Persungutan Merugikan Diri Sendiri

image
Nats Alkitab:
Yohanes 6:43  – Jawab Yesus kepada mereka: “Jangan kamu bersungut-sungut.
Sungut-sungut adalah istilah atau kata yang diartikan sebagai sebuah tindakan mengeluh dan mempersalahkan Tuhan atau orang lain atas suatu keadaan tertentu. Bersungut-sungut merupakan tindakan yang berkaitan dengan perkataan mulut, namun ada hubungan mendalam dengan apa yang terkandung dalam hati, sebab perkataan yang keluar dari mulut berasal dari hati. Sungut-sungut termasuk dosa.
Setiap orang dapat memilih untuk bersungut-sungut atau sebaliknya berdiam diri dan mengucap syukur. Tua maupun muda bisa melakukan persungutan meski kadar dan bentuknya berbeda-beda.  Tidak terbatas pada suku bangsa dan bahasa apa, semua bisa bersungut-sungut, semua dapat melakukan tindakan yang jelek ini.  Bahkan orang yang bisu pun dapat bersungut-sungut dengan caranya sendiri.
Ada banyak hal yang dijadikan alasan untuk bersungut-sungut.  Memang kalau hati kita pahit maka semuanya akan terasa pahit.  Kalau hati kita penuh kejelekan maka segala sesuatu akan terlihat dan terasa jelek. Jadi, sebenarnya segala bentuk persungutan itu, apapun alasannya, bermuara kepada hati yang jelek. Tapi, kalau kita memiliki hati yang bersih dan bersyukur maka segala sesuatu akan terasa indah dan kita pun menjadi pribadi yang selalu berserah, situasi apapun tidak akan membuat mulut ini bersungut-sungut, akan tetapi pagi, siang dan malam, di segala waktu dan keadaan selalu memuji Tuhan dan mengucapkan syukur.
Di padang gurun, bangsa Israel bersungut-sungut kepada Tuhan, dan dicatat dalam Alkitab bahwa itu merupakan kejahatan di mata Allah, sehingga mereka dibinasakan di padang gurun oleh karena perkataan sungut-sungut mereka.
Ada suatu kisah dimana seorang kaisar sangat bersusah hati apabila pada hari pesta yang telah ditentukan cuacanya mendung.  Ia akan begitu marah hingga memerintahkan semua prajuritnya yang membawa panah, untuk memanahkan anak panahnya ke atas, sebagai protes dan celaan terhadap Yang Maha Kuasa karena cuaca yang jelek.
Setelah anak panah terlontar ke atas, anak-anak panah itu jatuh kembali dan kena pada kepala mereka, sehingga begitu banyak yang menderita luka parah. 
Demikianlah juga dengan persungutan kita, seperti begitu banyak anak panah yang diarahkan kepada Allah, akan jatuh kembali ke atas kepala kita sendiri. 
Marilah hidup dalam pengucapan syukur dan jangan dalam persungutan karena akan merugikan diri kita sendiri.
Tuhan memberkati.
Writer: Ev. Billy Tambahani
Ilustration: Sunday School Chronicle, from a book by B. Malingkas.

Mengendalikan Mulut

Pandai menutup mulut adalah cermin kemampuan otak seseorang. (Schapenhauer).
Tuhan Yesus berkata, “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” (Matius 15:11)
Dan, “Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban?
Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.
Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” (Matius 15:17-19)
Amsal 13:3  berkata: “Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan.”
Pemazmur  Daud berkata:”Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku; aku hendak menahan mulutku dengan kekang selama orang fasik masih ada di depanku.” (Mazmur 39:1).
Dalam Efesus 4:29  tertulis: “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.”
Dan Kolose 3:8 berkata: “Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.”
Yakobus 3:9-10 tertulis: “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah,
dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.”
Mari kita pakai mulut kita untuk berkata yang baik dan membangun serta mempermuliakan Tuhan.

Layani Dengan Gratis

Santer terdengar berita tentang tokoh agama yang membuka praktik pengobatan alternatif untuk berbagai penyakit namun meminta imbalan uang jutaan rupiah dari pasiennya. Secara etika moral pelayanan maka hal seperti ini tidaklah dibenarkan, sebab apabila ia mengaku dapat menyembuhkan oleh karena Yang Kuasa, maka seharusnya ia tidak meminta bayaran. Dapat gratis harus memberinya juga gratis.
Pelayanan gerejawi pun harus mengedepankan sikap melayani tanpa pamrih.  Para hamba Tuhan atau pelayan Tuhan mesti memiliki ketulusan dalam melayani orang lain.  Bila mendoakan toko atau usaha yang baru dibuka, janganlah berpikir harus menerima “fee” dari pengusaha atau pemilik toko itu. Apalagi menuntut persembahan secara diam-diam dalam hati, bila melihat toko/usaha yang didoakan mengalami kemajuan.
Matius pasal 10 mulai ayat 5 bertutur tentang pengutusan para murid untuk melayani.  Tuhan Yesus menekankan pentingnya bagi mereka untuk memberitakan tentang kerajaan sorga. Inti pelayanan haruslah kena-mengena pada perkara keselamatan sebab hal ini lah yang menjadi tujuan dari pelayanan para murid.  Artinya, harus berfokus pada pewartaan Injil Kerajaan Allah kepada setiap orang yang dilayani agar mereka bertobat dan diselamatkan serta hidup dalam kasih karunia Allah.
Matius 10:8  mencatat perkataan Tuhan Yesus: “Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.
Perintah untuk menyembuhkan yang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta dan mengusir setan-setan, tentu berhubungan dengan pelimpahan kuasa dan karunia untuk melayani, sehingga para murid yang diutus dapat memanifestasikan mujizat dan kuasa Allah dalam pelayanan mereka.  Dalam hal ini, para hamba Tuhan, tidak terbatas pada orang-orang yang menyebut dirinya pendeta, gembala, atau rasul bahkan nabi, -jadi semua orang percaya yang adalah juga hamba Tuhan – diperlengkapi dengan karunia-karunia oleh Roh Kudus untuk dipakai dalam melayani orang lain. Dan karunia-karunia itu haruslah dipakai secara kontinu dalam pelayanan.
Perintah untuk melayani orang lain dengan menggunakan karunia dan kuasa sorgawi itu disertai juga perintah untuk memberinya secara cuma-cuma.
Tuhan Yesus mengatakan bahwa semua kuasa itu diberikan kepada mereka secara cuma-cuma alias gratis, jadi haruslah diberikan pula dengan cuma-cuma.
Para hamba Tuhan haruslah memiliki sikap yang demikian. Jangan menuntut persembahan dari orang yang dilayani melainkan berusahalah untuk melayani mereka setulus-tulusnya dengan karunia dan kuasa Allah yang dimiliki.
Rasul Paulus memberi contoh melayani tanpa menuntut pemberian dari jemaat yang ia layani meskipun ia layak untuk itu bahkan meskipun harusnya ia dicukupkan dengan “upah sebagai pemberita Injil”.  Namun, rasul Paulus tidak menuntut upahnya itu melainkan berupaya untuk dapat mencukupi kebutuhannya sendiri agar supaya Injil dapat diterima dan tidak dipermalukan.
Para hamba Tuhan, pendeta, gembala, semua kita orang percaya harus memiliki karakter pelayanan sorgawi yang tulus seperti Tuhan Yesus, tanpa motif-motif ekonomi atau yang lainnya.
Tuhan Yesus menyebut diriNya sebagai gembala yang baik (Yoh. 10:11) yang menunjukkan bahwa diriNya adalah Sang Gembala, yaitu Tuhan Allah pencipta langit dan bumi, yang menuntun segenap umatNya. Sekaligus ayat tersebut, bila kita baca kelanjutannya, menunjukkan kriteria seorang gembala yang baik dan kriteria gembala upahan.
Seorang gembala yang baik punya sikap rela berkorban nyawa, mengasihi domba dan mencari yang terhilang serta melakukannya tanpa pamrih, domba-domba mengenal suaraNya dan Ia mengenal domba-dombaNya.
Tapi, kriteria gembala upahan adalah mempunyai motif ekonomi dalam melayani, mempunyai motif pengagungan diri sendiri, pengkultusan terhadap dirinya, dan ia tidak mengenal domba-dombanya, serta menuntut sesuatu apakah itu persembahan atau “fee” atau apapun namanya.
Kembali lagi ke konteks awal dari apa yang disampaikan disini, melayani Tuhan dan sesama haruslah dengan sikap yang tulus dan tanpa menuntut pemberian apapun. Layanilah mereka yang miskin dan menderita, jangan hanya yang kaya saja. Semua orang harus dilayani dengan pelayanan yang terbaik secara cuma-cuma.
Marilah kita miliki semangat melayani seperti Yesus yang mengutamakan orang lain dan rela berkorban. Karunia apapun yang kita miliki dari Tuhan, baiklah dipakai untuk kemuliaan nama Tuhan serta untuk pewartaan Injil Kerajaan Sorga bagi semua orang.
Roh Kudus akan memampukan kita.  Tuhan Yesus memberkati kerja dan pelayanan kita semua. Haleluya.
(BT)

300: The Special Number in the Bible

image
Sudah ada 2 buah film produksi Hollywood yang judulnya memuat angka 300. Kedua film tersebut bertema peperangan dimana salah satu pasukan hanya berjumlah 300 orang menghadapi ribuan bahkan puluhan ribu lawan.
Mungkin film itu terinspirasi dari Alkitab sebab dalam Alkitab terdapat kisah perang antara 300 orang dari bangsa Israel melawan 135 ribu pasukan bangsa Midian.
(Hakim-Hakim 7 dan 8:10).
Saat itu bangsa Israel dijajah oleh bangsa Midian sehingga segala hasil panen mereka harus diserahkan sebagai upeti.  Kehidupan dalam tekanan tersebut membuat banyak penderitaan terjadi dan muncul suatu harapan agar mereka dapat hidup merdeka dari penjajahan Midian.
Tuhan memilih Gideon bin Yoas untuk membebaskan bangsa Israel dari Midian.  Dan pada awalnya ada 32ribu pasukan Israel yang akan pergi berperang.  Namun, setelah diseleksi, akhirnya hanya tersisa 300 orang saja.  Dan ketika hanya tinggal 300 orang, Tuhan berfirman: “Dengan ketiga ratus orang yang menghirup itu akan Kuselamatkan kamu: Aku akan menyerahkan orang Midian ke dalam tanganmu.” (Hakim-Hakim 7:7).
Pada akhirnya, Gideon dan 300 orang pasukannya berhasil mengalahkan pasukan Midian. Makna dari kisah kemenangan Gideon dan pasukannya adalah:
1. Tuhanlah yang memberikan kemenangan.
300 orang mustahil secara akal logika untuk mengalahkan 135 ribu orang. Disini jelas bahwa Tuhanlah yang berperang di depan mereka, dari Tuhanlah datang kemenangan. Kehadiran Tuhan bersama Gideon menjamin kemenangan itu.  Tanpa kehadiran Tuhan maka sia-sialah upaya mereka meskipun dengan ratusan ribu orang sekalipun. Namun bila Tuhan beserta, jumlah yang kecil dapat dipakai Tuhan untuk meraih kemenangan.  “Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan oleh Roh Tuhan.
Dalam kehidupan kita pun demikian, meskipun nampaknya kecil, kelihatannya tidak mampu, namun kita bisa melakukan segala perkara oleh karena Tuhan yang memampukan kita.  Manusia boleh saja melecehkan, menghina dan merendahkan tapi kita tidak usah takut dan gentar karena Tuhan beserta dengan kita.
2. Orang yang berhati baja, beriman dan rela berkorban yang meraih kemenangan bersama Tuhan.
Dari 32 ribu pasukan Israel, setelah melalui tahapan seleksi, ternyata hanya 300 orang yang maju berperang.  Mengapa mereka yang dipilih? Karena mereka tidak gentar menghadapi musuh, mereka percaya akan penyertaan Tuhan dan mereka tidak takut mati melainkan rela berkorban bagi Allah dan bangsanya.
Jelas dalam pasal 7 disebutkan dan tersirat bahwa mereka yang takut dan gentar tidak layak untuk maju dalam peperangan, sebab mereka sudah kalah sebelum berperang. Juga bagi mereka yang tidak percaya akan kebesaran dan penyertaan Allah, tidak layak maju sebab mereka tidak memiliki iman yang kokoh dalam Tuhan. Perang menuntut suatu sikap rela mati berkorban sehingga hanya mereka yang punya sikap inilah yang layak maju sebab mereka akan fokus pada penyelesaian tugas dan tujuan dari Tuhan.
Dalam hidup ini, kita pun mengalami masalah, persoalan, ujian dan tantangan yang bagaikan “medan peperangan”.  Menghadapi itu semua janganlah kita takut dan gentar tapi percayalah kepada Tuhan dan selalu rela berkorban bagi Tuhan serta tidak takut menghadapi resiko meskipun kematian jasmani, oleh karena melakukan kebenaran.  Takut berbuat yang benar karena ancaman tidak naik pangkat, tidak dapat jodoh, tidak jadi kaya, atau ancaman lainnya, tandanya kita tidak layak sebagai prajurit Tuhan. Laskar Allah yang militan harus rela mati menjunjung kebenaran dan keadilan dan fokus kepada penyelesaian tugas dan tanggung jawab sorgawi. “Karena bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan.” (Filipi 1:21).
Dalam pelayanan pun sama, tantangan bukannya sedikit, pergumulan silih berganti, tapi jangan takut dan gentar, percayalah pada Tuhan dan setialah melakukan tugas panggilan Tuhan.
3. Tuhan memakai yang kecil agar tidak muncul kesombongan pada manusia.
Hanya 300 orang saja merupakan jumlah yang sangat kecil untuk menghadapi lawan apalagi meraih kemenangan.  Kok bisa menang? Padahal jumlahnya sedikit? Ini pasti bukan karena manusianya tetapi karena Tuhan.
Saat mereka memperoleh kemenangan, mereka tidak dapat beralasan bahwa kemenangan itu karena mereka kuat dan perkasa, sebab hal itu tidak mungkin, apalagi jelas-jelas musuh lari kocar-kacir karena bala tentara Allah yang menghalau mereka sehingga musuh saling membunuh satu sama lain.
Kita tidak boleh sombong kalau mencapai suatu keberhasilan, karena sesungguhnya itu semua karena kuasa dan kemurahan Tuhan saja.  Firman Tuhan berkata: “Kalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang membangunnya.  Kalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” (Mazmur 127:1).
Semua kerja dan karya kita bisa berhasil karena anugerah dan pertolongan Tuhan.  Kepintaran dan pengetahuan kita disebabkan oleh Tuhan.  Kita pintar bukan karena kita pintar tapi karena Tuhan yang menganugerahkan kepintaran itu.
Jangan sombong namun milikilah kerendahan hati, agar Tuhan semakin melimpahkan kebaikanNya dalam hidup kita.
Firman Tuhan berkata: “Orang yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan.”
Jadilah prajurit Tuhan, pelayan Tuhan, anak-anak Tuhan yang selalu beriman kokoh dalam Tuhan,  tidak takut dan gentar menghadapi situasi apapun serta rela berkorban untuk kebenaran.
Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.

Meminta Dalam Doa

Kalau berdoa, singkirkanlah ketidakpercayaan..
Saat berdoa, buanglah semua logika pemikiran yang terbatas..
Waktu berdoa, ucapkanlah permintaan yang besar
Ketika berdoa, sampaikanlah semua yang kau inginkan…
Sebab Tuhan adalah Allah yang Maha Besar
KuasaNya sanggup menjadikan apapun yang kita minta
Tapi, jangan lupakan satu perkara
Doa dan keinginanmu harus selaras dengan kehendakNya
Permintaanmu jangan untuk kesombongan atau hawa nafsu
Ketika hatimu bertemu dengan hatiNya Tuhan…
Saat itulah kau mengerti apa kehendakNya..
Jangan takut  ‘tuk meminta
S’bab Tuhan berkata mintalah apa saja…
Jangan takut ‘tuk berharap
S’bab harapan masih ada
Ambillah waktu sejenak, untuk mengetuk hati Tuhan,
Ambillah waktu sejenak, untuk mengenal isi hatiNya,
Ketika kau melakukannya maka menit demi menit akan berlalu tanpa terasa,
Dan jawaban doamu pun mengalir dari sorga.

Kebajikan Dan Kemurahan Tuhan

 
psalm23
Nats Firman Tuhan:
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHANsepanjang masa. (Mazmur 23:6)
Ayat 6 merupakan bagian akhir dari Mazmur pasal 23 yang terkenal keindahannya.  Pemazmur Daud mengalami secara pribadi bagaimana baiknya TUHAN sebagai Gembala terhadap dirinya.  Daud pun dulunya adalah seorang gembala di masa mudanya dan ia seringkali harus berhadapan dengan binatang buas untuk menjaga dan membela kawanan dombanya.  Daud merasakan betapa dirinya seperti seekor domba yang dijaga oleh seorang gembala yang baik yakni TUHAN sendiri. Ayat ini tidak hanya berlaku bagi Daud namun berlaku bagi kita semua segenap “kawanan domba” dari Gembala Agung.
Dalam Yohanes 10:11, Tuhan Yesus menyatakan diriNya sebagai gembala yang baik. “Akulah gembala yang baik”, kata Tuhan Yesus, dan pernyataan ini menjadikan semakin jelas bahwa Yesus menyatakan diriNya sebagai Allah yang digambarkan sebagai gembala dalam Perjanjian Lama, baik di Mazmur maupun kitab nabi Yesaya.
Ayat 6 mengungkapkan suatu kekhususan tindakan Tuhan sebagai gembala yang baik dan maksud dari tindakan itu.
Apakah tindakan Tuhan terhadap kawanan dombanya? Ialah memberikan kebajikan dan kemurahan belaka sepanjang umur hidup mereka.
Dari ayat 6 kita dapat mengerti bahwa:
1. Tindakan Allah semata-mata merupakan kebajikan dan kemurahan bagi umatNya.
Segenap perjalanan hidup manusia nampaknya mengalami keadaan “naik” dan “turun”, ada saat “baik” ada pula saat dimana nampaknya “tidak baik”.  Konsep dan definisi kita terhadap “kebajikan dan kemurahan Tuhan” umumnya hanya berkaitan dengan perkara-perkara yang baik, keadaan diberkati, keadaan sejahtera, aman dan sentosa. Memang benar tapi tidak sepenuhnya demikian, sebab dalam dunia yang penuh dosa ini, manusia harus mengalami suatu proses dalam hidupnya.  Proses itu merupakan pemurnian keadaan hati, perubahan pemikiran dan karakter, serta merupakan ujian kesetiaan dan ketaatan.
Itu sebabnya ada masa-masa dalam kehidupan ini yang membuat kita tidak mengerti, membuat kita bertanya-tanya mengapa hal ini terjadi, mengapa Tuhan mengijinkan ini dalam hidup saya, meskipun kita berada dalam koridor ketaatan dan penundukan diri terhadap firman-Nya.
Yusuf adalah salah satu contoh pribadi yang mengalami “keadaan pergumulan dan masalah”. Di usianya yang ke-17, ia dibuang ke sumur lalu dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya sendiri.  Yusuf hidup jauh dari ayah dan ibu yang sangat dikasihinya dan yang sangat mengasihinya juga. Yusuf mengalami fitnahan di Mesir dan mengalami keadaan dipenjara meskipun tidak bersalah.  Namun dalam semua proses kehidupannya itu, Yusuf tetap setia kepada Tuhan. Dan pada akhirnya, ia diangkat sebagai penguasa Mesir oleh sebab hikmat yang dimilikinya dari Allah. Proses pergumulan Yusuf selama 13 tahun, nampak sebagai sesuatu yang tidak baik namun ternyata itu merupakan “proses hidup” dan di dalam proses itu sungguh ada kebajikan dan kemurahan Tuhan.  Jadi, dalam proses hidup yang nampak tidak sesuai harapan, ternyata proses itu merupakan kebajikan dan kemurahan belaka.
Adakah kita mengeluh karena keadaan sulit dan mempertanyakan maksud Tuhan?
Roma 8:28 berkata bahwa Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.
Belajarlah dari ketekunan Ayub, yang dengan tekun menerima dan menjalani proses ujian penderitaan dalam hidupnya dan sebagai akhir dari masa proses itu, akhirnya Ayub merasakan bahwa sungguh Tuhan itu baik sepanjang waktu. “God is good all the time!”
2. Tujuan kebajikan dan kemurahan belaka dari Tuhan adalah agar kita diam dalam rumahNya sepanjang masa
Ada maksud dari tindakan Allah dalam kehidupan kita.  Kita mengerti sekarang bahwa semua tindakan Tuhan adalah kebajikan dan kemurahan belaka, dan tujuan dari itu semua adalah agar kita diam dalam rumah Tuhan selama-lamanya.
Maksud dari diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa bukan berarti kita terus menerus ada di tempat ibadah secara fisik, bukan juga soal kwantitas waktu pelayanan, dan bukan soal ritual agama lahiriah, tetapi yang dimaksud adalah persekutuan  kita secara pribadi dengan Allah, kehidupan yang senantiasa beribadah kepada Tuhan (lihat Roma 12:1 tentang arti ibadah sejati), dan berkumpulnya kita bersama Tuhan Yesus dalam kerajaan-Nya yaitu Sorga Mulia.
Inilah maksud mulia dari Allah bagi kita yaitu agar kita dekat dengan Dia senantiasa. Hanya bersama Dia kita mengalami kesukaan sejati.
Lihatlah, Allah menjadikan segala sesuatu sungguh teramat baik.
Haleluya. God bless you !
(BT)

Pemilu : Tuhan Yang Menetapkan

Hari-hari menjelang pemilu di Indonesia membuat sebagian orang mengalami “ketar-ketir”.  Ada yang dari kalangan masyarakat biasa dan terutama dari para calon anggota legislatif serta tentunya calon presiden.
Sebagian dari para caleg berusaha mendekati rakyat kecil agar mendapatkan simpati dan meraih banyak suara.  Ada yang melakukan bakti sosial dan kegiatan positif lainnya, namun ada juga yang berusaha dengan cara-cara tidak baik seperti menjelekkan orang lain, memfitnah dan lain-lain.
Diantara berbagai upaya tersebut ada pula yang menjalankan kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan kebenaran.
Ada yang pergi ke dukun, paranormal, hingga melakukan berbagai ritual-ritual yang aneh-aneh. 
Tentu saja, hal seperti itu merupakan suatu tindakan yang tidak sesuai dengan kehendak dan firman Allah. Tuhan berfirman,”carilah Aku maka kamu akan hidup.”  Barangsiapa yang mencari Tuhan akan memperoleh kehidupan, barangsiapa yang mencari petunjuk dari Tuhan maka akan menerima jawaban daripadaNya.
Menjadi anggota MPR/DPR bahkan menjadi presiden memang sesuatu yang nampaknya menyenangkan. Menjadi pemimpin di dunia umumnya pasti mendapatkan pelayanan nomor satu. Tapi Tuhan Yesus berkata barangsiapa hendak menjadi yang terutama hendaklah menjadi pelayan.  Kepemimpinan Yesus pun adalah kepemimpinan yang melayani. Dia mengutamakan memenuhi kebutuhan orang lain dan memperhatikan penderitaan orang kecil. Yesus memberikan jalan keluar dari persoalan yang menjerat masyarakat, sakit penyakit, masalah sosial, kematian dan jerat dosa.
Seorang pemimpin yang mewakili rakyat haruslah punya visi dan hati untuk rakyat dan punya iman yang teguh kepada Tuhan untuk menjunjung kebenaran.
Saul adalah raja Israel yang dipilih oleh Tuhan. Semula ia tidak disukai, tetapi setelah ia menunjukkan keberaniannya dan ketulusannya membela rakyatnya maka rakyat mendukungnya.
Daud juga demikian. Ia dipilih oleh Tuhan dan oleh keberanian dan ketulusannya dalam membela rakyatnya, Daud disukai oleh bangsa Israel.
Ada dua faktor agar seseorang terpilih menjadi pemimpin. Faktor pertama adalah pemilihan dari Tuhan.  Tuhanlah yang mengangkat dan menjatuhkan. Tuhanlah yang membuka dan menutup pintu.  Bila Ia sudah mengangkat maka tidak ada yang dapat menjatuhkan.  Bila Tuhan sudah membuka pintu tak ada yang dapat menutup.  Firman Tuhan berkata bahwa semua pemerintahan yang ada di dunia adalah ditentukan oleh Tuhan. 
Faktor kedua supaya dipilih adalah dari faktor internal seseorang.  Ia haruslah mempunyai karakter yang teguh dalam iman serta tulus dalam perbuatan. Ia harus memegang prinsip kebenaran dan hidup dalam nilai-nilai firman Allah.
Berdoa dan berusaha dengan hati yang tulus agar dapat menjadi pemimpin yang terpilih.  Dengan menyadari adanya faktor pertama kedaulatan Allah dalam pemilihan maka haruslah setiap calon pemimpin punya sikap berserah dan siap menghadapi bila ternyata ia tidak terpilih. Sebab tidak terpilih bukan selalu berarti tidak mampu dan bukan pula berarti kalah tetapi itu artinya bahwa Tuhan punya maksud dan rencana lain yang lebih baik.  Bisa juga karena waktunya belum tepat, ingatlah bahwa Daud meskipun sudah diurapi sebagai raja namun tidak langsung naik tahta, ada proses waktu yang harus ia jalani terlebih dahulu.
Jadilah orang yang sehari-harinya bersikap merakyat dan mengayomi orang lain serta peduli sesama, bukan hanya karena ada pemilu, sebab sikap seperti itulah yang mencirikan seorang pemimpin sejati.
“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,
dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.”
(Matius 20:26-27)

Lima Minggu Mencari Bayi

“Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.”
(Kisah Para Rasul 4:31)
Suatu ketika,  bayi mungil bernama Denise Weller, diculik oleh seseorang saat sedang berada di kereta dorongnya, di luar sebuah toko obat di Harlow, Inggris.  Ibunya sedang berada di dalam toko untuk membeli obat yang diperlukannya.  Ia kaget ketika melihat bayinya sudah tidak ada di dalam kereta dorong itu. 
Sejak itu, perburuan polisi terbesar dalam sejarah Inggris dimulai.  Sebuah tim yang terdiri dari 200 polisi dan detektif menyelidiki dan mencari bayi yang hilang itu.  Mereka bertanya  kepada 75.000 orang di Harlow, utara London.  Tiga ratus dua puluh surat kabar di London dan sekitarnya diterbitkan dengan kuesioner polisi berkaitan dengan penculikan tersebut, dengan harapan ada pembaca yang tahu tentang keberadaan sang bayi dan dapat membantu polisi dalam pencarian.  Di masa itu, jumlah tersebut adalah jumlah yang besar untuk pencarian seorang bayi.
Akhirnya, setelah lima minggu pencarian, Denise Weller ditemukan dalam keadaan selamat.  “Ini seperti liburan di sini , ” kata Kepala Polisi Willers Victers , setelah Denise ditemukan dalam serangan sebuah rumah di Harlow . ” Saya tidak pernah tahu bahwa seluruh kota sangat berbahagia”, katanya.
Saudara yang dikasihi Tuhan, kisah ini begitu menggugah kita orang percaya dalam hal semangat mencari jiwa yang hilang.  Jika ratusan polisi dan detektif begitu bersemangat mencari bayi yang hilang, agar ditemukan, seharusnya kita pun demikian dalam mencari jiwa-jiwa yang terhilang.  Tapi, yang terjadi justru seperti suasana setelah pencarian bayi dalam kisah itu.  Suasana hidup kita seperti dalam liburan, santai dan tak melakukan apa-apa bagi kerajaan Tuhan. 
Ayat di atas dengan jelas menyatakan bahwa ketika Roh Kudus memenuhi seseorang, maka ia akan berani menyampaikan firman Tuhan. Semangat kita bukanlah semangat yang berasal dari diri sendiri, tapi dari kuasa Roh Kudus di dalam kita.  Hendaklah kita berkobar-kobar karena kuasa Roh Kudus untuk mencari jiwa, dan melakukan kehendak Bapa di sorga, untuk kemuliaan-Nya. Satu jiwa bertobat, seluruh sorga bertempik sorai. Haleluya!
BT @RHNK

Jangan Marah

Kemarahan merupakan awal dan akar dari pembunuhan.  Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata agar kita tidak marah kepada saudara kita. (Matius 5:21-22)
Seperempat penduduk bumi punah saat Habel dibunuh oleh Kain (Kejadian 4:8). Akarnya adalah kemarahan yang diawali iri hati. Iri hati melahirkan amarah, amarah melahirkan kebencian yang melahirkan perbuatan membunuh.
Baru-baru ini Indonesia dihebohkan dengan peristiwa pembunuhan seorang bernama Ade Sara yang dilakukan oleh mantan pacarnya dan seorang wanita yang adalah pacar dari mantan pacarnya itu.  Tapi sebenarnya kedua pembunuh merupakan teman korban. Membunuh tidak kenal siapa korbannya apakah teman, sahabat, bahkan saudara, bila kebencian sudah begitu tertanam.
Salah satu dari kesepuluh perintah Allah adalah “Jangan Membunuh”. Membunuh merupakan suatu dosa keji di hadapan Tuhan. Akibat dari membunuh maka terjadi apa yang disebut sebagai ‘hutang darah’.  Ada istilah dalam Perjanjian Lama: “mata ganti mata”, “gigi ganti gigi”, “nyawa ganti nyawa”.
Bahkan dikatakan bahwa barangsiapa membunuh dengan pedang akan mati oleh pedang. Artinya: pembunuhan akan ada balasannya.  Yang membunuh akan mati dibunuh.  Sungguh mengerikan sekali konsekuensi dari membunuh sebab Tuhan mau agar dosa ini jangan sampai dilakukan manusia.
Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus banyak menekankan pentingnya hati yang bersih, bukan hanya soal syariat agama tetapi hakikatnya harus memiliki hati yang bersih. Untuk apa secara syariat agama, seseorang tidak membunuh namun hakikat hatinya penuh dengan marah dan benci.
Maka, kalau amarah dan kebencian dapat disembunyikan dari manusia, tidak demikian di hadapan Allah, karena Allah sanggup melihat sampai kedalaman hati manusia.
Jangan iri hati, jangan marah, apalagi marah tanpa alasan, jangan membenci, milikilah hati yang bersih dan suci. Biarlah kasih dan pengampunan bagi sesama selalu melimpah-limpah dalam hati kita.

Bapa Sorgawi Menjaga Kita

Selama hampir satu minggu, saya mengajarkan bagaimana cara naik sepeda kepada dua anak kembar saya.  Saya harus mendorong, memegangi sepeda dan berlari bolak-balik sepanjang 200 meter lebih, bukan hanya untuk satu orang anak, tapi dua orang anak kecil yang berpengharapan besar untuk bisa naik sepeda sendiri.
Hari pertama, kedua, ketiga dan keempat berlalu tanpa ada hasil yang memuaskan.  Tapi hari kelima, mereka mulai bisa sedikit demi sedikit mengayuh sepedanya tanpa terjatuh.  Selama waktu belajar itu, mereka sudah beberapa kali jatuh dan mengalami luka-luka di kaki.  Namun, itulah proses yang harus mereka jalani untuk mencapai tujuannya.
Setelah satu minggu, saya tidak lagi perlu ikut berlari di samping sepeda.  Hanya dari jauh, mata saya memandang mereka dan mengawasi apabila terjadi sesuatu yang membutuhkan bantuan.  Mereka sudah bisa tapi masih terus belajar.
Suatu kali, di kejauhan, anak saya terjatuh dari sepedanya dan pikir saya, ia pasti bisa bangun.  Tapi ternyata ia berteriak dengan keras, “Papaaaa…..Tolooongggg….!!” sebanyak beberapa kali. Serentak, saya langsung berlari dan mendekatinya serta mengetahui bahwa tali sepatunya tersangkut di pedal.  Saat itu juga, talinya yang tersangkut saya lepaskan dan anak saya bisa berdiri dan bermain sepeda lagi.
Terbersit dalam hati saya ketika itu, bahwa dalam setiap aktivitas hidup kita ada Bapa di sorga yang mata-Nya selalu memandang kita dengan penuh kasih. Ia tahu, manakala kita membutuhkan pertolongan-Nya dan Ia akan bersegera menolong kita yang minta tolong.
Seperti seorang anak kecil yang dengan yakin berteriak kepada papanya, dan yakin bahwa ia pasti ditolong, lebih lagi kita yang adalah anak Bapa sorgawi, bila kita berseru kepada Bapa, “Bapa….tolong saya…” maka Bapa di sorga pasti akan turun tangan menolong kita.
Saudara yang terkasih, jangan lupa berdoa, serukan nama-Nya, berteriaklah minta tolong kepada Bapa, dan pertolongan itu pasti datang, karena Bapa sorgawi mengasihi kita. Amin.
Billy Tambahani (BT- RHNK)