
I counted dollars while God counted crosses,
I counted gains while He counted losses,
I counted by worth by the things gained in store
But He sized me up by the scars that I bore.
I coveted honors and sought for degrees,
He wept as He counted the hours on my knees;
I never knew until one day by the grave
How vain are the things that we spend life to save;
I did not yet know until my loved one went above
That richest is he who is rich in God’s love.
-The Brethren Evangelist –
“Betapa sia-sianya usaha yang kita lakukan dalam hidup, tanpa memiliki Yesus.
Orang yang paling kaya adalah mereka yang kaya dalam kasih karunia Allah.”
God's Pay
Who does God’s work will get God’s pay,
However long may seem the day,
However weary be the way;
Though powers and princes thunder “Nay,”
Who does God’s work will get God’s pay.
He does not pay as others pay,
In gold or land or rayment gay;
In good that vanish and decay;
But God in wisdom knows a way,
And that is sure, let come what may,
Who does God’s work will get God’s pay.
– Author Unknown –
Kerja buat Tuhan selalu manis rasanya
Mengerjakan panggilan Tuhan jangan putus asa
Marilah kerjakan dengan semangat membara
Karena upah besar menanti di sorga.
Dendam Menghalangi Berkat
Beberapa tahun yang lampau, seorang pembunuh akan dihukum mati. Sambil menunggu vonisnya dilaksanakan, ia selalu berada dalam sel tahanan penjara.
Saudara laki-laki dari pembunuh, adalah seseorang yang pernah berjasa besar bagi negara. Ia memohon kepada gubernur untuk mengampuni saudaranya itu. Permohonannya dikabulkan, dan surat pengampunan dibuat untuk pembunuh tersebut.
Dengan membawa surat pengampunan di dalam sakunya, saudara laki-laki si pembunuh itu, datang berkunjung ke penjara dengan maksud memberitahukan kabar baik tentang pengampunan yang diberikan oleh negara.
Ketika bertemu, ia menanyakan kepada saudaranya: “Apa yang akan kamu lakukan jika kamu menerima pengampunan?”
“Hal pertama yang akan saya lakukan ,” jawabnya, “adalah mencari hakim yang telah menghukum saya, dan membunuhnya. Kemudian, saya akan melacak saksi yang memberatkan saya, dan membunuhnya juga.”
Saudaranya yang mengusahakan surat pengampunan itu berdiri, dan meninggalkan penjara dengan surat pengampunan itu tetap disakunya.
Dendam dari sang pembunuh telah menghalanginya untuk memperoleh berkat pengampunan. Tuhan Yesus berkata bahwa jikalau kamu tidak mengampuni dosa orang maka dosamu juga tidak akan diampuni.
“Pembalasan yang paling agung adalah mengampuni.” – Henry G. Bohn.
“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat juga demikian.” (Kolose 3:13)
Kebahagiaan Orang Benar

Mazmur 1:1-6 menyatakan firman tentang ciri-ciri orang benar serta upah sebagai orang benar yang diberikan Tuhan.
Dalam ayat ke-3 disebutkan: “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil”. Ayat ini merupakan “reward” atau upah bagi orang-orang yang hidupnya berkenan kepada Tuhan.
Orang-orang benar akan diberkati Tuhan dan berbahagia hidupnya, demikian firman Tuhan. Kebahagiaan kita sebagai orang percaya merupakan suatu kepastian. Nikmatilah kebahagiaan hidup di dalam Tuhan.
Ayat-ayat sebelumnya menjelaskan tentang ciri-ciri orang benar yaitu:
1. Ia tidak berjalan menurut nasihat orang fasik.
Artinya adalah bahwa orang benar hanya akan bersandar kepada kebenaran Allah. Dalam mengambil suatu keputusan seringkali banyak nasehat dan pendapat, bahkan saking banyaknya pendapat kita menjadi kebingungan. Ada orang yang minta pendapat dari dukun, paranormal, tapi kesesatan bukan hanya dari orang-orang semacam itu, namun bisa datang dari orang-orang yang nampaknya berjubahkan kerohanian agamawi, namun yang tidak pernah hidup dalam kebenaran. Berhati-hatilah dan waspadalah terhadap nasihat orang fasik, dan ingatlah bahwa orang fasik bukan hanya orang yang jelas-jelas tidak percaya Tuhan tapi juga termasuk orang yang mengaku percaya tapi hidupnya tidak dalam kebenaran.
Dalam mengambil keputusan, prinsip dan pegangan kita hanyalah firman Tuhan. Kita harus mengkoreksi apakah itu sesuai dengan Alkitab atau tidak.
2. Ia tidak berdiri di jalan orang berdosa.
Maksudnya adalah tidak melakukan perbuatan-perbuatan dosa dan juga tidak berada di tempat dimana orang berdosa ada. Orang percaya tidak sepatutnya ada di klub malam rutin setiap minggu. Ada orang yang selesai ibadah, melanjutkan nongkrong di diskotik. Apa maksudnya? Diskotik bukan tempat yang baik untuk orang percaya. Cari jodoh juga jangan di diskotik, tapi carilah lewat doa dan cari di gereja atau komunitas yang baik lainnya. Orang percaya sama Tuhan tidak akan melakukan kebiasaan dosa yang dilakukan orang fasik. Narkoba, seks bebas, pergaulan yang buruk, semua yang jahat harus kita jauhi, dan lakukanlah yang baik dan berkenan kepada Tuhan.
3. Ia tidak duduk dalam kumpulan pencemooh.
Ada banyak pencemooh di sekeliling kita. Para pencemooh mengejek dan melecehkan firman Tuhan. Menganggap sia-sia firman Tuhan dan tidak mempercayainya. Ada orang yang senang mengkritik khotbah, mengkritik jemaat lain, mengkritik singer, mengkritik apa saja. Kritikan yang membangun memang boleh dan baik untuk memperbaiki. Tapi kalau sifat mengkritik selalu muncul bahkan kritik kepada firman Tuhan maka waspadalah jangan-jangan kita sudah menjadi pencemooh. Biarlah kita menjaga mulut kita dari perkataan cemoohan dan terutama menjaga hati kita agar tetap murni dan mempercayai firman Tuhan segenap hati.
4. Ia suka membaca dan merenungkan Taurat Tuhan.
Taurat Tuhan berbicara tentang firman Tuhan yang tertulis. Jadi, setiap orang benar, salah satu cirinya adalah suka membaca dan merenungkan Alkitab. Sudahkah kita memiliki kesukaan akan hal ini? Apa kesukaan kita selama ini? Membaca komik? Novel? Koran? Internet? Chating? Intinya adalah biarlah kesukaan kita adalah membaca dan merenungkan Alkitab setiap hari.
Itulah empat ciri-ciri orang benar dan dengan demikian orang benar akan berbahagia hidupnya dan diberkati Tuhan senantiasa. Apa saja yang diperbuatnya akan ditolong Tuhan dan dibuat Tuhan berhasil.
Orang benar tidak akan seperti orang fasik. Tuhan mengenal jalan orang benar, jalannya adalah jalan yang penuh bahagia. Rumah tangga orang benar diberkati, anak-anak orang benar diberkati, usaha dan pekerjaan orang benar diberkati, seluruh hidup orang benar diberkati Tuhan. Amin.
Tuhan Yesus memberkati kita semua.
Less Cash Society
Beberapa waktu lalu diadakan sosialisasi mengenai “Less Cash Society” di salah satu kampus di Indonesia.
Para petinggi lembaga keuangan memaparkan bahwa ke depan, tidak perlu lagi transaksi dengan menggunakan uang tunai, semuanya akan menggunakan fasilitas transaksi dengan cara non tunai seperti e-banking, kartu debit, kartu flazz, atau phone banking. Jadi, nantinya setiap orang di Indonesia tidak perlu lagi membawa-bawa uang tunai di saku atau dompetnya.
Dalam kaitannya dengan hal tersebut, fasilitas kartu pembayaran yang dipakai dikatakan telah memakai chip dan radio frequency yang mendukung hal ini. Memang masalah chip dan radio frequency dalam kartu sudah lama digunakan dan bukan hal yang baru, namun penerapannya pada manusia di tubuh pada masa depan nampaknya akan mulai diterapkan tidak lama lagi.
Di Jakarta, sudah ada kabar tentang akan diterapkannya regulasi pembayaran di pompa bensin atau SPBU yang harus non-tunai. Jadi setiap pembeli harus membayar dengan fasilitas kartu bank atau lembaga keuangan lainnya. Hal ini mulai menunjukkan bahwa di Indonesia, sudah mulai ada usaha untuk mengimplementasikan masyarakat tanpa uang tunai.
Apa yang bisa kita lihat dari hal ini adalah bahwa sudah semakin dekatnya penerapan transaksi jual beli non tunai di seluruh dunia. Di dalam surat Wahyu disebutkan adanya antikris yang menguasai ekonomi dunia dan mengatur transaksi jual beli, yang mana tanpa adanya tanda antikris, tidak dapat melakukan transaksi jual beli.
Kita perlu selalu berjaga-jaga dan meminta hikmat Tuhan. Kita juga harus berdoa untuk kedatangan Tuhan Yesus kedua kali. Hati kita merindukan kedatangan-Nya yang penuh kemuliaan untuk menyelamatkan kita dan semua orang yang percaya kepadaNya. Hari itu adalah hari yang termulia.
Namun, sebelum kedatangan Tuhan Yesus, akan datang masa yang sukar. Antikris akan berkuasa di bumi dan hari-hari itu adalah hari yang mencekam di bumi. Biarlah kita hidup sungguh-sungguh agar menjadi bagian dari orang-orang percaya yang diangkat dalam pengangkatan agar tidak mengalami masa kesusahan dan aniaya tersebut.
Haleluya, jadilah kehendakMu di bumi seperti yang telah Engkau rancangkan jauh sebelumnya.
Datanglah Tuhan Yesus, Amin, datanglah!
Pikirkanlah Yang Baik
Yeremia 12:1-6 berisi keluhan nabi Yeremia kepada Allah. Ayat 1-4 merupakan keluhannya atas apa yang nampaknya tidak adil. Nabi Yeremia mempertanyakan mengapa orang fasik hidupnya sentosa, mereka tumbuh dan berakar, subur dan berbuah. Mungkin kondisi nabi Yeremia menjadi pembanding dengan orang-orang fasik, dan ia heran mengapa kondisinya justru kelihatannya kurang beruntung, kurang berkat, dan kurang segala macam. Ditambah lagi berbagai macam penentangan dari rakyat Israel, raja dan para imam kepadanya.
Apa yang ditanyakan dan dikeluhkan oleh nabi Yeremia mungkin pernah muncul juga dalam hati dan pikiran kita, bahkan keluar dari mulut kita pertanyaan akan keadilan Tuhan.
Saudara yang dikasihi Tuhan, Mazmur 37:1-7 berisi teguran supaya kita tidak marah karena keberhasilan orang fasik. “Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang”. Alangkah jauh lebih baik apabila kita tetap mempercayai Allah dan setia untuk melakukan yang baik, serta bergembira karena Tuhan. Nah, hal yang satu ini yang nampaknya harus kita bangkitkan kembali dalam hidup kita, yaitu bergembira karena Tuhan, sebab apa? sebab kegembiraan kita seringkali berubah esensinya menjadi kegembiraan yang disebabkan oleh perkara lahiriah. Mari kita kembali kepada hal yang pokok, yaitu Tuhan, sebagai satu-satunya penyebab dan sumber kegembiraan kita.
Ayat 5 dari kitab Yeremia 12 berisi teguran Tuhan kepada nabi Yeremia. Tuhan memakai kata-kata kiasan untuk menegur nabi Yeremia, yang nampak seperti orang berlari padahal orang lain berjalan kaki, dan oleh sebab itu ia menjadi sangat lelah. Pikiran kita seringkali seperti “orang berlari” sehingga kita capek, kehabisan energi, dan putus asa, padahal jika kita mempercayai Allah maka pikiran kita akan tenang dan disegarkan selalu.
Ayat ini juga menegur nabi Yeremia bahwa di negeri yang damai kok hatinya tidak dapat tenteram, padahal ia belum ada dalam kesukaran. Bagaimana ia bisa bertahan dalam kesukaran bila dalam kondisi yang baik saja tidak merasa tenteram dan hanya mengeluh saja.
Saudara yang dikasihi Tuhan, jagalah pikiran kita tetap dipenuhi dengan pikiran sorgawi yaitu perkara-perkara mulia. Situasi apapun jangan membuat pikiran kita “tergopoh-gopoh”, bingung, pusing dan stress. Biarlah kita selalu bersandar kepada firmanNya dan bersyukur dengan semua yang Tuhan karuniakan.
Ayat 6 berisi teguran kepada nabi Yeremia yang intinya adalah bahwa ia harus mengandalkan Tuhan senantiasa. Sebab kaum keluarganya sendiri juga berkhianat kepadanya. Nampaknya Yeremia percaya dan mengandalkan saudara-saudara dan kaum keluarganya. Tapi tanpa sepengetahuan Yeremia, mereka secara diam-diam malah tidak mendukungnya.
Seringkali dalam hidup ini, kita punya andalan-andalan yang kita harapkan dapat menolong dan membantu kita. Tapi, Tuhan mengingatkan bahwa yang harus kita andalkan hanya Tuhan. Ia satu-satunya sumber kekuatan dan pertolongan kita.
Banyak orang punya andalan di militer, kepolisian, kejaksaan, bank dan sebagainya, tapi orang-orang benar hanya mengandalkan Tuhan. Sebab diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan dan menaruh harapnya pada Tuhan.
Tuhan Yesus memberkati saudara semua, amin!
Foto Yesus Memberikan Jaminan

Pada musim gugur tahun 1938 seorang wanita Kristen tua dari Oslo, Norwegia, telah kehilangan persekutuan dirinya dengan Tuhan. Dia tidak bisa berdoa seperti biasanya, dan ia merasa langit seperti tertutup dan menghalagi doanya. Dia menangis setiap hari kepada Tuhan untuk memberinya beberapa jaminan – “Beberapa tanda yang pasti bahwa saya anak adalah anak-Mu”. “Tuhan, berikan aku kembali sukacita yang saya miliki sebelum saya meninggalkan engkau, sehingga saya dapat memberitahu orang lain tentang Engkau dan memuliakan nama-Mu. Oh! Ya Tuhan, kasihanilah aku”. Ini adalah doa dan tangisannya yang terus menerus kepada Tuhan.
Suatu hari, saat ia sedang berdoa kepada Tuhan, ada suara kecil dari Roh Kudus berbicara kepadanya dengan jelas, yang mengatakan : “Ambil kameramu dan pergi ke kebun untuk mengambil gambar”. Dia terheran-heran mendengar suara dan perintah itu, tapi ia mencoba mengabaikan itu semua dan menghilangkan dari benaknya. Tetapi suara itu berbicara lagi kepadanya, dengan kata-kata yang sama dan sejelas sebelumnya. Kali ini ia taat kepada suara itu. Dia mengambil kameranya dan pergi keluar dan menjepret kamera secara acak di taman.
Beberapa waktu kemudian, film dari kameranya dicuci dan dicetak, tapi ia tidak melihat ada hal-hal menarik di dalamnya , namun ketika ia memperhatikan lagi untuk kedua kalinya, ia kaget karena melihat ada sosok Yesus di dalam foto.
Sekarang dia tahu Tuhan telah mendengar dan menjawab doa-doanya dan memberinya tanda jelas bahwa ia masih berada dalam persekutuan dengan Juruselamatnya. Sukacitanya sekarang lengkap . Sekarang dia bisa mengatakan pada semua orang tentang Yesus, sang Juruselamat dan Tuhan.
Tidak semua orang mampu, pada awalnya, untuk melihat Yesus dalam foto yang terkenal tersebut. Yesus nampak dari kepala-Nya hingga dada dan kedua bahu-Nya . Sosok Yesus dalam foto itu menempati sebagian besar dari total ukuran foto tersebut.
Betapa indahnya Roh Kudus, dalam mujizat ini, telah menunjukkan kepada kita bahwa Yesus sangat dekat pada saat kita mengalami kesulitan, tetapi, ketika mata kita tidak tertuju pada Yesus, maka kesulitan kita nampak seolah begitu besar sehingga kita tidak menyadari akan kehadiran-Nya.
Kita seringkali menjadi korban kebutaan rohani dan tidak dapat melihat Dia yang begitu dekat dengan kita dan bersedia untuk menolong dan memberkati kita.
Apa yang diminta oleh ibu itu, dan yang terjadi kepadanya mungkin terdengar aneh buat saudara, namun saya percaya bahwa Tuhan sanggup melakukan apa pun jauh melebihi apa yang dapat kita pikirkan, dan untuk ibu tersebut mungkin hal inilah yang ia perlukan.
Saudara mungkin merasa hidupmu sedang jauh dari persekutuan dengan Tuhan dan nampaknya sukacita seolah lenyap dari hati saudara, namun percayalah bahwa sebenarnya Tuhan sedang berada di samping saudara, dan hendak menguatkan serta menolong dan memberkati hidupmu. Dia tidak pernah jauh, Dia berada sangat dekat dengan kita. Tuhan Yesus berkata berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.
Mata jasmani kita seringkali tidak dapat melihat Dia, tetapi itu bukan berarti Dia tidak ada. Justru Ia begitu nyata ada bersama kita sebab Ia adalah Immanuel, Allah yang beserta kita senantiasa sampai kepada akhir jaman.
Kiranya saudara terus kuat di dalam Tuhan dan kembali bersukacita dalam persekutuan dengan Bapa Surgawi.
Tuhan Yesus memberkati saudara!
Dosa Mengingini

Ternyata mengingini bisa menjadi sebuah dosa, bila keinginan itu tidak berkenan pada Allah.
Perintah kesepuluh dari Kesepuluh Perintah Allah adalah:
“Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.” (Kel.20:17)
Perhatikan disini, inti dari perintah Allah di Keluaran 20:17 adalah agar kita tidak mengingini sesuatu yang bukan hak kita.
Ingin punya rumah tidak apa-apa, tetapi bila menginginkan rumah orang lain, itu dosa.
Ingin punya istri tentu baik, tapi menginginkan istri orang lain itu dosa.
Ingin punya pembantu rumah tangga tentu bagus karena bisa meringankan pekerjaan rumah tangga, tapi menginginkan pembantu orang lain, dosa.
Ingin punya pegawai untuk perusahaan sendiri itu baik, tapi menginginkan pegawai orang lain itu dosa.
Pokoknya, apa saja yang dipunyai oleh sesama kita, tidak boleh kita ingini, karena dilarang oleh Tuhan.
Perintah kesepuluh berbeda dengan yang lainnya. Akarnya adalah dalam pikiran. Bila umumnya dosa terjadi akibat perbuatan yang sudah dilakukan, maka tidak demikian dengan dosa akibat keinginan. Belum ada sesuatu yang terjadi, semuanya masih ada dalam pemikiran, namun inilah yang mencelakakan dan membuat manusia menjadi berdosa, bila tidak menjaga pikirannya.
Pikiran kita harus bersih dari keinginan yang tidak berkenan pada Allah. Tuhan tidak mau kita dipenuhi dengan iri hati, dengki, dan berbagai macam pikiran jahat. Tetapi Tuhan mau agar kita punya pikiran yang bersih, tulus dan suci. Itu sebabnya kita harus mengenakan pikiran Kristus pada pikiran kita. Kita tanggalkan pikiran yang lama dan kenakan pikiran yang baru, yaitu pikiran Kristus.
Bahasa Inggris dari perintah kesepuluh adalah “Do Not Covet”, menarik sekali kata “Covet” karena di Indonesia ada istilah Copet, entah apakah istilah copet itu berasal dari Covet dalam bahasa Inggris, tapi bisa saja demikian. Pencopet adalah orang yang suka mengingini milik orang lain, makanya ia mencopet apa yang bukan hak miliknya.
Biarlah kita menjadi pribadi-pribadi yang punya pikiran kudus, dan tulus, tanpa rasa dengki dan iri hati serta keinginan-keinginan yang tidak berkenan.
Tuhan Yesus memberkati.
(BT)
Pemungut Bulir-bulir Padi
Sawah yang tak begitu jauh dari rumah baru saja dipanen, dan selama beberapa hari saya dan anak anak sering duduk-duduk di beton yang ada di tepi sawah, pada sore hari, sambil menemani mereka bermain sepeda.
Di sawah yang sudah kering itu, beberapa anak bermain layangan dan ada seorang ibu yang berjalan membungkuk bolak balik di sawah yang baru dipanen itu. Saya memperhatikan apa sebenarnya yang sedang dilakukannya. Pikiran saya berkata bahwa ia sedang memunguti bulir-bulir padi yang terserak saat dipanen. Setiap ia mendapatkan bulir-bulir padi maka akan dimasukkannya ke dalam karung yang ia pegang.
Saya mendekati dan berbincang dengannya, mencoba mengkonfirmasi apa yang ia lakukan. Ternyata benar, ia mengumpulkan bulir-bulir padi yang terbuang saat dipanen. Dan hasilnya akan dia bawa ke penggilingan padi agar bisa menjadi beras yang siap dimasak. Di pinggiran sawah di sebelah sana, ada suami dan anaknya yang masih kecil, serta seekor anjing yang menemani keluarga mereka.
Saya jadi teringat kisah Rut dalam Alkitab, yang memunguti bulir-bulir jelai di ladang Boas, yang baru saja dipanen. Situasi hidup yang sulit membuat Rut harus melakukan hal itu, untuk sekedar mencari makan. Namun, Rut kemudian justru bertemu dengan Boas, sang pemilik ladang, dan akhirnya keadaan Rut pun berubah setelah itu, karena ia dinikahi oleh Boas.
Di jaman modern sekarang ini, melihat ibu yang memungut batang yang masih ada bulir-bulir padi, mungkin sepertinya aneh dan tidak mungkin. Tapi itulah kenyataannya, masih saja ada orang-orang yang berkekurangan, namun mereka tidak mau mengemis, tetapi melakukan sesuatu yang lebih baik tanpa merugikan orang lain.
Kalau dihitung-hitung, sebenarnya hasil pengumpulan ibu itu tidaklah seberapa. Jika diuangkan mungkin hasilnya hanya 10 atau 20 ribu rupiah, tetapi nilai tersebut sangat berharga bagi keluarga mereka.
Berapa banyak uang yang kita habiskan untuk makan-makan di restoran? Biasanya ratusan ribu bahkan jutaan dalam sekali makan bersama. Banyak orang di perkotaan yang tidak merasakan besarnya manfaat uang 10ribu atau 20ribu. Tapi ingatlah bahwa uang sekecil itu terasa sangat besar bagi mereka yang miskin dan serba kekurangan.
Lihatlah sekeliling kita dan ulurkanlah tangan kita bagi mereka. Tuhan Yesus menekankan pentingnya memiliki belas kasihan. Sudahkah kita miliki hati yang berbelas kasihan kepada sesama kita?
Mari, mulai hari ini, kita lakukan suatu perubahan diri. Menjadi pribadi yang penuh belas kasihan kepada mereka yang memerlukan. Seperti Bapa yang telah berbelaskasihan pada kita, marilah kita juga melakukannya pada orang-orang di sekitar kita.
Darah Yang Menyucikan

Di antara begitu banyak orang yang secara terbuka mengakui Yesus sebagai Juruselamat pribadinya di dalam suatu aula di jalan Wuchang adalah seorang pegawai yang baru pertama kali mendengar kabar Injil.
Ia telah menunjukkan suatu kenyataan dari perubahan hidupnya. Dulu ia biasanya menyimpan suatu catatan tentang kebaikan dan jasa-jasanya, begitu juga dengan kecelaan dan kesalahannya. Seperti selalu menjadi kebiasaannya, ia memeriksa catatannya itu lalu apabila kesalahannya melebihi kebaikannya, maka ia akan menggigit lidahnya sampai berdarah, lalu mengambil darah itu dan digosokkannya pada catatan yang jelek.
Sekarang ini, ia mempelajari dan mendapati bahwa yang dapat menutupi dosanya hanyalah darah Yesus.
“Alliance Weekly”
