Firman Tuhan Pada Waktu Yang Tepat

Lukas 3:2
“pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun.”
Ayat ini menyebutkan kapan Allah berfirman kepada Yohanes pembaptis, yaitu pada saat Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar. Dalam ayat 1 tertulis juga keterangan mengenai para penguasa yang memerintah saat itu.
Ada satu hal yang sangat penting dalam ayat ini yaitu mengenai saat atau waktu Allah berfirman. Mengapa Allah tidak berfirman pada waktu sebelumnya yakni ketika imam besar dijabat oleh orang lain? Atau ketika raja dan penguasa disana adalah orang yang berbeda? Mengapa Allah berfirman saat itu dan bukan nanti? Kita mengerti dari ayat ini, bahwa setelah firman Allah diberikan, barulah Yohanes pembaptis keluar dari padang gurun dan memulai pelayanannya.
Kita mengerti dari ayat firman Tuhan hari ini bahwa Tuhan bekerja menurut waktuNya yang telah Ia tetapkan. Waktu Tuhan adalah waktu yang terbaik. Hal ini memberikan kepada kita suatu kesadaran untuk:

  1. Bekerja menurut waktunya Tuhan
  2. Mendasarkan pelayanan kita kepada Firman Tuhan
  3. Menantikan dengan sabar proses yang Tuhan sedang kerjakan dalam kehidupan kita
  4. mengerti bahwa Tuhan tidak pernah tinggal diam, namun Ia bekerja di dalam segala sesuatu.

Mengapa Yesus Marah?

Dalam suatu peristiwa, datanglah seorang yang lumpuh sebelah tangannya kepada Yesus.  Dan itu terjadi pada hari Sabat.  Di sekitar Tuhan Yesus ada banyak orang Farisi.  Dan Ia sangat mengerti bahwa orang-orang Farisi ini sangat ketat sekali dalam menegakkan peraturan agama.
Tuhan Yesus bertanya kepada mereka, apakah boleh melakukan hal yang baik pada hari Sabat?  Ataukah berbuat yang jahat?  Apakah boleh menyelamatkan nyawa orang di hari Sabat?
Tapi mereka semua yang ada disitu hanya diam saja.
Disinilah saat dimana Tuhan Yesus marah kepada mereka.  Ia marah karena kedegilan hati mereka.  Tuhan Yesus berdukacita karena mereka tidak punya belas kasihan kepada orang lain, dan yang dipikirkan hanyalah bagaimana supaya hukum agama itu ditegakkan.
Peristiwa ini memberikan suatu teguran kepada kita yang hidup sekarang ini, masih adakah belas kasihan di dalam hati kita kepada orang lain?  Ataukah kita hanyalah orang-orang yang mengikuti sistem kerja yang kaku?  Entah itu di gereja, organisasi, kantor, atau tempat kita beraktifitas melayani?   Bagaimanakah reaksi kita terhadap suatu keadaan dimana terdapat pilihan untuk menegakkan peraturan atau memberikan belas kasihan dan pertolongan?
Berhati-hatilah agar kita tidak sampai memiliki hati yang degil.
Orang yang hatinya penuh dengan kasih akan selalu mengasihi dan memanifestasikan kasihnya dalam perbuatan.   Alasan bahwa kita mengasihi namun tidak dapat berbuat apa-apa karena terikat dengan peraturan, bukanlah kasih.
Landaskanlah semua tindakan kita pada kasih Tuhan Yesus yang sejati.  Tunjukkanlah empati dan kepedulian kepada orang lain.  Amin.
Ayat Mas:
Ia berdukacita karena kedegilan hati mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu.  (Markus 3:5)
 

Bagaimana Hidup Dalam Kehendak Allah

Sebagian orang ingin hidup menurut kehendaknya saja, tapi sebagian lagi berusaha untuk mencari kehendak Allah dan hidup di dalam kehendak Allah.
Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mencari tahu apakah sebenarnya kehendak Allah bagi kita secara pribadi.  Bagaimana cara mengetahui kehendak Allah?  Ada beberapa cara yaitu:
Pertama, melalui pembacaan Alkitab.  Kita membaca tentang kehendak Allah di dalam Alkitab.  Hal ini berlaku secara umum.  Semua orang dapat membaca dan mengerti apa kehendak Allah dalam hidupnya.  Membaca Alkitab perlu dan seharusnya dilakukan dengan tekun oleh setiap orang percaya, karena itu adalah Surat dari Tuhan.
Kedua, adalah melalui doa.  Kita dapat mengetahui kehendak Allah melalui hubungan yang erat dengan Tuhan dalam doa.  Doa merupakan sarana komunikasi kita dengan Tuhan.  Ia tidak menuntut kita harus berkomunikasi memakai handphone mahal, atau sarana lainnya.  Yang terpenting dalam doa adalah hati yang berserah, tulus, jujur dan terbuka kepada kehendak Tuhan.
Ketiga, melalui penyataan yang diberikan Allah, baik itu di dalam hati kita, melalui orang lain atau melalui seorang pelayan Tuhan.
Setelah mengetahui kehendak Allah, hal yang pertama dan utama yang kita lakukan adalah mentaati kehendakNya dan berjalan di dalam rencana dan kehendakNya itu.  Mentaati lebih sulit daripada mencari kehendak Allah.  Mencari kehendak Allah tidak lebih sulit daripada melakukan kehendak Allah.
Pelajarilah terlebih dulu kehendak Allah yang umum buat kita, setelah itu barulah kita bertanya kepada Tuhan, mengenai apa yang menjadi kehendak Allah secara spesifik untuk diri kita.  Ketika kita telah mengetahui dan mengerti kehendak-Nya, maka lakukanlah itu.
Dalam Mazmur 143:10, raja Daud memohon kepada Tuhan, untuk mengajari dirinya “melakukan kehendakMu”.  Ini merupakan hal yang penting dan menjadi doa Daud kepada Tuhan.
Ketika ada pencobaan, godaan atau tantangan, marilah berdoa kepada Tuhan, agar Tuhan menunjukkan jalanNya dan kita taat di dalam setiap jalan-Nya. Amin.
 
 

Cara Menjadi Yang Terbesar

Para murid berbincang dalam perjalanan mereka tentang siapa yang lebih besar di antara mereka.  Mungkin kategori terbesar itu mencakup beberapa syarat seperti : dekat dengan Tuhan Yesus, paling sibuk, paling dikasihi Tuhan Yesus, yang paling sering diajak ngobrol, yang paling ganteng, paling pintar dan sebagainya.   Perbincangan ini rupanya menjurus kepada perselisihan dan pertengkaran.  Lucu rasanya membayangkan para murid mempersoalkan siapa yang terbesar diantara mereka.  Tapi bukankah seringkali kita juga memiliki kecenderungan yang sama ?  Kita seringkali membandingkan siapa yang paling dekat dengan bos di perusahaan tempat kita bekerja, atau siapa yang paling dekat dengan gembala di gereja.  Rasanya kalau paling dekat dengan pimpinan, maka kita adalah yang terbesar dan terhebat.
Pertengkaran para murid didengar dan diketahui oleh Tuhan Yesus.  Dan sangat kontradiksi dengan pemahaman para murid, Tuhan Yesus memberikan jawaban mengenai siapa yang terbesar, dengan perkataan berikut ini:
“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu (terbesar), hendaklah ia menjadi yang terakhir (terkecil) dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”
Jawaban ini mencengangkan para murid karena berbeda dengan konsep mereka mengenai cara menjadi yang terbesar.  Saya tidak mau mengajarkan cara menjadi yang terbesar, hanya judul renungannya saja yang seperti demikian.  Karena motivasi kita dalam mengikuti Tuhan bukanlah untuk menjadi yang terbesar.  Karena Tuhan Yesus memberikan teladan kepada kita, bagaimana menjadi seorang hamba yang taat.
Marilah kita berfokus kepada hidup yang melayani sesama, melayani semua dan melayani mereka yang dipandang kecil dan rendah oleh dunia.
Tuhan Yesus menyebutkan tentang melayani dan menyambut anak-anak.  Mengapa anak-anak dipakai sebagai contoh pelayanan? Karena seringkali kita mengabaikan pelayanan dan penyambutan kepada anak-anak karena menganggap mereka bukan apa-apa.
Jadilah yang terkecil dan pelayan dari semuanya.
Bacaan Alkitab:
Markus 9:33-37
Ayat Mas:
“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Markus 9:35b)
 

Bolehkah Makan Dengan Orang Berdosa?

Tuhan Yesus makan dengan Matius, seorang pemungut cukai yang dibenci oleh masyarakat umum.  Para pemungut cukai beserta profesinya dianggap sebagai orang berdosa dan profesi yang berdosa diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah karena pemungut cukai mengambil pajak dari rakyat bangsa Israel.  Ketika itu, konteks ayat ini berlatarkan umat Israel yang dijajah oleh bangsa Romawi, sehingga pemungut pajak dapat dikatakan sebagai alat penjajah atau kaki tangan bangsa Romawi.   Dan kebanyakan, para pemungut pajak melakukan tindakan pemerasan dalam arti mereka meminta pembayaran pajak melebihi yang seharusnya dibayarkan.
Matius pasal 9 ayat 9-13 menceritakan kisah ini, yaitu Tuhan Yesus makan bersama di rumah Matius seorang pemungut cukai. Orang-orang Farisi bertanya kepada murid-murid Tuhan Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama pemungut cukai dan orang-orang berdosa?”
Nah, pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang seringkali juga ditanyakan hingga sekarang, bahkan seringkali kita merasa tidak patut duduk semeja dengan orang berdosa atau orang yang tidak seiman.  Bagaimanakah seharusnya? Apakah jawaban atas pertanyan: Bolehkah kita makan bersama dengan orang berdosa?”
Jawabannya adalah: Boleh makan bersama dengan orang berdosa. Yang penting adalah jangan melakukan dosa.  Lagipula, makan dengan orang berdosa tidak akan membuat kita berdosa.  Namun, tujuan makan dengan orang berdosa adalah untuk menyatakan kasih Tuhan kepada mereka dan menunjukkan bahwa kita tidak membeda-bedakan orang, karena Tuhan Yesus sendiripun menerima orang berdosa dan dengan jalan demikian banyak orang berdosa merasakan kasih Tuhan.
Tuhan Yesus menyuruh untuk mempelajari arti dari firman : “Yang kukehendaki adalah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”
Adakah belas kasihan di hati kita buat orang-orang berdosa? Ataukah kehidupan kita begitu eksklusif hanya antara yang satu gereja, atau satu agama dengan kita?  Ingatlah dan renungkan perkataan Tuhan Yesus, belas kasihan harus kita miliki dalam hati kita.  Belas kasihan kepada jiwa-jiwa yang membutuhkan Tuhan.
 

Upah Karena Menyambut Orang Benar

Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.  (Matius 10:41)
Tuhan Yesus berbicara tentang hal menyambut seorang nabi dan seorang benar.  Dua macam orang ini adalah orang yang paling sering ditolak dan dianiaya karena dengan mereka dengan teguh mempertahankan kesalehan dan kebenaran (Lihat pasal 5:10). Oleh karena itu, orang yang menyambut para nabi dan orang benar akan mendapat upah atau berkat khusus dari Tuhan.
Apabila pengabdian kita kepada kepada kebenaran dan keadilan begitu kokoh sehingga kita mengabdikan hidup ini untuk menyediakan segala keperluan, bekerjasama dengan, dan memberikan semangat kepada hamba-hamba Allah yang benar, maka upah yang kita terima adalah sama dengan upah nabi atau upah orang benar yang saudara terima.
Sebaliknya, janganlah kita mendukung, memberikan semangat atau bekerja sama dengan para pendeta atau para pengkhotbah yang tidak memberitakan kebenara-Nya sesuai dengan penyataan Allah dalam Perjanjian Baru, atau yang tidak hidup saleh sesuai dengan patokan kebenaran Allah.  Mendukung orang semacam ini akan menyebabkan kita turut mengalami hukuman mereka. (Lihat 2 Yohanes).
– dari Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, hal. 1522 –

Kehilangan Kasih

Salah satu akibat dari  mengabaikan Allah  dan firman-Nya adalah kehilangan kasih kepada keluarga.  Kasih kepada istri atau suami, kasih kepada anak-anak akan senantiasa terjaga di saat kita selalu mencari Tuhan dan mengutamakan firman-Nya.  Jadi, apabila ada orang yang mengaku bahwa ia mengasihi Tuhan namun tidak mengasihi keluarganya, maka hal itu sama saja suatu kebohongan.
Kehilangan kasih yang terjadi bukan hanya kepada keluarga, namun merembet pula kepada sesama.  Kasih kepada sesama menjadi hilang karena pengabaian-pengabaian akan firman Tuhan.  Ada banyak contoh ekstrim dalam Alkitab tentang kehidupan yang kehilangan kasih karena mengabaikan persekutuan dengan Allah.  Persekutuan yang sejati dengan Allah akan memunculkan kasih sejati kepada sesama.  Ada banyak orang pergi ke gereja, melakukan ibadah seminggu sekali namun tidak punya kasih kepada sesamanya.  Hal ini sangat bertolak belakang dengan perintah Tuhan yang utama yaitu untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia.
Israel suatu ketika mengalami pengepungan selama jangka waktu yang cukup lama.  Dan semua stok makanan menjadi habis.  Bangsa Israel tidak lagi mempunyai sesuatu untuk dimakan.  Malah kotoran burung pun sampai dimakan.  Ketika itulah terjadi suatu tragedi kemanusiaan yang di luar nalar manusia.  Ada ibu yang tega memasak anaknya sendiri untuk dijadikan makanan.
Mengapa ? Sekali lagi, karena pengabaian akan Allah dan firman-Nya, bukan karena kesulitan! Kesulitan boleh datang, tapi orang yang berharap pada Tuhan akan tetap kuat dan bertindak yang benar.
Di saat situasi sulit melanda hidup kita, jangan tinggalkan Tuhan.  Tetap setia kepada Allah dan lakukan firman-Nya.  Renungkan firman Tuhan setiap hari, dan percayalah dengan sepenuh hati akan setiap kata-kata firman-Nya. Maka kita akan memperoleh kekuatan dari Allah dan pikiran serta hati kita dipenuhi dengan hikmat dan sukacita sorgawi serta dipenuhi dengan KASIH ALLAH.  Sehingga ketika segala situasi sulit sedang menekan, hati kita tetap mengeluarkan kasih, kasih dan kasih kepada sesama, terutama dan yang pertama, ialah keluarga kita.
Bacaan untuk direnungkan:
2 Raja-raja 6:24-33

Isu Migran dan Perspektif Kita

Isu yang begitu kuat mengenai migran di Eropa memecah masyarakat Uni Eropa menjadi tiga kelompok.  Yang pertama adalah yang menolak migran, kedua adalah mereka yang menerima migran dan yang ketiga merupakan kelompok yang abstain terhadap masuknya migran.  Berbagai masalah yang terjadi di Timur Tengah menjadi penyebab memburuknya situasi dan kondisi kehidupan disana sehingga meningkatkan angka migrasi penduduk dari daerah konflik menuju ke negara-negara Eropa.
Menghangatnya isu ini sedikit banyak telah memunculkan suatu keadaan, dimana para pendatang di Eropa, menjadi tidak disukai dan “dipandang sebelah mata” oleh penduduk asli.  Hal ini bahkan dirasakan juga oleh orang-orang Asia yang tinggal disana, termasuk saya.
Terkadang ada perasaan tidak enak, saat beberapa orang memandang diri saya, dari cara memandangnya.  Tapi, entah apakah itu hanya perasaan yang muncul akibat sedang menghangatnya isu migran tersebut.
Namun, hari ini ada kejadian yang sangat membuat hati saya tersentuh, ketika berada di kereta api menuju tempat tinggal. Saat itu, saya duduk berhadapan dengan seorang bayi yang berada di kereta dorong (Stroller).  Seorang bayi dengan matanya yang biru dan rambutnya yang pirang, ditemani oleh ibu dan neneknya.  Bayi itu memandang saya dengan pandangan matanya yang begitu polos dan saya pun menatapnya dengan sebuah senyuman.
Bayi itu tersenyum lebar hingga giginya nampak terlihat. Kebetulan?  Ternyata bukan kebetulan, karena bayi itu berulang kali memandang saya dan tersenyum. Saat itu, saya merasakan sesuatu dalam hati.  Ada suatu kesadaran tentang bagaimana kita memandang orang lain.  Dan inilah yang saya renungkan saat dalam perjalanan itu.
Ketika kita masih bayi dan kanak-kanak, pikiran kita masih begitu polos dan tidak membeda-bedakan orang berdasarkan warna kulit dan segala latar belakang lainnya.  Kita akan dengan mudah menerima orang lain apa adanya, tidak peduli suku apa, kaya atau miskin, jelek atau cantik.  Kita tidak akan bertanya sedikitpun kecuali hanya menerima keberadaan orang lain.
Tapi ketika kita mulai beranjak dewasa, pikiran kita mulai juga membeda-bedakan orang.  Bahkan kita mengkotak-kotakkan orang lain, mana yang kita suka dan tidak suka, berdasarkan suku, agama, ras, bahasa atau status sosialnya.  Kita menjadi pribadi yang berbeda dibandingkan ketika masih kanak-kanak. Kita menjadi cenderung memandang rendah, memandang lebih tinggi, atau memandang sama tingkat terhadap orang lain.
Saya kembali merefleksikan hal ini terhadap diri saya, dan belajar untuk menjadi seperti seorang anak kecil, yang memiliki hati yang tulus dan mau menerima orang lain apa adanya. Seperti Tuhan yang telah menerima kita apa adanya, demikianlah kita juga harusnya menerima orang lain apa adanya mereka, karena kita semua adalah ciptaan Tuhan.
Bacaan Alkitab:
“Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.” ( Yakobus 2:1)
 

Tidak Tampan Dan Tidak Rupawan

crossIa tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia,
dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.
(Yesaya 53:2b)
Nabi Yesaya menubuatkan tentang Kristus yang akan datang, bagaimana ia dalam penampilan fisik dan lebih khusus keadaan penderitaan yang harus dialami oleh Mesias.
Disebutkan demikian bahwa Mesias akan tampil dalam rupa yang tidak diinginkan dan diminati manusia.  Manusia memandang kepada harta dan kemuliaan duniawi.
Para bangsawan dan raja, pengusaha dan orang terkemuka yang kaya, itulah yang dipandang manusia pada umumnya.  Namun, dalam keadaan yang sebaliknya, Yesus Kristus datang ke dunia, dalam rupa seorang hamba.
Semaraknya tidak ada, secara fisik ia tidak dipandang orang, dan tidak diinginkan manusia, namun mari perhatikan apa yang menjadi kunci perkenanan yang ingin Tuhan ajarkan kepada kita, ialah kemuliaan jiwa dan batin kita.
Tuhan memperhatikan apa yang di dalam, yaitu kepribadian, kesalehan, kesetiaan dan ketaatan kita kepada-Nya.  Dan Dia sendiri memberikan teladan yang demikian, bahwa keutamaan dari pribadi seseorang bukanlah terletak pada hal lahiriah namun pada yang batiniah.
Bukan soal kedudukan, harta, harga diri, kekayaan, kecantikan atau kehebatan fisik, namun soal hati. Bagaimanakah hati kita di hadapan Tuhan?
 

Kehendak Allah Atau Kehendak Kita?

Kita tidak boleh memakai istilah Kehendak Allah sebagai dalih untuk menjadi pasif dan tidak bertanggung jawab dalam kaitan dengan panggilan-Nya untuk melawan dosa, kejahatan dan kesuaman rohani.   Kehendak Allah adalah baik dan sempurna, namun seringkali peristiwa buruk atau keadaan yang tidak baik dianggap karena kehendak Allah.  Memang ada hal-hal yang dapat dikatakan diizinkan oleh Allah untuk terjadi, namun sesungguhnya Allah punya rencana dan kehendak yang indah dan sempurna.
Dalam pelayanan hari ini, saya merenungkan sikap hidup orang-orang di penampungan.  Di antara mereka ada orang-orang yang berpendidikan, punya gelar bahkan dulunya berprofesi baik.  Tapi sekarang mereka berada dalam keadaan yang terabaikan secara sosial, oleh karena sikap hidup mereka sendiri.  Diantaranya adalah sikap hidup yang menyukai minum minuman keras.  Mereka yang dulunya hebat sekarang ini nampaknya sangat malas melakukan apa-apa.  Salah satu penyebabnya adalah kecanduan alkohol, padahal alkohol dapat merusak otak, sehingga menyebabkan tidak mampu berpikir dengan baik.
Kita hanya bisa menggelengkan kepala melihat apa yang sedang terjadi di kalangan orang-orang pemabuk ini, sekaligus prihatin dan berdoa buat mereka.  Kehidupan mereka yang indah menjadi rusak karena perbuatan mereka.  Apakah ini kehendak Allah?  Apakah ini seijin Allah?  Dapatkah kita mengatakan demikian?  Tentu tidak.  Kehendak Allah adalah memberikan yang terbaik namun Allah tidak memaksakan kehendak-Nya karena Ia memberikan kehendak bebas kepada setiap manusia.
Kuncinya hanyalah terletak pada respon kita.  Apakah kita mau meresponi kehendak Allah itu dengan baik ataukah kita berjalan secara berlawanan ?  Kita harus berperang dengan segala kehendak dan keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.  Allah mau agar setiap orang percaya memerangi segala perbuatan dosa dan kejahatan  beserta segala kuasa-kuasa dunia ini, dengan mengandalkan Roh Kudus.
Bacaan Alkitab:
“supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.” (1 Petrus 4:2)