Nats Alkitab:
Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. (Filipi 4:11)
Seorang pemuda bernama Faisol dari Sumenep, Madura, Jawa Timur, belajar ilmu hipnotis selama 15 tahun untuk dipakai melakukan kejahatan. Ia memperdayai penjaga toko emas dan mengambil 6 kg emas batangan. Selanjutnya, ia menjual satu batang emas dan kemudian dipakai untuk membeli mobil baru dan memenuhi kebutuhan lainnya. Namun, Faisol tak bisa lama menikmati hasil curiannya. Ia akhirnya ditangkap oleh polisi dan diancam hukuman penjara maksimal selama 7 tahun.
Banyak orang yang ingin belajar hipnotis karena terdorong niat melakukan kejahatan terhadap orang lain. Faisol adalah salah satunya. Ia belajar selama 15 tahun hanya untuk mencuri dan kemudian dihukum.
Bila kita merenungkan kisah Faisol, kita dapat memperoleh suatu pelajaran berharga, betapa ia telah menyia-nyiakan waktu yang begitu lama yakni 15 tahun hanya untuk memenuhi keinginan-keinginannya saja. Padahal, ia dapat belajar banyak hal yang dapat menjadi bekal masa depannya. Asalkan ada kemauan pasti ada jalan. Seringkali masalahnya bukan karena tidak bisa, tetapi karena tidak mau.
Keinginan duniawi dapat menyebabkan seseorang terpicu untuk melakukan kejahatan. Hati yang tidak pernah merasa puas akan terus menuntut untuk dipenuhi. Itu sebabnya, ketika menemui “jalan buntu”, maka “jalan pintas” lah yang diambil, padahal jalan itu menuju kebinasaan.
Ayat firman Tuhan hari ini berisi sesuatu yang sangat berharga bagi kita. Disebutkan di dalam ayat ini: “aku telah belajar mencukupkan diri di dalam segala keadaan.” Rasul Paulus dalam kehidupannya melakukan pelayanan yang penuh komitmen kepada Tuhan, namun bukan tanpa rintangan dan halangan, tetapi penuh pergumulan dan ujian yang harus ia hadapi. Rasul Paulus mengalami saat-saat kekurangan, dan saat-saat penderitaan. Akan tetapi, hal yang luar biasa dari Paulus adalah ia belajar mencukupkan diri di dalam segala keadaan.
Dalam Alkitab terjemahan “New International”, ayat ini berbunyi demikian: “Aku telah belajar untuk merasa puas.” Rahasia kepuasan hati adalah menyadari bahwa dalam keadaan yang sekarang ini, Allah telah memberikan segala sesuatu yang kita perlukan untuk tetap berkemenangan di dalam Kristus (Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, hal. 1984). Kita tidak akan pernah merasa puas selama kita tidak pernah mencapai kesadaran ini. Kita perlu selalu bersandar kepada Yesus Kristus dan menantikan pertolongan-Nya. Kita harus belajar taat dan setia dalam berbagai keadaan, serta belajar untuk selalu mengucap syukur dalam keadaan apapun.
Secara manusiawi, terkadang penderitaan atau kesulitan itu membuat diri kita terasa tidak mampu menghadapi, tetapi disinilah letak dan kunci kemenangan orang percaya, bila mau belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan: Tuhan akan memberikan kemampuan untuk menghadapi semua. Dalam ayat yang ke-13 disebutkan: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia, yang memberi kekuatan kepadaku.”
Saudara akan tetap kuat, saudara akan mampu, saudara akan meraih kemenangan bila saudara belajar untuk mencukupkan diri dalam segala keadaan, karena Tuhan Yesus memberikan kemampuan bagi saudara dan bagi kita semuanya yang mau belajar mencukupkan diri. Haleluya!
Perlindungan Bapa
Nats Alkitab:
Aku akan melindungi dan memberkatimu. (Kejadian 26:3a – Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini)
Menjadi seorang ayah dari empat orang anak membuat saya semakin mengerti bagaimana sebenarnya hati Bapa Sorgawi terhadap anak-anak-Nya yang ada di dalam dunia ini.
Kerinduan hati seorang ayah adalah agar anaknya dapat hidup selalu berbahagia, berkecukupan dan tidak kekurangan serta berada dalam keadaan yang aman.
Konsep tentang Allah Bapa yang mengasihi merupakan konsep yang Alkitabiah dan benar. Sebagian orang berpendapat bahwa Allah menghendaki umat-Nya hidup dalam penderitaan. Hal ini tidaklah sesuai dengan kebenaran firman Allah. Sifat Allah yang maha kasih tak dapat membiarkan ciptaan-Nya itu dalam kesusahan.
Fakta adanya penderitaan yang dialami umat Tuhan seharusnya tidak mengubah konsep pemikiran kita tentang Allah Bapa yang maha baik. Tentu ada maksud dan rencana Allah dalam semua yang terjadi dalam kehidupan kita.
Kehadiran Tuhan Yesus memberi gambaran tentang sifat dan kehendak Allah bagi manusia. Ia membebaskan yang terbelenggu oleh setan, menyembuhkan yang sakit, membangkitkan yang sudah mati, mengampuni orang berdosa, memberikan kesempatan dan kemurahan untuk bertobat, memberikan kabar baik kepada yang miskin dan menderita, memperhatikan kebutuhan jasmani manusia (memberi makanan kepada 5000 orang dan 4000 orang), dan selalu menunjukkan belas kasihan. Betapa Allah Bapa mengasihi kita tercermin dalam kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus Kristus.
Nats Alkitab di atas berbicara tentang janji Allah kepada Abraham dan keturunannya. Tuhan berjanji untuk melindungi dan memberkati Abraham. Janji ini telah sampai kepada kita oleh karya Tuhan Yesus Kristus di atas salib. Sebab kita ini adalah keturunan-keturunan Abraham, bukan secara daging tetapi karena perjanjian. Kita semua yang percaya kepada Yesus Kristus telah menjadi anak-anak Perjanjian yang mewarisi Janji Allah Bapa kepada Abraham.
Inilah Bapa Sorgawi kita yang maha baik, yang berkata: “Aku akan melindungi dan memberkatimu.”
Kita semua dilindungi dan diberkati oleh Bapa sorgawi. Amin. Syukur kepada Tuhan.
Perubahan Menuju Kesempurnaan
Nats Alkitab:
Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. (2 Korintus 4:16)
Ayat diatas menyebutkan tentang perubahan yang dialami oleh tubuh jasmani (lahiriah) dan tubuh rohani (batiniah). Perubahan yang terjadi pada kedua objek tersebut berbeda. Pada yang lahiriah terjadi kemerosotan, yakni tubuh jasmani makin tua makin lemah, tambah kisut dan keriput namun sebaliknya pada yang batiniah justru terjadi pembaharuan, semakin lama semakin indah dan cemerlang di dalam Tuhan.
Perubahan pada batiniah seseorang dapat dilihat dari cara berpikir, sikap dan tindakannya dalam kehidupan. Semakin hari ia memiliki kecenderungan untuk semakin menyenangkan hati Tuhan yaitu hidup sesuai dengan kehendak-Nya yang baik dan sempurna.
Sebuah tulisan dari seseorang ingin saya bagikan disini bertema “Lain Dulu Lain Sekarang”, yang isinya sebagai berikut:
LAIN DULU LAIN SEKARANG= PERUBAHAN HIDUPKU
Dulu aku kagum pada manusia yang cerdas, kaya, berhasil dalam karir, hebat dalam dunianya. Sekarang aku memilih lebih kagum pada orang yang hebat di mata Tuhan sekalipun penampilannya biasa dan bersahaja.
Dulu aku berpikir membahagiakan orang tua kalau aku berhasil dengan duniaku. Ternyata yang membuat mereka bahagia adalah sikap perhatian tingkah laku dan sapaanku kepada mereka.
Dulu aku marah kalau harga diriku dijatuhkan atau orang lain berlaku kasar menggunjing dan menyakitiku. Sekarang aku memilih untuk bersyukur karena akan ada kasih dari mereka kalau aku mampu bersabar dan memaafkan mereka.
Dulu aku mengejar dunia dan menumpuk harta sebisaku. Sekarang aku memilih untuk bersyukur dengan apa yang kupunyai dan memikirkan bagaimana aku bisa melakukan lebih banyak kebaikan dan bermanfaat bagi orang lain.
Dulu aku fokus pada rencana-rencana dahsyat untuk duniaku. Ternyata aku melihat teman-teman dan saudara-saudaraku begitu cepat menghadap kepada-Nya.
Sekarang pusat pikiran dan rencana-rencanaku pada mempersiapkan diri agar aku siap jika suatu saat aku dipanggil oleh-Nya.
Tidak ada yang menjamin aku bisa menghirup nafas besok.
Kalau hari ini dan besok aku masih bisa hidup itu semata-mata anugerah Tuhan. Mari Kita SALING Mengasihi dan CINTA DAMAI. (Anonim)
Tulisan diatas mengingatkan tentang apa sebenarnya fokus hidup kita yang utama, yaitu berfokus kepada Tuhan Yesus Kristus.
Marilah kita dalam hidup ini memperhatikan yang kekal. Roh Kudus akan memampukan kita dan membaharui batiniah kita dari sehari ke sehari asalkan kita mau tunduk dan berserah kepada pimpinan-Nya. Amin.
Tuhan Peduli Kebutuhan Manusia
Nats Alkitab:
Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: “Bangunlah, makanlah!” Ketika ia melihat sekitarnya, maka pada sebelah kepalanya ada roti bakar, dan sebuah kendi berisi air. Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula. Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: “Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu.” Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. (1 Raja-raja 19:5-8)
Sungguh merupakan suatu hal yang sangat mencengangkan, ketika kita membaca nats Alkitab di atas. Mengapa? Sebab bayangan serta konsep pemikiran tentang Allah yang hanya peduli dengan kehidupan rohani sungguh terbantahkan. Rupanya, Allah tidak hanya peduli kepada rohani kita, tetapi Dia juga peduli kepada jasmani kita. Allah yang mencipta kita sangat mengerti bahwa tubuh jasmani kita ini membutuhkan asupan makanan untuk energi tubuh.
Elia dalam kelelahannya berbaring dan tidur di bawah pohon arar. Rencana Allah bagi Elia waktu itu adalah agar ia pergi ke gunung Horeb. Namun, nabi Elia sangat kelelahan setelah berjalan seharian di padang gurun untuk menghindari kejaran Izebel yang hendak membunuhnya.
Tuhan mengirimkan seorang malaikat untuk melayani Elia dengan memberikan makanan dan minuman yang diperlukan tubuhnya. Dan setelah makan dan minum, Elia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya menuju ke gunung Horeb.
Saudara yang dikasihi Tuhan, dari pembacaan ayat di atas, kita dapat mengerti bahwa Allah sangat peduli dengan kebutuhan tubuh jasmani kita. Kita perlu makanan dan minuman supaya jasmani ini tetap hidup, dan Tuhan menyediakan apa yang kita butuhkan itu. Beberapa hal dapat kita pelajari dari kisah ini adalah:
1. Tuhan sangat mengerti dan mempedulikan kebutuhan kita.
Di padang gurun, Tuhan menyediakan makanan buat Elia, hambanya itu. Padang gurun berarti keadaan dan situasi yang sulit sebab udaranya panas dan tidak ada air, hanya beberapa titik sumber air yang ada dan mencarinya sangat sulit. Dalam hidup kita sekarang ini, kita dapat menaruh percaya kepada Tuhan yang mengasihi kita. Dia peduli kepada kita. Di tengah situasi sulit yang melanda kehidupan kita, percayalah bahwa penyediaan dari Allah itu akan nyata sebab Dia tidak akan membiarkan ciptaan-Nya menderita kelaparan dan kesusahan.
2. Jika Allah begitu peduli kepada jasmani kita, maka seharusnya kita juga menjaga tubuh jasmani kita untuk mengerjakan tugas pelayanan.
Seringkali sebagai orang beriman, kita mengabaikan kebutuhan tubuh jasmani ini. Kita tidak makan, menahan lapar, padahal ada makanan, dengan asumsi kehidupan yang rohani itu lebih mengutamakan makanan rohani. Hal ini tidak benar, sebab Tuhan Yesus sendiri pun peduli dengan 5000 orang yang belum makan sehingga Ia memberi mereka makanan. Kadangkala, karena terlalu sibuk bekerja di kantor, sibuk sekolah, atau sibuk ini dan itu, kita lupa bahwa belum makan, dan kita mengabaikan kebutuhan tubuh jasmani ini, dengan menunda makan karena harus menyelesaikan sesuatu pekerjaan. Akibatnya tubuh jasmani ini menjadi lemah dan rentan dengan berbagai penyakit. Mari kita belajar untuk menghargai tubuh jasmani kita, sebagaimana Allah sendiri peduli dan memperhatikan kebutuhan jasmani ciptaan-Nya.
3. Mujizat Tuhan nyata di tengah pergumulan umat-Nya.
Dalam masa-masa sulit, kita dapat dengan teguh beriman dan berharap kepada Tuhan yang maha kuasa. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, segala sesuatu dapat Ia lakukan. Pertolongan dari Tuhan itu tidak pernah terlambat dan selalu tepat waktu.
4. Umur ada di tangan Tuhan.
Meskipun Elia dapat dikatakan tinggal menunggu ajal di padang gurun, sebab sudah kekurangan cairan akibat kepanasan dan juga kelaparan, tapi Tuhan tidak menghendaki dan tidak merencanakan kematian Elia di tempat itu. Umur kita ada di tangan Allah dan Dia yang berdaulat atas seluruh kehidupan kita. Namun, janganlah dengan sengaja membiarkan diri dekat dengan maut atau bahkan berencana untuk membunuh diri. Nabi Elia putus asa dan hendak membiarkan dirinya mati, tapi perhatikan! Hal ini bertentangan dengan kehendak Allah. Jangan biarkan keputusasaan itu menguasai pikiran kita. Jangan putus asa menghadapi kesulitan hidup, tapi majulah dan jalanilah kehidupan ini dengan kekuatan dari Allah. Tuhan dan para malaikat sedang memandang kita, pertolongan dari Sorga siap untuk didatangkan bagi kita yang terus berharap kepada-Nya. Jangan putus asa, ada Tuhan yang mengasihi kita.
Tuhan Yesus memberkati.
Lebih Dari Kartu Sakti
Nats Alkitab:
Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. (Matius 15:30)
Presiden Jokowi punya program yang dikenal masyarakat dengan “3 Kartu Sakti” yaitu Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, dan Kartu Keluarga Sejahtera. Program ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah Indonesia kepada lapisan masyarakat yang miskin agar dapat hidup sehat, berpendidikan baik dan sejahtera.
Namun, ada yang lebih daripada 3 kartu sakti itu, Tuhan Yesus memberikan “kesaktian-Nya” yaitu kuasa-Nya secara langsung dimanifestasikan kepada orang-orang yang berbondong-bondong mengikuti Dia. Dalam kisah yang tercatat di Injil Matius 15:30 di atas, jelas sekali kita menjadi mengerti mengapa orang-orang begitu antusias hingga berbondong-bondong bahkan berdesak-desakan untuk mencari jumpa dengan Yesus. Mereka ingin disembuhkan, mereka ingin mengalami kuasa Tuhan.
Kemanapun Yesus pergi dan dimanapun Ia berada, disitu selalu orang berkerumun dan berharap agar dijamah Tuhan dan beroleh mujizat. Pengharapan mereka tidak sia-sia sebab semua yang datang kepada-Nya disembuhkan-Nya. Setiap orang yang datang kepada Tuhan Yesus dapat berharap dengan penuh kepastian bahwa ia akan mengalami pertolongan dan jamahan kuasa Allah.
Lebih dari kartu sakti yang sedang populer sekarang ini, Tuhan Yesus memberikan kepada kita yang percaya kepada-Nya jaminan-jaminan yang lengkap yang kita perlukan dalam hidup ini maupun hidup yang akan datang.
Ia menjamin kesehatan kita. Saat kita mengalami sakit, kita memiliki pengharapan akan kuasa kesembuhan Ilahi yang dikerjakan Tuhan Yesus dalam tubuh kita, sebab oleh bilur-bilur-Nya kita telah menjadi sembuh (Yes. 53:5). Tuhan Yesus menjamin untuk memelihara kehidupan kita, tak perlu kita kuatir akan soal-soal makanan, minuman, dan pakaian serta berbagai macam kebutuhan lain, sebab Dia adalah Tuhan yang memelihara kita (Matius 6:31). Ia menjamin memberikan hikmat dan pengetahuan kepada kita. Para murid Tuhan yang kebanyakan merupakan orang-orang tidak terpelajar, namun mereka menjadi penuh pengetahuan dan hikmat Tuhan sehingga dapat mengerti berbagai perkara yang sukar dan menjelaskan hal-hal yang tersembunyi (Kis. 4:13), dan yang terutama dari semuanya, Tuhan Yesus memberikan kepada kita jaminan kehidupan yang kekal di dalam surga (Yoh. 3:16, Yoh. 14:6)
Mengandalkan Tuhan adalah yang terbaik, sebab diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan dan menaruh harapnya pada Tuhan. Jangan mengandalkan manusia atau kartu-kartu yang ada. Berharap pada manusia kita akan kecewa, tetapi berharap pada Tuhan hidup kita akan selalu ditolong-Nya dan hati kita penuh sukacita. Amin.
Bukan Kata Orang Tapi Apa Kata Tuhan
Nats Alkitab:
Pendapat umum tidak kutakuti, dan penghinaan orang, aku tak perduli. Tak pernah aku tinggal di rumah atau diam saja, hanya karena takut akan dihina. (Ayub 31:34)
Ayat di atas merupakan ucapan dari Ayub, seorang yang hidupnya benar di mata Tuhan. Ia senantiasa berusaha untuk berkenan kepada Allah, bukan kepada manusia. Sehingga Ayub memiliki suatu prinsip hidup mengutamakan dikenan oleh Allah daripada manusia. Dan oleh karena itu, ia tidak takut menghadapi hinaan dari orang-orang di sekitarnya sebab yang terpenting adalah Tuhan tahu isi hatinya dan Tuhan berkenan kepadanya.
Dalam kehidupan kita, seringkali kita terganggu oleh perkataan atau pendapat orang lain. Bahkan yang lebih parah, orang lain menghina kita atas tindakan atau kondisi yang kita alami. Apakah pendapat negatif atau hinaan orang lain akan membuat kita takut dan malu terhadap diri sendiri? Kita perlu meneladani sikap Ayub yang tidak takut menghadapi pendapat miring terhadap dirinya. Yang terpenting adalah kita hidup dalam kebenaran dan selalu mencari kehendak Tuhan.
Ketakutan terhadap pendapat negatif orang lain akan menyebabkan kita minder dan tidak maju. Bahkan, tidak ada yang dilakukan karena takut menghadapi kritikan orang lain.
Ada cerita tentang dua orang dan seekor kuda yang sedang melakukan perjalanan. Dua orang itu adalah seorang ayah dan anaknya. Saat perjalanan, ayahnya menyuruh anaknya naik kuda, dan ayahnya berjalan kaki, sebab kuda mereka tidak terlalu besar dan agar kudanya tetap kuat dalam perjalanan. Ketika melewati sebuah desa, penduduk desa melihat mereka dan berkata: “Wah, sungguh anak yang keterlaluan, tidak tahu berkorban, masakan ayahnya dibiarkan berjalan kaki, sementara dia enak-enakan duduk di atas kuda?” Sepanjang jalan melalui desa itu, kata-kata semacam itu terus mereka dengar dari penduduk.
Setelah melewati desa itu, sang anak berkata kepada ayahnya, “Ayah, sebaiknya ayah yang naik kuda ini, biarkan saya yang berjalan kaki, karena tidak enak dilihat orang lain kalau saya yang naik kuda.” Ayahnya setuju karena sedari tadi sudah pusing juga memikirkan pendapat dan hinaan penduduk desa. Jadi, sekarang sang ayah yang naik kuda, dan anaknya berjalan kaki.
Setelah beberapa waktu, mereka tiba di sebuah desa lain dan harus melalui desa tersebut. Penduduk desa itu melihat mereka dan berkata: “Waduh, kasihan sekali anaknya berjalan kaki. Ayahnya gak punya belas kasihan ya kepada anaknya. Masakan seorang ayah tidak peduli sama anaknya dan membiarkan anaknya berjalan sementara dia enak-enakan naik kuda?” Sepanjang jalan melalui desa itu, kata-kata tersebut terus terlontar dari penduduk yang melihat mereka.
Setelah melewati desa itu, sang ayah dan anak, berhenti untuk membicarakan mengenai permasalahan yang mereka hadapi akibat perkataan-perkataan dan pendapat orang yang sinis terhadap situasi dan kondisi mereka. Pada akhirnya, sang ayah dan anak mencapai sebuah kesepakatan dan akhirnya mereka berjalan sambil menggendong kuda mereka.
Cerita ini hanyalah sebuah perumpamaan bagaimana seharusnya kita meresponi pendapat negatif orang lain. Jangan menjadi bodoh seperti ayah dan anak dalam cerita di atas yang akhirnya menggendong kuda. Lakukanlah apa yang baik sesuai dengan hati nurani yang murni. Mendengar hinaan orang lain, mungkin tidak dapat dihindarkan, tapi bagaimana meresponi hinaan itu haruslah kita bijak menghadapinya.
Firman Tuhan berkata dalam Galatia 1:10, “Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.”
Renungan hari ini bukan untuk membuat kita tidak perduli kepada nasihat orang lain, tetapi agar kita jangan terganggu dengan hinaan dan pendapat negatif orang lain, supaya kita dapat terus maju dan menjadi berhasil dalam Tuhan. Sebagai anak-anak Tuhan, setiap keputusan dan tindakan yang kita lakukan, apabila ada dalam kebenaran firman Allah, teruslah lakukan dan jangan takut menghadapi penghinaan orang. Sebab yang terpenting bukan kata orang, tetapi apa kata Tuhan.
Haleluya, Tuhan Yesus memberkati kita!
BBM Naik? Jangan Takut!
Nats Alkitab:
“Maka kita tidak takut, biarpun bumi bergoncang, dan gunung-gunung tenggelam ke dasar lautan.” (Mazmur 46:2)
Hari ini tepat jam 0.00 harga bensin dan solar naik. Sebagian besar masyarakat menolak kenaikan ini dan berdemonstrasi melawan kebijakan pemerintah.
Sebagian orang takut menghadapi melonjaknya harga-harga dan kuatir kebutuhannya tidak terpenuhi. Memang, perlu kita sadari masih banyak saudara-saudara kita yang hidupnya dalam kemiskinan dan penderitaan. Sehingga, kenaikan harga barang-barang akan sangat terasa memberatkan.
Bukan hanya mereka, tapi mungkin kita pun mengalami hal tersebut. Namun sebagai orang-orang beriman respons kita terhadap situasi sulit haruslah berbeda. Kita punya Tuhan yang mengasihi dan peduli kepada kita.
Ayat di dalam Mazmur 46:2 menunjukkan bagaimana kita harus bersikap menghadapi keadaan yang sulit bahkan mengerikan sekalipun. Reaksi orang beriman adalah “Tidak Takut menghadapi apapun”.
Marilah kita berkata: “Aku tidak takut, sekalipun BBM Naik, sekalipun situasi sulit, sekalipun harga-harga naik, sebab Tuhan besertaku!” Amin, Haleluya!
3 Detik Vs 3 Hari
Nats Alkitab:
Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: “Marilah tidur dengan aku.” Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari keluar. (Kejadian 39:12)
Sebuah penelitian terhadap perilaku manusia menyimpulkan bahwa hanya perlu 3 detik untuk manusia berbuat dosa, sedangkan untuk berbuat kebenaran manusia butuh 3 hari untuk berpikir-pikir.
Inti dari hasil penelitian itu adalah bahwa lebih cepat manusia jatuh ke dalam dosa daripada berbuat yang benar.
Nats Alkitab di atas mengungkapkan bagaimana respons Yusuf terhadap godaan istri Potifar: LARI. Bila Yusuf berlama-lama disitu maka sangat mungkin Yusuf akhirnya berzinah.
Jangan merasa diri kita kuat iman sehingga berani-berani bermain dengan godaan dosa. Respons yang benar adalah menjauh dari godaan. Pemazmur Daud berkata agar kita tidak berdiri di jalan orang berdosa. Jangan bermain-main ke tempat yang tidak benar dan merasa diri tidak akan jatuh dalam dosa.
Seorang mahasiswa teologi mengadakan penelitian tentang “kehidupan malam”, ia membuat skripsi yang berkaitan dengan perilaku dan kehidupan para pelacur. Sejak pertama ia masuk ke dalam lingkungan tersebut, ia tidak pernah lagi keluar dari sana. Ia terjerumus ke dalam kehidupan berdosa yang sedang ia teliti dan skripsinya tidak pernah diselesaikan.
Teladanilah Yusuf yang menjauh dari godaan dosa. Jadilah pribadi yang kuat dalam iman dan bertindak melawan setiap pencobaan iblis. Jangan biarkan dirimu masuk ke dalam pencobaan.
Doa: Tuhan, pimpinlah kami untuk hidup pada jalan-jalan-Mu dan menjauhkan diri kami dari jalan orang yang berdosa.
Bertobat Karena Penginjilan John Harper
Nats Alkitab:
Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. (2 Timotius 4:2)
Empat tahun setelah kecelakaan kapal Titanic, seorang pemuda memberikan kesaksiannya di sebuah pertemuan di Hamilton, Kanada. Ia berkata: “Saya adalah salah satu yang selamat dari karamnya Titanic. Pada saat itu, saya bertahan pada sebuah tiang yang mengapung di atas air. Malam itu terasa begitu mengerikan. Kemudian ada gelombang laut yang datang dan membawa seseorang bernama John Harper, dia berasal dari Glasgow, dan ia juga sedang berjuang dan bertahan dengan memegang sebuah pecahan kapal yang mengapung.
John Harper bertanya kepada saya: “Apakah engkau selamat?” Saya jawab, “Tidak.” Lalu ia berkata, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus maka engkau akan selamat.”
Gelombang laut kemudian membawa John Harper menjauh. Namun aneh sekali, beberapa waktu kemudian, gelombang laut yang dingin malam itu membawa John Harper kembali pada posisi yang dekat dengan saya. Dan John kembali bertanya kepada saya, “Apakah engkau selamat?” Saya menjawab, “Tidak, sejujurnya saya merasa saya tidak selamat.” Dan John berkata lagi kepada saya, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus maka engkau akan selamat.”
Beberapa saat kemudian, John Harper tenggelam ke lautan yang dalam di malam itu. Dan saat itu hanya tinggal saya sendirian disana dalam kegelapan malam, saat itulah saya mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, dan menerima Dia dalam hati saya.
Kesaksian pemuda ini mengungkapkan bagaimana kegigihan dan ketekunan John Harper untuk memberitakan Injil sampai akhir hidupnya.
John Harper adalah seorang gembala Gereja Baptis di London dan saat itu hendak pergi ke Chicago untuk berkhotbah di Gereja Moody. John pergi bersama anaknya dan saudaranya perempuan. Anaknya dan saudaranya itu selamat tapi John Harper tidak karena ia berusaha menyelamatkan sekoci penyelamat yang kelebihan muatan dengan cara melompat keluar dari sekoci agar tidak kelebihan muatan.
John berpegang pada pecahan-pecahan kapal yang mengapung dan terus memberitakan Injil kepada orang-orang yang saat itu kedinginan di air laut. John akhirnya meninggal karena hipotermia.
Para saksi mata yang selamat mengisahkan bahwa John Harper, sejak naik Kapal Titanic tidak pernah berhenti mengabarkan Injil sampai saat-saat terakhir dimana ia akhirnya tenggelam dalam lautan yang dingin itu.
Marilah kita mengingat kehidupan John Harper sebagai pejuang iman yang menginspirasikan kita untuk meneladani apa yang telah ia buat kepada sesamanya. Ia terus memberitakan Injil, baik atau tidak baik waktunya, agar sebanyak mungkin orang masuk kerajaan Allah.
Apakah engkau selamat?
Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus maka engkau akan selamat!
Tersesat Di Sebelah
Nats Alkitab:
Para imam tidak lagi bertanya: Di manakah TUHAN? Orang-orang yang melaksanakan hukum tidak mengenal Aku lagi, dan para gembala mendurhaka terhadap Aku. Para nabi bernubuat demi Baal, mereka mengikuti apa yang tidak berguna. (Yeremia 2:8)
Seorang anak muda Filipina sedang travelling ke Chicago dan menginap di Hotel Sherman. Lalu, ia berjalan-jalan melihat kota, dan menjadi tersesat. Ia lupa nama hotel tempat ia menginap, lupa lokasi hotel itu, dan lupa bagaimana penampakan hotelnya sehingga ia tidak dapat menemukannya lagi. Akhirnya, ia memutuskan untuk menginap di hotel yang lain, yaitu Hotel Astor sedangkan tas dan kopernya masih tertinggal di Hotel Sherman.
Keesokan harinya, ia mencari-cari lagi hotel tempat pertama ia menginap, tanpa bertanya kepada pihak otoritas setempat. Ia tidak bertanya kepada seorangpun dan hanya berusaha mencari dengan mengandalkan pemikirannya. Selama lima hari ia mencari-cari hotel dimana semua barangnya berada disana dan tidak berhasil menemukan.
Setelah mencari tanpa hasil selama lima hari, akhirnya ia menghubungi otoritas setempat. Polisi dengan segera menemukan dimana hotel tempat ia menginap pertama kalinya dan menginformasikan kepadanya bahwa selama lima hari ini ia telah menginap di Hotel Astor yang bersebelahan dengan Hotel Sherman.
Meskipun begitu dekat, namun ia tidak menyadarinya. Dan selama lima hari, ia telah kehilangan damai, sukacita, dan kegembiraan serta tidak dapat menggunakan pakaian dan barang-barangnya yang ada di kopernya, semuanya hanya karena ia tidak mau memberitahukan kepada petugas bahwa ia tersesat.
Cerita ini menjadi sebuah inspirasi dan gambaran tentang kondisi kehidupan rohani betapa kita semua sesat seperti domba dan harus menyadari bahwa kita perlu bertanya dan mencari Tuhan. Kita perlu Tuhan dan pengenalan akan Dia. Dengan kekuatan dan pikiran kita sendiri kita akan tersesat. Banyak orang menyangka jalannya lurus, padahal ujungnya menuju kepada kebinasaan. Bertanyalah dan carilah Tuhan maka kita akan hidup.
(Kisah diterjemahkan dari tulisan Tom Olson)
