Batu Akik dan Nasi Aking

Nats Alkitab:
Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia. (Amsal 14:31)

Sekarang ini ada dua macam fenomena yang sedang terjadi dalam kehidupan masyarakat bangsa kita Indonesia.  Fenomena yang pertama adalah trend batu akik yang sedang naik daun hingga harganya melambung. Di berbagai propinsi terjadi “demam” batu akik.  Sebagian warga masyarakat punya suatu kegiatan baru yaitu pencarian batu-batu akik hingga ke daerah-daerah pelosok pedalaman, hutan lindung, bukit-bukit batu dan gunung-gunung serta situs-situs purbakala. 

Peminat batu akik sedang naik jumlahnya dan tidak tanggung-tanggung dalam membeli cincin batu akik.  Berbagai pameran diadakan di kota-kota besar dan kemunculan pedagang-pedagang batu akik di berbagai tempat menjadi pemandangan yang umum saat-saat ini.  

Harga batu akik dapat dibilang sangat fantastis, memang ada yang hanya kisaran ratusan ribu, tapi yang sangat mahal harganya juga ada hingga miliaran rupiah. Ternyata di negeri ini ada banyak orang yang kaya, buktinya mampu membeli cincin batu akik hingga harga yang sangat tinggi.  Namun, kontras dengan fenomena batu akik ini, ada fenomena satu lagi yaitu trend makan nasi aking di kalangan warga masyarakat miskin di Indonesia. 

Nasi aking adalah nasi sisa yang dijemur hingga kering kemudian dimasak lagi hingga matang dan menjadi santapan sehari-hari.  Di berbagai daerah, warga terpaksa memakan nasi aking karena tidak mampu membeli beras yang harganya sekarang sudah naik cukup tinggi. Kenaikan harga beras saja sudah memberatkan apalagi sekarang kenaikan harga juga terjadi pada berbagai komoditi lainnya.   Oleh karena itulah, banyak warga tidak mampu beralih menjadikan nasi aking sebagai makanannya. Sungguh memprihatinkan.

Di saat sebagian warga Indonesia demam batu akik, sebagian lainnya sedang demam nasi aking.  Yang satu karena hobi dan kegemaran, yang satu lagi karena keterpaksaan.  

Dalam situasi yang seperti sekarang ini, kita sebagai orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, sedang diketuk pintu hatinya untuk berbelas kasihan dan mewujudkan suatu tindakan pertolongan nyata di sekeliling kita.  Marilah lihat tetangga dan sesama yang miskin dan berkekurangan.  Berilah mereka bantuan agar dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka. Sikap saling membantu merupakan sikap yang diinginkan Tuhan.  Marilah kita membantu orang-orang yang miskin dengan apa yang ada pada kita. Tuhan Yesus memberkati kita. Amin.

Hupomone

Dalam Ibrani 12:1b tertulis: “…dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.”  Perlombaan yang diwajibkan ini merupakan ujian-ujian iman yang harus dihadapi oleh setiap orang percaya sepanjang hidupnya di bumi.  Dalam menghadapi ujian-ujian iman itu disebutkan bahwa haruslah berlomba dengan tekun.  Berlomba dengan tekun berarti bahwa kita harus menjalani ujian iman itu dengan suatu sikap yang penuh ketekunan iman.   

“Dengan tekun” dalam bahasa aslinya Yunani adalah “Hupomone” yang berarti dengan penuh kesabaran dan ketabahan.  Ada istilah bahwa sabar itu ada batasnya, tapi bagi setiap orang percaya kesabaran kita haruslah tidak ada batasnya sebab kesabaran dalam menanggung ujian-ujian iman itu haruslah sedemikian rupa tak terbatas sehingga iman kita tidak akan luntur karena penganiayaan atau penderitaan.

Ketabahan dalam menjalani ujian dibuktikan dengan sikap penerimaan dan berserah serta pengandalan akan Tuhan.  Ketabahan juga termanifestasikan dalam sikap mengampuni.  Meskipun dianiaya atau menderita karena perbuatan jahat orang lain, kita harus selalu mengampuni dan mengampuni terus menerus. 

Ujian-ujian iman itu kadang-kadang datang dari lingkungan terdekat kita, dalam keseharian kita. Ujian iman itu kadangkala datang dari luar dan seolah hendak menghancurkan kehidupan dan iman kita. Akan tetapi, satu hal yang pasti, setiap ujian iman itu pastilah dalam pengawasan Tuhan yang berdaulat dan berkuasa.  Dia tahu dan mengerti setiap kelemahan kita, dan Tuhan tahu batas kekuatan kita.  Itulah sebabnya Ia akan memberikan kemampuan dan jalan keluar untuk kita dapat menanggung setiap ujian iman itu.

Hupomone, itulah sikap kita dalam menghadapi setiap ujian iman.  Sabar dan tabah sampai nyata di hadapan-Nya bahwa iman kita tidak tergoyahkan dan murni kepada Yesus Kristus. 

Arti Mencobai Tuhan

Nats Alkitab:
Dan janganlah kita mencobai Tuhan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka mati dipagut ular. (1 Korintus 10:9)
Bangsa Israel menjadi contoh peringatan bagi kita yang hidup sekarang ini, agar kita tidak berbuat kesalahan yang sama dengan apa yang dilakukan mereka supaya hidup kita terpelihara di bumi ini dan agar kita masuk ke dalam “Tanah Perjanjian Kekal” yaitu sorga yang abadi.
Salah satu pelanggaran bangsa Israel ketika berada di padang gurun adalah “Mencobai Tuhan”.  Oleh karena sikap bangsa Israel ini maka sebagian dari mereka mati di padang gurun terkena hukuman Tuhan.   Sikap “mencobai Tuhan” ini harus kita hindari dan pastikan bahwa kita tidak melakukannya dalam sikap perbuatan kita sehari-hari.  Tetapi, sudah mengertikah kita apa arti dari mencobai Tuhan? apakah sebenarnya maksud dari kata-kata “mencobai Tuhan” itu?
Marilah kita merenungkan kisah bangsa Israel ketika mencobai Tuhan.  Di kitab Bilangan 21:5-6 tertulis demikian: “Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.” Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati.
Bukan hanya sekali dua kali bangsa Israel mencobai Tuhan, melainkan berkali-kali.  Dan Tuhan terus menguji mereka dengan ujian-ujian yang baru untuk memurnikan hati dan iman mereka kepada Tuhan.
Arti dari mencobai Tuhan adalah “Menantang Tuhan dengan meragukan kekuasaan-Nya melalui ucapan-ucapan yang bernada cemoohan kepada Tuhan”.  Hal ini disebabkan oleh hati yang bebal dan tidak percaya kepada Tuhan.  Bangsa Israel berulangkali tidak menjaga mulutnya dari berbuat dosa.  Mereka terpancing dengan situasi sulit dan keadaan lainnya, sehingga mereka berkata: “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.”
Bagaimanakah dengan keadaan kita sekarang ini? Apakah kita sedang mencobai Tuhan karena keadaan yang sulit? ataukah kita tetap bersukacita dan bersyukur atas apa yang telah terjadi? Jangan biarkan mulut dan hati kita menjadi alat yang mencobai Tuhan, namun biarlah hati kita selalu beryukur dan berserah kepada Tuhan. Amin.
 

Konektivitas Sorgawi

Nats Alkitab:
Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! (Mazmur 51:13)
Salah satu permohonan Raja Daud kepada Tuhan ketika ia bertobat dari dosanya adalah agar Tuhan tidak mengambil roh-Nya yang kudus dari dirinya.  Berdiamnya Roh Kudus merupakan suatu kesukaan bagi Daud karena memberikan hikmat dan pimpinan kepadanya yang tidak dapat ia peroleh dari dunia.
Sesungguhnya pada saat raja Daud sedang digoda oleh keinginan dosa, Roh Kudus telah berbicara di dalam hatinya untuk menghindari perbuatan dosa namun ia mengabaikannya dan menolak pimpinan Roh Kudus dalam dirinya sehingga akhirnya ia jatuh dalam dosa.
Selama ini, Roh Kudus yang memberinya hikmat dan karunia untuk bermazmur, berdoa, dan juga bernubuat tentang Mesias. Roh Kudus memberikan kepadanya kekuatan untuk menjalani setiap pergumulan dan tantangan yang ia alami.
Pengalaman raja Daud dan doanya adalah pelajaran berharga bagi kita sekarang ini agar kita senantiasa menghargai kehadiran Roh Kudus di dalam kita.  Tuhan Yesus telah memberikan Roh Kudus untuk membimbing kita dalam menjalani kehidupan, menghibur dan menguatkan kita dalam situasi sulit, memberikan karunia untuk melayani, meneguhkan iman percaya kita dan menyertai kita senantiasa sampai akhir jaman.
Janganlah Kau ambil Roh-Mu yang kudus daripadaku!  Inilah doa kita kepada Tuhan dan haruslah menjadi kerinduan hati kita untuk selalu mendengar setiap suara bisikan Roh Kudus yang memimpin kita kepada seluruh kebenaran. Roh Kudusnya telah diberikan menjadi jaminan pemeteraian kasih karunia Allah yang kekal.
Bila kita senantiasa percaya dengan teguh kepada Tuhan Yesus Kristus dan hidup bagi Dia, maka Roh Kudus akan menjadi konektivitas sorgawi bagi kita untuk kita senantiasa terhubung dengan hati Allah. Hormatilah dan hargailah Roh Kudus yang diam di dalam kita.

Belas Kasihan Kepada Jiwa-jiwa

Di hadapan Raja Edward VII di istana Buckingham, William Booth, seorang pendeta Metodist dan juga pendiri Bala Keselamatan menuliskan dalam album autografinya, apa yang menjadi kesimpulan dari keseluruhan pekerjaan dalam hidupnya:
Yang Mulia,
Sebagian orang berambisi dalam kesenian,
Sebagian orang berambisi untuk popularitas,
Sebagian orang berambisi untuk emas,
Ambisi saya adalah menyelamatkan jiwa-jiwa.
George Whitefield, seorang penginjil Inggris berdoa, “Tuhan, berikanlah aku jiwa-jiwa, bila tidak ambilah jiwaku!”
Henry Martin, seorang misionaris, berlutut di sebuah tempat di India, sambil berdoa kepada Tuhan, “Di tempat ini biarlah aku ‘terbakar’ untuk melayani Tuhan.”
David Brainerd, seorang misionari di Amerika Utara untuk bangsa Indian, berdoa,”Tuhan, aku mendedikasikan seluruh hidupku bagimu.  Oh, terimalah aku Tuhan dan jadikan aku milik-Mu selamanya.  Tuhan, tidak ada yang lain yang aku inginkan, tidak ada lagi yang aku inginkan.”  Kata-kata terakhir di dalam diarinya, tujuh hari sebelum ia mati, “O datanglah Tuhan Yesus, datanglah segera, amin.”
Thomas a’Kempis, seorang penginjil di tahun 1379-1471 berdoa, “Berikanlah aku apa yang menjadi kehendak-Mu, seberapa yang Engkau kehendaki dan dimanapun Engkau kehendaki. Taruhlah aku di tempat dimana Engkau kehendaki, dan lakukanlah segala sesuatu di dalamku, seturut dengan kehendak-Mu.”
Dwight L. Moody berdoa,”Pakailah aku, Juruselamatku, untuk apapun alasan dan cara yang Engkau kehendaki. Inilah hatiku yang miskin dan kosong, penuhilah dengan kasih karunia-Mu.”
Marthin Luther berdoa,”Lakukanlah ya Tuhanku, lakukanlah, berdirilah di sampingku melawan semua hikmat dan pengetahuan dunia ini. O lakukanlah ya Tuhanku, Engkau harus lakukan. Berdirilah di sampingku. Engkaulah kebenaran, Allah yang kekal!”
John McKenzie berdoa ketika akan menjadi seorang misionari di tepi sungai Lossie, “Ya Tuhan, kirimkanlah aku ke bagian tergelap di bumi ini!”, ia berdoa agar Tuhan membawanya ke tempat yang terkelam dimana penduduknya tidak mengenal kabar keselamatan.
John Hunt, seorang penginjil di Kepulauan Fiji, berdoa di tempat tidurnya sebelum ia mati, “Tuhan, selamatkanlah Fiji, selamatkanlah Fiji, selamatkanlah penduduk Fiji, ya Tuhan, kasihanilah Fiji, selamatkanlah Fiji.”
Semangat dan belas kasihan para penginjil dan misionaris itu begitu luar biasa untuk jiwa-jiwa.  Mereka melakukan panggilan Tuhan yang mulia dalam kehidupan mereka untuk mengerjakan apa yang Tuhan kehendaki. Bagaimanakah dengan kita? Apakah yang menjadi semangat dan gairah hidup kita?  Apakah ambisi kita di dunia ini?  Biarlah belas kasihan Tuhan atas jiwa-jiwa di dunia ini ada di dalam setiap hati kita. Dan biarlah kita berdoa terus untuk jiwa-jiwa di sekeliling kita, berdoa untuk kota kita, bangsa kita, dan dunia.
Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. (1 Korintus 9:16)

Penyebab Tidak Bisa Mengusir Setan

biji sesawi

Nats Alkitab:
Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini kesana, – maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu. (Matius 17:20b)
Seorang ibu yang anaknya sakit ayan berkata kepada Yesus bahwa ia sudah meminta murid-murid-Nya untuk menyembuhkan anaknya tetapi mereka tidak dapat.  Setelah anak yang sakit itu dibawa kepada Tuhan Yesus, maka anak itu disembuhkan oleh kuasa perkataan Tuhan. Setelah peristiwa itu Tuhan Yesus menegur murid-murid soal iman percaya mereka.
Mengapa para murid tidak dapat menyembuhkan anak yang sakit oleh kuasa setan itu? Apabila kepada kita dibawa orang yang mengalami sakit oleh karena kuasa setan, apakah kita dapat mengusir setan itu dan menyembuhkan mereka?  Tentu saja kita hanyalah sebagai hamba Tuhan yang menyalurkan kuasa Tuhan, namun sebagai hamba Tuhan bagaimana seharusnya kita agar dapat mengusir setan?  Ingatlah bahwa kita semua adalah hamba Tuhan, apapun profesi kita, setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus adalah hamba Tuhan, anak Tuhan dan sahabat Tuhan. Sebagai murid dan hamba Tuhan kita harus dapat menjadi saksi-saksi dalam pelayanan melalui pekerjan-pekerjaan kuasa Allah.  Apa saja yang dapat menyebabkan kegagalan mengusir setan?
1.  Tidak percaya sungguh-sungguh akan kuasa Tuhan
Di dalam Lukas pasal 10 tercatat peristiwa pengutusan Tuhan Yesus kepada tujuh puluh murid untuk pergi mengabarkan Injil dan kepada mereka Tuhan memberikan kuasa untuk menyembuhkan sakit penyakit serta mengusir setan-setan.  Jadi, para murid sudah tahu sebenarnya bahwa mereka diberi kuasa. Dalam peristiwa lainnya, rupanya ada kemungkinan iman mereka menjadi lemah sehingga meragukan akan kemampuan kerja kuasa Allah melalui mereka. Itu sebabnya Tuhan Yesus menegur iman mereka dengan mengatakan bahwa jikalau saja mereka memiliki iman sebesar biji sesawi saja maka mereka dapat memindahkan gunung dan tak ada satupun yang mustahil bagi mereka.  Bila kita diperhadapkan dengan seseorang yang diganggu atau dirasuk setan, maka janganlah iman kita menjadi surut dalam peperangan melawan roh jahat.  Roh Tuhan yang ada pada kita lebih besar daripada segala roh-roh yang ada di dunia (1 Yoh.4:4).
2.  Tidak hidup dalam kebenaran firman Tuhan
Beberapa tukang jampi mencoba untuk mengusir setan-setan dengan kuasa nama Yesus.  Kepada orang yang kerasukan setan, mereka menyuruh setan pergi dengan kuasa nama Tuhan Yesus, akan tetapi setan-setan yang ada pada orang itu justru menerjang mereka dan mereka lari dengan telanjang dan luka-luka  (Kisah Para Rasul 19:13-16).  Hal ini terjadi karena tukang-tukang jampi itu adalah orang-orang yang tidak percaya dan tidak hidup di dalam kebenaran firman Tuhan.  Setan-setan yang ada pada orang yang kerasukan itu berkata: “Yesus aku kenal, dan Paulus kami ketahui, tetapi kamu, siapakah kamu?”  Kita harus senantiasa hidup dalam kebenaran firman Tuhan dan kekudusan-Nya.
3. Tidak berdoa dan berpuasa 
Dalam Matius 17:21 ada ayat yang ditandai kurung yang berbunyi: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.”  Terlalu sering berhasil dalam pelayanan rohani terkadang membuat hamba Tuhan lupa untuk selalu mengandalkan Tuhan melalui doa dan puasa.  Gaya hidup berdoa dan berpuasa menunjukkan suatu sikap merendahkan diri dan mengandalkan Tuhan secara bersamaan.  Orang-orang yang percaya kepada Kristus akan selalu bermegah karena Tuhan bukan karena dirinya, meskipun pelayanannya berhasil.  Semua keberhasilan dalam pelayanan sesungguhnya harus ditujukan untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan Yesus.
Marilah kita senantiasa beriman yang teguh, hidup dalam firman-Nya serta berdoa dan berpuasa secara rutin.

Penyembuhan Anak Muda Yang Sakit Ayan

Suatu kali, ketika Yesus dan murid-murid-Nya ada bersama dengan orang banyak, ada seorang ibu yang sujud menyembah kepada Tuhan seraya berkata: “Tuhan,  kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.”
Sang ibu memohon belas kasihan Yesus terhadap anak yang disayanginya.  Ibu ini punya semangat yang kuat untuk datang mencari Tuhan Yesus dan memohon dengan penuh pengharapan agar anaknya disembuhkan Tuhan.  Belas kasihan ibu terhadap anaknya membuatnya mau berkorban waktu dan tenaga untuk mencarikan jalan keluar bagi kesembuhan anaknya.  Jalan keluar itu ada di dalam Yesus Tuhan sehingga ibu ini pergi mencari Yesus dan ketika ia telah berjumpa, ia sujud menyembah kepada-Nya.  Bila seseorang telah memiliki belas kasihan terhadap orang lain, maka ia akan bersyafaat bagi orang itu, dan juga bagi semua orang yang mengalami penderitaan dan masalah hidup.
Tuhan Yesus menyuruh ibu itu untuk membawa anaknya ke hadapan Yesus.  Dan ketika anak itu sudah dibawa kehadapan-Nya, Tuhan Yesus lalu menegur dia dengan keras lalu setan yang ada di dalam anak itu pun keluar. Teguran Yesus bukan sekedar teguran keras biasa, melainkan sebuah teguran yang mengandung kuasa.  Setan tidak bisa tahan mendengar teguran Tuhan Yesus yang berkuasa, sehingga ia pun lari keluar dari tubuh anak itu dan anak yang sakit ayan itu menjadi sembuh seketika.
Kisah ini terdapat di dalam Matius 17:14-18.  Sebuah kisah yang menyatakan kekuasaan Tuhan Yesus atas segala sakit penyakit yang dialami oleh manusia dan mengajar kita untuk selalu mencari Tuhan lewat doa dan terus berharap kepada-Nya dengan setia.
Iman sang ibu dinyatakan dengan sujud menyembah dan memohon pertolongan Tuhan, Bagaimanakah iman kita saat ini? Apakah kita masih mencari Tuhan Yesus sebagai yang pertama dan utama? ataukah kita lebih mencari yang lain untuk mengatasi masalah-masalah yang kita hadapi?
Mari belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi dengan mengingat kisah ini dan menerapkannya dalam kehidupan pribadi kita sehari-hari. Amin. Tuhan Yesus memberkati.

Empat Kesadaran Ayub Sebelum Dipulihkan

Nats Alkitab:
Maka jawab Ayub kepada TUHAN: “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. (Ayub 42:1-3)
Ayub mengalami kesusahan dan penderitaan yang luar biasa dalam hidupnya. Anak-anaknya meninggal, hartanya habis dan ia pun mengalami penyakit aneh. Sungguh suatu keadaan yang membingungkan buat Ayub.  Apabila kita mengalami keadaan yang semacam itu, maka kita pun akan bingung dengan apa yang terjadi.  Akan ada banyak pertanyaan dalam hati kita mengapa dan bagaimana semuanya itu bisa terjadi, apa kesalahan kita, dan banyak pertanyaan lainnya.
Alkitab mencatat bahwa Ayub tidak berdosa kepada Allah meskipun ia dalam kesusahan, hanya saja ia nyaris memiliki kesombongan karena kesalahpahaman tentang Allah ketika keluh kesahnya semakin menjadi terhadap apa yang ia alami.
Pasal 42 dari kitab Ayub merupakan momen pertobatan dan pemulihan Ayub.  Pertobatan dan pemulihannya diawali dengan suatu kesadaran dan pemahaman yang baru tentang TUHAN. Ada empat kesadaran Ayub tentang Tuhan, sesuai nats Alkitab di atas, yaitu:
1. Ayub sadar bahwa TUHAN berdaulat penuh atas hidupnya
Kata-kata Ayub bahwa “Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu” merupakan suatu ekspresi dari kesadaran yang baru akan kedaulatan Allah yang penuh atas kehidupannya.  Ayub dengan rendah hati mengakui bahwa segala sesuatu yang diizinkan Allah untuk terjadi dalam hidupnya adalah baik adanya. Ayub sadar bahwa TUHAN mempunyai suatu maksud dan tujuan yang indah dalam hidupnya.  Sebuah tujuan yang mulia dan ilahi.
2.  Ayub sadar bahwa TUHAN mempunyai rencana yang baik bagi dirinya
Kesadaran akan hal ini sangat sulit dicapai apabila kita masih memfokuskan diri kepada hal-hal dan perkara duniawi.  Penderitaan dan kesengsaraan yang dihadapi Ayub tidaklah terjadi secara kebetulan, tidak juga disebabkan hal-hal lainnya, melainkan terjadi hanya karena ijin Allah dalam hidup Ayub untuk suatu rencana Allah yang baik.
3.  Ayub sadar bahwa pengertiannya tentang TUHAN selama ini adalah salah
Pada akhirnya Ayub menyadari bahwa apa yang ia pikirkan tentang TUHAN selama masa-masa pergumulannya itu adalah salah. Ketika fokus iman Ayub diarahkan kepada mengasihani diri sendiri dan berkat-berkat jasmani, maka muncul banyak kesalahan dari pengertiannya itu.  Ayub merasa dirinya lebih benar dan lebih pantas mendapatkan ganjaran harta kekayaan daripada kesusahan dan penderitaan.  Ayub memandang Allah sebagai pemberi berkat jasmani bukan sepenuhnya sebagai Tuhan yang harus ia sembah dengan hati yang tulus.  Proses ujian yang dihadapi Ayub dan penyataan TUHAN secara langsung  telah mengubah konsep berpikir dan cara pandangnya tentang TUHAN.
4.  Ayub sadar bahwa ia harus bertobat dan memohon pengampunan TUHAN
Proses pergumulan Ayub telah membawanya sampai kepada pengertian bahwa TUHAN itu sungguh ajaib dan bagi Ayub, semua keajaiban TUHAN itu tidak dapat ia mengerti menurut pengertiannya sendiri.  Ayub menyadari kesalahannya dalam berkata-kata.  Selama dalam penderitaannya, ada banyak kata-kata yang salah yang keluar dari mulut Ayub tentang TUHAN.  Pembenaran diri sendiri dan kesombongan rohaninya telah membuatnya menjadi tidak benar dan jatuh dalam kesalahan perkataan.
Ketika penderitaan Tuhan ijinkan terjadi, maka ketahuilah bahwa di dalam semuanya itu, Tuhan tetap sebagai Yang Berdaulat penuh dan Tuhan mempunyai suatu rencana ilahi yang baik dan indah.  Keberserahan penuh dan penundukan diri serta ketaatan total kepada Tuhan merupakan sikap yang harus senantiasa kita miliki dalam apapun situasi yang terjadi dalam hidup ini.

Pemisahan Orang Benar Dari Dunia

Nats Alkitab:
Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai ke atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab  Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. (Matius 10:34-36)
Membaca ayat ini mungkin menimbulkan kebingungan akan maknanya.  Beberapa tafsiran bahkan melenceng dari makna yang sebenarnya dari konteks ayat ini.  Hal yang dipertanyakan seringkali adalah apakah maksud bahwa Yesus datang tidak membawa damai, melainkan pedang? Dan apa maksudnya bahwa Yesus membawa pemisahan antara anggota keluarga?
Yesaya 9:5 menyebut tentang Yesus Kristus sang Mesias sebagai “Raja Damai”, demikian pula di dalam Matius 5:9 dan Roma 5:1.  Tuhan Yesus adalah Raja Damai, tapi mengapa ayat di atas berbicara tentang pemisahan?
Makna dari ayat nats Alkitab Matius 10:34-36 di atas adalah sebagai berikut:
Orang yang beriman kepada Yesus Kristus akan menjadi terpisah dari dunia dan dari orang-orang berdosa, yang tidak percaya kepada Kristus.  Keputusan dan tindakan untuk beriman kepada Kristus akan menimbulkan gejolak dan perpecahan dalam keluarga yang di dalamnya terdapat anggota keluarga yang membenci Yesus Kristus.  Ada banyak contoh kasus dimana seseorang yang beriman kepada Kristus malah dimusuhi oleh keluarga dan dibuang jauh-jauh, serta tidak diakui sebagai bagian dari keluarga itu.  Bahkan di beberapa kasus, orang yang telah percaya kepada Yesus Kristus malah menjadi korban pembunuhan karena keluarga yang tidak dapat menerima keputusannya itu.  Ketika seseorang memutuskan untuk hidup sesuai dengan standard kebenaran Kristus, maka ejekan dan cemoohan serta permusuhan akan muncul dari orang-orang dunia. Inilah yang dimaksud dengan ayat ini.
Bagaimana dengan keadaan kita saat ini?  Apakah cara hidup kita sudah sesuai dengan standard kebenaran Kristus?  Ataukah kita masih hidup secara duniawi? Apakah orang-orang dapat melihat perbedaan dari cara hidup kita? Ataukah kita masih dicap sama dengan cara hidup duniawi?
Marilah kita berubah dan bertumbuh ke arah Kristus, sang Kebenaran itu.

Patung Hanyalah Benda Mati

wihara2Hari Senin kemarin, sebuah klenteng tua yang telah berdiri selama 400 tahun di Jakarta mengalami kebakaran.  Hampir semua bagian di Wihara Dharma Bakti ludes terbakar.  Patung-patung dewa yang ukurannya besar-besar hangus terbakar, begitu pula yang kecil-kecil.  Tapi, seorang biksu mengatakan bahwa patung dewi Kwan Im yang merupakan inti dari klenteng itu berhasil diselamatkan, demikian pula beberapa patung dewa juga berhasil diselamatkan.
Membaca berita di media tentang patung dewa dan dewi yang diselamatkan dari kebakaran telah membuka mata banyak orang bahwa sesungguhnya patung-patung yang disembah itu hanyalah benda mati yang tidak layak disembah-sembah.  Judul berita di sebuah media online bertajuk: “Tiga Patung Dewa di Wihara Dharma Bakti Diselamatkan dari Api”, menjelaskan kenyataan ketidakberdayaan patung-patung itu kepada kita.
Dalam Kitab 1 Samuel 5:2-4 tertulis: “Orang Filistin mengambil tabut Allah itu, dibawanya masuk ke kuil Dagon dan diletakkannya di sisi Dagon. Ketika orang-orang Asdod bangun pagi-pagi pada keesokan harinya, tampaklah Dagon terjatuh dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut TUHAN; lalu mereka mengambil Dagon dan mengembalikannya ke tempatnya. Tetapi ketika keesokan harinya mereka bangun pagi-pagi, tampaklah Dagon terjatuh dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut TUHAN, tetapi kepala Dagon dan kedua belah tangannya terpenggal dan terpelanting ke ambang pintu, hanya badan Dagon itu yang masih tinggal.”

Ayat-ayat di atas mengisahkan tentang patung Dagon, yang adalah sesembahan bangsa Filistin, mengalami jatuh dan rusak karena kehadiran tabut Allah di dalam kuil mereka.  Tabut Allah berbicara tentang hadirat Allah yang nyata dan berkuasa, sedangkan patung dagon mewakili semua patung-patung sesembahan bangsa-bangsa di dunia ini.  Semua patung tuangan dan buatan manusia hanyalah benda mati dan tidak punya kuasa, namun Allah pencipta langit dan bumi ini lah yang berkuasa dan layak untuk disembah.
Imamat 26:1 berkata: “Janganlah kamu membuat berhala bagimu, dan patung atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu; juga batu berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu untuk sujud menyembah kepadanya, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.