Rasul Paulus dulu bernama Saulus. Sebelum ia menerima kasih karunia Allah, ia adalah seorang yang taat menjalankan perintah agama, dengan menganiaya dan membunuh orang-orang Kristen. Tapi, setelah Tuhan Yesus menampakkan diri kepadanya dalam perjalanan ke Damsyik, ia mengalami perubahan total.
Saulus berasal dari bahasa Ibrani, sah-ool’ atau Shaul, yang artinya “Yang Diinginkan”, atau “Yang didoakan”. Namun, kemudian, Saulus berganti nama menjadi Paulus yang berasal dari bahasa Yunani, Paulos, yang artinya “kecil” atau “rendah hati”.
Perjumpaan dengan Kristus telah membuat Saulus merasa dirinya begitu kecil dan ia sadar bahwa ia harus merendahkan hati dan diri di hadapan Tuhan. Semua prestasi dan kehidupan masa lalu bukan lagi merupakan kebanggaan, tetapi pengenalan akan Kristus lah yang merupakan hal yang sangat berharga.
Jika Paulus menjadi berubah total dalam hidupnya, maka kita pun hendaknya mengalami perubahan total dalam kehidupan kita, menjadi baru di dalam Kristus. Kita ini kecil di hadapan-Nya dan dengan demikian haruslah kita rendah hati selalu, karena semua hanya oleh anugerah-Nya.
“namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Galatia 2:20)
Pelukis Yang Menjadi Pendeta
Pendeta Tucker dari Uganda dulunya adalah seorang pelukis. Bagaimana ceritanya dia bisa menjadi seorang pendeta?
Suatu kali, dia sedang melukis sebuah gambar. Dalam gambar itu ada seorang wanita miskin yang berpakaian tipis di cuaca yang dingin. Ia tidak mempunyai mantel untuk dipakai. Di dadanya, ia mendekap bayinya yang mungil dengan erat dan penuh kasih. Wanita ini sedang berjalan tanpa arah tujuan karena ia adalah seorang tunawisma yang tak punya tempat tinggal. Lukisan itu menggambarkan suasana malam dingin yang gelap dengan cuaca berangin yang dingin, dan wanita itu dengan bayinya berjalan di sebuah jalan yang sepi.
Sementara, Tucker sedang melukis dan lukisannya semakin menuju penyelesaian akhir, tiba-tiba, Tucker melemparkan kuasnya dan berkata: “Daripada saya melukis orang yang sedang menderita dan terhilang, lebih baik saya pergi kesana dan menyelamatkan mereka.” Tucker kemudian pergi ke Afrika dan melayani Tuhan disana.
Bila Pendeta Tucker tergerak menjadi seorang pelayan Tuhan oleh karena suatu gambaran penderitaan dan kehilangan dari jiwa-jiwa, maka patut kita bertanya pada diri sendiri, “Apakah gambaran yang telah mendorong diri saya untuk menjadi seorang hamba Tuhan?” Apakah gambaran tentang kesuksesan, kemewahan dan ketenaran? Ataukah gambaran tentang penderitaan, kehilangan, kemiskinan dan kebinasaan jiwa-jiwa?
Apa yang memotivasi kita untuk melayani Tuhan? Apa motivasi kita mengikuti Dia?
Marilah instrospeksi diri kita dan perbaiki motivasi pelayanan kepada-Nya.
Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” (Matius 8:20)
Maukah kita mengikuti dan melayani Dia dengan kerelaan yang sungguh?
Merasa Seperti Orang Bodoh
Mantan Anggota Kongres Amerika Serikat, Brooks Hay, bercerita tentang nasehat seorang hamba Tuhan kepada seorang politisi agar ia pergi keluar rumah saat hujan dan menengadahkan kepalanya menghadap ke langit. “Itu akan memberikan suatu pewahyuan buatmu.”
Besoknya politisi itu menemui hamba Tuhan tersebut dan berkata, “Saya sudah mengikuti nasehatmu dan tidak ada wahyu yang saya dapatkan. Sewaktu saya menengadahkan kepala menghadap langit, air hujan turun menetes dan membasahi wajah serta mengalir ke leher saya, dan saya merasa seperti orang bodoh.”
Hamba Tuhan itu kemudian menjawab, “Bukankah itu merupakan sebuah wahyu yang bagus untukmu?”
Kisah ini ditulis oleh Wooden Barrel dan hendak menyampaikan secara tersirat bahwa seringkali politisi merasa dirinya paling benar, padahal sebaliknya ia begitu bodoh.
Di negara kita pun sama halnya, banyak politisi yang merasa dirinya paling hebat dan benar dalam pemikiran padahal sesungguhnya bodoh. Sebagai seorang manusia, hendaklah kita harus selalu mengintrospeksi diri dan mencari hikmat yang dari Tuhan. Ketika seseorang merasa dirinya paling pintar, ia harus berhati-hati, jangan-jangan ia adalah yang paling bodoh.
Ayat Alkitab hari ini buat kita adalah agar kita selalu sehati sepikir dan jangan memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi mengarahkan diri pada hal-hal yang sederhana, dan jangan menganggap diri kita sendiri pandai!
Menengadahlah ke langit lebih sering, dalam arti memandang kepada Tuhan dan mencari hikmat-Nya lewat doa-doa dan perenungan firman Tuhan setiap hari, agar kita terus diisi dengan pengetahuan dan hikmat sorgawi.
“Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!” (Roma 12:16)
Jubah Untuk Sang Ratu
Ketika sedang dalam perjalanan berjalan kaki bersama Ratu Elizabeth dan rombongan kerajaan, Sir Walter Raleigh melihat di depan sang Ratu ada tanah becek yang akan dilaluinya. Dengan tanpa pikir panjang, segera Sir Water Raleigh melepaskan jubahnya yang indah dan menghamparkannya di atas tanah becek itu agar Ratu Elizabeth dapat melalui jalan itu tanpa mengotori sepatunya.
Sir Walter Raleigh menyadari dengan sepenuh hati dan jiwanya bahwa apa yang dilakukannya untuk sang Ratu Inggris itu bukanlah suatu kerugian bagi dirinya, sekalipun harus mengorbankan jubahnya yang mahal dan indah.
Kisah ini sungguh menggugah hati kita sebagai orang-orang yang percaya kepada Raja di atas segala raja, yaitu Tuhan Yesus Kristus yang segera akan kembali lagi ke dunia ini, bahwa kita harus memiliki hati yang rela berkorban bagi sang Raja semesta. Kita harus rela menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti setiap kehendak-Nya.
Kedatangan-Nya begitu cepat dan akan segera terjadi, mungkin sudah banyak yang kita berikan untuk pekerjaan Tuhan ataupun pelayanan, namun marilah kita ingat bahwa Tuhan menghendaki orang-orang yang memiliki hati yang rela berkorban bagi Kerajaan Allah, yaitu yang tidak mementingkan diri sendiri tetapi mengutamakan Tuhan dalam hidupnya.
Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. (Lukas 9:23)
Arti Mengikat dan Melepaskan
Nats Alkitab:
“Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Matius 16:19)
Perkataan Tuhan Yesus di atas disampaikan-Nya kepada Petrus, apa sebenarnya makna dari perkataan ini?
Pengertian mengikat dan melepaskan yang dimaksudkan dalam ayat ini mengandung arti bahwa kepada rasul Petrus, Tuhan memberikan:
1. suatu otoritas untuk memutuskan dan melaksanakan suatu disiplin atau peraturan dalam kehidupan jemaat Tuhan.
Dalam Kisah Para Rasul kita dapat membaca dan mengerti bahwa otoritas rasul Petrus dalam beberapa masalah aturan jemaat begitu berpengaruh bagi tata cara hidup jemaat mula-mula. Dalam Alkitab Bahasa Inggris sehari-hari dituliskan tentang mengikat dan melepaskan sebagai “prohibit and not prohibit”, yang artinya melarang dan tidak melarang. Jadi, pengertiannya adalah suatu otoritas atau kuasa untuk membuat peraturan dalam kehidupan jemaat Tuhan.
2. Otoritas untuk melakukan kuasa-kuasa yang seperti Tuhan Yesus lakukan.
Rasul Petrus mengadakan berbagai mujizat seperti yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus. Hanya dengan satu perkataan yang didasarkan kepada kuasa nama Yesus, maka mujizat terjadi dalam pelayanannya. Otoritas ini juga berlaku atas setan-setan dan segala kuasa kegelapan. Iblis dan segala kuasanya telah ditaklukkan di bawah kaki Yesus.
3. Otoritas untuk memberitakan Injil Kristus yang menyelamatkan
Roh Kudus memberikan kuasa dan otoritas kepada rasul Petrus untuk berbicara atas nama Tuhan dalam pemberitaan Injil Kristus. Hal ini menyebabkan adanya kuasa dalam setiap pemberitaan yang disampaikan oleh rasul Petrus.
Apakah bagi kita perkataan ini berlaku? Apakah kita mempunyai otoritas yang sama seperti itu?
Ayat ini disampaikan oleh Tuhan Yesus juga kepada murid-murid yang lain, hal ini tertulis dalam Matius 18:18. Kepada setiap murid Tuhan yakni orang yang percaya dan yang mau taat kepada kehendak Tuhan diberikan otoritas yang sama.
Syarat dari hal ini adalah bahwa orang yang diberi otoritas oleh Tuhan harus bergantung sepenuhnya kepada pimpinan Roh Kudus, dan tidak dapat seenaknya melakukan sesuatu atas kehendak atau emosi pribadi. Ketaatan dan kerelaan untuk menyerahkan seluruh hidup bagi Tuhan untuk dipakai bagi kemuliaan dan kehendak-Nya itulah yang harus kita miliki.
Tiada Penghalang Yang Tak Tertembus
Sewaktu Musa menghadapi laut merah tatkala ia memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, sangat mungkin ia berpikir bahwa mengapa Allah menuntunnya ke jalan buntu? Apakah maksud Tuhan membawanya ke tempat yang buntu seperti itu?
Adakalanya kita pun menghadapi keadaan seperti jalan buntu dan tanpa jalan keluar. Di hadapan kita nampak begitu tinggi tembok penghalang dan kemustahilan. Tapi pernahkah kita merenungkan mengapa Tuhan membawa saya menuju jalan buntu ini?
Mungkinkah Tuhan secara tidak sengaja membawa Musa dan umat-Nya ke tepi laut merah? Mungkinkah Tuhan sedang tertidur pada saat mereka sedang berjalan kesana? Atau mungkinkah Tuhan tidak tahu bahwa ada laut merah disitu?
Tidak mungkin Tuhan tidak punya rencana, tidak mungkin pula Ia tertidur pulas dan lalai memberikan tuntunan, serta tidak mungkin pula jika Tuhan tidak tahu.
Tuhan hendak menunjukkan kemahakuasaan-Nya kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang membenci Dia, bahwa Dialah Allah yang maha kuasa dan patut disembah. Tuhan juga hendak mengajar Musa untuk selalu berjalan dengan mata iman bukan mata jasmani yang berpatokan pada situasi mana yang mungkin dan mana yang tidak mungkin.
Ketika Allah menyibak laut merah maka disitulah Musa mengerti dan umat-Nya pun mengerti bahwa Ia sanggup membuka jalan dimanapun saat nampak tiada jalan.
Dalam kehidupan kita sekarang ini, dalam pengiringan akan Tuhan Yesus Kristus, Juruselamat kita, mungkin kita menghadapi tantangan di depan, atau mungkin penghalang yang besar yang membuat kita berpikir tidak ada jalan keluar, sehingga kita hendak mundur dari langkah tujuan, percayalah bahwa Tuhan Yesus sanggup membuka jalan dan meratakan setiap penghalang yang ada di hadapan kita.
Bagi Dia yang dapat mengerjakan segala sesuatu yang mustahil, bagi-Nya segala hormat dan pujian serta kemuliaan selama-lamanya. Amin.
“Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” (Lukas 1:37)
Selamat Paskah 2015
Menjadi Bodoh Atau Berhikmat
Pemberitaan tentang salib Kristus diresponi dua macam oleh dua tipe manusia. Yang satu menganggap hal itu sebagai sesuatu yang tidak masuk akal untuk penebusan dosa. Alasannya pun beragam seturut dengan logika dunia. Kalangan ini bahkan mengejek dan merendahkan Yesus yang disalib. Sebagiannya lagi dari tipe ini percaya tidak ada penyaliban karena Yesus telah diangkat naik ke surga, sebab Yesus itu kudus dan tidak pantas disalibkan. Orang lain lah yang telah diserupakan dengan-Nya yang disalibkan.
Tipe kedua adalah manusia yang meresponi penyaliban Kristus dengan iman. Iman tidak bertentangan dengan logika, sebab hikmat Allah nyata di dalamnya. Iman justru melampaui akal logika, dan berbahagialah mereka yang memilikinya.
Penyaliban Kristus adalah keselamatan kita, Ia yang benar telah dijadikan dosa karena kita. Orang-orang mengira Ia kena tulah padahal kutuk kitalah yang ditanggungnya.
Di berbagai kota, Paskah diwarnai dengan berbagai hiasan telur dan kelinci. Orang dunia tidak mengerti arti sebenarnya dari Paskah. Tapi bagi orang yang beriman, maka pasti akan mengerti bahwa Paskah adalah salib Kristus. SALIB yang telah menjadi lambang penebusan Allah bagi umat manusia melalui Yesus Kristus sang Juruselamat dan Tuhan atas segala tuhan.
Mau pilih yang mana? Menjadi bodoh atau berhikmat yang dari Allah? Pilihan ada pada saudara. Saya memilih untuk percaya kepada Yesus Kristus yang telah tersalib untuk menebus saya dari dosa dan penghukuman kekal!
Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. (1 Korintus 1:18)
Korban Pendamaian
Nats Alkitab:
Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia. (1 Yohanes 2:2)
Kejatuhan manusia ke dalam dosa telah membuatnya menjadi musuh Allah. Pelanggaran dosa itu menyebabkan kematian bagi manusia. Akan tetapi, Allah yang maha kasih itu tidak dapat membiarkan manusia ciptaan-Nya binasa selamanya.
Untuk memenuhi keadilan-Nya, maka harus ada korban penebusan dan pendamaian bagi dosa manusia. Korban tebusan yang harus memenuhi syarat: 1) suci dan tidak berdosa, 2)manusia, bukan binatang kambing atau domba.
Yesus Kristus telah datang ke dunia, lahir tanpa dosa karena dari benih Roh Kudus, menjadi sama seperti manusia yang diam di antara kita. Ia suci dan tidak berdosa, sekalipun iblis berupaya mencobainya agar jatuh dalam dosa.
Hari ini kita memperingati kematian Kristus di atas kayu salib. Orang mengira Ia terkena kutuk, padahal kutuk kitalah yang ditanggung oleh-Nya. Orang mengira Ia terkena hukuman, padahal hukuman kitalah yang dipikulnya.
Yesus Kristus telah rela merendahkan dirinya, bahkan lebih rendah dari manusia serta taat sampai mati. Sekalipun Dia mampu untuk menghalau jalan salib, tapi Ia rela menerima semuanya demi kita.
Dosamu dan dosaku telah dipakukan di atas salib itu. Kita telah mati bagi dosa, dan hidup bagi Tuhan. Terpujilah Tuhan yang telah mengerjakan perbuatan yang ajaib bagi kita, karya penebusan yang sangat berharga.dan tiada duanya.
Paskah Kebangkitan Kristus
Nats Alkitab:
“Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya.” (Matius 28:5-6)
Peristiwa Paskah merupakan momen penting bagi seluruh umat manusia, karena disinilah titik balik dari kebinasaan menuju kepada kehidupan kekal. Seluruh umat manusia yang tak berdaya untuk meraih keselamatan, diberikan anugerah cuma-cuma yang begitu berharga yaitu keselamatan.
Hari-hari ini kita mengingat sengsara Tuhan Yesus Kristus, bagaimana Ia akan masuk dalam penghianatan, pengadilan yang tidak adil, penolakan dan penyaliban serta kematian. Kematian-Nya telah ditentukan dari semula sebagai cara penebusan Allah bagi dosa semua manusia.
Paskah tidak berhenti pada kematian Kristus, sebab bila demikian maka ekspresi kita akan menjadi sama dengan apa yang dirasakan oleh para perempuan dalam ayat nats Alkitab di atas. Mereka pergi ke kubur Yesus dengan hati yang penuh kesedihan dan kepahitan. Namun, disitu,malaikat Tuhan menampakkan diri dan berkata agar jangan takut sebab Kristus telah bangkit. Haleluya! Kemenangan Yesus Kristus atas maut memberikan pengharapan pasti bagi semua orang yang mau menerima-Nya dan percaya kepada-Nya.
Ia telah membebaskan kita dari hukuman dosa dan maut serta memberikan kepada kita kehidupan yang baru di dalam Dia, sebuah kehidupan yang tidak dapat dikuasai oleh kuasa kegelapan dan maut namun kehidupan yang dikuasai sepenuhnya oleh kuasa kebangkitan-Nya.
Selamat memperingati Paskah! Sukacita kemenangan sudah Dia berikan. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

