaan krusial yang harus ditemukan jawabannya agar kita memiliki suatu tujuan yang benar dan pasti dalam hidup ini.  Sebab kegagalan untuk memahami tujuan hidup akan membawa kita kepada kegagalan.
Tujuan hidup kita ditentukan dan ditetapkan oleh Allah.  Ada gambaran besar dan kecil akan setiap tujuan itu, maksudnya adalah bahwa ada tujuan jangka panjang dan ada tujuan jangka pendek yang ditetapkan Tuhan.  Sebagai contoh, Tuhan memanggil Abraham untuk keluar dari tempat tinggalnya dan pergi ke suatu negeri yang asing baginya.  Tujuan jangka panjang bagi Abraham adalah agar ia menjadi berkat bagi segala bangsa, menjadi bapa segala bangsa dan bapa orang beriman.   Namun, dalam prosesnya ada tujuan jangka pendek yang juga ditetapkan bagi Abraham agar ia capai, seperti mempunyai anak kandung dari istrinya Sara.  Proses-proses ini dapat membuat kita gagal apabila kita tidak memahami gambaran besar dari tujuan Tuhan bagi kita.
Saya menyadari bahwa mungkin bagi sebagian orang akan terasa sulit untuk mencari tahu apa tujuan hidupnya.  Memang hal itu sulit dan pencarian-pencarian akan tujuan hidup ini akan menyebabkan kita pada akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan bahwa tidak ada tujuan hidup lain yang harus kita capai selain memuliakan nama Tuhan.
Tuhan sudah menetapkan suatu gambaran besar dari seluruh tujuan keberadaan kita yaitu agar Nama-Nya dipermuliakan.  Dipermuliakan dengan cara bagaimana? Ialah dengan cara menjalani hidup ini dengan mentaati kehendak-Nya, memberikan kesaksian akan nama-Nya dan segala perbuatan-Nya yang ajaib, dan memberkati orang lain melalui apa yang Tuhan percayakan kepada kita, apakah itu memotivasi, menguatkan, mendorong, mengajar, memberi, menolong, dan sebagainya sesuai karunia-karunia yang Tuhan berikan.
Saat ini, saya berada di Praha, Republik Ceko, suatu tempat yang jauh dari kampung halaman di Indonesia.  Keberadaan saya disini tentu menjadi suatu perenungan bagi saya secara pribadi tentang tujuan Tuhan yang ia tetapkan dalam hidup saya.  Dan saya menyadari bahwa semuanya ini terjadi untuk mempermuliakan nama Tuhan Yesus Kristus di tempat saya berada.
Teringat saya akan satu ayat yang selama ini terus terngiang dalam hati, sebuah ayat yang ditunjukkan oleh seorang abang PA sewaktu  di kampus dulu.  Ayat yang ketika ia bacakan, sangat menyentuh hati saya ketika itu dan hingga saat ini ayat itu masih terus menjadi suatu firman yang memberikan kesan kuat akan tujuan Tuhan bagi saya secara pribadi.  Ayat itu terdapat di dalam Yesaya 49:6 yang berkata: “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.”
Saya memahami ayat ini sebagai suatu panggilan sorgawi dari Tuhan agar saya menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari Tuhan Yesus sampai ke ujung bumi.  Makna ujung bumi itu sesungguhnya adalah keseluruhan bumi ini mendengar berita keselamatan itu.  Mungkin terdengar begitu bombastis, tapi memang begitulah Tuhan Allah kita, demikianlah sabda firman-NYa.  Dan tentu ayat ini juga tidak hanya berbicara untuk saya, melainkan untuk kita semua, karena kita ini adalah umat pilihan-Nya, umat yang telah ditebus oleh-Nya, dan kita adalah pelita-pelita yang menyala untuk menerangi dunia ini, agar keselamatan yang dari pada Tuhan sampai kepada semua orang.
Jadi, apa tujuan hidup kita?  Mempermuliakan nama Tuhan Yesus Kristus agar nama-Nya, kuasa-Nya, kasih-Nya, dan Anugerah keselamatan yang daripada-Nya sampai ke ujung bumi. Amin.

Pahlawan Yang Gagah Perkasa

Hakim-hakim pasal 6:11, Malaikat Tuhan berkata kepada Gideon: “Tuhan menyertai engkau, hai pahlawan yang gagah perkasa.” Tapi Gideon menjawab,”Ah tuanku, jika Tuhan menyertai kami, mengapa segala masalah ini menimpa kami? Dimanakah perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib?”
Ucapan ini keluar dari mulut Gideon dan mewakili banyak ucapan orang di generasi sekarang ini.  Ketika keadaan sulit melanda, hati manusia seringkali mempertanyakan penyertaan Tuhan dan meragukan akan kuasa-Nya.
Dalam kesesakan dan penderitaan, sadarilah bahwa ada Tuhan yang selalu beserta.  Keadaan sulit atau penyakit bahkan penderitaan tidak berarti bahwa Tuhan meninggalkan.
TUHAN berkata kepada Gideon bahwa ia adalah pahlawan yang gagah perkasa. Hal ini nampak begitu kontradiktif dengan kenyataan yang ada. Namun, disinilah letak dan rahasia hidup yang berkemenangan di dalam Tuhan.  Sebagai orang beriman kita harus selalu sadar akan penyertaan Tuhan di segala keadaan dan bahwa Tuhan akan selalu menyediakan kemenangan atas masalah.  Kemenangan pertama harus terjadi di dalam hati dan pikiran kita.  Arahkan hati dan pikiran kita kepada Tuhan Yesus dan percayalah akan kuasa penyertaan-Nya.
Sebab itu mulai saat ini bangkitlah dan jadilah pemenang atas segala masalah dengan mengandalkan Tuhan. Jangan ragukan penyertaan Tuhan, ucapkanlah perkataan iman. Tuhan punya banyak cara untuk menolong dan kuasa-Nya cukup untuk mengatasi segala keadaan. Amin.

Tetap Membicarakan Yesus

Oleh : Siana
Dalam hidup dan mati, Yesuslah satu-satunya harapan kita.
Ayahku meninggal di tahun 1991, ketika itu anakku baru berusia 1 tahun.  Ayah meninggalkan seorang istri dan lima orang anaknya, termasuk aku salah satunya. Tapi beruntung karena Ayahku sudah mengenal dan percaya Tuhan Yesus.
Aku anak ke-4 dari 5 bersaudara. Suamiku orang Ambon dan melalui suamiku beberapa orang dari keluargaku menjadi percaya kepada Kristus.
Ibuku adalah seorang yang rajin berdoa, beribadah dan bersekutu dalam suatu komunitas, tetapi sayangnya walaupun ia rajin melakukan hal-hal tersebut, hatinya masih dipenuhi keraguan dan belum memahami betul siapa Yesus sebenarnya.
Tuhan menggerakkan hatiku untuk bercerita kepada ibu tentang ayah yang telah meninggal.  Aku mengatakan bahwa ayah sudah berada di surga bersama dengan Tuhan Yesus.  Ibuku terdiam saat aku bercerita seperti itu.
Tuhan memberikan kekuatan padaku untuk bertanya padanya apakah ia mau bertemu dengan Tuhan Yesus dan juga bertemu ayah di surga? Dengan tegas ibu mengatakan bahwa ia mau.  Aku menyampaikan bahwa bila kita percaya kepada Tuhan Yesus maka kita pasti masuk surga karena Tuhan Yesus telah menjadi Juruselamat kita.
Puji Tuhan, sejak itulah ibuku dengan sungguh-sungguh percaya dan menerima Tuhan Yesus dalam hidupnya serta semakin rindu untuk mengenal Tuhan. Dan sampai akhir hidupnya, ibu setia kepada Tuhan Yesus.
Marilah kita tetap membicarakan tentang Tuhan Yesus kepada orang-orang lain dalam hidup kita, karena Yesus telah mati di salib bagi semua orang dan bangkit mengalahkan maut serta naik ke surga berkuasa atas segala sesuatu.  Biarlah kabar sukacita itu didengar oleh semua orang.
2 Korintus 5:15 berkata:
“Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.”
Amin.

Belajar Dari Tuhan Yesus: Lemah Lembut Dan Rendah Hati

Tuhan Yesus adalah pribadi yang lemah lembut dan rendah hati.  Kerendahan hati-Nya tidak dapat dibantahkan karena teladan hidup-Nya telah menunjukkan demikian.
Begitu pula dengan kelemahlembutan-Nya. Yesus begitu lemah lembut kepada setiap orang.  Walaupun ada perkataan yang keras yang keluar dari mulut-Nya terhadap orang-orang berdosa namun hal itu lahir dari roh yang lemah lembut karena kasih-Nya yang hendak menyelamatkan.
Dari sorga Ia datang ke dunia, namun Ia tidak menunjukkan kesombongan.  Dari Tahta Yang Maha Tinggi, Ia turun menjadi sosok yang rendah sebagai manusia.  Dari Pribadi Yang Maha Kuasa, Yesus rela membiarkan diri-Nya tersalib.  Dari Pribadi yang Mulia, Ia rela menjadi hina. Semua demi untuk menyelamatkan dan menebus semua manusia. Itulah bukti kerendahan hati-Nya yang maha hebat.
Mata-Nya menyiratkan kasih kepada semua orang. Dari mulut-Nya keluar perkataan yang merangkul dan membangkitkan.  Ia begitu lemah lembut terhadap para murid-Nya yang sangat tidak mengerti akan banyak hal.  Ia begitu lemah lembut kepada para imam dan ahli agama yang datang untuk berdebat. Tuhan Yesus begitu lemah lembut berbisik dalam hati saudara dan saya. Ia berkata: “Mari datanglah,  Aku mengasihi-Mu, Dengarkanlah Aku.”. Ia dengan lemah lembut berbicara kepada kita semua yang berdosa.
Tuhan Yesus berkata: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Matius 11:29).
Marilah kita mengikuti teladan-Nya untuk selalu lemah lembut dan rendah hati.  Kita selalu mengingat akan Tuhan Yesus dalam setiap hari, mulai dengan hari ini, bersikap dan berkatalah lemah lembut kepada semua orang, mulai dari keluarga kita, dan bersikaplah rendah hati terhadap semua orang.
Belajarlah selalu pada Tuhan Yesus. Amin.

Apa Yang Kau Kerjakan Disini?

Izebel, istri raja Ahab memberikan suatu ancaman kepada nabi Elia yaitu bahwa ia akan membunuh Elia untuk membalaskan kematian para nabi baal.
Seorang suruhan Izebel mengatakan hal itu kepada Elia dan ia menjadi takut. Reaksi nabi Elia bertolak belakang dengan sikap imannya sebelumnya yang begitu kuat, teguh dan berani serta yakin akan perlindungan dan pertolongan Tuhan bagi dirinya.
Saking takutnya, nabi Elia lari bersembunyi karena takut dikejar Izebel. Namun, di padang gurun, Tuhan menguatkan Elia.
Beberapa hari ini, ada seorang yang menebar ancaman di media sosial Facebook dengan mengatakan bahwa bila dollar menembus angka 15 ribu rupiah, maka akan terjadi pembantaian terhadap etnis tertentu dan pemeluk agama Kristen di Indonesia.  Mendengar ancaman seperti ini bagaimanakah reaksi kita? Apakah kita menjadi takut?
TUHAN berkata: “Jangan takut!” Sebab Aku menyertai engkau”.
Mari kita sadari bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat mengambil nyawa kita tanpa seijin Tuhan.  Apalagi, kita ini adalah anak-anak Tuhan yang dikasihi oleh-Nya.  Ia akan menjaga dan melindungi kita dari segala bahaya dan meluputkan kita dari kecelakaan dan maut.
Memang manusiawi ada perasaan takut, namun ingatlah janji firman Tuhan. Mari kuatkan dan teguhkan hatimu, percayalah kepada Tuhan.
Di padang gurun Elia bersembunyi dan tidak melakukan apa-apa. TUHAN melihat kegiatan Elia dan berkata: “Apa yang kau kerjakan disini Elia?”
Pertanyaan Tuhan kepada Elia hendak menyadarkannya untuk ingat akan tugas dan tanggung jawabnya yang harus ia kerjakan.
Menghadapi ancaman seperti yang terjadi beberapa hari ini, jangan kita bersembunyi dan meninggalkan tanggung jawab dalam pekerjaan dan pelayanan kepada Tuhan.  Tetaplah lakukan tugas kita setiap hari sebagaimana seharusnya. Jangan lari dan bersembunyi karena ancaman semacam ini.
“Izebel-izebel” masih ada sampai hari ini, menebar ancaman, menakut-nakuti, dan ini bisa terjadi dalam berbagai aspek hidup kita.
Tapi, hadapilah “izebel-izebel” itu dengan iman yang penuh keberanian karena Tuhan.
Tuhan Yesus akan selalu menyertai kita dalam segala keadaan dan menopang serta memberikan perlindungan. Amin.
Bacaan Alkitab: 1 Raja-raja pasal 19
 

Tuhan Membukakan Pintu Pertolongan

Wahyu pasal 3 ayat 8 berkata:
“Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.”
Apa yang membuat engkau mengalami jalan buntu tidak akan membuatmu terhalang asalkan engkau setia kepada Tuhan dengan menuruti firman-Nya dan tidak menyangkal nama Tuhan.
Dalam situasi yang nampak seperti pintu-pintu tertutup, dan kelihatannya tidak ada jalan terbuka, maka disitulah sesungguhnya Tuhan sedang mengamat-amati kita dan melihat apa yang akan kita lakukan.  Kesetiaan kita diuji di saat-saat yang seperti ini.  Dan hal ini harus kita ingat dan tanamkan benar dalam hati bahwa kita tidak boleh meninggalkan Tuhan bahkan menyangkali-Nya.
Ganjaran yang indah akan Tuhan berikan bagi mereka yang dengan tekun dan setia menantikan Tuhan bekerja dalam ketaatan.
Kuasa Tuhan untuk membuka pintu tak tertandingi oleh segala macam kuasa yang ada di dunia ini. Kehendak Tuhan untuk membuka pintu terjadi pada waktunya Tuhan.  Saat Ia membuka pintu adalah saat yang terindah dan tepat, tidak terlambat dan tidak terlalu cepat namun tepat.
Bersandarlah pada Tuhan senantiasa, lakukanlah dengan setia segala firman-Nya dan jangan menyangkali Tuhan, jangan menyangkali kuasa-Nya dan anugerah-Nya, serta jangan menyangkali nama-Nya yang kudus.  Tuhan Yesus memberkati dan menyertai kita senantiasa.