“Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?
Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?
Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”
(Matius 5:46-48)
Kesempurnaan seperti Bapa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam ayat ini, berkaitan dengan kasih kepada sesama. Hal ini merupakan perkara yang sangat penting karena setiap orang beriman harus memiliki salah satu buah roh yaitu kasih, dan ini bukanlah kasih yang biasa-biasa tetapi kasih yang sempurna sebagaimana yang Yesus katakan.
Bagaimanakah wujud dari kesempurnaan dalam kasih itu?
1. Mengasihi Orang Yang Membenci kita.
Tuhan Yesus berkata: “Kasihilah musuhmu!” (ayat 44). Ini merupakan perintah untuk memanifestasikan kasih agape dalam hidup kita, sebuah kasih yang sempurna dan tak bersyarat, “Unconditional love”. Mengasihi orang yang juga mengasihi kita adalah hal biasa, tapi mengasihi musuh merupakan kasih yang levelnya paling tinggi.
Tuhan Yesus memberikan teladan itu ketika di atas salib Ia berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Kejahatan jangan dibalas dengan kejahatan, tetapi balaslah kejahatan dengan kebaikan, demikian kata Tuhan Yesus.
2. Mendoakan Orang Yang Memusuhi Kita.
Secara lengkap ayat 44 dari Matius 55 tertulis demikian: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”
Bagian kedua perintah Tuhan Yesus dari ayat ini adalah “Berdoa bagi mereka yang menganiaya kamu.”
Mendoakan musuh merupakan wujud dari hati yang mengasihi. Kita mendoakan agar Tuhan mengampuni dan menolong serta memberkati orang-orang yang memusuhi kita, bahkan orang yang menganiaya kita.
Doa yang dinaikkan bukanlah doa kutuk sebab Tuhan memerintahkan kita untuk tidak mengutuk melainkan memberkati.
Allah telah menunjukkan kasih yang sempurna itu kepada kita manusia yang berdosa. Kita diampuni dan dikuduskanNya dengan darahNya sendiri yang Ia korbankan di atas salib.
“Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita.”
Firman Allah telah menjelma menjadi manusia daging yang tak berdosa. Yesus Kristus namaNya dan Dialah wujud nyata dari kasih Allah yang besar kepada kita.
DarahNya tercurah bagi pengampunan seluruh umat manusia. PengorbananNya hanya sekali untuk selamanya untuk kita.
Ia tidak membalas hinaan dan aniaya dengan kutuk tetapi Ia mengampuni.
Malam ini adalah malam dimana kita mengingat akan malam sebelum Tuhan Yesus disalib. Ia telah rela menjadi kutuk karena dosa kita. Orang-orang mengira Ia kena kutuk padahal dosa kitalah yang ditanggung olehNya.
Berbahagialah orang yang diampuni kesalahan-kesalahannya dan yang pelanggaran-pelanggarannya ditutupi.
Saudara dan saya, kita semua termasuk orang yang berbahagia itu. Marilah kita mengasihi sebagaimana Allah telah menunjukkan kasih-Nya kepada kita.
Darah Martir Di Sumatera Utara
Di Lobukpining, 18 km dari Tarutung arah ke Sibolga, Sumatera Utara, terdapat sebuah tugu peringatan mengenai Misionaris Layman dan Munson yang mati di tempat itu pada tahun 1834.
Menurut buku yang diterbitkan di Jerman, misionaris itu dibunuh karena mereka secara tidak sengaja menyebabkan kematian ipar kepala kampung dengan suatu tembakan saat sedang berburu rusa.
Dalam tugu itu pernah ditulis kata-kata ini: “Ermordet und aufgegessen” atau “dibunuh dan dimakan”, tapi kemudian tulisan itu diubah dengan: “The blood of the Martyr is the seed of religion” (darah martir menjadi bibit dari agama) yang dituliskan oleh orang Indonesia pada tahun 1940.
Kematian kedua orang misionaris itu tidak menutup perkembangan Injil, karena setelah Layman dan Munson dibunuh, datanglah gelombang misionaris lainnya ke tempat itu.
Nomensen yang mendengar berita kematian itu bertekad datang ke Sumatera, dan oleh pengabdiannya bertahun-tahun lamanya, ia dapat memenangkan Sumatera Utara bagi Yesus Kristus, sehingga ia pun dinamakan sebagai “Rasul Tanah Batak”.
(B. Malingkas)
Penggenapan Nubuatan Dalam Yesus : Mujizat Kesembuhan
Nubuat dalam Yesaya 35:4-6
“Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: “Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!”
Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka.
Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara.”
Penggenapan di dalam Yesus Kristus, Matius 11:2-6
Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus,
lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”
Yesus menjawab mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat:
orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.
Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”
Di dalam setiap masa sejarah, orang-orang yang dapat melakukan mujizat-mujizat yang benar-benar sempurna, merupakan suatu hal yang luar biasa.
Dalam sejarah mereka yang panjang, bangsa Israel melihat banyak orang yang melakukan perbuatan-perbuatan ajaib, walaupun bukan semuanya berasal dari Allah (ingat: tukang sihir Mesir pun melakukan sesuatu yang ajaib namun tidak sempurna karena bukan berasal dari Allah). Akan tetapi, selama empat ratus tahun, ketika para nabi tidak lagi berbicara kepada bangsa itu, perbuatan-perbuatan ajaib demikian tidak ada lagi dan orang-orang mengalami masa-masa sukar.
Tetapi Nabi Yesaya telah menubuatkan bahwa hal yang luar biasa seperti itu akan terjadi lagi dan perbuatan-perbuatan itu akan mencapai puncaknya apabila Mesias datang. Ia tidak hanya mengatakan bahwa Dia yang Dijanjikan akan memberikan kesembuhan secara jasmaniah kepada orang yang sakit dan menderita, melainkan Ia juga akan menyuburkan tanah yang gersang. Mata orang buta akan dicelikkan, telinga orang tuli akan dibuka, orang lumpuh dan orang timpang akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai dan mata air akan memancar di padang gurun. (Yesaya 35:4-6)
Mujizat-mujizat kesembuhan yang dilakukan-Nya akan menjadi bukti yang nyata bahwa Ia adalah Mesias yang sesungguhnya. Tanda-tanda ajaib ini akan membuktikan bahwa “Roh Tuhan ada pada-Nya” dan “Ia diurapi untuk menyembuhkan orang-orang yang remuk hati dan Ia akan membebaskan orang-orang yang ditawan oleh dosa (Yesaya 42:1 ; 61:1-2)
Pada saat Yohanes Pembaptis dikurung dalam penjara Herodes, karena ia telah mencela Herodes yang menikahi istri saudaranya sendiri, ia selalu memikirkan semua nubuat yang harus digenapi Mesias apabila Ia datang. Yohanes tahu bahwa Mesias datang untuk menyucikan hati bangsa-Nya dan untuk membinasakan orang-orang yang menindas dan yang menganiaya bangsa pilihan Allah. Tetapi ia juga tahu bahwa Mesias harus menderita untuk menebus dosa bangsa Israel dan juga untuk menebus dosa semua umat manusia, sebab sebelumnya Yohanes sendiri telah berkata tentang Yesus, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang telah menghapus dosa manusia” (Yohanes 1:29).
Tetapi ketika Yohanes dipenjarakan dan ia ingin melihat bagaimana Yesus dapat menggenapi kedua peranan itu, ia memutuskan untuk mengutus murid-muridnya untuk bertanya kepada Yesus siapakah Dia itu sesungguhnya. Lalu beberapa orang dari murid Yohanes pergi kepada Yesus dan bertanya: “Engkaukah yang Akan Datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Yesus menjawab mereka : “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: ORANG BUTA MELIHAT, ORANG LUMPUH BERJALAN, ORANG KUSTA MENJADI TAHIR, ORANG TULI MENDENGAR, ORANG MATI DIBANGKITKAN, dan KEPADA ORANG MISKIN DIBERITAKAN KABAR BAIK. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” (Matius 11:2-6).
Yesus mengerti bahwa Yohanes pasti mengetahui nubuat-nubuat tentang kuasa Mesias dalam melakukan mujizat dan Ia tahu bahwa dengan mengutip nubuat ini kepada Yohanes maka hal ini akan meyakinkan dia tentang diri Yesus yang sesungguhnya. Yesus menunjukkan salah satu bukti keMesiasan-Nya, yaitu kuasa untuk melakukan mujizat-mujizat yang luar biasa itu dan hal tersebut cukup merupakan bukti bagi Yohanes untuk teguh percaya bahwa Yesus lah Mesias yang dijanjikan dan dinubuatkan oleh para nabi dahulu kala.
Suku Anak Dalam : Terasing Di Tanah Sendiri
Dalam suatu perjalanan, saya melihat bagaimana mereka lari bila disorot dengan lampu kendaraan pada malam hari. Mereka terkesan tertutup terhadap orang lain, meskipun ada orang-orang dari suku Anak Dalam yang sudah lebih dapat bergaul dengan orang luar.
Kehidupan mereka yang masih terkungkung dalam pola pikir seperti itu membuat mereka sulit untuk mengalami kemajuan secara ekonomi. Saya mendengar informasi tentang terjadinya barter tanah dengan beras antara suku Anak Dalam dengan pendatang dari luar. Tanah yang luas dengan sukarela ditukarkan oleh orang suku Anak Dalam demi sekarung beras saja. Ada pula kabar tentang rumah-rumah yang dibangun khusus untuk suku Anak Dalam namun rumah-rumah itu kosong karena ditinggalkan pergi oleh mereka.
Tentu, fenomena ini menyulut belas kasihan kita pada mereka. Mereka adalah saudara-saudara kita yang harus kita jangkau dan didik agar mengerti prinsip dan cara hidup yang baik dalam sosial masyarakat yang tertata dengan benar dan teratur. Mereka sangat perlu diberikan penyuluhan dan pendidikan agar memiliki ilmu dan pengetahuan yang berguna bagi kemajuan mereka.
Saya juga mendengar kabar tentang demonstrasi yang dilakukan oleh orang-orang dari penduduk asli Jambi, baik itu yang disebut suku Anak Dalam maupun suku Kubu, khususnya mereka yang sudah melek dengan pengetahuan dan situasi kondisi suku mereka, menuntut agar pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan penduduk suku-suku asli Jambi.
Ini adalah tugas kita semua, baik pemerintah, tokoh-tokoh agama dan masyarakat untuk menjangkau dan menolong mereka serta memberikan pengajaran, pendidikan serta pengetahuan dan wawasan agar suku-suku asli tidak menjadi terasing di tanah mereka sendiri.Kita perlu mendorong pemerintah daerah setempat dan harus pula menjadi perhatian pemerintah pusat, untuk secara kontinu mengadakan program kegiatan untuk kemajuan suku Anak Dalam Jambi. Namun, dengan keikutsertaan lembaga NGO dan tokoh agama serta tokoh masyarakat, upaya-upaya bagi perubahan dan kesejahteraan suku Anak Dalam, akan mengalami percepatan dan semakin menjadi kenyataan.
(Billy Tambahani)
Kepedulian Sosial
Tuhan Yesus memberikan suatu perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati, ketika ada yang bertanya tentang siapakah yang dimaksud dengan sesama manusia. Cerita ini tercatat dalam Injil Lukas 10:30-37, dan merupakan salah satu pengajaran Tuhan Yesus tentang kepedulian atau kasih terhadap sesama manusia.
Joseph Tong mengatakan:
“Dalam iman Kristen, ada fakta bahwa kita adalah bagian dari usaha Tuhan memelihara ciptaan-Nya. Seperti orang-orang Kristen di Makedonia, di tengah-tengah kemiskinan yang memilukan, sukacita mereka dapat berlimpah-limpah. Hidup mereka meluap dengan penuh kemurahan hati
(2 Korintus 8:1). Fakta bahwa Tuhanlah yang pertama-tama memberi mereka anugerah merupakan alasan bagi mereka untuk memberi.”[1]
Billy Graham mengatakan:
“Sering saya ditanyai tentang hubungan antara kegiatan sosial dan penginjilan. Penginjilan adalah prioritas utama; namun penginjilan juga sangat erat hubungannya dengan kegiatan sosial. Kita harus turut merasa terbeban atas kebutuhan manusia; beban itu harus lebih dari sekedar ‘menaruh perhatian’ saja”[2].
Orang-orang percaya kepada Tuhan Yesus harus menunjukkan kepedulian terhadap kebutuhan dan penderitaan orang-orang di dunia ini melalui pelayanan yang nyata.
Diambil dari : Thesis S2 Teologi Kependetaan Judul “Hubungan Antara Religiusitas dan Kondisi Ekonomi”, Penulis : Billy Tambahani, Halaman 43-44, STT Kharisma Bandung.
[1]Joseph Tong, “Aksi Sosial Kristen Dan Kepedulian Kepada Orang Miskin”, Jurnal Teologi STULOS (Bandung: Sekolah Tinggi Teologia Bandung, 2004), hlm. 17.
[2]Billy Graham, Beritakan Injil, dit. oleh Doreen S. Widjana (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 1999), hlm. 153)
Usahakanlah Kesejahteraan Kotamu
Nats Alkitab:
Yeremia 29:7 berkata demikian: “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”
Ayat ini merupakan firman Tuhan kepada orang Israel yang mengalami peristiwa pembuangan di Babel. Ternyata, meskipun mereka berada di “tempat pembuangan”, Tuhan mau agar mereka bertindak aktif dan mengupayakan kesejahteraan kota di tempat dimana mereka berada.
Umumnya, kita akan berpikir bahwa kalau hidup dalam pembuangan maka kehidupan yang seharusnya dijalani adalah santai-santai saja dan tidak melakukan apa-apa, malah justru menerapkan istilah “hidup segan mati tak mau”. Mengapa? Karena toh berada dalam pembuangan, artinya sudahlah tidak usah ngapa-ngapain lagi, pasrah aja dengan keadaan, seolah-olah seperti itu tapi tidak demikian menurut firman Tuhan. Jadi, meskipun dalam pembuangan, bangsa Israel harus bersikap proaktif untuk kebaikan dan kesejahteraan kota tempat tinggal mereka.
Ayat ini sebenarnya dapat kita ambil maknanya dalam kehidupan kita sekarang ini. Kita adalah umat Tuhan, bangsa pilihan Allah secara rohani, umat perjanjianNya, dan sebagai umat Tuhan kita harus memiliki sikap sama seperti yang Tuhan firmankan dalam Yeremia 29:7 di atas yakni mengusahakan kesejahteraan kota kita.
Apa makna firman Tuhan tersebut dalam kehidupan kita di Indonesia?
1. Usahakanlah Kesejahteraan Kotamu: Berikan Suara Pada Pemilu!
Umat beriman yang percaya kepada Tuhan Yesus tersebar dimana-mana di seluruh dunia ini dan salah satunya ada di Indonesia. Sebentar lagi, tanggal 9 April 2014, kita akan menjalankan Pemilihan Umum untuk memilih anggota legislatif di daerah dan pusat. Salah satu bentuk upaya untuk mengusahakan kesejahteraan kota kita adalah dengan memberikan suara atau pilihan kita pada Pemilu ini. Pilihlah partai dan anggota legislatif yang mempunyai visi misi yang jelas untuk memberikan kesejahteraan bagi seluruh bangsa Indonesia, yang berwawasan nasionalis dan memegang teguh Pancasila sebagai dasar berkehidupan kebangsaan. Pilihlah anggota legislatif yang takut akan Tuhan dan mewakili kita sebagai umat beriman di Indonesia.
Sebagai caleg, bila sudah terpilih maka ia harus mengusahakan kebijakan-kebijakan dan program-program yang bertujuan untuk mensejahterakan kehidupan seluruh rakyat Indonesia, tanpa memandang perbedaan.
2. Berdoalah Untuk Kotamu: Meminta Intervensi Kuasa Tuhan atas Indonesia.
Selain berusaha, kita juga harus berdoa kepada Tuhan. Usaha tanpa disertai doa akan menjadi sia-sia. Dalam kehidupan ini, kita harus menyadari bahwa ada kuasa Tuhan yang dapat kita andalkan. Suatu kuasa yang tak terbatas dan mampu untuk melakukan segala sesuatu termasuk perkara-perkara yang mustahil.
Marilah kita doakan proses dan jalannya Pemilu tanggal 9 April ini agar dapat berjalan dengan baik dan situasi aman dan tenteram, tidak ada kerusuhan dan demonstrasi.
Doakanlah agar Tuhan turut campur tangan dalam Pemilu sehingga yang terpilih adalah yang takut akan Tuhan dan memiliki karakter baik, jujur, benar dan adil.
1 Timotius 2:1-4 berkata: “Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.
Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.”
Ingat! Berusahalah dan berdoalah untuk kota kita. Dimanapun saudara berada, berdoalah untuk kotamu dan berusahalah agar tercipta kesejahteraan di kota saudara. Inilah saatnya perubahan, berikanlah suara kita karena satu suara anda sangatlah penting dan berharga bagi jalannya pemerintahan dan situasi kesejahteraan bangsa kita, Indonesia.
Kiranya Tuhan Yesus menolong kita semua, amin.
Kuasa Firman Tuhan
Seorang misionaris Jerman yang melayani di propinsi Shansi di daratan Cina, menceritakan tentang seseorang yang datang ke Balai Buku Misi, yang juga merupakan tempat tinggalnya, untuk membeli Alkitab.
Orang tersebut tinggal begitu jauh di pedalaman dan belum pernah melihat orang asing ataupun mendengar seorang pengkotbah menyampaikan Injil. Namun, ia pernah menerima buku Injil Matius yang diberikan oleh seseorang kepadanya.
Pada waktu ia tiba di rumah misionaris itu, ternyata sang misionaris Jerman tersebut sedang bepergian. Orang itu pun menunggu sampai misionaris itu pulang dan selama itu ia dipersilahkan untuk tinggal sementara di rumah tersebut karena mengingat tempat tinggalnya yang sangat jauh di pelosok.
Di tempat tersebut, ia membaca Perjanjian Baru sampai tiga kali dan pada waktu misionaris itu kembali, orang itu meminta untuk dibaptiskan. Suatu gambaran yang jelas bagaimana kuasa firman Tuhan bekerja pada seseorang!
Alkitab berkata: “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17).
Setiap orang yang mendengar ataupun membaca Alkitab sesungguhnya sedang berhubungan dengan kuasa Allah. Sehingga firman yang ia baca akan menggoncangkan segala sendi-sendi pikirannya yang salah dan membangun suatu sendi-sendi pikiran baru yang berasal dari sorga.
Bacalah Alkitab setiap hari dan upayakanlah agar firman Tuhan dapat didengar dan dibaca juga oleh orang lain yang membutuhkan keselamatan.
Tidak perlu kata-kata lain yang indah-indah, firman Tuhan cukup karena mengandung kuasa sorgawi. Haleluya!
Tinggalkan Masa Lalu
Janganlah mengatakan: “Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang?” Karena bukannya berdasarkan hikmat engkau menanyakan hal itu. (Pengkhotbah 7:10)
Keterikatan dengan masa lalu akan membuat kita terhambat untuk maju. Pikiran yang selalu terfokus kepada keadaan di masa lalu akan menghalangi rencana dan tujuan di masa depan.
Biarkanlah masa lalu itu berlalu, dan hiduplah dalam masa kini serta tataplah hari esok yang penuh dengan harapan. Jangan biarkan iblis memperdayai dengan menjadikan kita terlena akan masa lalu. Kadangkala kita berpikir masa lalu lebih baik dari masa sekarang, tapi ingat ayat Alkitab dalam kitab Pengkotbah 7:10, karena ternyata pikiran seperti itu tidak berdasarkan hikmat.
Jadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk melangkah di masa depan. Jika anda ingin masa sekarang berbeda dengan masa lampau, pelajarilah masa lampau itu, tetapi jangan hidup dalam bayang-bayang masa lalu.
Hal-hal apa saja yang seringkali membuat seseorang berpikir bahwa masa lalu lebih baik? Berikut adalah beberapa aspek penyebabnya:
1. Keadaan ekonomi yang baik.
Mungkin di masa lalu keadaan ekonomi dan keuangan berada pada level baik atau sangat baik sehingga kehidupan begitu makmur dan sejahtera secara finansial, sedangkan di masa sekarang kondisi keuangan kurang baik bahkan cenderung sangat kurang, dan situasi ini menyebabkan pikiran kembali menerawang ke masa lalu. Apa yang timbul akibat hal ini? Hanyalah rasa kecewa dan putus asa serta keluhan yang tak putus-putusnya dan perasaan takut menghadapi hari esok serta keengganan menerapkan rencana-rencana dalam kehidupan masa kini. Jangan biarkan diri kita terbelenggu dengan masa lalu, karena untuk segala sesuatu ada waktunya dan ketahuilah bahwa Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Dalam segala waktu ada penyertaan Tuhan dan saat susah sekalipun, Tuhan selalu beserta karena Dia Allah yang Immanuel. Dalam segala perkara Tuhan punya rencana yang baik. Bersyukurlah untuk masa kini dan percayalah bahwa hari ini sesungguhnya lebih baik dari kemarin karena kita naik pada level kehidupan rohani yang lebih tinggi.
2. Kesenangan Akan Dosa.
Kehidupan masa lalu yang penuh dosa terkadang membuat seseorang ingin kembali lagi dalam kebiasaan masa lalunya. Dosa yang nampaknya nikmat dan menyenangkan membuat pikiran tidak dapat lagi membedakan mana yang lebih baik, oleh sebab masih dikuasai oleh kedagingan dan hawa nafsu.
Ingatlah bahwa seenak-enaknya hidup dalam dosa, itu akan membawa kita kepada kebinasaan kekal.
Alkitab berkata: ” Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17)
Dengan demikian, sebagai ciptaan baru kita harus hidup dalam kehidupan yang baru di dalam Kristus Yesus, benar-benar terbebas dari hidup yang lama baik dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.
3. Kenyamanan Situasi Masa Lalu
Ada orang yang ingin kembali seperti masa lalu karena mengingat akan kenyamanan hidup saat itu. Situasi hidup akan terus berubah, ada fase-fase kehidupan yang harus kita lalui. Tidak ada yang kekal dalam dunia ini, semuanya akan berlalu. Oleh karena itu, kita hidup dari waktu ke waktu, jangan sampai tubuh kita berjalan dengan waktu tapi pikiran kita tertinggal di masa lalu.
Ada masa kanak-kanak, masa remaja, masa pemuda/pemudi, masa pernikahan, masa punya anak dan mendidik mereka, masa belajar, masa bekerja, masa berhenti dari bekerja, masa pensiun, masa tua, dan masa kembali kepada Tuhan. Nikmatilah dan syukurilah setiap masa dalam kehidupan kita, dan yakinlah bahwa setiap waktu itu baik bersama Tuhan.
Bekerjalah selama hari masih siang, giatlah dalam pekerjaan Tuhan, selalu ceria dalam hidup ini karena ada sukacita sorgawi yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam hati kita.
Lepaskanlah diri dari masa lalu, jangan selalu berandai-andai, dan syukurilah hari ini yang telah dijadikan Tuhan, dan songsong hari esok dengan iman dan sukacita. Haleluya! Tuhan Yesus memberkati kita semua senantiasa.
Kuasa Pujian Dalam Hidup Kita
Kisah Para Rasul 16:25-26 mencatat peristiwa tentang dipenjarakannya rasul
Paulus dan Silas. Namun, di tengah malam mereka berdua menaikkan doa dan menyanyikan pujian kepada Tuhan. Setelah itu, terjadi gempa bumi yang hebat sehingga sendi-sendi penjara itu goyah dan belenggu mereka terlepas.
Tentu peristiwa gempa dan terlepasnya belenggu tersebut disebabkan oleh intervensi kuasa Allah. Para malaikat sorga menggoncangkan bumi sekitar penjara dan melepaskan belenggu mereka.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Adalah karena mereka berdoa dan memuji Tuhan. Ada kuasa dalam doa, ada kuasa pula dalam pujian kepada Allah. Sebagai orang beriman, kita harus memiliki kebiasaan untuk memuji Tuhan lewat nyanyian dan mazmur, karena di sorga nanti salah satu hal yang akan dikerjakan adalah memuji dan memuliakan Tuhan.
Pujian kepada Tuhan penting bagi setiap orang percaya karena mengandung kuasa. Apa saja faedah pujian kepada Tuhan?
1. Pujian mengundang hadirat Tuhan.
Mazmur 22:4 berkata: “Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.”
Disini nyata bahwa di atas setiap pujian umat-Nya, Allah bertahta. Artinya, Tuhan hadir dan kehadiran-Nya berarti bahwa ada kemuliaan sorga dan membawa damai sejahtera dalam kehidupan kita. Dalam ayat ini tertulis “orang Israel”, dan kita semua yang percaya Tuhan Yesus adalah orang Israel rohani yang telah dicangkokkan kepada pokok anggur yang benar yaitu Tuhan. Jadi, saat kita memuji Tuhan, dengan kesungguhan dan ketulusan hati, maka disitu Tuhan hadir.
2. Pujian mengusir roh jahat
Dalam 1 Samuel 16:23 tertulis: “Dan setiap kali apabila roh yang dari pada Allah itu hinggap pada Saul, maka Daud mengambil kecapi dan memainkannya; Saul merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur dari padanya.”
Yang dimaksud roh yang daripada Allah yang hinggap pada Saul dalam ayat ini adalah roh jahat, tapi bukan berarti bahwa roh itu adalah roh Allah. Ingat bahwa sebelum Ayub dicobai iblis, iblis itu meminta ijin dulu kepada Allah. Jadi roh jahat bertindak atas seijin Allah namun Allah tetap yang berkuasa dan berdaulat. Pengertian ini dalam dan secara sederhana kita pahami bahwa roh yang hinggap pada Saul adalah roh jahat.
Perhatikan bahwa ketika Daud menyanyikan pujian maka roh jahat itu undur daripada Saul, dan kemudian Saul merasa lega dan nyaman.
Saya ingat ketika anak pertama saya berumur kira-kira 3 bulan, terkadang ia menangis pada malam hari bahkan tengah malam. Sempat saya dan istri bingung menghadapinya, karena diberikan susu tidak mau, dan dicek apakah ia ngompol atau buang air besar ternyata tidak. Lalu, saya ingat untuk memuji Tuhan. Jadi, saya menyanyi memuji Tuhan. Saat menyanyi itulah anak saya menjadi tenang dan tertidur. Rumah dimana kami tinggal waktu itu pernah ditaruh semacam kertas doa di atas pintu dalam huruf kanji mandarin. Jadi, mungkin ada roh-roh jahat yang mau mengganggu anak saya, namun nyanyian pujian mengundang kuasa Sorga turun dan menghalaukan roh-roh jahat itu. Haleluyaaa!
3. Pujian membawa mujizat dan kemenangan
2 Tawarikh 20:20-22 menceritakan peperangan antara raja Yosafat bersama bangsa Yehuda yang dipimpinnya berhadapan dengan bani Amon dan bani Moab. Yosafat menempatkan para pemuji dan penyanyi di depan pasukannya berhadap-hadapan dengan musuh.
Ketika mereka menyanyi dan bersorak bagi Tuhan, musuh menjadi kocar-kacir dan saling bunuh satu sama lain karena Tuhan membuat penghadangan terhadap mereka.
Tuhan lah yang berperang ganti mereka dan mereka hanya berdiam saja. Ketika pujian dan penyembahan dinaikkan kepada Tuhan, ada mujizat terjadi dan Tuhan memberikan kemenangan.
Saat perang sipil Amerika, pemerintah menarik pulang para pasukan pemain drumband yang biasa maju di depan pasukan dalam peperangan. Para jenderal perang mengirimkan surat dan berkata bahwa keputusan itu adalah salah. Sebab mereka terpukul kalah berulang kali. Akhirnya, pemerintah kembali menugaskan para pemain drumband ke medan peperangan, dan mereka berhasil meraih kemenangan. Atmosfer peperangan berubah tatkala ada musik pujian.
Dalam kehidupan kita, biasakanlah memuji Tuhan dalam setiap waktu. Saat suka maupun duka, ada masalah atau tidak ada masalah, saat apapun biarlah dari mulut kita keluar pujian dan penyembahan kepada Tuhan.
Jangan terbiasa menyanyikan musik duniawi, apalagi sebagai orang beriman bahkan pendeta atau hamba Tuhan, biarlah hati kita selalu memuji Tuhan sehingga dari mulut pun yang keluar adalah nyanyian pujian.
Ingatlah ada kuasa dalam setiap nyanyian pujian kita kepada Tuhan.
Menghormati Ibu
Pada waktu George Washington berumur enam belas tahun, ia mengambil keputusan untuk meninggalkan rumahnya dan menjadi taruna Angkatan Laut.
Setelah ia mengirim kopernya, tiba saatnya untuk berpamitan pada ibunya. Ia menemui ibunya dan hendak mengucapkan selamat tinggal. Ibunya menangis tersedu-sedu sehingga George pun berubah pikiran. Ia meminta supaya koper yang telah dikirimkannya dibawa pulang lagi.
“Saya tidak akan membuat ibu saya menderita karena saya meninggalkan dia,” katanya.
Keputusan George akhirnya telah menjadikan dia sebagai seorang tentara Angkatan Darat, kemudian menjadi menteri, dan puncaknya menjadi seorang presiden Amerika Serikat.
Segala karirnya yang memuncak itu disebabkan oleh karena suatu tindakan yang sederhana yaitu menjadikan ibunya gembira.
(Kramer)
“Hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
(Matius 19:19)

