
Selama musim dingin, hampir semua pohon menjadi kering, daun-daunnya berguguran dan yang nampak hanyalah cabang-cabang ranting pohon yang kering kerontang seakan sudah mati. Kurang lebih 4-5 bulan lamanya pohon-pohon itu kering dan tak berdaun, tapi sejak awal bulan April, daun-daun mulai bermunculan, bunga-bunga mulai bermekaran. “Kematian” yang nampak selama beberapa bulan, tergantikan dengan kehidupan.
Di tengah-tengah kesesakan, selalu ada harapan, demikianlah yang nampak dari fenomena alam ini. Tuhan seakan berbicara kepada kita melalui alam ciptaan-Nya, bahwa selalu ada harapan dibalik setiap keadaan sulit. Dan pada kenyataannya, memang Tuhan berfirman bahwa harapan itu selalu ada, “karena masa depanmu sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang” (Amsal 23:18).
Di dalam Kristus Yesus, pengharapan kita menjadi penuh. Kita memiliki pengharapan yang hidup, “The living hope”. Harapan-harapan akan apa? Akan segala sesuatu yang ada di dunia ini maupun di surga. Tuhan Yesus memberikan jaminan akan setiap harapan kita oleh kasih karunia-Nya yang ajaib.
Seperti tanaman bunga di tanah yang kering, harapan kita bukanlah sesuatu yang mustahil, namun akan menjadi kenyataan di dalam Kristus Yesus Tuhan kita. Haleluya.
Sejalan dengan pengharapan itu, kita harus bersabar dalam kesesakan, dan bertekun dalam doa. Kesabaran berhubungan dengan “endurance” dan “perseverance”, suatu sikap bertahan, tekun, tidak goyah dan tetap berpegang kuat, secara terus menerus, kepada pengharapan di dalam Kristus.
Jangan berhenti berdoa, meskipun pengharapan itu tidak dapat dilihat dengan mata jasmani, dan meskipun apa yang nampak berlawanan dengan pengharapan kita. Namun, pandanglah Kristus yang tersalib, yang hidup dan berkuasa, yang memberikan kita iman dan kekuatan, yang telah mengalahkan segala kutuk dan dosa, dan memberikan kita kemenangan. Doa kita di dalam kesesakan, didengar oleh Tuhan dan dijawab oleh-Nya yang Maha Pengasih.
Doa Dalam Pergumulan
Bani Korah bertanya kepada Tuhan :
“Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu dan melupakan penindasan dan impitan terhadap kami?” (Mazmur 44:24)
Raja Daud juga mempertanyakan pada Tuhan:
“Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?”
(Mazmur 9:1)
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini muncul dilandasi kegelisahan dan situasi tertindas. Keadaan yang sulit atau penderitaan seringkali membuat kita mengungkapkan kegundahan dan kegelisahan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan semacam ini.
Dan bukan hanya terbatas situasi semacam itu saja, berbagai keadaan yang membuat hati nurani kita “berontak”, seperti ketidakadilan, kesewenang-wenangan, kekerasan, kemiskinan, dan berbagai situasi lain yang bertentangan dengan hati nurani, namun muncul di dalam lingkungan dan kehidupan masyarakat, membuat kita mempertanyakan peranan dan intervensi Tuhan terhadap hal-hal itu.
Raja Daud melihat hal-hal semacam itu, begitu pun Bani Korah.
Kita pun dapat mengalami keadaan serupa itu. Mungkin hal itu berkaitan dengan keadaan diri kita pribadi, atau keadaan di sekitar kita. Lalu, pikiran kita bertanya-tanya kepada Tuhan, karena hati kita gelisah.
Dimanakah Engkau ya TUHAN? Mengapa Engkau tidak menolong? Mengapa Engkau berlambat-lambat?
Itu adalah sisi kemanusiaan kita yang lemah dan tidak berdaya, menunjukkan keterbatasan pengetahuan dan pengertian kita akan rancangan Tuhan.
Kita hanyalah manusia yang terbatas, ya, terbatas dalam kuasa, kemampuan, hikmat dan pengetahuan. Itulah sebabnya, kita berteriak dalam kesesakan, dan itulah sebabnya kita mempertanyakan Tuhan.
Namun, Tuhan itu baik. Dalam berbagai situasi sulit, penindasan, kesesakan atau ketidakpastian, pemazmur kembali kepada pengertian bahwa sesungguhnya TUHAN itu baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setianya.
Para nabi lain, yang melihat dan mengalami penderitaan bersama umat Tuhan, juga seringkali merasa “tidak percaya” akan apa yang terjadi terhadap umat Tuhan, seperti penindasan yang luar biasa, kesesakan, kemiskinan, dan kehancuran. Akan tetapi, pada akhirnya mereka mengerti, oleh hikmat Tuhan, bahwa itu bukanlah akhir, itu bukanlah tujuan, karena sesungguhnya rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera dan bukan kecelakaan, dan Tuhan mempunyai rencana untuk memberikan masa depan yang penuh harapan.
Lalu apakah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di awal tadi?
Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya dan tidak pernah menyembunyikan diri-Nya.
Ia tidak melupakan kita.
Hikmat dan kekuatan Tuhan yang bekerja di dalam kita, oleh Roh-Nya, akan memberikan kita pengertian akan kehadiran Tuhan dan pembelaan Tuhan pada kita, serta akan memberikan kedamaian dalam hati kita untuk melangkah dengan tenang dalam kepercayaan pada-Nya.
Doa-doa kita dalam pergumulan akan dijawab oleh Tuhan, sebab Ia mendengar dan akan bertindak. Sebagaimana Ia mendengar semua keluh kesah umat-Nya di masa lalu, di masa sekarang pun Ia mendengar dan akan menolong dengan kuasa-Nya. Tuhan Yesus, Juruselamat kita, menjadi jaminan akan setiap jawaban doa-doa kita.
Kekuatan Pada TUHAN
Maka berbicaralah ia, katanya: “Inilah firman TUHAN kepada Zerubabel bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.
(Zakharia 4:6)
Andalan kita bukanlah kekuatan atau keperkasaan, ini berbicara tentang segala sesuatu yang dapat kita andalkan secara duniawi, secara lahiriah, apakah itu kepintaran, kemampuan, kehebatan, atau kekuasaan manusia.
Keberhasilan yang kita raih sesungguhnya adalah karena pertolongan TUHAN. Firman-Nya berbicara tentang peran Roh Kudus dalam kehidupan orang-orang percaya. Roh Kudus yakni Roh TUHAN bekerja dengan kuasa-Nya untuk mencapai apa yang Dia rencanakan dalam kehidupan kita.
Ayat ini berbicara tentang tiga hal yakni :
1. Bahwa dalam segala kesuksesan atau keberhasilan yang kita raih, jangan membiarkan diri kita menjadi sombong, karena sesungguhnya Tuhan lah yang berperan dalam memungkinkan semua yang baik terjadi dalam kehidupan kita.
2. Tidak ada yang mustahil bagi TUHAN. Jangan pesimis dalam menghadapi tantangan hidup. Di dalam Tuhan kita harus melangkah dalam iman. Meskipun kecil kekuatan kita, meskipun nampaknya tidak mungkin, jangan kehilangan iman, tetaplah percaya karena semuanya bisa terjadi oleh karena Roh TUHAN.
3. Andalkan Tuhan senantiasa, karena dari Dialah kita mendapatkan sumber kekuatan dan keberhasilan. Hikmat dari TUHAN dan pimpinan-Nya akan menuntun kita yang senantiasa berserah penuh kepada-Nya. TUHAN YESUS adalah penggenapan segala janji ALLAH dan jaminan jawaban atas segala permohonan doa kita.
Apakah kecil kekuatanmu? Apakah kelihatannya tidak ada kemungkinan dan harapan? Di dalam Tuhan Yesus selalu ada harapan, dan mujizat.
Gereja Yang Terindah
Bacaan Alkitab : 1 Raja-raja 6
Gedung Ibadah yang terindah dan termahal yang pernah dibangun manusia adalah Bait Allah yang dibangun oleh Raja Salomo di Yerusalem. Dinding-dindingnya berlapis emas bagian luar dan dalam seluruhnya. Berbagai perkakas emas ada disana dan semua bahan-bahan yang terbaik dan termahal digunakan untuk membangun Bait itu.
Tapi TUHAN tidak berdiam disana, dan sesungguhnya raja Salomo menyadari akan hal itu, bahwa TUHAN yang Maha Besar itu tidak akan mungkin berdiam di dalam rumah buatannya. Allah tidak akan berdiam di dalam rumah atau gedung buatan manusia, seindah apapun bangunan itu, semahal apapun gedung itu.
Keinginan membangun gedung “Bait Allah” yang indah, mahal dan megah, terus menular dan nampak dari begitu banyaknya gedung-gedung gereja yang mahal dan indah. Tapi, lihatlah gedung-gedung gereja yang indah-indah itu, perhatikanlah dan renungkanlah, bahwa TUHAN tidak dapat berdiam disana karena itu bukanlah rumah-Nya.
Bait Allah yang dibangun Salomo tinggal kenangan, gedung-gedung gereja di berbagai tempat di Eropa kosong dan tinggal kenangan dalam sejarah, tapi TUHAN tidak ada disana, karena itu bukanlah rumah-Nya.
Buat apakah manusia membangun gedung gereja yang megah-megah? Pelajaran dari Bait Salomo sudah cukup mengajar kita tentang arti sesungguhnya tentang Bait Allah.
Bait Allah yang terindah adalah tubuh kita. 1 Korintus 3:16 berkata: “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?”
Kita diciptakan begitu sempurna oleh Allah, segambar dan serupa dengan-Nya. Yesus Kristus telah menjadikan kita sempurna oleh anugerah-Nya, mengembalikan citra dan kemuliaan Allah di dalam diri kita dan melayakkan kita untuk didiami oleh Roh-Nya.
Gereja yang terindah bukanlah yang besar dan mahal, yang didalamnya terdapat berbagai pernak-pernik mahal dan merk terkenal, yang kursi dan sound systemnya mahal, yang mimbar kayunya mahal, yang layar multimedianya bagus dan megah, SUNGGUH BUKAN ITU.
Kalau manusia memperhatikan yang diluar dan lahiriah, Allah tidaklah demikian. Ia mempunyai penilaian yang berbeda dari kita.
Kitalah Bait-Nya, kitalah gereja-Nya. Bait yang termegah, gereja yang terindah. Haleluya.
Apakah Kristus Terbagi-bagi?
Bacaan Alkitab: 1 Korintus 1:1-17
Setelah kita diperkaya oleh Kristus dalam segala perkataan dan pengetahuan, hendaklah perkataan kita membangun dan tidak memecah belah; hendaklah pengetahuan itu membuat kita mengerti bahwa kita semua satu di dalam Kristus.
Perbedaan denominasi jangan dijadikan alasan pembedaan, jangan pula digunakan untuk saling menghakimi satu sama lain. Sebab semuanya adalah satu dalam tubuh Kristus. Tiap-tiap kita adalah anggota tubuh Kristus, dimana Yesus Kristus adalah kepala.
Siapa yang membaptis siapa?
Bila seseorang dibaptis oleh seorang pendeta atau pastor, lalu orang yang dibaptis itu mengkultuskan sang pendeta atau pastor yang membaptisnya, dan menganggap bahwa ia adalah pengikut dari orang yang membaptisnya, maka hal ini adalah suatu pemikiran yang sempit dari seorang yang tidak mengerti akan kebenaran.
Bukan yang membaptis yang telah membuat kita menjadi kudus, tetapi Yesus Kristus lah yang telah menguduskan kita. Kita semua adalah pengikut Kristus, bukan pengikut dari yang membaptis, Pemimpin kita adalah Yesus Kristus, sang Raja di atas segala raja.
Tidak ada kemuliaan dan kehormatan bagi seorang pelayan Tuhan, pendeta atau pastor, karena semuanya hanyalah hamba-hamba-Nya yang melakukan tugas kerajaan Allah.
Perpecahan di antara umat Korintus, merupakan contoh pelajaran buat kita yang hidup sekarang ini, tentang arti kesatuan di dalam Kristus. Tidak ada yang terbagi-bagi, semua yang ada di dalam Kristus adalah satu tubuh dan satu kesatuan di dalam Dia.
Oleh karena itu, biarlah kita saling mengasihi satu sama lain, saling menghargai dan tidak saling menghakimi. Pakailah pengetahuan sorgawi yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus untuk memahami realita hidup sebagai sesama orang beriman.
Tak ada golongan Apolos, tak ada golongan Paulus, tak ada golongan Kristus. Tak ada denominasi ini dan itu, tapi pandanglah dengan menggunakan mata Kristus. Barangsiapa tidak melawan kita, ia dipihak kita (Markus 9:40). Di pihak siapakah kita berada? Apakah di pihak Yesus Kristus? ataukah di pihak Pendeta A, atau pendeta B atau pastor C?
Koreksi diri kita, jangan sampai kita berdiri di pihak selain Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus tidak membeda-bedakan, Dia mempersatukan, dan Dia mengasihi, bahkan Dia sendiri tidak menghakimi. Hanya nanti ketika Dia datang kembali sebagai Raja, maka Dia akan menghakimi semua manusia sesuai perbuatannya.
Ingatlah bahwa kita semua satu di dalam Kristus Yesus. Jangan pandang denominasi gereja, aliran atau apapun yang membuat terpecah belah. Kita semua satu di dalam Dia. Amin.
Yesus Adalah Kebangkitan dan Hidup

Selamat Paskah 2016. Tuhan Yesus bangkit dan memberikan kita jaminan yang pasti akan kehidupan kekal di surga. Haleluya.
Yesus Disalibkan Karena Kejahatan Kita

Nubuatan nabi Yesaya mengenai apa yang akan dialami oleh Mesias, tergenapi di saat Yesus Kristus menderita dan mati di atas kayu salib. Tubuhnya didera, dicambuk, ditikam dan diremukkan, oleh karena dosa dan pelanggaran kita.
Yesus Kristus menggantikan kita, Ia mengambil posisi kita dan menanggung semua hukuman dosa pada diri-Nya.
Ganjaran pada tubuh-Nya memberikan keselamatan pada kita.
Hari ini kita mengingat seorang pribadi suci,
sang Mesias, dari sorga,
yang adalah Allah sendiri,
dalam rupa manusia sama seperti kita,
yang tak bercacat dan tak bernoda dosa,
diangkat dan ditinggikan di atas salib,
seperti Musa meninggikan ular tedung di atas tiang kayu,
dan semua orang yang melihatnya tidak mati,
demikian pula Yesus Kristus ditinggikan di atas salib,
supaya semua yang memandang-Nya dengan iman beroleh hidup yang kekal.
Tak ada nama lain di bawah kolong langit ini,
yang diberikan kepada manusia,
yang oleh-Nya kita diselamatkan.
Hanya nama Yesus Kristus,
satu nama yang berkuasa,
satu nama yang ajaib,
yang oleh-Nya kita ditebus.
Bukan Kehendak-Ku, Melainkan Kehendak-Mu
Setelah tiba di tempat itu Ia berkata kepada mereka: “Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.”
Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya:
“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”
(Lukas 22:40-42)
Bacaan Alkitab: Lukas 22:39-53
Di Taman Getsemani, Yesus Kristus dan para murid datang, di malam sebelum Ia diserahkan kepada pemuka agama Yahudi, untuk diadili.
Disini, ada pesan Tuhan kepada para murid, agar mereka berjaga-jaga dan berdoa. Yesus mengetahui bahwa saatnya sudah semakin dekat untuk mati disalibkan. Pergumulan-Nya sebagai seorang manusia terjadi disini, antara ketaatan kepada Bapa atau kehendak-Nya pribadi. Namun, ini merupakan suatu catatan kisah untuk menjadi pelajaran bagi kita mengenai keberserahan penuh kepada Bapa.
Tuhan Yesus mengalami masa-masa dimana Ia “dicobai”, di tempat ini. Seperti Adam dan Hawa ketika dicobai oleh Ular di taman Eden, Yesus Kristus pun “dicobai”, antara memilih kehendak Bapa atau kehendak diri sendiri. Adam menjadi manusia pertama yang membawa seluruh umat manusia masuk ke dalam penghukuman Allah, karena dosa. Adam gagal untuk mempertahankan kemuliaan Allah dalam dirinya dan memilih untuk meninggikan dirinya setara dengan Allah.
Tidak demikian dengan Yesus Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. (Filipi 2:6-8)
Yesus Kristus tidak gagal dalam mentaati kehendak Allah Bapa. Dia menanggalkan keinginan-Nya pribadi dan memilih untuk mentaati kehendak Bapa. Ketaatan seperti inilah yang seharusnya dilakukan Adam pada mulanya, namun ia gagal. Yesus Kristus rela dihina dan direndahkan hingga serendah-rendahnya. Ia tidak membiarkan keangkuhan merajai diri-Nya. Ia adalah pribadi yang sangat rendah hati. Sekalipun Ia memiliki kuasa untuk melakukan apa pun, tapi Ia tidak menggunakan kuasa itu untuk menghindari salib. Perhatikanlah, betapa bedanya yang terjadi dengan manusia, yang apabila telah memiliki kuasa sedikit saja, sombongnya minta ampun. Kekayaan sering sekali membuat manusia jatuh dalam dosa kesombongan, karena menganggap dirinya berkuasa oleh karena kekayaan itu, sehingga merendahkan orang lain, bukannya merendahkan dirinya sendiri. Tidak seperti Tuhan Yesus yang sekalipun kaya di dalam segala sesuatu, karena Ia adalah pencipta dari segala sesuatu, tapi Ia tidak sombong melainkan MERENDAHKAN DIRI-NYA. (Ingatlah bacaan Yohanes1:1-14, bahwa Yesus sang Firman itu telah ada sebelum dunia dijadikan, dan Ia menciptakan segala yang ada, Ia adalah Allah).
Godaan terbesar manusia dalam situasi pencobaan adalah menanggalkan keakuan atau ego yang dianggap sebagai sebuah harga diri. Harga diri atau martabat atau harkat yang seringkali kita dengar dan digaungkan sehingga kita lupa bahwa Allah telah memberikan teladan yang begitu luar biasa, bagaimana Ia menanggalkan harkat dan martabat-Nya sebagai Allah, dan mau merendahkan diri-Nya menjadi seorang hamba, bahkan menjadi “terkutuk” di atas kayu salib.
Belajarlah dari Tuhan Yesus, tentang ketaatan penuh dan keberserahan kepada Allah Bapa. Bukan kehendak kita yang jadi, melainkan kehendak Bapa lah yang jadi. Biarlah kita merendahkan diri, seperti Kristus telah merendahkan diri. Sebab orang yang merendahkan diri akan ditinggikan Tuhan, dan orang yang taat pada Tuhan, menjadi layak dan berkenan di hadapan-Nya.
Jangan Degil, Tapi Percayalah!
Nats Alkitab:
“sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.” (Markus 6:52)
Ayat ini muncul setelah kisah redanya angin ribut di danau, saat Yesus naik ke atas perahu murid-murid. Meredanya angin ribut itu membuat para murid tercengang heran dan bingung, kok bisa ya? Kenapa Guru bisa meredakan angin ribut? Itulah kira-kira yang ada di dalam benak mereka.
Sebelum peristiwa ini, maka flashback ke belakang, adalah mujizat pemberian makan untuk 5.000 orang laki-laki (belum termasuk perempuan dan anak-anak). Di saat itu murid-murid bingung, mana bisa memberi orang-orang itu makan. Mereka sempat bertanya, mungkin dengan nada tidak percaya, “apakah kami harus membeli roti seharga dua ratus dinar?” Ini suatu bentuk pertanyaan yang muncul dari kedegilan dan ketidakpercayaan. Dua ratus dinar bukanlah uang yang sedikit. Upah seorang pekerja dalam sehari, kala itu, adalah sekitar 1 dinar sehari. Jadi, 200 dinar berarti upah untuk 200 hari kerja. Bayangkan, betapa mahalnya biaya makan untuk semua orang yang ada saat itu.
Tapi Yesus Kristus hanya butuh 5 roti dan dua ekor ikan, untuk memenuhi sebuah kebutuhan makan orang banyak itu. Ia mengucap syukur dan memecah-mecahkan 5 roti dan dua ikan yang ada. Setelah itu para murid membagi-bagikan makanan itu, semua orang mendapatkan, mereka makan sampai kenyang dan masih ada sisa pula sebanyak 12 bakul. Semua orang tercukupi kebutuhannya.
Peristiwa ini harusnya membuat mereka percaya akan kuasa di dalam Tuhan Yesus. Tapi mereka masih belum memahami siapa Yesus itu sebenarnya. Itulah sebabnya, ketika mereka di datangi oleh Yesus, mereka mengira bahwa Yesus adalah hantu. Mereka semua ketakutan karena melihat ada seorang yang berjalan di atas air.
Dalam keadaan perahu yang terombang-ambing itu, Yesus Kristus naik ke atas perahu dan angin itu pun redalah. Nah, yang lucunya adalah para murid tercengang keheranan. Seharusnya sikap mereka tidak demikian. Melakukan mujizat adalah hal yang biasa bagi Tuhan Yesus. Ketidakpercayaan mereka terjadi berulang kali, dan mereka tidak belajar dari peristiwa roti itu.
Kisah ini, mengajar kita untuk mempercayai Tuhan Yesus dalam segala sesuatu. Ia sanggup melakukan segalanya dan tidak ada satupun yang mustahil bagi Tuhan. Bila kita mengalami keadaan sulit atau tantangan hidup yang berat, percayalah bahwa Tuhan Yesus sanggup menolong.
Jangan keheranan dan putus asa, tetapi percayalah bahwa Tuhan Yesus selalu ada bersamamu dan bersedia memberikan pertolongan.
Jangan degil dan jangan kehilangan iman pengharapan di dalam Tuhan. Haleluya.
Cahaya Salib di Landasan Airport
Dalam kabut yang tebal, malam yang pekat, awan mendung, atau badai salju, seorang pilot pesawat terbang membutuhkan tuntunan dimana dia dapat mendarat dengan tepat, sebuah tuntunan yang akan memberikan keamanan dan keselamatan.
Di berbagai negara di dunia ini, ketika seorang pilot pesawat hendak mendarat, dari kejauhan ada cahaya di landasan pacu yang memberikannya tanda dimana dia harus mendarat. Cahaya di landasan pacu itu dari kejauhan nampak berbentuk salib.
Seperti cahaya salib itu, demikianlah ada kesamaan dengan makna Salib Kristus, yang memberikan petunjuk, arah dan tuntunan. Salib Kristus memberikan kita keselamatan. Di dalam Salib-Nya ada pengorbanan, dan darah penebusan atas setiap dosa manusia.
Jika kita mau selamat, datanglah kepada Salib Kristus yaitu Tuhan Yesus yang telah mengorbankan diri-Nya untuk keselamatan kita. Salib merupakan tanda yang sangat penting dalam hidup ini, yang berimpikasi kepada kekekalan kita. Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat!
“dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.” (Kolose 1:20)
Video: Cahaya Salib di Landasan saat pesawat akan mendarat di Aspen dan Arab Saudi.
