Makna Dalam Perintah Mencungkil Dan Memenggal

Nats Alkitab:
Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.
Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka. (Matius 5:29-30)
Dalam nats Alkitab di atas kita dapat membaca suatu pernyataan Tuhan Yesus yang nampaknya begitu mengerikan sebab ada kata-kata untuk mencungkil mata dan memotong tangan dengan maksud agar terhindar dari neraka.
Namun benarkah Tuhan Yesus secara harafiah memerintahkan hal yang demikian? Tidak!
Mengapa? Hal-hal berikut ini menjadi alasan mengapa pernyataan tersebut tidak bermakna hurufiah, yakni:
1. Kalimat-kalimat untuk mencungkil mata dan memenggal tangan sebenarnya adalah gaya bahasa yang bersifat teguran yang keras. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia kita mengenal “Majas” atau gaya bahasa.  Ada bermacam-macam majas yang merupakan gaya dan cara penyampaian untuk mengutarakan maksud atau perintah tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering memakai majas atau mendengar orang lain memakai majas untuk menyampaikan maksudnya. Misalnya, “Lebih baik kau jahit saja mulutmu itu daripada menyinggung banyak orang”.  Maksud dari kalimat itu bukanlah untuk benar-benar menjahit mulut tetapi agar berhati-hati dalam berbicara supaya tidak menyinggung orang lain.  Contoh kalimat majas lainnya: “Lebih baik miskin daripada kaya tapi masuk penjara.” Maksud dari kalimat tersebut bukan benar-benar ingin menjadi miskin, tetapi maknanya adalah hidup itu harus jujur dan benar supaya tidak masuk penjara, kekayaan bukanlah fokus utama tapi hidup yang berintegritas kejujuran itulah yang terutama.
Jadi maksud Tuhan Yesus dengan kalimat mencungkil mata dan memenggal tangan adalah agar kita berhati-hati sekali dalam menggunakan mata dan tangan karena ada konsekuensi yang sangat mengerikan yaitu neraka, bila mata dan tangan dipakai untuk berbuat dosa.  Ancaman hukuman neraka itu begitu mengerikan sehingga kita harus mengendalikan anggota-anggota tubuh kita.
2. Dalam pengajaran-pengajaran-Nya, Tuhan Yesus sangat menekankan adanya perubahan dalam hati agar kita memiliki hati yang kudus dan benar, sebab segala tindakan itu muncul dari hati. Bila hati kita baik maka kita akan melakukan yang baik, sebaliknya bila hati kita jahat maka kejahatanlah yang akan dilakukan.  Jadi, sebenarnya memotong tangan atau mencungkil mata tidak akan dapat mengubah tabiat berdosa seseorang apabila hatinya belum berubah.  Sekalipun seseorang tangannya buntung, ia akan tetap punya tabiat dosa karena hatinya yang penuh kejahatan.  Maka dengan memahami hal ini, kita dapat mengerti bahwa Tuhan Yesus tidak memerintahkan untuk mencungkil mata atau memenggal tangan secara hurufiah namun kalimat perkataan Tuhan Yesus bermakna agar kita sungguh-sungguh menjaga tingkah laku kita agar terhindar dari neraka.
3. Dalam memahami suatu ayat kita harus melihat konteksnya dan membaca ayat sebelum dan sesudah serta membandingkan dengan ayat-ayat lainnya dalam Alkitab.  Dalam Roma 8:13  tertulis: “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.”  Ayat ini menekankan keharusan untuk hidup menuruti kehendak Roh Kudus dan mematikan perbuatan-perbuatan tubuh. Jadi, ciri kehidupan seorang yang beriman adalah menuruti Roh Kudus dan mematikan perbuatan daging.  Orang yang beriman meski mempunyai mata, tangan dan kaki tapi mata, tangan dan kakinya mati terhadap dosa. Tubuhnya hanya dipergunakan untuk melakukan kebenaran.  Jadi, kembali lagi kepada pokok di atas, jelas bahwa perintah Tuhan Yesus agar kita mematikan anggota-anggota tubuh kita terhadap dosa, bukan berarti kita harus mencungkil atau memenggal anggota tubuh ini secara harafiah.
Saudara yang dikasihi Tuhan, perintah Tuhan Yesus dalam ayat ini sangat keras dan ekstrim, yang harus kita perhatikan dengan sungguh-sungguh agar jangan masuk dalam kebinasaan kekal. Marilah kita pakai mata ini untuk hal-hal yang suci bukan yang najis, marilah kita gunakan tangan ini untuk melakukan perintah Tuhan, bukan untuk melakukan perbuatan-perbuatan keji.  Marilah persembahkan tubuh ini bagi Tuhan agar kita masuk dalam kerajaan Sorga yang kekal.

Bukan Mobilnya, Tapi Kamu….

loveNats Alkitab:
Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya. (Efesus 5:25)
Pada suatu pagi, seorang wanita sedang mengendarai mobilnya untuk pergi ke suatu tempat. Lalu sebuah insiden terjadi, ia menabrak sebuah mobil lain yang dikendarai oleh seseorang bernama Carl Coleman. Wanita ini menghentikan mobilnya dan turun untuk melihat kerusakan yang terjadi serta meminta maaf kepada Carl Coleman.  Ia sadar bahwa kecelakaan itu terjadi akibat kesalahannya dan ia mengakui hal itu kepada Carl, pria yang mobilnya telah ditabraknya itu.
Melihat kerusakan mobilnya sendiri, sang wanita menjadi takut untuk menghadapi suaminya.  Ia takut nantinya akan dimarahi habis-habisan. Carl Coleman  meminta wanita ini untuk menunjukkan SIM dan STNK nya.  Ia pun pergi kembali ke mobilnya untuk mengambil kedua dokumen itu.
Wanita ini mengambil SIMnya dan kemudian mengambil STNK yang tersimpan di dalam mobil.  Saat ia memegang STNK mobilnya itu, ia melihat sebuah tulisan tangan suaminya di atas secarik kertas yang diselipkan di dalam STNK itu.  Tulisan itu ditujukan untuk dirinya dan berbunyi:
“Jika terjadi kecelakaan, ingatlah Sayang, kamulah yang aku sayangi, bukan mobilnya.”
Wanita ini pun tersenyum membaca tulisan itu dan merasa damai karena ia menyadari bahwa ia tidak perlu takut terhadap suami yang begitu menyayanginya. Bukan soal mobilnya, tapi dirinyalah yang terutama bagi suaminya.
Bagaimana dengan para suami yang membaca ini? Apakah istri kita menjadi pribadi yang kita kasihi dan utamakan dibandingkan harta benda yang kita miliki?

Jangan Takut, Percaya Saja!

Nats Alkitab:
Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: “Jangan takut, percaya saja!”
(Markus 5:36)
Nats di atas berhubungan dengan kisah dibangkitkannya anak Yairus, seorang kepala rumah ibadat, oleh Yesus Kristus.   Yairus memiliki seorang anak dan anaknya saat itu sedang sakit keras dan hampir mati.  Lalu, ia pergi mencari Yesus karena ia percaya bahwa hanya Yesuslah satu-satunya yang dapat menolong anaknya itu.  Ketika ia bertemu Yesus, ia bersujud dan memohon dengan sangat agar Tuhan datang ke rumahnya dan menyembuhkan anaknya. (Markus 5:21-43)
Saat Yesus sedang berjalan menuju ke rumah Yairus, langkahnya dihentikan oleh seorang perempuan yang telah mengalami sakit pendarahan selama 12 tahun.  Yesus berhenti bukan karena ada suara permintaan dari sang perempuan yang sakit, namun karena Ia merasakan ada kuasa yang mengalir keluar dari tubuh-Nya oleh iman seseorang.  Perempuan yang sakit itu beriman kalau ia menjamah saja jumbai jubah Yesus maka ia akan sembuh, dan hal itu terjadi kepadanya.  Tuhan Yesus berkata kepada perempuan itu: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.  Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!”
Sementara Yesus sedang berbicara, maka datanglah orang dari keluarga Yairus yang mengatakan bahwa anaknya sudah mati.  “Apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?”, katanya kepada Yairus.  Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada Yairus: “Jangan takut, percaya saja!”.  Akhir dari kisah ini adalah anak Yairus dibangkitkan Tuhan Yesus dan hidup kembali dengan tubuh yang sehat.  Yairus mengalami mujizat karena percaya.
Saudara yang dikasihi Tuhan, peristiwa ini sungguh mengajar kita untuk mempercayai Tuhan lebih daripada mempercayai manusia.   Masalah atau persoalan seringkali membuat kita merasa kuasa Tuhan begitu kecil.  Tanpa kita sadari kita telah membatasi kuasa Tuhan dan lebih mempercayai logika pemikiran kita. Apalagi ditambah dengan banyaknya pendapat atau komentar orang-orang lain yang menambah hilangnya kepercayaan kita kepada Allah.
Gospel Banner menuliskan tentang iman seperti berikut ini:
Doubt sees the obstacles,
   Faith sees the way!
Doubt sees the darkest night,
   Faith sees the day!
Doubt dreads to take a step,
   Faith soars on high!
Doubt question, “Who believes?”
   Faith answers, ” I ! “
yang artinya:
Keraguan melihat kepada rintangan, tapi iman melihat jalan.
Keraguan melihat malam yang gelap, tapi iman melihat hari yang terang.
Keraguan membuat takut melangkah, tapi iman membuat terbang tinggi.
Keraguan bertanya: “Siapa yang percaya?”, Iman berkata: “Saya!”
Jangan berfokus kepada persoalan, tetapi fokuslah kepada Tuhan. Jangan putus asa dan putus pengharapan melihat situasi di sekelilingmu, tapi pandanglah kepada Tuhan yang sanggup menolong. Jangan takut untuk melangkah dalam iman, karena iman akan membuat kita terbang tinggi bersama Tuhan.
Jika orang-orang lain tidak lagi percaya, maka kita harus tetap teguh percaya kepada Tuhan.
Apa yang sedang saudara alami saat-saat ini? Tidak ada masalah yang terlalu berat bagi Tuhan.  Bagi Dia tidak ada yang mustahil.
Nats Alkitab di atas menunjukkan bagaimana tanggapan Tuhan Yesus terhadap situasi yang saat itu sangat melemahkan iman Yairus.  Orang-orang tidak akan lagi berharap kesembuhan karena anaknya sudah mati.  Mana mungkin lagi dia akan dapat dihidupkan?  Akan tetapi, dalam situasi yang kelihatannya tidak berpengharapan itu, Tuhan Yesus membangun iman sang ayah, Yairus, yang sedang dalam kebingungan dan kegelisahan karena mengingat akan anaknya yang kata orang sudah mati.
Sepanjang sejarah gereja Tuhan hingga sekarang ini, orang-orang yang percaya kepada Tuhan menaruh kepercayaan mereka kepada Tuhan meskipun kelihatannya segala sesuatu tidak memberi harapan lagi.  Di saat-saat dimana nampaknya mustahil ada jalan keluar, mustahil ada pertolongan, mustahil ada solusi, mustahil ada mujizat, di saat-saat seperti itu, Allah menganugerahkan iman yang diperlukan dan melepaskan umat-Nya sesuai dengan tujuan dan kehendak-Nya.
Jangan Takut, Percaya Saja!

Kasih Menutupi Dosa

Nats Alkitab:
Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. (1 Petrus 4:8)
Kasih berarti kepedulian
Besar kasih, besar pula kepedulian
Sedikit kasih, sedikit pula kepedulian
Tidak ada kasih, maka tak ada kepedulian
Seandainya saja Allah tidak mengasihi kita maka kita akan menjadi orang-orang yang merana, ditinggalkan dan dibiarkan dalam keberdosaan menuju kebinasaan.
Namun, Allah sungguh mengasihi kita dan kasih-Nya itu begitu besar sehingga Ia mengampuni segala dosa kita.
Kasih dan pengampunan berjalan beriringan. Kasih dan kepedulian ada dalam satu jalan. Bila kita mengasihi maka kita mengampuni. Bila kita mengasihi maka kita peduli.
Sebagaimana Tuhan sudah mengasihi kita marilah kita mengasihi sesama kita. Hal ini berarti bahwa kita mengampuni dan peduli kepada orang lain.
Kasih menutupi banyak sekali dosa bukan berarti kompromi dengan dosa akan tetapi mengampuni dosa.  Kasih menutupi kesalahan, kasih menutupi pelanggaran, sebab kasih mengampuni.
Marilah hidup saling mengasihi seperti Allah yang telah lebih dulu mengasihi kita.

Diangkat Atau Ditinggalkan

Nats Alkitab:
Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. (Matius 24:40-42)
Film “Left Behind” yang diproduksi Hollywood sedang ramai ditonton dan dibicarakan, terlebih karena isinya adalah mengenai kisah pengangkatan orang-orang percaya. Dalam satu keluarga ada yang diangkat dan ada yang ditinggalkan.  Peristiwa pengangkatan terjadi secara serempak di seluruh dunia, di dalam pesawat, kendaraan, mall, gereja, rumah dan di berbagai tempat, yang menimbulkan kepanikan masyarakat karena keluarga mereka tiba-tiba menghilang.  Film ini mendasari ceritanya pada sebuah buku laris yang diinspirasi oleh Alkitab dan hendak mengingatkan bahwa waktunya tidak lama lagi dan semua orang harus bersiap sedia.
Peristiwa pengangkatan gereja Tuhan akan terjadi pada masa sebelum penganiayaan besar terjadi.  Dalam nats di atas jelas disebutkan mengenai adanya orang yang dibawa dan orang yang ditinggalkan.
Siapa yang dibawa? Dan kemana mereka dibawa? Ini adalah pertanyaan yang baik yang jawabannya ada dalam Alkitab. Orang-orang yang dibawa atau diangkat adalah orang-orang yang setia dalam iman kepada Yesus Kristus.  1 Tesalonika 4:16-17 menjelaskan tentang kemana perginya orang-orang yang dibawa itu yakni mereka diangkat menyongsong Tuhan di angkasa.
Dalam Perjanjian Lama, ada peristiwa yang membuktikan bahwa pengangkatan itu benar-benar ada dan akan terjadi lagi di akhir jaman.  Peristiwa tersebut adalah diangkatnya Henokh oleh Tuhan (Kejadian 5:24) dan terangkatnya nabi Elia ke surga dengan kereta kuda berapi (2 Raja-raja 2:11).
Bagaimana dengan yang tertinggal?  Orang-orang yang tertinggal adalah orang-orang yang hidup dalam dosa dan kejahatan dan tidak setia kepada Tuhan Yesus Kristus.  Yang tertinggal akan memasuki masa kesusahan dan penganiayaan besar yang akan segera terjadi sesudah peristiwa pengangkatan.
Nats Alkitab diatas menegaskan agar kita berjaga-jaga.  Ini adalah perintah Tuhan Yesus sendiri untuk kita. Berjaga-jagalah selalu seperti lima gadis yang bijaksana yang selalu menyimpan minyak untuk persediaan, baiklah kita juga selalu menjaga iman dan kesetiaan kita kepada Tuhan Yesus agar kita menjadi bagian dalam keangkatan gereja Tuhan di akhir jaman.

Melawan Pencobaan Iblis

Nats Alkitab:
Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”  Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus. (Matius 4:10-11)
Iblis berupaya mencobai Yesus agar melenceng dari ketaatan yang sempurna kepada kehendak  Allah.  Apabila Yesus jatuh dalam dosa maka seluruh rencana penebusan Allah akan gagal total. Namun hal ini tidak terjadi karena Yesus selalu melawan setiap pencobaan iblis dengan kuasa firman Allah.
Kita dapat belajar beberapa hal dari peristiwa ini :
1. Setiap kita, orang yang beriman, haruslah menyadari bahwa iblis akan berusaha mencobai kita agar kita jatuh ke dalam dosa dan ketidaktaatan kepada kehendak Allah yang sempurna. Kita terlibat dalam peperangan rohani setiap hari melawan kuasa-kuasa kejahatan dan kegelapan yang tidak nampak namun begitu nyata.
2. Kita harus hidup dengan penuh ketundukan kepada pimpinan Roh Kudus dan mematikan setiap keinginan daging kita. Mintalah agar Roh Kudus selalu memenuhi kehidupan kita dan kita pun harus memiliki kerelaan untuk hidup dipimpin dan dikuasai oleh Roh Kudus. Kepekaan kepada suara Roh Kudus akan semakin tajam ketika kita terus belajar untuk mendengar dan mengikuti setiap dorongan dan perintah Roh Kudus di dalam hati kita. Dengan ketaatan dan kepekaan ini, kita akan sanggup mengatasi setiap pencobaan dan mengalahkan dosa.
3. Pakailah Firman Tuhan yang berkuasa untuk melawan setiap pencobaan dari iblis. Perkatakan firman Tuhan kepada setiap situasi pencobaan yang kita alami. Untuk hal ini, kita perlu selalu membaca dan merenungkan firman Tuhan setiap hari.  Firman Tuhan akan menjadi “amunisi” atau “peluru” kita untuk melawan godaan dan pencobaan. Tuhan Yesus selalu memakai Firman Allah untuk melawan pencobaan iblis, kita pun haruslah demikian sebab firman Allah mengandung kuasa.  Firman Allah juga memberikan kepada kita kekuatan sorgawi untuk hidup benar dan kudus serta kesanggupan untuk melawan iblis.
Jangan berkawan dengan iblis, tapi usirlah dan lawanlah dia agar dia pergi meninggalkan kita sebab kita tidak memberikan tempat dan kesempatan baginya. 
Marilah kita hidup dalam ketaatan penuh kepada kehendak Allah yang sempurna dan memakai setiap firman Tuhan untuk melawan iblis dan pencobaannya.  Haleluya!

Mendoakan Penganiaya

Nats Alkitab:
Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (Matius 5:44-45)
Saat-saat sekarang ini kita terus mendengar berita mengenai ISIS yang melakukan pembunuhan massal terhadap orang-orang Kristen yang berada di wilayah yang mereka kuasai.
Mosul, kota kedua terbesar di Irak termasuk wilayah yang sudah dikuasai mereka. Disini, ada banyak anak-anak Tuhan yang dibunuh dengan cara dipenggal, ditembak atau disalibkan.
Meskipun mereka mengalami aniaya yang sedemikian berat, para pendeta dan jemaat Tuhan yang ada disana menyerukan agar semua orang Kristen di seluruh dunia berdoa bagi ISIS agar Allah mengampuni mereka dan menerangi hati mereka yang gelap.
Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita untuk mendoakan orang yang menganiaya kita.  Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan tapi balaslah kejahatan dengan kebaikan. Kasihilah orang yang memusuhi kita dan doakan mereka.  Dengan melakukan ini maka kita layak disebutkan sebagai anak-anak Allah Bapa sorgawi yang memberikan kemurahan kepada orang yang baik dan orang yang jahat.
Apakah saudara sedang mengalami kesusahan atau situasi yang tidak enak karena perbuatan orang lain? Apakah saudara sedang mengalami penganiayaan dari orang lain? Mungkin itu fitnah, gosip atau siksaan fisik yang saudara alami. Jangan membalas mereka dengan kejahatan, jangan mengutuk tapi berkati mereka dan berdoalah bagi orang yang menganiaya saudara dengan penuh kasih.
Marilah kita doakan saudara-saudara kita di Irak dan Suriah, doakan juga kelompok ISIS agar hati mereka diterangi oleh firman Tuhan dan memperoleh kasih karunia Allah sehingga mereka bertobat dari jalan yang sesat. Dan berdoalah untuk orang yang menganiaya atau memusuhi saudara.
Tuhan Yesus memberkati.

Yesus Dibaptis Yohanes

Nats Alkitab:
Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanes pun menuruti-Nya. (Matius 3:15)
Pembaptisan Yesus oleh Yohanes merupakan peristiwa yang menyebabkan banyak orang bertanya-tanya, jika Yesus memang Allah mengapakah Dia harus dibaptis?  Kebingungan dan pertanyaan ini sebenarnya muncul juga dalam diri Yohanes pembaptis sendiri, ketika Yesus datang kepadanya dan meminta untuk dibaptis.  Yohanes merasa heran akan hal itu sehingga ia mencegah Yesus dengan berkata: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau datang kepadaku?” (Matius 3:14)
Mengapa Yesus dibaptis oleh Yohanes?  Ada 3 alasan mengapa Yesus dengan rela hati merendahkan diri-Nya untuk dibaptis, yaitu:
1. Untuk menggenapkan seluruh kehendak Allah.
Melalui baptisan di depan umum, Yesus Kristus menyerahkan diri kepada Allah dan kerajaan-Nya sehingga dengan demikian menggenapi tuntutan Allah yang benar.
2. Ia menempatkan diri-Nya setara dengan orang berdosa sekalipun Ia sendiri tidak perlu bertobat dari dosa (2 Kor. 5:21 ; 1 Petrus 2:24).
3. Menghubungkan diri-Nya dengan gerakan baru dari Allah yang memanggil setiap orang kepada pertobatan. (Yoh. 1:23, 32-33).
Sekalipun Yesus sebenarnya tidak perlu dibaptis namun Ia dengan rendah hati menuruti segenap kehendak Allah.  Tuhan Yesus hendak memberikan contoh teladan kepada umat manusia bahwa setiap orang harus tunduk kepada perintah Allah dan melakukan yang benar.
Kerelaan Tuhan Yesus untuk bersedia dibaptis mengajar kita untuk bersikap selalu rendah hati.  Yesus saja yang sempurna mau merendahkan diri-Nya, apalagi kita orang-orang yang berdosa haruslah selalu ingat akan Tuhan dan merendahkan diri di hadapan Tuhan dan manusia, tidak malu mengakui pertobatan kita di depan umum, dan menyatakan kepada dunia bahwa kita adalah milik Allah oleh Kristus Yesus yang telah menyelamatkan kita.
Pelajaran hari ini adalah jadilah pribadi yang rendah hati dan taat kepada seluruh kehendak Allah.  Bila saudara belum dibaptis, maka ambillah keputusan untuk dibaptis hari ini atau secepatnya sebagai tindakan pertobatan dan penundukan diri kepada Allah.  Marilah kita hidup benar sesuai dengan kehendak Allah.
Doa:  Ajarlah aku Tuhan untuk selalu tunduk dan taat kepada kehendak-Mu.  Berilah aku kerendahan hati untuk mengakui bahwa aku adalah orang yang berdosa yang memerlukan Tuhan.
 
 

Berdoa Dengan Penuh Percaya

matius2122
Nats Alkitab:
Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya. (Matius 21:22)
Tuhan Yesus berbicara tentang iman dan doa dalam ayat ini.  Doa tanpa iman bukanlah doa, karena doa erat hubungannya dengan iman dan harus mengandung iman di dalamnya.
Jawaban atas doa tergantung dari iman kita.  Bila kita percaya dengan sepenuh hati dan kepercayaan kita itu selaras dengan kehendak Allah maka apa yang kita doakan pasti akan terjadi.  Segala sesuatu yang selaras dengan kehendak Tuhan dapat dilaksanakan atau diterima oleh mereka yang tidak ragu-ragu.
Dalam sejarah bangsa Mesir, tertulis tentang peristiwa berpindahnya gunung Mokkatam oleh karena doa orang-orang Kristen.  Adanya ancaman terhadap iman mereka karena Khalifah Al-Muiz menantang untuk membuktikan perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 17:20 mengenai iman yang sanggup memindahkan gunung, membuat mereka berada dalam posisi sulit dan karena itu mereka semua berdoa dengan sungguh-sungguh meminta pertolongan Tuhan. Setelah seluruh umat berdoa dan berpuasa selama 3 hari yang dipimpin oleh Patriarch Abraam bi zara, seorang pemimpin umat Kristen Koptik di Mesir kala itu, Tuhan menjawab doa mereka dan gunung Mokkatam berpindah dari tempatnya sejauh 3 kilometer.
Kita tidak dapat mengandalkan yang lain selain Tuhan untuk menolong kita menghadapi berbagai persoalan.  Jika semua pintu keluar tertutup, maka kita dapat mengetok pintu sorga dengan menaikkan doa-doa kita.  Tuhan berdaulat penuh atas kehidupan kita dan Dia sanggup melakukan mujizat yang melampaui akal pikiran kita.
Hari ini, bila engkau sedang mengalami “jalan buntu”, berlututlah dan naikkanlah doa dengan penuh kepercayaan kepada Tuhan. Janji-Nya ya dan amin, pasti dan tidak akan pernah terlambat.  Bila Tuhan sudah berjanji dalam firman-Nya maka janji itu akan ditepati.  Tuhan berjanji untuk menjawab doa-doa kita, maka doa kita pun pasti dijawab oleh Tuhan.
Selalu ada jalan bagi orang-orang yang berdoa dengan iman. Haleluya!

Mengetahui Keberadaan Tuhan

Nats Alkitab:
Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. ( Mazmur 100:3 )
Ayat ini merupakan pemberitahuan dan sekaligus perintah agar kita mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan adalah Allah yang telah menjadikan kita.
Ayat ini tidak mengajak untuk berdiskusi apakah Allah itu ada atau tidak, tetapi mengajak kita untuk, tanpa argumentasi apapun, mengetahui bahwa Allah ada.
Alkitab banyak bertutur tentang keberadaan atau eksistensi Allah. Allah itu ada dan sungguh nyata.
Kesadaran akan adanya Allah akan membuat kita menjadi orang-orang yang selalu berserah dan tunduk kepada perintah-Nya.
Di dunia ini ada paham agnostik yang mengajarkan bahwa manusia tidak dapat mengetahui apakah Allah itu ada atau tidak. Selain tidak mengetahui, paham ini berteori bahwa manusia pun tidak mampu untuk memahami Allah. Orang-orang yang menganut paham agnostik pada umumnya menjadi skeptis atau tidak peduli dengan Tuhan dan hal-hal yang rohani.
Padahal manusia dapat mengetahui keberadaan Allah melalui alam ciptaan-Nya. Firman-Nya dalam Mazmur 19:1 bahwa “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.”  Selain, alam semesta, hati nurani manusia pun berbicara mengenai eksistensi Tuhan.
Kehadiran Allah menjadi manusia yakni Yesus Kristus menambahkan kejelasan akan eksistensi atau keberadaan Allah, melalui kelahiran-Nya yang ajaib, karya mujizat yang dikerjakan-Nya dan pernyataan Tuhan Yesus mengenai Bapa Sorgawi.
Kita tidak perlu bimbang dan ragu lagi mengenai apakah Tuhan ada atau tidak. Tapi yang harus kita lakukan adalah menghormati dan menyembah Tuhan dengan cara hidup sesuai kehendak-Nya.