Kasih Setia Tuhan Kekal

Seberapa besarkah kasih setia Tuhan kepada manusia ciptaan-Nya? Firman Tuhan berkata bahwa kasih dan setia-Nya tak terbatas dan kekal adanya.
Apakah yang dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan? Tidak ada. Segala situasi apapun tak dapat memisahkan kita dari kasih-Nya.
Kasih-Nya telah ditunjukkan oleh-Nya dengan kesediaan-Nya menjadi manusia dengan meninggalkan tahta-Nya. Ia bahkan rela mati bagi penebusan dosa semua manusia.
Ingatlah selalu akan kasih setia-Nya yang besar dan sadarilah betapa Allah mengasihi kita.
Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun. (Mazmur 100:5)

Ragu Ragu Atau Yakin

Nats Alkitab:
Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. (2 Timotius 2:4)
Di sebuah pusat pendidikan pasukan khusus Angkatan Bersenjata, ada sebuah tulisan di depan pintu gerbang masuk: “Jika anda ragu-ragu, lebih baik pulang saja!”  Tulisan ini menyatakan suatu ketegasan akan pilihan. Tidak boleh ada sedikitpun keraguan dalam memilih menjadi seorang prajurit.
Tulisan tersebut selaras dan sejalan dengan prinsip dalam mengikuti dan melayani Kristus. Ibarat seorang prajurit terhadap komandannya, demikian pula setiap orang yang beriman dan mau mengikuti Tuhan Yesus harus memiliki totalitas. Totalitas dalam melayani tanpa harus memikirkan diri sendiri, tanpa kebimbangan dan kekuatiran. Sebuah totalitas tanpa mempertanyakan kenapa dan bagaimana, tetapi hanya ketaatan dalam menjalankan setiap perintah-Nya.

Apakah Hidup Dalam Kasih Karunia Dibolehkan Berbuat Dosa?

Nats Alkitab:
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? (Roma 6:1-2)
Nats Alkitab diatas menjelaskan arti hidup dalam kasih karunia Allah sekaligus menjawab pertanyaan banyak orang tentang boleh tidaknya seseorang berbuat dosa dalam kasih karunia yang Allah berikan.
Ada yang berpendapat bahwa jikalau seseorang telah menerima Kristus dalam hidupnya dan dengan demikian telah menerima anugerah keselamatan maka tidak masalah jika ia hidup dalam dosa, karena ia pasti akan tetap selamat oleh kasih karunia itu. Apakah pendapat ini benar? Pendapat ini salah dan sama sekali tidak benar!
Kita yang telah menerima kasih karunia Allah karena iman kepada Kristus, tidak akan lagi mau hidup dalam dosa karena kita telah dibebaskan dari perbudakan dosa. Sebab dulu kita adalah hamba dosa tetapi sekarang telah dimerdekakan oleh Tuhan Yesus Kristus oleh curahan darah-Nya yang menebus kita. Sekarang ini kita adalah hamba kebenaran karena kasih karunia itu.  Dapatkah seorang hamba kebenaran membiarkan dirinya hidup lagi di dalam dosa? Tidak!
Roma 6:14  berkata: “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” Inilah kebenaran yang harus kita pahami bahwa kita yang sudah menerima kasih karunia Allah oleh iman, tidak akan dikuasai lagi oleh dosa.
Saudara yang dikasihi Tuhan, pakailah hidup saudara untuk melakukan kebenaran, bukan kejahatan atau kecemaran. Keinginan duniawi dan perbuatan daging bertentangan dan tidak sejalan dengan kasih karunia Allah.  Kita diciptakan untuk berbuat yang baik bukan yang cemar dan jahat.  Kita diciptakan untuk memuliakan Allah dalam seluruh aspek kehidupan kita.
Dalam Efesus 2:10  tertulis :”Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Marilah kita senantiasa hidup untuk melakukan pekerjaan baik. Jangan lagi mau diperbudak oleh dosa. Tolak segala keinginan daging yang membawa dosa dan segala hawa nafsu duniawi. Biarlah hidup kita selaras dengan keinginan Roh Kudus dan ijinkan Roh Kudus menguasai hati dan pikiran kita. Amin.

Penyertaan Tuhan Selalu Tersedia

Nats Alkitab:
janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan. (Yesaya 41:10)
Janji Allah untuk menyertai kita dengan kuasa dan hadirat-Nya.  Ini berlaku setiap saat dan detik dalam hidup kita yang berarti bahwa tidak ada sedetikpun tanpa penyertaan Allah.
Kita akan menyadari penyertaan-Nya karena Allah akan meneguhkan hati kita sehingga kita memiliki hati yang kuat untuk berjalan maju.
Ketika ada saat dimana kita menghadapi persoalan, maka Allah berjanji untuk menolong kita. Pertolongan-Nya yang ajaib akan selalu tersedia bagi kita anak-anak-Nya. Apapun persoalan itu tidak akan membuat hati kita tawar atau putus asa sebab peneguhan-Nya akan selalu Dia berikan sehingga hati kita kuat dan persoalan itu pun akan Tuhan atasi sehingga kita dapat berjalan melaluinya.
Ia berjalan bersama kita dan menggandeng tangan kita karena Tuhan mau membawa kita masuk dalam rencana-Nya yang indah dan mulia.
Selamat beraktivitas sepanjang hari ini dalam berkat dan perlindungan Tuhan Yesus Kristus. Amin.

Tidak Menghukum Mati

Tuhan Yesus Kristus tidak pernah mengajarkan untuk menghukum mati seseorang. Sebaliknya, Ia mengajarkan agar kita mengasihi dan mengampuni. Setiap pengikut Kristus harus menyadari bahwa imannya kepada Kristus haruslah selaras dengan kehendak Allah bagi manusia.  Pandangan dan pikiran Allah saja yang mestinya melekat dalam pandangan dan pikiran pribadi setiap orang percaya.
Kristus menangisi dunia karena ketidaktaatannya dan kekerasan hatinya terhadap panggilan Allah.  Namun, Ia tidak datang untuk menghakimi melainkan untuk menyelamatkannya.
Tuhan Yesus Kristus mengajarkan agar kita berdoa bagi orang yang jahat.  Kondisi hidup seorang yang jahat menunjukkan posisinya berada di luar Kerajaan Allah, dan Allah tidak menghendaki kematian orang yang jahat di dalam dosanya.  Allah menghendaki agar orang yang jahat itu bertobat dalam waktu kemurahan-Nya supaya ia hidup.
Ketika seorang perempuan yang kedapatan berzinah diperhadapkan kepada Kristus, Ia tidak menghukumnya dengan hukuman mati, tetapi mengampuni dan memberikannya kesempatan untuk hidup benar, ketika semua orang menghendaki untuk merajamnya.  Bagaimana pandangan kita terhadap hukuman mati?  Apapun alasannya, kita harus memiliki belas kasihan Allah bagi jiwa-jiwa.
Yehezkiel 18:23 berkata: “Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?”

Bermegah Dalam Kesengsaraan

Roma 5:3 tertulis demikian: “Dan bukan hanya itu saja.  Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,”
Rasul Paulus menyebutkan “kesengsaraan” sebagai salah satu berkat dari keselamatan kita dalam Kristus. Kata “kesengsaraan” menunjuk kepada bermacam-macam pencobaan yang mungkin menekan kita.  Ini termasuk hal-hal seperti tekanan kebutuhan keuangan atau jasmaniah, keadaan yang kurang menguntungkan, kesusahan, penyakit, penganiayaan, penyalahgunaan atau kesepian.
Di tengah kesulitan-kesulitan ini, kasih karunia Allah memungkinkan kita mencari wajah-Nya dengan lebih bersungguh-sungguh dan menghasilkan roh dan sifat tabah yang mengatasi pencobaan hidup ini.  Penderitaan menimbulkan ketekunan, bukan membawa kepada keputusasaan, dan ketekunan itu menghasilkan sifat yang dapat diandalkan, dan sifat yang dapat diandalkan itu menghasilkan pengharapan matang yang tidak akan mengecewakan.
Kasih karunia Allah mengizinkan kita memandang melewati persoalan kita kepada suatu pengharapan yang sungguh dalam Allah dan kedatangan Tuhan kita ke dunia untuk menegakkan kebenaran dan kekudusan di langit baru dan bumi baru. Sementara itu, Allah telah mencurahkan kasih-Nya ke dalam hati kita oleh Roh Kudus untuk menghibur kita dalam pencobaan dan mendekatkan kehadiran Kristus.
(Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan)
Bila saudara mengalami kesengsaraan, jangan putus asa dan putus pengharapan, melainkan tetaplah pandang Tuhan Yesus Kristus sumber kekuatan yang selalu menyertai saudara.

Keluhuran Sikap Daniel Dalam Pembuangan

Nats Alkitab:
“Jadi, ya raja, biarlah nasihatku berkenan pada hati tuanku: lepaskanlah diri tuanku dari pada dosa dengan melakukan keadilan, dan dari pada kesalahan dengan menunjukkan belas kasihan terhadap orang yang tertindas; dengan demikian kebahagiaan tuanku akan dilanjutkan!” (Daniel 4:27)
Bacaan Alkitab: Daniel pasal 4
Dalam pembuangan di Babel, Daniel mendapatkan posisi penting di kerajaan dan dapat memberikan dampak bagi raja dan seluruh rakyat, melalui keteguhan iman dan kesetiaannya kepada Tuhan.
Daniel masih remaja saat diangkut ke Babel, namun dalam usia muda ia sudah memiliki prinsip iman yang kokoh, sehingga di Babel ia tidak mencemarkan dirinya dengan hal-hal yang tidak berkenan kepada Allah.
Kita dapat belajar beberapa hal dari kisah dalam kitab Daniel, yaitu:
1. Dalam segala keadaan, jangan tinggalkan Tuhan.
Meskipun ikut dalam pembuangan, Daniel tidak meninggalkan Tuhan. Pembuangan bukanlah sesuatu yang menyenangkan, di masa awal Daniel pasti mengalami ancaman kematian dan kesulitan hidup. Namun, ia tetap percaya kepada Tuhan dan tidak meninggalkan iman pada Tuhan.
Dalam situasi apapun, kita harus senantiasa setia kepada Tuhan dan beriman kepada-Nya. Meskipun situasi susah atau menderita, harus setia, jangan tinggalkan Tuhan gara-gara masalah ekonomi, sakit penyakit, kesendirian, rumah tangga, sekolah dan berbagai masalah lainnya.  Dalam situasi yang baik, makmur dan sejahtera, ketika ekonomi baik dan segala sesuatu berjalan dengan baik, jangan lupakan Tuhan. Daniel mengalami dan merasakan kemewahan di istana raja karena ia mendapatkan perkenanan di hati raja, tapi Daniel tidak mengubah gaya hidup dan imannya. Daniel tetap dan selalu setia dalam situasi apapun. Marilah kita juga berlaku demikian.  Mazmur 37:3 berkata: “Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia”.
2. Milikilah hati yang berbelas kasihan.
Ketika hendak menafsirkan mimpi raja Nebukadnezar, Daniel terkejut karena arti mimpi yang buruk yang akan terjadi kepada raja. Daniel menyatakan isi hatinya yang berbelas kasihan pada raja dengan mengatakan agar arti mimpi itu tidak menimpa raja.  Dan kemudian setelah mengartikan mimpi, Daniel menasehati raja agar meninggalkan dosa supaya tidak ditimpa kemalangan dan sesuatu yang buruk.   Ini adalah bukti bahwa Daniel memiliki belas kasihan kepada jiwa-jiwa.  Dalam Matius 22:39 tertulis: “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Marilah kita mengasihi sesama kita dengan belas kasih sorgawi.
3. Jagalah hubungan persekutuan dengan Roh Kudus
Daniel dikenal sebagai orang yang dipenuhi dengan Roh Allah. Raja Babel menyebutnya “penuh dengan roh para dewa”.  Dia menjaga agar hidupnya kudus di hadapan Allah, sehingga Roh Allah dapat tinggal di dalam dirinya. Daniel berjalan dalam pimpinan Roh Allah.  1 Tesalonika 5:19  berkata: “Janganlah padamkan Roh”.
4. Jadilah saksi bagi Tuhan
Siapapun raja di Babel, Daniel memiliki sikap untuk dapat menjadi saksi bagi Tuhan, sehingga raja Darius dan raja Nebukadnezar mengalami kuasa jamahan Tuhan yang menyelamatkan dan mereka menjadi percaya kepada Allah.
Di sekitar kita banyak orang terhilang yang butuh keselamatan Marilah kita menjadi pribadi yang suka untuk bersaksi kepada orang lain. Tuhan Yesus berjanji bahwa Ia akan menyertai kita sampai akhir jaman.
Kisah Para Rasul 1:8  berkata: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Tuhan Yesus memberkati.

Apakah Sorga Ada Tiga Tingkat?

Dalam sebuah pertemuan komsel, ketika membahas tentang salah satu tema, salah satu ayat Alkitab yang dibaca adalah 2 Korintus 12:2 yang tertulis demikian:
“Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau – entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya – orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga.”
Setelah pembacaan nats selesai, maka muncul pertanyaan tentang tingkatan sorga. Benarkah di sorga ada tiga tingkat? atau berapa tingkat sebenarnya jumlah tingkatan di sorga? Hal ini kemudian direncanakan untuk menjadi suatu pembahasan tersendiri.
Dalam ayat tersebut, terjemahan Bahasa Indonesia menyebutkan kata-kata “tingkat yang ketiga dari sorga.” Hal inilah yang menimbulkan tafsiran bahwa sorga ada tiga tingkat. Tapi sebenarnya arti yang dimaksudkan adalah seperti berikut:
Alkitab menunjukkan bahwa ada tiga tingkat langit.  Jadi, kata sorga itu sebenarnya dimaksudkan adalah langit tingkat ketiga.  Dalam tradisi Alkitab, ada tiga tingkat langit yaitu:
1) Tingkat yang pertama adalah atmosfer yang mengitari bumi.  Kitab Daniel 7:13 menyebutkan tentang langit dan awan-awan yang menunjuk kepada atmosfer bumi.
2) Tingkat yang kedua adalah tempat bintang-bintang berada. Dalam Kejadian 1:14-18 dapat kita baca tentang langit ini yang merupakan tempat keberadaan bintang-bintang.
3) Tingkat yang ketiga, disebut juga dengan kata Firdaus (Lukas 23:43; Wahyu 2:7) merupakan tempat kediaman Allah dan rumah semua orang percaya yang telah meninggal dunia.  Soal dimana lokasinya tidak disingkapkan oleh Tuhan.
Alkitab tidak berbicara soal tingkatan dalam sorga.  Di dalam kitab Wahyu 21:9-27  dijelaskan tentang Yerusalem yang baru tapi tidak dengan tingkatan-tingkatan melainkan dasarnya yang berlapis-lapis.
Dengan demikian sekarang kita mengerti bahwa maksud dari nats tersebut bukanlah bahwa ada tiga tingkat di sorga.  Ayat itu menunjukkan tiga tingkatan langit, dimana tingkat yang ketiga adalah sorga atau Firdaus.  Sedangkan di sorga sendiri tidak bertingkat-tingkat, akan tetapi setiap orang dibedakan dari upah mahkota yang diperolehnya berdasarkan perbuatannya di bumi.
Tuhan Yesus memberkati!

Pelajaran Dari Kisah Raja Nebukadnezar Yang Gila

Nats Alkitab:
Pada saat itu juga terlaksanalah perkataan itu atas Nebukadnezar, dan ia dihalau dari antara manusia dan makan rumput seperti lembu, dan tubuhnya basah oleh embun dari langit, sampai rambutnya menjadi panjang seperti bulu burung rajawali dan kukunya seperti kuku burung. Tetapi setelah lewat waktu yang ditentukan, aku, Nebukadnezar, menengadah ke langit, dan akal budiku kembali lagi kepadaku. Lalu aku memuji Yang Mahatinggi dan membesarkan dan memuliakan Yang Hidup kekal itu, karena kekuasaan-Nya ialah kekuasaan yang kekal dan kerajaan-Nya turun-temurun. (Daniel 4:33-34)
Raja Nebukadnezar adalah salah satu raja di kerajaan Babel yang kala itu mempunyai kekuasaan luas di dunia. Bangsa-bangsa lain takluk kepadanya dan termasuk bangsa Israel.
Bangsa Israel mengalami masa pembuangan dan tertawan selama 70 tahun di Babel.  Peristiwa ini terjadi akibat dosa-dosa mereka kepada Allah.  Meskipun telah berulangkali diperingatkan Tuhan melalui nabi-nabi, namun umat Israel tidak mengindahkannya dan tetap hidup dalam dosa.
Tuhan memakai bangsa Babel untuk melaksanakan kehendak-Nya bagi bangsa Israel. Tuhan menjadikan Babel sebagai bangsa yang kuat dan berkuasa atas bangsa Israel dan lainnya.  Namun, hal ini tidak disadari oleh Nebukadnezar dan ia menjadi sombong dengan mengira bahwa kejayaan bangsanya oleh karena dirinya.
Firman Tuhan berkata bahwa Allah membenci kesombongan.  Orang sombong akan Ia rendahkan dan oran yang rendah hati akan Ia tinggikan.
Ketika Nebukadnezar menyombongkan diri maka terjadilah apa yang telah disampaikan Tuhan. Nebukadnezar menjadi gila selama 7 tahun lamanya. Ia makan rumput dan telanjang, kuku dan rambutnya menjadi panjang tak terawat.
Berhati-hatilah dalam sikap hati kita dalam situasi kejayaan atau kemakmuran atau kesuksesan, jangan sampai diri kita merasa bahwa pencapaian kesuksesan itu terjadi karena kekuatan, kepandaian atau kemampuan kita.  Kita harus menyadari bahwa semuanya itu adalah karena kemurahan dan pertolongan Tuhan. Ia yang mengangkat raja dan Ia pula yang menurunkan raja. Ini berarti bahwa kuasa dan kedaulatan ada pada Allah, bukan manusia.  Manusia tidaklah berdaya menghadapi dan meraih apapun dalam hidupnya bila tanpa campur tangan kuasa Tuhan.
Marilah kita senantiasa hidup rendah hati dan memuliakan Tuhan. Kesombongan akan menghancurkan hidup kita, karena itu janganlah sombong melainkan selalu memuji Tuhan yang telah melakukannya bagi kita. Amin. Tuhan Yesus memberkati.

Kemenangan Bersama Tuhan Yesus

Nats Alkitab:
Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.” (1Samuel 17:37)
Pasal 17 dari kitab Samuel pertama ini menceritakan Daud mengalahkan Goliat. Tentu kita tahu akhir dari kisah tersebut yang dimenangkan oleh Daud. Tapi apakah kita tahu apa rahasianya sehingga Daud mampu mengalahkan Goliat yg tubuhnya 2 atau 4 kali lebih besar dari Daud?   Ayat di ataslah jawabannya.
Pengalaman Daud adalah dia hanya sebagai seorang penggembala domba, bukan sebagai prajurit atau tentara perang yang berpengalaman. Tapi sebagai gembala domba dia punya pengalaman dalam menghalau musuh yang mau mengganggu dombanya. Dan pengalaman itu cukup membuat Daud berani melawan Goliat. Mengapa? Karena dia tahu bahwa kemampuan itu bukan datang dari dirinya, tapi dia akui bahwa semua itu karena Tuhan yang punya kuasa lebih besar dari Daud.  
Apakah yg sedang kita hadapi sekarang dalam hidup kita, adakah kesukaran atau kesulitan yg menghantui kita seperti Goliat? Dan kita takut, kuatir, merasa tidak mampu menghadapi hidup ini,cemas, sesak di dada karena di depan ada “Goliat” yang begitu besar dan kuat. Kita ambil contoh Daud, dia pernah alami menghadapi musuh, tapi dia sanggup mengalahkannya karena Tuhan ada bersama dia, itu yang Daud yakini, sehingga dia tidak takut untuk menghadapi Goliat.  
Apa yg kita pernahi alami di waktu yang lalu dan kita bisa lewati, apakah kita akui karena kita berjalan bersama Yesus? Sehingga kita bisa menang atas musuh atau masalah? Kalau demikian kita tidak perlu takut menghadapi apa yg sekarang atau nanti kita hadapi,selama kita berjalan bersama Yesus Tuhan kita, karena sudah pasti DIA akan menolong kita.
DIA tidak cuek, DIA tahu siapa kita, DIA akan beri kita kuasa untuk sanggup mengalahkan ketakutan dan ketidakmampuan kita, sampai kita menang.
Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. ( Amsal 3:5 )
TUHAN YESUS memberkati.
(Chris M. Johannes)