Pelajaran Dari Hachi

billyhachikoSeluruh isi Alkitab berbicara tentang kasih dan kesetiaan Tuhan kepada manusia ciptaan-Nya.  Meskipun berulang kali manusia jatuh ke dalam dosa, melakukan pelanggaran, bahkan menjauhi Tuhan, namun kasih dan kesetiaan Tuhan tidak pernah surut dan lenyap, tetapi justru malah dikatakan bahwa kasih setia Tuhan tidak pernah berkesudahan. Mazmur 89:2 berkata: “Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit.”  Dan oleh kasih setia-Nya juga, maka Allah sendiri datang menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia ciptaan-Nya dari penghukuman dan kebinasaan kekal.
Suatu kali, oleh kemurahan Tuhan, saya berangkat ke Jepang bersama rombongan untuk melakukan studi banding disana. Kami berkunjung ke beberapa tempat seperti Tokyo, Nagoya, Gifu dan lain-lain, juga memperoleh kesempatan bertemu dan berbincang dengan pihak kementerian perindustrian dan perdagangan Jepang.  Selain melihat dan mempelajari proses dying dan finishing tekstil di beberapa pabrik, kami juga berkesempatan untuk jalan-jalan walaupun tidak terlalu banyak waktu untuk hal itu.
Salah satu teman, yaitu abang PA (Pendalaman Alkitab) saya dulu di kampus, bekerja di salah satu kota di Jepang  dan mengajak untuk bertemu.  Pertemuan pertama terjadi di dekat East 21, dan saya diajak makan makanan yang asing bagi lidah saya, maklum lidah indonesia senang dengan makanan yang matang dan banyak bumbu.  Sedangkan di Jepang banyak makanan yang setengah matang bahkan mentah, selain itu memang cara pengolahannya berbeda sebab perbedaan budaya dan tradisi dalam kuliner.
Pertemuan kedua, disepakati di sebuah tempat di distrik Shibuya.  Tempat yang termasuk padat dan ramai dikunjungi orang dan dipenuhi juga oleh banyak kalangan muda Tokyo yang sekedar nongkrong dan menunjukkan jati diri serta komunitas mereka.  Kami bertemu di “makudona” atau McDonald, karena begitulah orang Jepang menyebut nama restoran ini.  Setelah bertemu, kami pergi ke stasiun kereta dan hendak menuju ke Yokohama.  Namun, saat sedang berjalan kaki, abang PA saya berhenti dan mengajak untuk berfoto di sebuah patung berbentuk anjing.  Rupanya, inilah patung anjing yang terkenal bernama Hachi, yang bahkan difilmkan oleh Hollywood.
Hachi adalah seekor anjing yang setia menantikan kedatangan tuannya di stasiun kereta Shibuya, pada saat pulang kerja sore hari. Setiap pagi, Hachi akan mengantarkan tuannya ke stasiun dan menjemputnya pada sore hari.  Demikianlah kebiasaannya bertahun-tahun. Namun suatu hari, tuannya meninggal saat berada di tempat kerjanya dan sudah pasti tidak akan muncul lagi pada sore harinya.  Hachi yang tidak tahu bahwa tuannya sudah mati, terus saja menunggu setiap sore dan bahkan pada akhirnya ia tinggal di dekat stasiun untuk menunggu kedatangan tuannya.  Sampai akhirnya, Hachi, anjing yang setia itu mati di stasiun karena cuaca dingin dan kekurangan makan.
Cerita Hachi sangat menginspirasi kita dalam hal kesetiaan kepada Tuhan.  Beberapa ayat Alkitab menyuruh kita belajar dari beberapa binatang tentang sifat mereka, seperti semut yang rajin, kuda, keledai, dan beberapa binatang lain. Bahkan Alkitab juga menyebutkan tentang anjing yang makan remah-remah dari meja tuannya (perkataan dari seorang wanita yang percaya kepada Yesus dalam Matius 15:27) yang mana ini juga mengandung arti tentang kesetiaan, penundukkan diri dan kerendahan hati dari si anjing terhadap tuannya.
Kesetiaan merupakan hal yang langka.  Amsal menyebut bahwa banyak orang menyebut dirinya baik hati, tetapi orang yang setia siapakah menemukannya? (Amsal 20:6).  Jadi orang yang baik hati ternyata belum tentu setia.  Kesetiaan merupakan suatu sifat yang harus kita miliki terutama kepada Tuhan dalam hal mentaati kehendak firman-Nya serta iman percaya kepada-Nya.
reflecting-Gods-faithfulness-artiSecara praktis dalam kehidupan kita, kesetiaan itu harus diwujudnyatakan dalam kehidupan pernikahan, setia kepada pasangan dan bukan hanya setia tapi juga selalu mengasihi.  Setia dalam keadaan apapun sebagaimana janji pernikahan.  Kesetiaan juga dapat diwujudkan dalam membimbing anak-anak di rumah, menghadapi orangtua, menghadapi rutinitas rumah tangga setiap hari, setia dalam mengasihi dan melayani sesama, karena apa yang kita lakukan terhadap sesama juga merupakan perlakuan dan pelayanan kepada Allah.
Di bagian akhir dari Alkitab, disebutkan bahwa Tuhan mencari orang-orang yang setia.  Lawan dari setia adalah seleweng atau khianat, suatu tindakan yang menolak menuruti perintah atau tindakan tidak mengakui akan status hubungan antara dua pihak dan bahkan berbalik menjadi musuh, itulah makna seleweng atau khianat.
Dalam Wahyu, Tuhan Yesus berfirman : “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”
Jikalau Tuhan begitu setia kepada kita, masakan kita tidak mau setia kepada Tuhan?  Marilah kita setia selalu kepada Tuhan Yesus. Jangan hanya anjing yang bisa setia pada tuannya, kita sebagai manusia, ciptaan yang lebih mulia dari anjing, harusnya malu apabila kita tidak setia sungguh-sungguh kepada Tuan Agung kita yaitu Tuhan Yesus Kristus.
Setia, setia, dan setialah! Amin.
Faithfulness_bulletin-week-1_Gods-faithfulness-to-us
 

Makna Kebangkitan Yesus

jesusrisen
Apakah yang seandainya terjadi bila Yesus Kristus tidak bangkit?
Alkitab berkata bahwa sia-sialah pemberitaan Injil Kristus bila Ia tidak bangkit dari kematian dan sia-sialah juga iman semua orang yang percaya kepada-Nya.  Namun, syukur kepada Allah sebab Tuhan Yesus sudah bangkit dari kematian dan kebangkitan-Nya itu memberikan arti dalam kehidupan kita.
Apakah makna kebangkitan Kristus?
1. Kita tidak takut menghadapi maut, sebab maut telah dikalahkan. 
Kebangkitan Yesus Kristus mengandung arti bahwa Ia telah mengalahkan kematian.
1 Korintus 15:55 berkata: ” Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?”
Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”
Adam, manusia pertama, membawa seluruh manusia ke dalam maut oleh karena dosa, tetapi Yesus Kristus telah membawa seluruh manusia kepada kehidupan kekal melalui kebangkitan-Nya.  Barangsiapa percaya kepada-Nya akan beroleh hidup yang kekal.
Oleh karena maut telah dikalahkan, maka kita yang percaya kepada-Nya tidak perlu lagi takut akan kematian.  Kematian merupakan suatu keuntungan, karena kematian tubuh jasmani ini membawa kita kepada kehidupan kekal di dalam kerajaan sorga.
2. Kita hidup dalam kuasa Allah, sebab segala Kuasa di Sorga dan di bumi ada pada Yesus.
Dalam Injil Matius 28:18,  Yesus berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” dan sesudahnya Tuhan Yesus memberikan perintah Amanat Agung kepada murid-murid.
Yesus adalah penguasa atas segala sesuatu, dan kuasa itu Ia berikan juga kepada para murid dan segenap orang percaya untuk memanifestasikan kuasa Allah dalam kehidupan mereka untuk menjangkau jiwa-jiwa bagi Tuhan.
Sembuhkan yang sakit, bangkitkan orang mati, tahirkan orang kusta, usirlah setan-setan, itulah perintah Tuhan kepada kita untuk memakai kuasa Tuhan dalam pelayanan.
Kuasa Tuhan Yesus kita pakai untuk berperang melawan roh-roh jahat yaitu kuasa iblis yang bekerja di dunia ini.
Oleh karena itu, marilah kita berjalan dalam kuasa Allah dan memakai kuasa itu dalam kehidupan kita, supaya kita berkemenangan.
Semua tantangan, pergumulan dan apapun masalah bahkan kuasa iblis tidak akan dapat mengalahkan kita sebab ada kuasa Tuhan dalam hidup kita oleh kebangkitan-Nya.
3. Kita mengalami perubahan hidup secara rohani.
Roma 6:5-5 berkata demikian: “Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.”
Kita telah dipersatukan dengan kematian-Nya dan juga kebangkitan-Nya.  Dipersatukan dengan kematian-Nya berarti bahwa kita telah mati bagi dosa dan semua keinginan dosa.  Dipersatukan dengan kebangkitan-Nya berarti bahwa kita hidup dalam hidup yang baru yaitu kehidupan bagi Tuhan.
Hidup kita sekarang ini bukanlah milik kita lagi, melainkan hidup yang dipersembahkan bagi Tuhan karena memang adalah milik Tuhan.  Jadi, sebagai milik Tuhan maka kita harus hidup dalam kehendak Tuhan yang sempurna, berbuah-buah secara rohani, dan tidak lagi hidup dalam tabiat dan kebiasaan dosa.
4. Kita bersemangat dalam melayani Tuhan.
Dalam Injil Yohanes 21 diceritakan bagaimana para murid sedang mencari ikan dan disitu Tuhan Yesus menampakkan diri kepada mereka semua. Perlu kita ketahui bahwa penampakan Yesus bukanlah penampakan hantu, tetapi penampakan akan tubuh kebangkitan Tuhan.  Tubuh-Nya yang bangkit itulah yang nampak kepada para murid.
Para murid yang tadinya merasa patah semangat karena Tuhan Yesus disalib dan mati, kembali dibangkitkan semangatnya oleh kebangkitan Tuhan Yesus.  Ia sudah bangkit dan oleh karena itu, kita harus bersemangat dalam melayani Tuhan, dan setia sampai mati. Para rasul begitu bersemangat memberitakan berita kebangkitan dan penebusan Yesus bagi semua manusia, dan mereka tetap bersemangat meskipun banyak tantangan dan bahkan aniaya. Bagaimana dengan kita? masih semangatkah kita melayani dan mengiring Tuhan?  Arahkan mata iman kita kepada Yesus, dan tanggalkan semua dosa dan kekuatiran serta keinginan duniawi, dan bangkitlah lagi untuk selalu semangat melayani Tuhan.
Sungguh kita bersukacita oleh karena kebangkitan Tuhan Yesus merupakan kemenangan kita.  Kebangkitan-Nya juga memberikan kita pengharapan dan jaminan yang pasti  akan kehidupan kekal bersama Tuhan dalam kerajaan surga.
Haleluya!
 
 

Yesus Menyelamatkan Semua

Ada orang yang mengatakan bahwa seekor lalat yang kecil yang berada dalam bahteranya Nuh selamat, sama seperti seekor gajah yang besar yang selamat itu.
Bukanlah karena besarnya gajah yang menjadikan ia selamat, melainkan karena adanya bahtera itulah maka baik gajah, maupun lalat, kedua-duanya selamat.
Bukanlah karena kebenaranmu, usahamu yang baik, yang dapat menyelamatkan engkau.  Kaya atau miskin, bodoh atau terpelajar, semuanya diselamatkan melalui darahnya Yesus Kristus.
(D.L. Moody)

Eight Reasons Why I Believe Jesus Rose from the Dead

image
Jesus rose from the dead is one of the core belief of Christianity. without it Christianity doesnt mean anything. The power of Jesus ressurected from the death is the power that give the believer hope that Jesus has victory over sin and death AND hope that we, who believe in what Jesus did on the cross, will also be resurected again after we die here on earth. that we have a future in eternity, with God.
Many of those who doesnt believe in resurection give so many reasons to deny this fact. among them are :
1) Jesus was never really die on the cross, someone else replace him
2) Someone stole his body after he died, so He is actually remaining died but his disciple steal and hide his body and say to the world outside that He has arise again.
3) His enemy stole his body
But actually, the evidence (historically and intrinsically) showed the other way around. Jesus did ressurected and was witnessed by more than 500 people in different place that he truelly live again, after he died. and if that is really happen, then everything else that God said would happen regarding the world, regarding humanity is also going to be fullfilled.
I pray that your heart will be opened as you read this interesting article from one of my favorite writer John Piper. Jesus Christ is risen! Hallelujah!
John Piper: Eight Reasons Why I Believe Jesus Rose from the Dead
“A saving knowledge of Christ crucified and risen is not the mere result of right reasoning about historical facts. It is the result of spiritual illumination to see those facts for what they really are.”
1. Jesus Himself Testified To His Coming Resurrection From The Dead.
Jesus spoke openly about what would happen to him: crucifixion and then resurrection from the dead. “The Son of Man must suffer many things and be rejected by the elders and the chief priests and the scribes and be killed, and after three days rise again” (Mark 8:31; see also Matthew 17:22; Luke 9:22). Those who consider the resurrection of Christ unbelievable will probably say that Jesus was deluded or (more likely) that the early church put these statements in his mouth to make him teach the falsehood that they themselves conceived. But those who read the Gospels and come to the considered conviction that the one who speaks so compellingly through these witnesses is not the figment of foolish imagination will be unsatisfied with this effort to explain away Jesus’ own testimony to his resurrection from the dead.
This is especially true in view of the fact that the words which predict the resurrection are not only the simple straightforward words quoted above, but also the very oblique and indirect words which are far less likely to be the simple invention of deluded disciples. For example, two separate witnesses testify in two very different ways to Jesus’ statement during his lifetime that if his enemies destroyed the temple (of his body), he would build it again in three days (John 2:19; Mark 14:58; cf. Matthew 26:61). He also spoke illusively of the “sign of Jonah”—three days in the heart of the earth (Matthew 12:39; 16:4). And he hinted at it again in Matthew 21:42—“The very stone which the builders rejected has become the head of the corner.” On top of his own witness to the coming resurrection, his accusers said that this was part of Jesus’ claim: “Sir, we remember how that impostor said, while he was still alive, ‘After three days I will rise’” (Matthew 27:63).
Our first evidence of the resurrection, therefore, is that Jesus himself spoke of it. The breadth and nature of the sayings make it unlikely that a deluded church made these up. And the character of Jesus himself, revealed in these witnesses, has not been judged by most people to be a lunatic or a deceiver.
2. The Tomb Was Empty On Easter.
The earliest documents claim this: “When they went in they did not find the body of the Lord Jesus” (Luke 24:3). And the enemies of Jesus confirmed it by claiming that the disciples had stolen the body (Matthew 28:13). The dead body of Jesus could not be found. There are four possible ways to account for this.
2.1 His foes stole the body. If they did (and they never claimed to have done so), they surely would have produced the body to stop the successful spread of the Christian faith in the very city where the crucifixion occurred. But they could not produce it.
2.2 His friends stole the body. This was an early rumor (Matthew 28:11-15). Is it probable? Could they have overcome the guards at the tomb? More important, would they have begun to preach with such authority that Jesus was raised, knowing that he was not? Would they have risked their lives and accepted beatings for something they knew was a fraud?
2.3 Jesus was not dead, but only unconscious when they laid him in the tomb. He awoke, removed the stone, overcame the soldiers, and vanished from history after a few meetings with his disciples in which he convinced them he was risen from the dead. Even the foes of Jesus did not try this line. He was obviously dead. The Romans saw to that. The stone could not be moved by one man from within who had just been stabbed in the side by a spear and spent six hours nailed to a cross.
2.4 God raised Jesus from the dead. This is what he said would happen. It is what the disciples said did happen. But as long as there is a remote possibility of explaining the resurrection naturalistically, modern people say we should not jump to a supernatural explanation. Is this reasonable? I don’t think so. Of course, we don’t want to be gullible. But neither do we want to reject the truth just because it’s strange. We need to be aware that our commitments at this point are much affected by our preferences—either for the state of affairs that would arise from the truth of the resurrection, or for the state of affairs that would arise from the falsehood of the resurrection. If the message of Jesus has opened you to the reality of God and the need of forgiveness, for example, then anti-supernatural dogma might lose its power over your mind. Could it be that this openness is not prejudice for the resurrection, but freedom from prejudice against it?
3. The Disciples Were Almost Immediately Transformed From Men Who Were Hopeless And Fearful After The Crucifixion (Luke 24:21, John 20:19) Into Men Who Were Confident And Bold Witnesses Of The Resurrection (Acts 2:24, 3:15, 4:2).
Their explanation of this change was that they had seen the risen Christ and had been authorized to be his witnesses (Acts 2:32). The most popular competing explanation is that their confidence was owing to hallucinations. There are numerous problems with such a notion. The disciples were not gullible, but level-headed skeptics both before and after the resurrection. (Mark 9:32, Luke 24:11, John 20:8-9, 25). Moreover, is the deep and noble teaching of those who witnessed the risen Christ the stuff of which hallucinations are made? What about Paul’s great letter to the Romans? I personally find it hard to think of this giant intellect and deeply transparent soul as deluded or deceptive, and he claimed to have seen the risen Christ.
4. Paul Claimed That Not Only Had He Seen The Risen Christ, But That 500 Others Had Seen Him Also, And Many Were Still Alive When He Made This Public Claim.
“Then he appeared to more than five hundred brothers at one time, most of whom are still alive, though some have fallen asleep” (1 Corinthians 15:6). What makes this so relevant is that this was written to Greeks who were skeptical of such claims when many of these witnesses were still alive. So it was a risky claim if it could be disproved by a little firsthand research.
5. The Sheer Existence Of A Thriving, Empire-Conquering Early Christian Church Supports The Truth Of The Resurrection Claim.
The church spread on the power of the testimony that Jesus was raised from the dead and that God had thus made him both Lord and Christ (Acts 2:36). The Lordship of Christ over all nations is based on his victory over death. This is the message that spread all over the world. Its power to cross cultures and create one new people of God was a strong testimony of its truth.
6. The Apostle Paul’s Conversion Supports The Truth Of The Resurrection.
He argues to a partially unsympathetic audience in Galatians 1:11-17 that his gospel comes from the risen Jesus Christ, not from men. His argument is that before his Damascus Road experience when he saw the risen Jesus, he was violently opposed to the Christian faith (Acts 9:1). But now, to everyone’s astonishment, he is risking his life for the gospel (Acts 9:24-25). His explanation: The risen Jesus appeared to him and authorized him to spearhead the Gentile mission (Acts 26:15-18). Can we credit such a testimony? This leads to the next argument.
7. The New Testament Witnesses Do Not Bear The Stamp Of Dupes Or Deceivers.
How do you credit a witness? How do you decide whether to believe a person’s testimony? The decision to give credence to a person’s testimony is not the same as completing a mathematical equation. The certainty is of a different kind, yet can be just as firm (I trust my wife’s testimony that she is faithful). When a witness is dead, we can base our judgment of him only on the content of his writings and the testimonies of others about him. How do Peter and John and Matthew and Paul stack up?
In my judgment (and at this point we can live authentically only by our own judgment—Luke 12:57), these men’s writings do not read like the works of gullible, easily deceived or deceiving men. Their insights into human nature are profound. Their personal commitment is sober and carefully stated. Their teachings are coherent and do not look like the invention of unstable men. The moral and spiritual standard is high. And the lives of these men are totally devoted to the truth and to the honor of God.
8. There Is A Self-Authenticating Glory In The Gospel Of Christ’s Death And Resurrection As Narrated By The Biblical Witnesses.
The New Testament teaches that God sent the Holy Spirit to glorify Jesus as the Son of God. Jesus said, “When the Spirit of truth comes, he will guide you into all the truth. … He will glorify me” (John 16:13). The Holy Spirit does not do this by telling us that Jesus rose from the dead. He does it by opening our eyes to see the self-authenticating glory of Christ in the narrative of his life and death and resurrection. He enables us to see Jesus as he really was, so that he is irresistibly true and beautiful. The apostle stated the problem of our blindness and the solution like this: “The god of this world has blinded the minds of the unbelievers, to keep them from seeing the light of the gospel of the glory of Christ, who is the image of God. … For God, who said, ‘Let light shine out of darkness,’ has shone in our hearts to give the light of the knowledge of the glory of God in the face of Jesus Christ” (2 Corinthians 4:4, 6).
A saving knowledge of Christ crucified and risen is not the mere result of right reasoning about historical facts. It is the result of spiritual illumination to see those facts for what they really are: a revelation of the truth and glory of God in the face of Christ—who is the same yesterday today and forever.
(Demita Klassen)

Iman Yang Teguh Pada Yesus Memberi Kesembuhan

image
Dalam Matius 9:20-22 tertulis sebuah kisah mujizat yang luar biasa, demikian firman Tuhan:
Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya.
Karena katanya dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”
Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.”
Ketika Tuhan Yesus sedang lewat di suatu jalan dalam pelayanan-Nya, seorang perempuan yang sakit pendarahan 12 tahun menjamah jubah-Nya dan mengalami mujizat kesembuhan.
Mengapa perempuan itu dapat mengalami mujizat? Tidak lain karena ia percaya dengan sungguh akan kuasa Tuhan Yesus dan ia tidak membatasi kuasa Tuhan bekerja melalui cara-cara tertentu.  Perempuan tersebut memiliki iman yang unik dengan percaya bahwa asalkan ia menjamah jubah Tuhan Yesus saja maka ia akan sembuh.
1. Iman Kita Harus Tertuju Kepada Yesus.
Yesus adalah sumber kesembuhan. Ia disebut sebagai Mesias yang diurapi dengan kuasa penyembuhan.  Oleh sebab Ia adalah Allah sendiri yang memegang segala kuasa dalam tangan-Nya. Tuhan Yesus berkata: “Aku datang untuk memberikan hidup yang berkelimpahan.” (Yoh. 10:10).
2.  Iman harus disertai tindakan.
Perempuan itu tidak mau melewatkan kesempatan yang sangat berharga meskipun ia harus berusaha sekuat tenaganya untuk menjamah jubah Yesus. Langkah imannya adalah ia bertindak bergerak menuju kepada Yesus dan menjamah-Nya.
Kuasa Tuhan tidak terbatas.  Seringkali iman kitalah yang terbatas. Seorang perwira Romawi dipuji imannya oleh Tuhan Yesus karena ia hanya meminta Tuhan Yesus berkata sepatah kata saja maka pembantunya akan sembuh, dan mujizat itupun terjadi.
Kalau saudara sakit, percayalah bahwa di tempat saudara berbaring atau dimanapun saudara berada, kuasa Tuhan Yesus sanggup menjamah saudara dan memberikan mujizat kesembuhan.
Apakah saudara percaya? Bagaimanakah wujud iman saudara? Bila saudara percaya dengan sungguh bahwa saudara akan menerima kesembuhan dari Tuhan Yesus maka kesembuhan itu akan Tuhan berikan.
Berdoalah kepada Tuhan Yesus saat ini dengan sederhana dari hati saudara. Dan mintalah kesembuhan dari Tuhan. Percayalah kesembuhan itu sudah saudara terima saat ini juga.
Tuhan Yesus akan menolong saudara karena Ia adalah Tuhan yang mempedulikan saudara.  Ia peduli akan kesusahan dan penyakit kita, dan Ia mau agar kita hidup dalam kelimpahan kesehatan kesembuhan dan berkat sorgawi. 
Oleh bilur-bilur-Nya, kita telah menjadi sembuh. Haleluya, Tuhan memberkati.

Allah Saja Yang Tahu

Puluhan tahun lalu, seorang wanita miskin dari Irlandia menemui seorang pendeta di Boston Amerika Serikat. Ia ingin memberikan sumbangan dan meminta agar pendeta itu dapat meneruskan sumbangannya untuk orang-orang yang menderita kelaparan di Irlandia.
“Berapa banyakkah yang anda akan sumbangkan?”, tanya pendeta.  “Saya mempunyai simpanan seratus dollar dan saya hendak sumbangkan semuanya.”
Pendeta tersebut mengatakan bahwa sumbangannya terlalu banyak jika dibandingkan dengan penghasilannya mengingat kondisinya yang miskin, tapi wanita itu bersikeras untuk memberikan sumbangan tersebut.
Ia akan merasa lega bila mengetahui sumbangannya tiba pada tujuannya, dan akan merasa senang mengetahui bahwa ada orang-orang miskin yang tertolong oleh karena sumbangannya. 
Pendeta itu menerima uang itu dengan mata yang berkaca-kaca oleh air mata.  “Siapakah nama anda?”, tanya sang pendeta, “supaya saya dapat memasukkan nama anda dalam surat kabar.” 
“Nama saya….,” kata wanita itu sambil menghitung uangnya, “tidak perlu dirisaukan tuan siapa nama saya. Kirimkan sajalah bantuan ini, Allah sajalah yang mengetahui nama saya itu.”
(B. Malingkas)

Pendidikan Untuk Anak

childrenPendidikan merupakan suatu hal yang penting bagi setiap orang dan perlu diberikan sejak usia dini.  Alkitab pun memberikan arahan bagaimana setiap orang tua harus mendidik anak-anak mereka sejak dari kecil.
Di jaman modern sekarang ini, banyak orang tua yang salah dalam mendidik anak-anak karena kurang mengerti akan kebutuhan pendidikan yang diperlukan oleh anak-anak mereka.  Hal ini diperburuk dengan makin banyaknya lembaga pendidikan yang menyasar anak-anak, baik batita, balita, maupun usia pertumbuhan di atasnya, yang menawarkan berbagai pendidikan ini dan itu kepada orangtua bagi anak-anaknya.
Umumnya, orang menganggap semakin pintar anak mereka dalam hal bahasa (Inggris, mandarin atau bahasa lainnya) semakin membanggakan orangtua.  Selain itu, anak didorong bahkan cenderung dipaksa untuk pelajaran-pelajaran yang belum tentu disukai dan tidak sesuai dengan bakatnya.  Misalnya anak dipaksa untuk belajar berbagai metode hitung cepat matematika, belajar fisika, dan sebagainya, dengan asumsi bahwa semakin anak pintar dalam hal tersebut maka semakin bagus buatnya.  Padahal pelajaran-pelajaran tersebut tidak harus selalu menjadi pelajaran utama bagi anak-anak karena berdasarkan pengalaman dan survey terhadap kehidupan dan masa depan berbagai orang yang sukses dalam hidupnya, berbagai macam mata pelajaran itu sebagian besar tidak dipakai atau bahkan tidak berguna sama sekali dalam karir dan kehidupan mereka.
Pendidikan apa  dan bagaimana yang sebenarnya dibutuhkan oleh anak-anak ? Berikut ini adalah bidang pendidikan yang dibutuhkan oleh anak-anak.
1. Pendidikan Rohani
Alkitab berkata bahwa “Takut akan Tuhan itulah hikmat.”  Jadi, hikmat atau pengetahuan yang utama yang harus dikenalkan kepada anak-anak adalah pengenalan akan Tuhan.  Anak-anak harus diberikan dasar-dasar iman sejak dari kecil agar mereka tidak melenceng dari firman Tuhan sehingga kehidupan mereka senantiasa berbahagia serta diberkati.  Orangtua menjadi pihak yang sangat penting peranannya dalam hal ini.  Setiap hari ajaklah anak untuk berdoa ketika bangun pagi, saat mau tidur, makan atau hendak bepergian. Begitu pula bila ada hal-hal khusus, seperti ulang tahun, atau ada yang sakit, atau ada kebutuhan tertentu, ajaklah anak untuk bersama-sama mendoakan hal tersebut.  Dengan cara demikian, sebenarnya anak sedang dididik untuk selalu bergantung kepada Tuhan serta mengandalkan Tuhan dalam segala sesuatu.  Ini merupakan perkara rohani yang penting.
Hal berikutnya yang dapat dilakukan adalah dengan menceritakan kisah-kisah dalam Alkitab dan ajaran tentang keselamatan serta kehidupan kekal di dalam Tuhan Yesus Kristus.  Orangtua bisa membacakan beberapa ayat dalam satu perikop atau memvariasikannya dengan kupasan atau ulasan singkat setelah membaca ayat Alkitab.
Ajarlah anak untuk setia beribadah di gereja dan dorong serta motivasi anak untuk mengikuti kegiatan sekolah minggu dengan setia. Berikan teladan dalam berkata-kata yang sopan serta berperilaku yang baik sebab anak akan mencontoh sikap dan tindakan orang tua lebih daripada perkataannya.  Teladan orangtua yang baik lebih diingat daripada perkataan.
Ajak anak untuk bersimpati dan berempati kepada sesama dengan cara mengajak anak berkunjung kepada orang-orang yang miskin dan membutuhkan, berikan bantuan dan beri kesempatan kepada anak untuk melakukannya, agar muncul jiwa yang berbelas kasihan kepada sesama.
Ajarlah anak untuk menghafalkan satu atau dua ayat bersama-sama dan ujilah hafalan tersebut bersama dengan orangtua.
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”
(Amsal 22:6)
2.  Pendidikan Formal 
Untuk perkembangan intelegensia anak atau daya kognitifnya, anak perlu mengikuti kegiatan pendidikan formal seperti TK, SD hingga perguruan tinggi.  Namun, orangtua perlu mengerti akan minat dan bakat anak supaya anak tidak terlalu dipaksa untuk belajar pelajaran-pelajaran tertentu secara berlebihan.
Tidak perlu bersekolah di sekolah yang mahal, yang penting berkualitas baik.  Kualitas tidak selalu berhubungan dengan banyaknya PR (Pekerjaan Rumah), banyaknya ulangan harian, atau ulangan-ulangan lainnya.  Perhatikan bahwa anak sebenarnya butuh bermain dan umumnya pola yang perlu diterapkan dalam pembelajaran adalah “Belajar sambil Bermain” atau “Belajar melalui permainan”, terlebih khusus bagi anak-anak dalam usia dini atau hingga sekolah dasar.
Jangan mengintimidasi anak dalam belajar sebab hal ini akan menghambat perkembangan otaknya.  Biarkan anak belajar secara rileks dan bantulah mereka untuk mengerti setiap pelajaran.   Upayakan agar mereka memahami apa maksudnya, supaya lebih masuk ke dalam otaknya, karena bila hanya sekedar menghafal tanpa mengerti, cenderung akan cepat lupa dan anak tidak tahu apa maksud dari hal atau pelajaran yang sedang dipelajari.
3.  Pendidikan Non Formal 
Banyak orangtua lupa bahwa anak tidak selalu berbakat dalam mata pelajaran di sekolah.  Akibatnya, banyak anak dimarahin bila tidak bisa matematika, bahasa Inggris atau lainnya.  Bila dimotivasi dan dididik secara benar tanpa intimidasi, anak pasti akan bisa menguasai matematika meskipun nilainya tidak sempurna.  Pendidikan formal perlu, namun ingat bahwa anak butuh juga pendidikan non formal untuk perkembangan intuisi mereka.  Orangtua bisa memberikan pendidikan di bidang musik misalnya, dengan cara memberikan les atau mengajarnya langsung secara pribadi.  Belilah alat musik yang sesuai dengan minat anak atau cita-citanya.  Mungkin anak anda senang melukis atau menggambar, mendesain atau olahraga.  Motivasi mereka dan berikan pujian agar anak memiliki kepercayaan diri yang baik.
Ada banyak macam pendidikan non formal yang bisa diberikan bagi anak, yang penting perlu diatur agar anak tidak kecapean dan tidak membuat anak menjadi murung akibat banyaknya kegiatan pendidikan yang harus dijalaninya.
Orangtua perlu memberikan perhatian dan meluangkan waktu untuk anak dalam bermain dan belajar.  Buatlah suasana yang senang dan bahagia bagi anak dalam keluarga.  Tegurlah anak bila berbuat salah agar mereka mengerti hal yang patut dan benar serta hal yang salah dan tidak baik.  Mendisiplin anak dengan hukuman tertentu dalam batas-batas yang baik perlu sekali-kali dilakukan.  Apabila orangtua menegur dan memarahi anak, kemudian anak menjadi sedih dan menangis, biarkan dulu hal tersebut, dan berikan wejangan serta nasihat agar anak mengerti.  Beberapa waktu kemudian, peluklah anak dan katakan bahwa anda menyayanginya serta tidak bermaksud jahat tetapi hendak mengajarnya agar ia menjadi baik dan selalu dalam berkat Tuhan.  Setiap hari katakanlah anda menyayangi anak anda, dan biarkan dia tahu bahwa anda benar-benar menyayanginya.
“Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.”
(Amsal 29:17)
“Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Efesus 6:4)
(Billy Tambahani)
 
 

Selamat Paskah

image
Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,
dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.
(Yohanes 11:25-26)
“Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.”
(1 Yohanes 2:2)

Pencarian Termahal

Pesawat Malaysian Airlines MH-370 tujuan Beijing dari Malaysia menghilang dan diperkirakan jatuh di samudera Hindia.  Peristiwa ini terjadi tanggal 8 Maret 2014 dan menjadi sorotan dunia internasional.
Jumlah penumpang sebanyak lebih dari 200 orang tidak diketahui keberadaannya. Keluarga-keluarga korban mencari kejelasan dari pemerintah Malaysia mengenai nasib sanak saudara mereka yang menjadi penumpang pesawat tersebut.
Pencarian pesawat MH-370 menjadi pencarian besar-besaran di dunia dan memecahkan rekor pencarian selama ini karena melibatkan banyak negara dan memakan biaya hingga 1 trilyun.
Meskipun belum ditemukan sampai saat ini, proses pencarian masih berlangsung dan belum diketahui kapan akan dihentikan.
Tujuan pencarian adalah untuk menemukan badan pesawat dan juga para penumpangnya.
Peristiwa ini benar-benar menghenyakkan kesadaran rohani kita, apabila ditarik pelajaran secara rohani.  Kita harusnya mengerahkan segala upaya dan harta yang dimiliki untuk mencari jiwa-jiwa tersesat yang sedang menuju kepada kebinasaan.
Ada “sinyal-sinyal kotak hitam” dari setiap orang yang menyatakan bahwa mereka perlu kabar keselamatan dari kita.  Mereka perlu ditolong, dijangkau dan diberikan berita baik tentang keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus.
Tuhan Yesus berkata:”Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.” (Yohanes 4:35b)
Ladang dunia ini telah menguning, jiwa-jiwa siap untuk dituai bagi kerajaan Sorga. Lakukanlah tugas yang mulia dari Tuhan, yaitu menuai jiwa-jiwa. Sadarlah bahwa tuaian begitu banyak tapi pekerja sangat sedikit. Jadilah pekerja yang sungguh-sungguh bekerja di ladang Tuhan dengan tujuan melakukan kehendak Bapa, bukan untuk melakukan kehendak pribadi atau manusia.
Kita semua adalah pekerja-pekerja di ladangnya Tuhan, oleh karena itu tunaikanlah tugas dan tanggung jawab pelayanan ini.
Selamatkan jiwa berapapun harganya!

Salib Kristus

image
“Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.”
(Yesaya 53:5)
“Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.”
(1 Petrus 2:24)