Mengapa Allah Membiarkan Penderitaan?

Allah tidak pernah bermaksud agar umat-Nya memiliki kondisi dimana mereka berkemah dan tinggal di sekeliling berkat-berkat duniawi yang sifatnya sementara, yang dapat menyebabkan mereka terikat dengan keduniawian.
Sebaliknya, Ia lebih peduli akan menjadi apakah kita kelak, dan juga hal-hal yang akan kita izinkan Dia lakukan di dalam hidup kita. Sasaran yang menyeluruh dari rencana Tuhan adalah: kita diubah dan disesuaikan bagi-Nya dalam seluruh kekekalan. Ini membutuhkan perubahan, sehingga tidak selalu merupakan jalan yang termudah.
TUHAN mencari orang-orang yang mengasihi-Nya, bukan hanya demi berkat-berkat atau apa yang dapat mereka peroleh bagi dirinya sendiri, namun seseorang yang mengasihi-Nya sebagaimana adanya Dia! Kalau tidak, Allah hanya memperoleh seorang ‘anak kecil’ yang egois, berpusat pada dirinya sendiri, mencari keuntungan diri sendiri.  Ia mencari seseorang yang tulus mencintai-Nya.
Bertahun-tahun yang lalu, Setan menuduh seorang laki-laki bahwa ia telah melayani Allah hanya untuk memperoleh berkat-berkat-Nya.  Setan mendakwa,”Ayub hanya melayani-Mu karena Engkau telah membuat hidupnya sejahtera; ambillah semua berkatnya, maka ia akan mengutuki-Mu.”
Dengan demikian, Setan sesungguhnya sedang mengatakan-“Ia hanya melayani-Mu demi apa yang dapat ia peroleh daripada-Mu. Ia hanya memperalat-Mu!
Sayangnya, apa yang dituduhkan Setan kepada Ayub benar-benar berlaku atas sebagian orang percaya, karena kita dapati di dalam Yohanes 6:26-27, bahwa orang banyak mengikuti Yesus hanya karena Ia memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Kebanyakan dari mereka meninggalkan-Nya ketika ujian-ujian kehidupan menerpa mereka.
Setan juga bersalah dalam hal yang sama seperti yang ia tuduhkan kepada Ayub (Roma 2:1).  Ironisnya, tuduhan Setan terhadap Ayub sebenarnya adalah suatu tuduhan terhadap dirinya sendiri, karena ia sendiri telah gagal secara menyedihkan dalam hal yang persis sama. Lucifer hanya melayani TUhan selama semuanya masih memuji dan mengagumi keelokannya.  Ia memiliki pesona, hikmat, kharisma, dan kemampuan-kemampuan dalam bidang musik yang tidak bisa disamai dan ditandingi.  Dahulu ia menjadi buah bibir di surga! Apakah ia bersyukur atas semuanya ini? Tidak! Yang ia inginkan adalah lebih – dan lebih lagi bagi dirinya sendiri.
Ketika Allah terpaksa memecat dan membuangnya karena kebodohan dan keangkuhannya, apakah Lucifer si Setan itu merasa menyesal atau bertobat atas dukacita dan cela yang telah ia datangkan atas Tuhannya? Tidak! Ia hanya menyesal karena ia kehilangan kedudukan, kuasa dan pujian. Dengan demikian, jelaslah bahwa ia melayani Allah hanya demi berkat-berkat-Nya, karena ketika Allah mengangkat berkat-berkat itu, ia “mengutuk” Allah.
Tuhan juga menguji Abraham untuk melihat apa yang merupakan hal utama dalam hidupnya, ketika Ia menyuruhnya untuk mempersembahkan Ishak, anak yang sangat dikasihi dan dinanti-nantikan kelahirannya sedemikian lamanya melalui istrinya, Sara.  Apakah Allah adalah nomor satu, atau janji-janji dan berkat-berkat yang nomor satu?
Tatkala dengan rela Abraham mempersembahkan Ishak kembali kepada Allah, hal itu bukan hanya merupakan kesaksian bagi Allah, namun juga kepada setan.  Karena sebagaimana Paulus katakan di dalam 1 Korintus 4:9, kita adalah “tontonan bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia”.  Setan dan semua roh jahat dengan seksama memperhatikan tindakan kita agar mereka dapat mencari-cari kesalahan kita.
Ayub diuji dalam tujuh cara:
1. Secara ekonomi
Ia kehilangan segala yang ia miliki (harta, mata pencaharian, pegawai-pegawai).
2. Dalam rumah tangga
Ia kehilangan semua anaknya, dan istrinya berbalik melawannya.
3. Secara jasmani
Tubuhnya ditimpa penyakit yang hebat dan juga memalukan.
4. Secara sosial
Keluarga dan teman-teman dekatnya salah menilai dan meninggalkannya. Warga kota memandang rendah kepadanya     dan berbicara jahat tentangnya. Reputasinya yang terhormat hancur berkeping-keping.
5. Secara mental
Ia menjadi sangat bingung.
6. Secara emosional
Ia sangat tertekan, dan keadaan-keadaan di sekitarnya secara alamiah tampak seperti tidak ada harapan.
7. Secara Rohani
Allah berdiam diri selama beberapa waktu.
Reaksi Ayub yang benar terhadap luka hati dan semua penderitaannya telah menyelamatkannya sehingga tidak jatuh ke dalam suatu lubang mental-emosional yang menjerumuskan. Hampir semua kekacauan mental dan emosional, termasuk bunuh diri, adalah hasil dari suatu reaksi yang keliru terhadap suatu luka hati dan penderitaan yang parah.
“Korban ucapan syukur” yang Ayub naikkan setelah kehilangan segala yang dimilikinya, mengubah malapetakanya menjadi kemenangan. Ini adalah salah satu kunci menuju kemenangan.
Karena itu, teladan Ayub memberikan kita suatu pesan yang patut kita jalani, bukan hanya untuk hari ini, tetapi setiap hari dalam hidup kita. Beryukurlah kepada Tuhan dalam segala keadaan, taat dan setia sampai selamanya.
Tuhan Yesus memberkati kita semua!
Diambil dari Mengubah Kutuk menjadi Berkat (“Turning Curse into Blessing”) by Paul G. Caram