Manusia Menyembah Tikus

Di India, tikus dianggap sebagai sesuatu yang suci yang dapat memberikan kemakmuran. Perbandingan jumlah penduduk dan tikus adalah 1 berbanding 5. Jadi, untuk setiap satu orang penduduk di India, ada 5 ekor tikus.
Bayangkanlah, ada berapa banyak tikus di India bila penduduknya berjumlah 600 juta?
Para ahli pernah menghitung kerugian yang dialami negara akibat tikus setiap tahunnya sebesar 740 juta US Dollar, senilai dengan kerugian pangan sejumlah 1,25 juta ton.
Kuil Karni Mata merupakan salah satu kuil terkenal di India dengan banyak sekali tikus di dalamnya. Orang-orang datang untuk menyembah dan memberikan persembahan kepada tikus dengan keyakinan bahwa hidup mereka akan diberkati.
Dalam 1 Samuel 12:12 tertulis:
” Janganlah menyimpang untuk mengejar dewa kesia-siaan yang tidak berguna dan tidak dapat menolong karena semuanya itu adalah kesia-siaan belaka.”
Tuhanlah yang harus kita sembah, bukan yang lain. Betapa besarnya kerugian yang akan dialami seorang manusia yang menyucikan dan menyembah sesuatu yang adalah kesia-siaan belaka.

Flat Fish

Ada beberapa spesies ikan di laut dalam yang memiliki siklus perkembangan fisik tidak biasa, khususnya berkaitan dengan mata.  Kelompok spesies ikan tersebut termasuk ikan Halibut, Flounders dan Plaices.
Pada tahap awal hidup mereka, ikan-ikan ini berenang seperti ikan-ikan lainnya, tapi kemudian di tahap selanjutnya cara mereka berenang berubah. Ikan-ikan ini berenang dengan posisi tubuh menyamping sehingga dikenal dengan istilah “ikan rata” atau “flat fish”.
Hal yang sangat mengherankan dari perubahan ini adalah mata ikan di posisi sebelah tubuhnya berpindah ke sisi lainnya sehingga pada satu sisi ada dua mata sedangkan sisi lainnya tidak ada.
Sisi tubuh dengan dua mata menjadi bagian atas dan disebut dengan “sisi mata”, sedangkan sisi tubuh tanpa mata menjadi bagian bawah dan disebut “sisi buta” (blind side).
Sampai akhir hidupnya, ikan-ikan ini berenang dengan posisi tubuh rata seperti ikan pari bergerak.
Keunikan ikan spesies ini memberikan suatu inspirasi tentang bagaimana seharusnya kita hidup. Posisi mata kita haruslah dua-duanya memandang ke atas, yaitu kepada perkara-perkara rohani.  Tentu yang lebih hakiki adalah mata hati kita, tertuju kepada Yesus Kristus Tuhan.
Mata berbicara tentang pandangan, visi, pautan, pegangan, yang menentukan pola pikir dan tingkah laku kita.
Filipi 3:19 memperingatkan kita tentang kebinasaan orang-orang yang pikirannya tertuju kepada perkara duniawi:
“Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.”
Seharusnya inilah posisi “blind side” kita, yakni tidak lagi memandang kepada perkara-perkara yang dibawah dan tidak hidup di dalamnya.
Sebaliknya, mata kita harus senantiasa tertuju kepada Tuhan Yesus Kristus.
Ibrani 12:2 tertulis:
“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.”
Apakah perkara-perkara duniawi sedang menyeret kita menjauh dari Tuhan saat-saat ini? Apakah salib yang sedang kita pikul saat ini begitu berat sehingga kita ingin menghindarinya? Mungkin mata kita sedang teralihkan dan tidak tertuju kepada Kristus.
Marilah berjalan dengan pandangan yang selalu terfokus kepada Tuhan, agar kita tidak berbelok ke arah yang salah melainkan berjalan maju menuju kemuliaan.

Rusak Tapi Dikaruniai

“Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan.  Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.”
(Kej. 6:11-12)
Penggalan ayat Alkitab dari kisah tentang Nabi Nuh di atas menunjukkan kerusakan bumi dalam aspek moralitas manusia.
Manusia menjalankan hidup yang bertentangan dengan kehendak Allah. Dosa merasuk ke semua aspek kehidupan manusia.
Manusia yang serupa dengan Allah, mengalami kejatuhan moral yang dalam, dan kehilangan kemuliaan Tuhan.
Akan tetapi, di tengah-tengah kehidupan moral yang rusak di bumi, Ada satu orang beserta keluarganya yang hidup saleh, yaitu Nuh.  Ia bertahan dalam badai gelap dosa duniawi.
Aspek moralitas merupakan salah satu faktor yang diperhatikan oleh Tuhan.  Manusia sering mengabaikan suara hati nurani sehingga moralnya terdegradasi.  Mungkin sebagian orang mengatakan bahwa mereka memakai hati nurani, itu baik.  Namun, Firman Allah berkata bahwa hati nurani bisa dipengaruhi oleh si jahat yaitu iblis, sehingga hati nurani itu menjadi kotor.   Satu-satunya pedoman yang benar dalam persoalan moralitas ialah Firman Tuhan.
Walaupun ada banyak penjelasan ilmiah tentang berbagai hal penyimpangan yang terjadi dalam kehidupan sosial bermasyarakat, namun merefleksikan hal itu dengan Alkitab merupakan suatu “kewajiban” bagi kita.    Alkitab itu benar dan mengandung kebenaran.
Kehidupan yang rusak di dunia mungkin dapat saja dijustifikasi dengan berbagai teori yang “humanis” dan mendukung gaya hidup duniawi, tapi justifikasi itu adalah palsu.
Satu hal yang sangat luar biasa dari kisah tentang Nuh adalah bahwa Allah tidak melenyapkan seluruh manusia di muka bumi saat itu.  Tuhan menyisakan Nuh dan keluarganya.
Meskipun dunia sudah rusak, tapi Allah menyelamatkan Nuh.
Akan tiba saatnya, Allah akan menyelamatkan umat-Nya yang bersandar dan berharap kepada-Nya serta tidak tercemarkan oleh dunia.  Dunia ini memang telah rusak, namun oleh karena kasih karunia Allah, bumi masih ada dan kita pun masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk naik dan masuk ke dalam Bahtera Keselamatan.

Menghakimi Tuhan

Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Lukas 6:5)
Bacaan Alkitab: Lukas 6:1-11
Yesus menyatakan status diri-Nya sebagai Tuhan dalam ayat ini. Orang-orang Farisi menghakimi Yesus dan para murid atas apa yang mereka lakukan pada hari Sabat.
Orang-orang Farisi adalah  golongan yang menegakkan syariat Hukum Taurat. Karenanya, mereka selalu mencari-cari kesalahan orang lain dan menjustifikasi mereka. Mereka tidak akan segan-segan untuk memerintahkan perajaman atau penghukuman tertentu terhadap orang yang kedapatan melakukan kesalahan.
Tuhan Yesus tidak membalas orang Farisi untuk membungkam mereka tapi Ia menunjukkan dan menjawab dengan cara-Nya sendiri. Seandainya kita adalah Tuhan yang punya kuasa, mungkin kita langsung memakai kuasa itu untuk mendatangkan petir atas orang-orang Farisi tersebut. Tapi Tuhan Yesus tidak melakukannya. Tuhan tidak bersifat demikian.
Kepada mereka Tuhan Yesus memberikan jawaban yang sangat jelas maknanya yaitu:
“Aku adalah Tuhan atas hari Sabat.”
Inilah arti ungkapan ayat di atas. Ungkapan ini juga bermakna seperti ini:
“Aku adalah Tuhan.”
Orang-orang Farisi tidak menyadari bahwa mereka sedang menghakimi Tuhan. Saking terbiasanya mereka menghakimi, mereka mengira Tuhan ada di pihak mereka, padahal mereka sedang menghakimi Tuhan yang berseberangan dengan mereka.
Kebiasaan Menghakimi Orang Lain
Orang yang terbiasa menghakimi orang lain, ibaratnya sama dengan orang Farisi. Mari perhatikan bahwa jika seseorang menghakimi orang lain, maka ia merasa bahwa dirinya di posisi yang benar dan orang lain salah. Tuhan Yesus mengatakan agar kita jangan menghakimi. Pesan ini bukan berarti kompromi terhadap dosa, ketidakadilan atau kejahatan. Kita harus menyuarakan kebenaran dan melawan dosa serta kejahatan. Kebiasaan menghakimi itu soal lain lagi.
Contohnya adalah: Menyalahkan kebiasaan atau cara orang menyanyi di gereja. Kenapa orang ini bertepuk tangan kalau lagi menyanyi? Kenapa jemaat itu tidak bertepuk tangan? Saudara yang terkasih, janganlah kita menghakimi hal-hal yang demikian, sebab baik yang bertepuk tangan maupun yang tidak bertepuk tangan, semuanya memuji Tuhan.
Contoh lain:
Misalnya seorang pemimpin pujian sedang memimpin ibadah pujian dan ada yang mengatakan bahwa ibadahnya terasa tidak “naik” atau tidak merasakan hadirat Tuhan, lalu muncul penghakiman, “mungkin pemimpin pujian sudah berbuat sesuatu dosa”, atau mungkin “pemimpin pujiannya kurang doa nih.”  Itu sudah merupakan penghakiman yang tidak kita sadari sudah jadi makanan dan kebiasan sehari-hari.
Perhatikan orang Farisi dalam kisah ini. Mereka mengira bahwa Tuhan ada di pihak mereka, padahal Tuhan ada di pihak lain, dan mereka sedang menghakimi Tuhan.  Mereka menghakimi para murid, padahal para murid sedang berjalan bersama Tuhan.
Janganlah kita suka menghakimi, sebab jangan-jangan kita sedang “menghakimi Tuhan”. Jangan-jangan kita sedang menghakimi orang-orang yang sedang “berjalan bersama Tuhan.”
Orang yang menghakimi itu pasti punya kesombongan rohani. Ingatlah bahwa Tuhan tidak menyukai kesombongan, tetapi Ia suka dengan orang yang rendah hati.
Ingatlah hal ini, jangan menghakimi tapi koreksilah diri kita sendiri.

Di Hadirat-Mu


Di hadiratMu kusujud menyembah
kucari wajahMu dan bukan berkatMu
Kau yang maha tahu dalamnya hatiku
Tiada yang lain seperti diriMu
Segenap hidupku kumengasihimu
Yesusku kucinta padaMu
Bawaku mendekat padaMu
Tinggal di dalam hadiratMu
“Hanya dekat Allah saja aku tenang, daripada-Nyalah keselamatanku. ” (Mazmur 62:1)
“Dari manakah datangnya pertolonganku?  Pertolonganku ialah dari TUHAN yang menjadikan langit dan bumi.” (Mazmur 121:1-2)

Masa Yang Sukar

“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.” (2 Timotius 3:1)
Dalam terjemahan Bahasa Inggris, masa yang sukar dituliskan sebagai “perilous times”.
Perhatikanlah makna ‘perilous times’ disini,  yang berarti masa-masa yang penuh bahaya.
Jadi, ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa-masa yang penuh bahaya.
Bahaya akan apa?
Bahaya akan pergeseran dan lunturnya iman sebab semakin menuju kepada hari akhir, setan akan semakin menunjukkan tipu daya dan kuasanya untuk menyesatkan dunia ini.  Hal ini ditandai dengan sikap perilaku manusia yang hidup di dunia, yang semakin menjauh dari Tuhan.   Bahkan walaupun secara lahiriah banyak orang beribadah kepada Tuhan, namun pada hakekatnya  mereka mengingkari kekuatannya.  Hal ini berarti bahwa kemunafikan akan merajalela di dunia ini.
Tawaran dosa yang menggiurkan menjerat semua orang mulai dari anak-anak, remaja sampai orang-orang tua, bahkan kakek nenek.
Dosa merajalela, hawa nafsu merajalela, kebiadaban merajalela, kedegilan, sihir, dan segala penyesatan akan merajalela.
Media telah menjadi salah satu sarana yang dipakai oleh iblis untuk menyesatkan banyak orang.  Setiap orang beriman harus bijaksana dan berhati-hati dalam menggunakan media, menonton televisi, membaca buku, novel, bermain game dan sebagainya, karena setan sedang bekerja menjauhkan orang-orang dari Tuhan.  Generasi muda menjadi sasaran iblis untuk dipengaruhi oleh berbagai konsep dan doktrin yang salah.
Kekayaan, harta dan uang telah menyebabkan banyak orang menduakan Tuhan.
Di tengah-tengah kehidupan dunia yang memasuki masa-masa bahaya ini, firman Tuhan mengingatkan kita untuk tetap teguh dalam iman dan pengajaran yang benar serta berani dan rela menderita dalam mempertahankan iman kepada Tuhan Yesus Kristus.
Firman Tuhan sudah memberitahukan kepada kita, siapkanlah diri kita selalu agar kita setia dan teguh memegang iman kita.

Menanggung Celaan

Bacaan Alkitab:
“Engkau mengetahuinya; ya TUHAN, ingatlah aku dan perhatikanlah aku, lakukanlah pembalasan untukku terhadap orang-orang yang mengejar aku. Janganlah membiarkan aku diambil, karena panjang sabar-Mu, ketahuilah bagaimana aku menanggung celaan oleh karena Engkau!” (Yeremia 15:15)
Nabi Yeremia berbicara dalam ayat ini tentang dirinya yang menanggung celaan karena TUHAN.  Selain menanggung celaan, ia juga dikejar-kejar oleh orang-orang yang ingin membunuhnya.  Semasa hidupnya sebagai seorang nabi yang menyuarakan suara TUHAN, ia tidak disukai, justru dibenci dan hendak dibinasakan.
Salah satu hal yang dapat menimpa orang  beriman yang menyuarakan suara kebenaran adalah dicela orang. Dunia tidak menyukai akan kebenaran, sehingga orang yang menyuarakan kebenaran akan dicela dan dihina orang.  Kondisi ini akan terjadi ketika kita diperhadapkan dengan komunitas masyarakat yang menolak kebenaran Firman Tuhan.
Karena kita berbeda dari dunia maka dunia membenci kita.  Suara Tuhan tidak dapat ditahan oleh nabi Yeremia. Sehingga ia terus menerus berbicara dan menegur dosa dan kebobrokan bangsanya.
Marilah kita renungkan ayat ini, maukah kita rela menanggung celaan karena Tuhan Yesus?  bersediakah kita dihina orang karena iman kepada Kristus?  Tuhan Yesus Kristus telah mengalami celaan yang begitu hebat, para nabi telah mengalaminya, maka janganlah heran bila kita mengalami celaan itu, dan jangan takut ketika kita dicela orang.
Ketakutan akan dicela akan menyebabkan mulut ini tidak mau dibuka untuk menyuarakan suara Tuhan.  Berdiam akan terkesan berkompromi dan setuju, tetapi jika yang Tuhan kehendaki adalah berbicara menyampaikan kebenaran maka jangan tutup mulut kita, tapi sampaikanlah apa yang dinyatakan oleh Tuhan.
Tuhan akan melindungi setiap orang yang berharap pada-Nya. Jika Tuhan menghendaki kita untuk menjadi suara bagi dunia ini, maka Ia akan menjadikan kita seperti kota yang berkubu, menjadi tiang besi dan tiang tembaga yang melawan sistem dunia yang bobrok ini.
Ketakutan sempat melanda Yeremia karena dikejar-kejar tetapi perlindungan Tuhan melingkupinya sebagaimana janji Tuhan kepadanya: “Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN.” (Yeremia 1:19)
Jangan takut dicela, marilah suarakan kebenaran-Nya bagi dunia! Perlindungan TUHAN bagi kita hingga akhir tugas ditunaikan.

Tidak Mencari Popularitas

Tuhan Yesus sering berkata kepada orang-orang yang disembuhkan-Nya agar mereka tidak menyampaikan peristiwa mujzat yang mereka alami kepada orang banyak.  Mengapa?  Hal ini terkadang membuat kita bingung mencari apa penyebab Tuhan Yesus melarang hal yang demikian.
Marilah kita membaca salah satu kisah berikut ini:
“Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu.
Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata!,” artinya: Terbukalah!
Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.
Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya.
Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”  (Markus 7:31-37)
Dalam kisah penyembuhan yang tertulis di atas, ada bagian yang berhuruf tebal.  Bagian tersebut memberikan pengertian kepada kita demikian:
1.  Pelayanan mujizat bukanlah sesuatu yang harus dipertontonkan.
Tuhan Yesus melakukan mujizat secara pribadi, tidak dengan maksud motivasi sebuah “show” atau pertunjukan.  Ia memisahkan orang yang sakit itu dari orang banyak dan melakukan mujizat itu ketika hanya sedikit orang disitu.  Meskipun Yesus adalah Tuhan, namun karakter rendah hati dan tidak ingin menjadi sorotan publik, dimiliki oleh-Nya dan menjadi pelajaran buat kita dalam melayani Tuhan dan sesama.  Janganlah kita suka untuk mencari kemuliaan dan pujian bagi diri kita sendiri.  Mujizat Tuhan tidak untuk dipertontonkan dengan motivasi kemuliaan bagi diri pribadi. Pelayanan rohani itu bersifat pribadi, dalam bentuk pelayanan apapun, apakah itu doa untuk orang sakit, besuk, maupun pelayanan lain-lainnya.  Tidak perlu kita mengupload foto-foto pelayanan kita pribadi di situs-situs media sosial untuk dipertontonkan.  Janganlah kita mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain, janganlah kita mengambil kemuliaan di atas kehinaan orang lain.  Lakukanlah semua itu secara pribadi, dimana Tuhan melihat dan membalas apa yang kita kerjakan.
2. Tidak ada tempat bagi popularitas dalam diri seorang hamba Tuhan.
Tuhan Yesus menyuruh mereka untuk tidak menyampaikan kabar mujizat itu kepada orang banyak.  Mengapa?  Ia mengajarkan kita, bahwa seorang pelayan Tuhan dan kekristenan bukanlah ajang mencari popularitas.   Pelayanan kita, bukanlah tempat untuk mencari popularitas.  Biarlah Nama Yesus yang semakin ditinggikan, bukan nama kita.   Pelayan Tuhan bukanlah seorang selebriti, yang ingin semakin populer, dicari dan dihormati orang.  Gereja bukanlah panggung.  Bila kita masih mencari “panggung” untuk kehormatan dan popularitas kita sendiri, maka kita perlu mengintrospeksi diri, jangan-jangan kita tidak sedang melayani Tuhan,  melainkan sedang melayani hawa nafsu diri sendiri.
Belajarlah seperti Tuhan Yesus, yang meskipun berkuasa atas segala sesuatu, tetapi mengambil sikap sebagai hamba, yang mau melayani, tidak mencari popularitas, dan merendahkan diri-Nya selalu,  Betapa rendah hati sifat Tuhan Yesus Kristus.  Hal yang berbeda 180 derajat dengan ciri sifat kemanusiaan kita, yang selalu ingin dipuji dan terkenal.  Jangan  …. janganlah…. ingin menjadi populer.
Melayani Tuhan dengan hati yang tulus dan selalu ingin menjadi yang paling rendah, itulah hakekat penting dalam melayani Tuhan.

Siapakah Kita ?

Human Dignity dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai martabat manusia.  Kata lain yang digunakan untuk itu adalah kehormatan, kemuliaan, harkat, gengsi, marwah, dan pangkat.
Setiap orang punya konsep berbeda mengenai martabat orang lain dan dirinya sendiri.  Seringkali kita menilai martabat seseorang melalui pakaian, posisi, pekerjaan, kekayaan, cantik/ganteng atau jelek.  Kalau seseorang wajahnya cantik, kita anggap orang itu bermartabat, sebaliknya kalau jelek, dianggap martabatnya rendah.
Bahkan, konsep penilaian seperti itu juga dipakai untuk menilai diri sendiri, misalnya bila kita menilai diri kita yang gagal, miskin, jelek, sebagai sesuatu yang tidak mulia dan bermartabat, maka kemudian kita menganggap diri kita telah kehilangan martabat atau kemuliaan, alhasil, kita menjadi stress dan mulai kecewa pada diri sendiri, marah pada orang lain, benci dan menyalahkan keadaan, serta terus menerus menyesali diri.  Konsep ini salah sama sekali.
Konsep penilaian demikianlah yang sering membuat kita membeda-bedakan orang.  Kalau orang hitam kita anggap budak. Kalau orang kulit putih dan rambut pirang, kita kagumi dan beri nilai tinggi.  Orang dari suku tertentu kita anggap rendahan, dan dari suku yang lain kita anggap lebih mulia.
Bahkan, kita menganggap suku kita pribadi melebihi semua suku lain yang ada di dunia ini, nah ini jelaslah sesuatu yang salah dalam pemahaman tentang human dignity.
Evolusi atau Penciptaan?
Pencarian akan siapa saya atau siapa kita akan dimulai dari pemahaman asal usul.  Mungkin kita berusaha mencari siapa nenek moyang kita, siapa bapak dan ibu, kakek dan nenek kita, dan seterusnya yang di atasnya.  Lalu, mungkin kita akan berhenti, terhenyak dan tercengang mendapati adanya teori Evolusi Darwin, yang menyebutkan tentang asal usul manusia, yang nampaknya seolah masuk akal penjelasannya, namun tidak benar.  Darwin menjelaskan tentang perubahan secara lambat yang terjadi pada segala makhluk di bumi termasuk manusia.  Maka dari teori Darwin, seolah-olah nenek moyang kita bentuk dan rupanya agak mirip dengan monyet, gorilla, simpanse atau orang utan dengan sedikit perbedaan pada bentuk tubuh.  Bila sampai pada titik teori ini, maka rasanya lenyaplah sudah kebanggaan kita pada martabat kemanusiaan kita.  Ya jelas, kenapa? Asal usul itu menentukan sekali konsep diri dan konsep kita akan martabat.  Nenek kamu kayak monyet, kamu asalnya dari monyet… bayangkan kalau benar seperti itu.
Charles Darwin, mengatakan di akhir masa hidupnya, bahwa semua teori evolusinya adalah sebuah kesalahan dan dia kembali sadar akan kebenaran Allah di dalam Alkitab.
Siapa Kita?
Inilah yang penting untuk dijawab.  Siapa kita, menentukan bagaimana kita akan berpikir, berkata dan bertingkah laku.  Kejadian pasal 1 ayat 26 tertulis demikian:
Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”
Sungguh luar biasa dari ayat ini, kita jadi tahu bahwa kita itu diciptakan oleh Allah.  Manusia pertama yang adalah nenek moyang kita itu diciptakan segambar dan serupa dengan Allah.
Betapa mengagumkannya itu.  Segambar dan serupa dengan Allah itu merupakan kehendak Allah bagi kita manusia.  Keserupaan dengan Allah merupakan “human dignity” kita.
Saya dan saudara serupa dengan Allah, luar biasa.
Ada banyak orang yang ingin serupa dengan boneka Barbie dan boneka-boneka tokoh “Super Hero” lainnya, sampai menghabiskan uang banyak untuk operasi plastik.  Ngapain? memang hak masing-masing, tapi jangan biarkan kita ditipu oleh iblis yang selalu ingin menjatuhkan harkat dan martabat diri kita.
TANPA HARUS OPERASI PLASTIK, saya dan saudara sudah segambar dan serupa dengan ALLAH.
Engkau Berharga!
Oke, mungkin di antara saudara masih ada yang galau karena merasa diri tidak dihargai orang lain, ditinggalkan ayah ibu, ditinggalkan teman, ditinggal pacar, ditinggal suami atau istri, dilecehkan, direndahkan, dihina, dan hal itu mungkin membuat kita menjadi merasa terpuruk dalam penyesalan, kekecewaan, keputusasaan, menyalahkan diri sendiri dan sebagainya.
Gak usah kecewa jika kita mengalami hal-hal semacam itu.
Manusia boleh saja mentertawakan, menghina dan merendahkan, akan tetapi yang harus kita pikirkan adalah sebenarnya siapa yang paling menentukan dan paling penting buat kita.   Pribadi yang paling penting buat kitalah yang suaranya harus kita dengarkan dan tanggapi.
Kalau manusia mengatakan kita jelek, hina, rendah dan sebagainya, jangan dipusingkan, martabat kita tidak akan hilang karena semua ejekan itu.
TUHAN lah yang harus kita perhatikan dan dengarkan komentar-Nya tentang kita, karena TUHAN adalah Pribadi yang Terpenting dalam kehidupan kita. Lalu apa kata TUHAN?
TUHAN berkata bahwa kita ini berharga dan mulia (Yesaya 43:4),
dan…. masih ada  kelanjutannya, dan “Aku ini mengasihi engkau”, firman TUHAN.
Bagi saya itu sudah cukup.  Kalau Tuhan berkata bahwa saya berharga dan mulia dan bahwa Tuhan mengasihi saya, itu sudah sangat lebih dari cukup buat saya untuk selalu bersyukur dan semangat menjalani kehidupan.
Dan bukan hanya buat saya, tetapi buat kita semua, umat manusia, yang martabatnya ada pada Tuhan.
Dosa menghilangkan kemuliaan Allah
Saudara yang dikasihi Tuhan, satu-satunya penyebab kita kehilangan dignity/martabat adalah dosa.  Firman Tuhan berkata, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,” (Roma 3:23 ).    Kemuliaan atau martabat kita itu hilang karena dosa.  Tapi, ingat, janganlah kita menghakimi orang lain karena hal yang demikian tidak dikehendaki Tuhan.  Ingatlah bahwa semua kita telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.
Yesus Kristus Memulihkan Martabat dan Kemuliaan Manusia
1 Korintus 15:57 tertulis: “Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”
Tuhan Yesus Kristus memulihkan martabat kita dan mengembalikan kita kepada kemuliaan Allah.  Oleh Tuhan Yesus lah kita diberikan kemenangan.
Tuhan Yesus merupakan bukti akan kasih Allah kepada manusia, yang mana Ia sendiri telah berfirman bahwa kita ini berharga dan mulia dan bahwa Tuhan mengasihi kita.
Sungguh luar biasa kasih Allah, Tuhan kita Yesus Kristus.
Siapakah kita? Kita adalah anak-anak Allah yang hidup.
Berbanggalah karena kita memiliki martabat yang mulia, serta hargailah sesama kita manusia, karena kita diciptakan sama, segambar dan serupa dengan Allah.

Teach Us To Care And Not To Care

Di kaca depan salah satu rumah di Praha tertulis “Teach us to care and not to care.”  Bingung mungkin orang yang membacanya, termasuk saya yang baru pertama kali membaca tulisan itu.  Saya menanyakan apa maksud tulisan itu dan akhirnya mengerti apa artinya.
Dalam hidup ini, banyak hal yang mampir dalam pikiran kita, yang menyita perhatian dan waktu.  Hal-hal itu bisa membuat kita berbahagia atau kecewa, senang atau berduka, cinta atau benci, berdiam atau marah, bersyukur atau mengeluh, dan sebagainya.
Tapi ingatlah satu hal ini, tidak semua hal harus kita “care about”, tidak semua hal harus kita pedulikan, justru seringkali ada banyak hal yang seharusnya kita abaikan.
Amsal 12:16 tertulis demikian: “Bodohlah yang menyatakan sakit hatinya seketika itu juga, tetapi bijak, yang mengabaikan cemooh.
Ini adalah perkataan hikmat yang mengajar kita untuk mengabaikan cemooh orang kepada kita.   Cemooh janganlah ditanggapi karena akan membuat sakit hati.
Bukan hanya cemooh, tapi masih banyak hal lain yang seharusnya kita abaikan.  Mengabaikan kadangkala perlu kita lakukan, agar sukacita kita tidak hilang, agar waktu kita tidak terbuang percuma, agar kita tetap dalam hadirat-Nya, agar kita tetap dalam iman, agar kita tetap bersatu dalam keluarga, agar ada damai sejahtera, agar kita berhasil mencapai tujuan dan agar semua yang baik terjadi dalam hidup kita oleh kehendak Tuhan.
Kita mungkin belum berpengalaman untuk menentukan mana yang harus kita pedulikan dan mana yang harus kita abaikan, tidak apa-apa, karena kita bisa belajar dan terus belajar dari waktu ke waktu.
Mintalah hikmat Tuhan agar kita mengerti mana hal yang harus kita pedulikan dan mana yang diabaikan saja.
Sebagaimana tulisan di kaca rumah itu, marilah kita berdoa pada Tuhan, “teach us to care and not to care.”
Tuhan Yesus memberkati dan melindungi kita!