Dalam 1 Raja-raja 12:7 tertulis:Mereka berkata: “Jika hari ini engkau mau menjadi hamba rakyat, mau mengabdi kepada mereka dan menjawab mereka dengan kata-kata yang baik, maka mereka menjadi hamba-hambamu sepanjang waktu.”
Ayat di atas berkisah tentang nasihat para tua-tua kepada raja Rehabeam, yang barusan dinobatkan sebagai raja oleh rakyat. Rehabeam sebenarnya telah dipilih oleh rakyat bangsa Israel, namun akan nyata kemudian bahwa hanya dua suku bangsa Israel yang loyal pada kepemimpinannya. Hal tersebut diakibatkan oleh sikap raja Rehabeam kepada rakyat yang memohon keberpihakannya atas persoalan dan beban mereka.
Rakyat dari sepuluh suku lain, yang dipimpin oleh Yerobeam, datang menghadap kepada raja Rehabeam dan memohon agar raja meringankan beban hidup mereka. Atas permohonan tersebut, raja Rehabeam meminta nasihat dari para penasihat yang sudah berusia lanjut, dan nasihat mereka intinya adalah agar Rehabeam berkata yang halus, dan membela hak-hak mereka serta berdiri di pihak rakyat sebagai abdi rakyat, agar rakyat setia kepada raja Rehabeam.
Tapi apa yang terjadi? Dalam ayat-ayat selanjutnya, dijelaskan bahwa raja Rehabeam mengabaikan nasihat para tua-tua, dan justru meminta nasihat dari orang-orang muda yang menganjurkan agar ia menambah beban hidup rakyat dan tidak mendengarkan permohonan mereka.
Nasihat dari orang-orang muda itu yang dilakukan oleh raja Rehabeam, dan apa yang terjadi?
Rakyat dari sepuluh suku bangsa Israel meninggalkannya dan mengangkat raja yang baru bagi mereka sendiri, sehingga kerajaan itu terpecah.
Apa makna dari kisah raja Rehabeam? Beberapa hal yang harus dilakukan seorang pemimpin adalah:
1. Seorang pemimpin harus mendengarkan suara rakyat.
2. Seorang pemimpin harus mengabdi kepada rakyat.
3. Seorang pemimpin harus membela hak-hak rakyat
4. Seorang pemimpin harus meringankan beban hidup rakyat
5. Seorang pemimpin harus berdiri di pihak rakyat
6. Seorang pemimpin harus berkata-kata yang baik dan menyejukkan hati rakyat
Hal-hal ini yang akan menjatuhkan seorang pemimpin:
1. Bersikap otoriter dan diktator
2. Menjauhi rakyat
3. Membela kepentingan-kepentingan kekuasaan yang berlawanan dengan rakyat
4. Tidak mengabdi kepada rakyat
5. Berkata-kata kasar dan menyakiti hati rakyat.
Selain yang tersebut di atas, hal utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah ketaatan kepada Tuhan dan kesalehan hidup yang mengutamakan nilai-nilai kebenaran, kejujuran dan keadilan.
Pemilu presiden Indonesia baru saja digelar, mari semua pihak bersikap sabar dan menunggu hasil resmi dari KPU, saling menghormati dan menjauhkan diri dari sikap anarkis. Pemimpin yang berjiwa besar adalah pemimpin yang dapat menerima kekalahan dan menghormati pemenang, serta dapat menjaga ketentraman hati rakyat demi kepentingan dan kebaikan bersama.
Marilah kita bersyukur kepada Tuhan dan berdoa agar bangsa Indonesia senantiasa dipimpin oleh Tuhan menjadi bangsa yang semakin baik dan berkeadilan serta makmur dan sejahtera, menjadi bangsa yang diberkati oleh Tuhan dan dilimpahi anugerah kasih karunia-Nya.
Tuhan Yesus memberkati kita semua, Tuhan memberkati Indonesia!
Bermusuhan Gara-gara Capres
2 Timotius 2:23
Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran
Sepasang suami istri berantem saling membela idola capresnya masing-masing. Rupanya sang suami memilih capres nomor 2 sedangkan sang istri hendak memilih capres nomor 1.
“Kenapa sih kamu memilih nomor 1?”, tanya si suami sambil marah-marah. “Kan hak pribadi masing-masing dong…”, jawab si istri membela tindakannya.
Hanya gara-gara capres rumah tangga bisa ribut, persahabatan bisa rusak. Bahkan di beberapa tempat terjadi aksi anarkis karena masalah bela membela capres.
Saudara yang dikasihi Tuhan, mari kita kembali kepada pikiran yang dikuasai Roh Kudus. Jangan ada perselisihan dan pertengkaran di antara satu dengan yang lainnya. Apalagi suami dengan istri, juga antar sahabat bahkan di dalam suatu jemaat lokal, janganlah ada perselisihan tentang apapun juga.
Bangsa Indonesia tidak sedang menghadapi situasi yang kritis seperti jamannya Ester ketika umat Tuhan terancam akan dibantai. Memilih nomor 1 atau 2, bukan soal masuk neraka atau sorga. Tidak ada gunanya saling marah satu dengan lainnya, lebih baik kita saling mengasihi dan menerima setiap perbedaan pendapat. Toh, kedaulatan tertinggi ada pada Tuhan kita, yang menciptakan segala sesuatu.
Dia berkuasa mengangkat dan Dia pula yang berkuasa menjatuhkan atau menurunkan. Dia yang menentukan langkah bangsa-bangsa, dan di tangan-Nya lah nama-nama setiap pemimpin.
Koreshy, raja Babel, dijadikan-Nya alat untuk pemulihan umat-Nya. Firaun, raja Mesir, dijadikan-Nya alat untuk menggembleng umat-Nya. Tidak ada yang tidak luput dari kekuasaan pengaturan Allah.Yang semuanya itu untuk kemuliaan nama-Nya yang kudus.
Mengapa rusuh bangsa-bangsa? Mengapa suku-suku bangsa mereka-reka yang sia-sia?
…..
TUHAN yang bersemayam di sorga tertawa melihat mereka semuanya.
Apapun rencana manusia untuk melawan Tuhan semesta alam akan gagal, umat Tuhan pasti dilindungi dan dipagari dengan kuasa-Nya yang ajaib.
Sekarang ini sebagian orang Kristen dilanda ketakutan apabila salah satu capres menang. Seolah-olah akan ada sesuatu yang akan membinasakan. Negara ini tidak luput dari pengawasan Allah yang membela umat-Nya, karena itu jangan takut.
Janganlah kita bertengkar dan bermusuhan hanya gara-gara pemilihan presiden. Dan jangan takut kepada situasi apapun yang terjadi ke depan. Siapapun yang terpilih nanti, kita tidak usah takut karena Tuhan beserta kita dan Dia berdaulat di atas segala pemimpin di dunia.
Peperangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan roh-roh jahat yaitu penguasa dan penghulu jahat dunia ini, yaitu iblis yang berupaya menjatuhkan manusia dari kemuliaan Allah.
Pilihlah pemimpin yang sesuai dengan tuntunan Tuhan bagi hati saudara, doakanlah para pemimpin bangsa ini, dan berdamailah dengan semua orang.
Tuhan Yesus memberkati.
Bagaimana Berdoa Yang Efektif
Doa yang efektif yaitu doa yang dijawab oleh Tuhan, menjadi harapan setiap orang yang berdoa. Bagaimana caranya agar doa kita efektif? Beberapa hal berikut ini perlu menjadi perhatian dan diterapkan dalam kehidupan doa:
1. Doa harus lahir dari kerinduan
Doa yang biasa-biasa tanpa rasa antusias tidak akan berarti. Dalam Markus 11:24 dikatakan : apa saja yang kamu minta dan doakan, dalam bahasa Inggris kata minta dituliskan dengan “desire”, yang berarti suatu keinginan yang sangat agar terwujud atau dimiliki, dengan kata lain, “desire” adalah sebuah kerinduan terdalam.
Hana, adalah seorang ibu yang belum punya anak bertahun-tahun, dan dia berdoa di rumah Tuhan, dengan menangis dan penuh kesungguhan karena lahir dari kerinduannya yang terdalam, agar Tuhan memberikannya seorang anak dari pernikahannya dengan suaminya. Apa yang terjadi? Tuhan mengabulkan doanya (1 Samuel 1).
Berdoalah dari kerinduan hati saudara!
2. Doa harus disertai iman
Markus 11:24 menyebutkan soal “percaya” ketika meminta kepada Tuhan. Salah satu faktor doa yang sangat berpengaruh adalah iman kepercayaan kepada Tuhan. Percaya mengandung arti bahwa kita yakin akan kekuasaan dan kesanggupan Allah dalam melakukan apa yang kita rindukan. Doa tanpa iman akan menjadi sia-sia belaka, sebab tanpa iman tidak ada seorangpun yang akan berkenan kepada Allah.
Ketika Tuhan Yesus dalam perjalanan untuk ke tempat Lazarus yang sudah mati, Ia berkata bahwa jika kamu percaya maka kamu akan melihat kemuliaan Allah. Dan nyatalah kepada semua orang di daerah itu, termasuk Maria, Marta dan para murid Yesus, bahwa Lazarus dibangkitkan, menyatakan kemuliaan Allah dan itu merupakan suatu pelajaran iman yang diberikan Tuhan Yesus kepada para murid agar mereka sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus.
Dalam Yakobus 5 ayat 17-18 dikatakan demikian:
“Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya.”
Perhatikan disini saudara, bahwa Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, tapi mungkin yang membedakan Elia dan kita adalah kesungguhan dalam berdoa. Tuhan mengerjakan apa yang didoakan Elia karena Elia punya iman yang sungguh-sungguh kepada Tuhan, ia percaya bahwa Tuhan mampu melakukan apa saja.
Dalam peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir menuju tanah perjanjian, kita belajar tentang iman dari Yosua dan Kaleb. Dari dua belas pengintai, hanya dua orang yang percaya bahwa Allah sanggup menolong mereka masuk tanah Kanaan. Apa yang terjadi kemudian? Yang meraih berkat itu hanyalah mereka yang percaya, Yosua dan Kaleb yang menerima janji Tuhan, sedangkan kesepuluh orang yang tidak percaya itu mati di padang gurun beserta semua orang Israel yang tidak percaya akan kemahakuasaan Allah.
3. Doa harus didahului dengan pengampunan.
Dalam Markus 11:25 dikatakan demikian:
“Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.”
Jadi, sebelum berdoa, ampunilah terlebih dahulu kesalahan orang lain. Datang kepada Tuhan harus dengan hati yang bersih dan damai, bebas dari kebencian dan amarah apalagi dendam.
Tuhan Yesus mengajar kita untuk berdamai sebelum mempersembahkan mezbah kepada Tuhan. Penting sekali hati kita bersih dari semua angkara murka, agar doa kita didengar dan dijawab oleh Tuhan.
Dalam 1 Petrus 3:7 dikatakan tentang perlunya suami hidup rukun dengan istrinya secara bijaksana agar doanya tidak terhalang.
Bagi suami-suami, ampunilah istrimu, jangan bertengkar tapi berdamai, demikian pula sebaliknya istri harus berdamai dengan suami, agar doa didengar dan dijawab oleh Tuhan.
Berdoalah dengan tekun, jangan jemu-jemu meminta kepada Tuhan, dan nantikanlah Tuhan bekerja sesuai dengan waktu yang terindah, sebab segala sesuatu akan indah pada waktunya. Jangan lupa untuk selalu berserah kepada kehendak-Nya, namun sebaliknya tetaplah berdoa, sebab doa dapat mengubahkan segala sesuatu, bahkan doa dapat mengubahkan hati Allah terhadap suatu kehendak-Nya di bumi.
Selamat berdoa dan selamat menerima jawaban dari Tuhan Yesus. Haleluya!
Maksud 1 Korintus 14:20
Dalam 1 Korintus 14:20 tertulis demikian:
“Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!”
Apa maksud dari ayat ini?
Banyak orang sering sulit memahami arti dari ayat ini terlebih pada kata-kata:
“Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!”
Maksud sebenarnya adalah:
Jadilah orang yang tidak tahu menahu soal berbuat jahat, jadilah orang yang pemikirannya polos dan tulus serta sama sekali tidak punya kelicikan dan niat jahat, seperti anak-anak yang masih bayi yang polos dan murni pikirannya, bersih dari intrik dan motivasi kejahatan.
Namun demikian kita juga harus menjadi orang yang dewasa dalam pemikiran yaitu memiliki cara pikir dan cara pandang seperti Kristus, cara pikir yang dikuasai dan dibaharui oleh Roh Kudus melalui pertobatan dan iman percaya kita pada Tuhan Yesus.
Mengubahkan Hati Tuhan
Ketika Tuhan berkehendak melakukan sesuatu dalam kehidupan kita, bisakah kita memohon dalam doa agar Tuhan mengubahkan kehendak-Nya itu?
Tuhan mengajarkan kepada kita melalui Alkitab bahwa dalam berbagai peristiwa, hati Tuhan dapat diubahkan melalui doa dan puasa.
Contoh yang pertama adalah ketika Tuhan hendak memusnahkan Sodom dan Gomora, Abraham memohon agar Tuhan tidak membinasakannya apabila ada sepuluh orang benar di kota itu. Tuhan mendengar dan menyetujui doa Abraham, tapi sayang, di kota itu tidak ada 10 orang benar, yang ada kurang dari sepuluh. Maka, Sodom dan Gomoran pun dibinasakan dengan api, hanya Lot dan keluarganya yang diselamatkan, tapi istrinya menjadi tiang garam karena tidak taat.
Contoh kedua, ketika nabi Yunus memperingatkan bangsa Niniwe bahwa Tuhan akan membinasakan mereka dalam 40 hari, raja menyerukan kepada seluruh rakyatnya untuk berdoa dan berpuasa meminta ampunan Tuhan dan memohon agar mereka tidak dibinasakan Tuhan. Apa yang terjadi? Tuhan tidak jadi membinasakan Niniwe karena belas kasihan Tuhan tercurah untuk mereka oleh sebab mereka berdoa dan berpuasa.
Contoh ketiga terambil dari kitab 2 Raja-raja pasal 20 mengenai raja Hizkia, demikian ceritanya:
Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos, dan berkata kepadanya: “Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi.”
Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN:
“Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu.” Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat.
Tetapi Yesaya belum lagi keluar dari pelataran tengah, tiba-tiba datanglah firman TUHAN kepadanya:
“Baliklah dan katakanlah kepada Hizkia, raja umat-Ku: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu; sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau; pada hari yang ketiga engkau akan pergi ke rumah TUHAN.
Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi dan Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur; Aku akan memagari kota ini oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hamba-Ku.”
(2 Raja-raja 20:1-6)
Hizkia dinubuatkan akan mati, tetapi Hizkia berdoa sambil menangis di hadapan Tuhan, dan Tuhan mengabulkan doanya. Tuhan menyembuhkan Hizkia dan memperpanjang umurnya 15 tahun lagi.
Saudara yang dikasihi Tuhan, apakah yang sedang menjadi kerinduanmu saat ini? Apakah saudara sedang dihimpit masalah dan persoalan? Apakah saudara mengalami putus asa karena seolah tiada lagi pertolongan dan harapan?
Mari datang kepada Tuhan dalam doa. Filipi 4 ayat 6 berkata bahwa jangan kuatir tentang apapun juga tetapi serahkanlah kuatirmu dalam doa dan permohonan kepada Tuhan yang disertai ucapan syukur.
Dalam Markus 11:24, Tuhan Yesus berkata: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.
Percayalah kepada Tuhan Yesus, mintalah pertolongan kepadaNya, saudara dapat mengubahkan hati Tuhan ketika saudara berlutut dan berdoa memohon kasih karunia-Nya. Haleluya, Amin!
Dua Belas Pengintai Dan Sikap Mereka
Setelah keluar dari Mesir, Musa menyuruh 12 orang untuk mengintai tanah Kanaan yang telah dijanjikan Tuhan kepada Abraham nenek moyang mereka. (Sebab Abraham dan Ishak serta Yakub cucunya telah tinggal disitu, namun ketika kelaparan terjadi Yakub dan keluarganya pindah ke Mesir oleh karena diminta oleh Yusuf anaknya, dan mereka akhirnya diperbudak di Mesir, 430 tahun lamanya bangsa Israel tinggal di tanah Mesir). Adapun yang dipilih adalah kepala-kepala dari tiap suku Israel. Karena jumlah suku Israel ada 12, maka jumlah pengintai ada 12 orang.
Dan inilah nama-nama mereka: Dari suku Ruben: Syamua bin Zakur;
dari suku Simeon: Safat bin Hori;
dari suku Yehuda: Kaleb bin Yefune;
dari suku Isakhar: Yigal bin Yusuf;
dari suku Efraim: Hosea bin Nun;
dari suku Benyamin: Palti bin Rafu;
dari suku Zebulon: Gadiel bin Sodi; dari suku Yusuf, yakni dari suku Manasye: Gadi bin Susi;
dari suku Dan: Amiel bin Gemali;
dari suku Asyer: Setur bin Mikhael; dari suku Naftali: Nahbi bin Wofsi;
dari suku Gad: Guel bin Makhi.
Itulah nama kedua belas orang pengintai yang dikirim Musa untuk mengintai tanah Perjanjian.
Dari keduabelas nama tersebut, ada satu nama yang mungkin saudara cari-cari tapi tidak ada. Siapakah dia? Yosua. Apakah Yosua tidak ikut dalam pengintaian? Yosua ikut. Lalu mengapa namanya tidak ada? Sebenarnya ada. Nama asli Yosua adalah Hosea bin Nun, dari suku Efraim. Musa memberinya nama baru yaitu Yosua.
Dari kedua belas orang pengintai itu, sepuluh orang tidak percaya bahwa Tuhan sanggup menolong mereka masuk ke tanah Kanaan. Hanya dua orang yang percaya bahwa Tuhan berkuasa menolong mereka masuk tanah perjanjian itu.
Akibat ketidakpercayaan bangsa Israel yang telah dihasut oleh sepuluh orang pengintai yang tidak percaya, Tuhan membuat mereka berputar-putar di padang gurun 40 tahun lamanya.
Setelah 40 tahun tersebut, Yosua dan Kaleb, dua orang pengintai yang percaya kepada Tuhan, masuk ke tanah perjanjian, sedangkan sepuluh orang pengintai yang tidak percaya itu mati di padang gurun.
(Bilangan 13:4-33)
Suap Politik Adalah Dosa
Pemilihan Presiden di Indonesia sebentar lagi digelar. Sebelumnya, pada bulan April 2014, pemilu anggota legislatif telah selesai dilaksanakan.
Dalam setiap proses pemilu ini, kita sering mendengar istilah “money politics”, atau politik uang. Intinya adalah seorang calon legislatif atau partai tertentu memberikan sejumlah uang kepada sekelompok orang, agar supaya mereka memilihnya.
Beberapa daerah malah lebih parah kondisi mental masyarakatnya, karena mereka langsung menuntut dan meminta sejumlah uang kepada para caleg atau tim sukses yang mendekati mereka. Demikian, menurut informasi yang terdengar dimana-mana.
Alkitab dalam 2 Tawarikh 19 ayat 7 berkata demikian:
“Sebab itu, kiranya kamu diliputi oleh rasa takut kepada TUHAN. Bertindaklah dengan seksama, karena berlaku curang, memihak ataupun menerima suap tidak ada pada TUHAN, Allah kita.”
Dalam ayat ini sangat jelas sekali bahwa Tuhan melarang suap menyuap, karena suap membutakan mata dan membelokkan kebenaran. Suap membuat seseorang tidak berdiri di atas prinsip keadilan dan kebenaran. Rohaninya dibutakan oleh uang dan harta.
Yang memberi suap dan yang menerima suap adalah sama-sama berdosa.
Jangan terima uangnya dan jangan pilih orangnya. Kalau anda menerima uangnya, anda berdosa, apapun alasannya. Mari berpolitik dengan baik, pilihlah pemimpin sesuai dengan hati nurani anda, bukan berdasarkan suap!
Jangan Tunda Keputusanmu
Mengatakan “nanti besok” atau “lain kali” sedangkan Tuhan mengatakan “hari ini” adalah sesuatu yang sangat tidak baik, karena hari besoknya manusia dengan hari sekarangnya Tuhan tidak mungkin dipertemukan.
Kata-kata yang datang dari tahta yang kekal itu ialah “Sekarang” dan pilihan manusia yang menentukan nasibnya.
Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu. (Mazmur 95:7-8)
Makna Dari Galatia 3:13
Dalam Galatia 3:13 bagian akhir tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib.”
Kalimat tersebut merupakan kutipan dari firman Tuhan dalam Perjanjian Lama yang terdapat dalam kitab Ulangan 21:23.
Bagaimana kita memandang penyaliban Yesus Kristus menurut ayat ini? Sebab ada yang bertanya apakah itu berarti bahwa Yesus Kristus dikutuk?
Untuk memahami hal ini, kita perlu membaca maksud dari Galatia 3:13, demikian bunyi dari ayat tersebut:
Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib.”
Jadi, maknanya adalah sebagai berikut:
1. Semua orang saat itu sedang hidup di bawah kutuk hukum Taurat.
Mengapa? Karena setiap pelanggaran atas perintah hukum Taurat adalah berarti kematian. Ingat mengenai firman Allah tentang “Berkat dan Kutuk” dalam kitab Ulangan pasal 11 ayat 26 dan seterusnya. Barangsiapa melanggar ketentuan dan perintah Allah maka akan menerima kutuk, bukan berkat. Menjadi pertanyaan tentunya apakah ada yang bisa melakukan hukum Taurat secara sempurna? Seorang pun tidak ada yang bisa melakukannya dengan sempurna, karena semua syariat hukum Taurat itu begitu sulit dipenuhi oleh manusia yang hidupnya penuh dosa dan hawa nafsu. Jadi, pada dasarnya semua orang Israel bahkan semua manusia di dunia sedang berada di bawah kutuk hukum Taurat karena ketidakmampuan mereka memenuhi semua tuntutan syariat itu. Semua orang seharusnya menerima kutukan itu yaitu kematian yang hina, secara jasmani dan rohani, terputus selamanya dari hubungan dengan Allah sang pencipta.
2. Yesus menjadi Jalan Penebusan bagi semua kutuk hukum Taurat itu.
Yesus Kristus adalah Sang Penebus dari Allah yang tidak terkontaminasi dengan sel sperma dan sel telur manusia. Terbentuknya janin Yesus Kristus dalam rahim perawan Maria tidak terjadi oleh karena bertemunya sel sperma dan sel telur, tetapi Allah memakai rahim Maria untuk mengandung bayi Allah yang dikerjakan oleh kuasa Roh Kudus. Itu sebabnya Yesus Kristus murni dan suci adanya, karena tidak terkontaminasi oleh hawa nafsu dan dosa manusia.
Oleh karena dikandung oleh seorang manusia maka Yesus Kristus disebut sebagai Anak Manusia, meskipun Dia adalah Allah sendiri. Alkitab menyebut Yesus Kristus sebagai Anak Allah bukan berarti bahwa Allah diperankkan dan memperanakkan sebagaimana halnya manusia, tetapi kata “Anak Allah” menunjukkan bahwa Yesus datang dari Allah dan pribadi Yesus adalah sama dengan Allah.
Yesus yang tidak berdosa, merupakan tebusan yang layak untuk menanggung kutuk hukum Taurat yang seharusnya diterima manusia. Penebusan berarti pembebasan. Seorang penebus tidak boleh dari kalangan pendosa. Seorang penjamin napi yang keluar dari penjara, tidak boleh merupakan orang yang sedang menjalani hukuman penjara. Seorang penjamin harus berada di luar penjara supaya pantas untuk menjamin.
Demikian halnya dengan Yesus Kristus, Ia menjadi Penebus yang layak bagi semua manusia karena Dia tidak berdosa, Dia suci dan tidak termasuk orang yang harus dihukum. Yesus Kristus bukanlah seorang yang pantas untuk dikutuk atau menerima kutukan sebab Ia benar dan tidak berdosa.
3. Yesus Kristus menanggung kutukan yang harusnya diterima manusia.
Yang seharusnya disalib adalah semua manusia. Alkitab berkata bahwa “tidak ada seorangpun yang benar, semuanya sudah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Dan, firman Tuhan berkata: “upah dosa adalah maut”. Semuanya, tidak terkecuali, saudara dan saya, kita semua sudah berdosa dan patut menerima Kutuk Dosa yaitu Kematian. Kitalah yang seharusnya disalibkan sebagai tanda menerima kutukan itu. Tetapi, Yesus Kristus yang suci dan tidak berdosa itu telah menanggung semua kutukan yang seharusnya kita terima. Ia menggantikan kita, Ia mengambil tempat kita di kayu salib, ia membebaskan kita dari kutukan dan memberikan anugerah kehidupan kepada kita. Itulah sebabnya ayat dalam Galatia 3:13 menyebutkan kutipan ayat dalam Perjanjian Lama bahwa terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib. Dengan demikian, Yesus Kristus menggenapi nubuatan dan aturan Allah dengan menjadi korban tebusan bagi dosa umat manusia.
Karya penebusan Yesus Kristus akan menyelamatkan semua manusia tetapi manusia yang bagaimana? Hanya orang-orang yang percaya akan penebusan Yesus Kristus lah yang akan diselamatkan dan yang mengakui bahwa Dia adalah Tuhan.
Kalau saudara membaca renungan firman Tuhan ini, maka ini merupakan kesempatan buat saudara untuk memilih jalan kehidupan atau jalan kematian, berkat atau kutuk. Anugerah keselamatan tersedia di dalam Yesus Kristus melalui iman saudara kepada-Nya.
Jangan tunda esok hari, sebab hari esok belum tentu milik saudara, percayalah kepada Yesus Kristus dan berdoalah demikian:
“Tuhan Yesus, aku percaya engkau adalah Tuhan dan Juruselamat yang telah datang dari sorga ke dunia untuk menebus dosa-dosa manusia.
Engkau telah mati disalib menanggung kutuk dosaku dan semua manusia, Engkau telah bangkit dan naik ke surga berkuasa atas segalanya.
Aku percaya kepadaMu Tuhan Yesus, ampunilah segala dosaku, dan masuklah dalam hatiku.
Terima kasih Tuhan Yesus,
Amin.
Maka, mulai hari ini dan seterusnya saudara adalah ciptaan baru di dalam Kristus. Saudara telah menerima anugerah keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus, dan kehidupan kekal dalam surga menjadi milik saudara asalkan saudara setia sampai akhir.
Haleluya, Roh Kudus akan menguatkan dan menuntun saudara untuk tetap berada dalam kehendak dan rencana Allah yang indah dan sempurna. Amin.
Merawat Tanpa Membeda-bedakan
Di sebuah rumah sakit, seorang bapak tua yang menjadi pasien sedang dirawat di kamar kelas 3.
Dari beberapa orang perawat yang merawat bapak ini, ada satu perawat yang membuatnya kagum karena pelayanannya yang sangat baik kepada semua pasien yang ada di ruangan itu. Dengan senyum yang ramah dan kata-kata yang halus dan sopan, ia memberikan perawatan yang dibutuhkan.
Bapak tua ini bertanya apakah ia melakukan perawatan dan pelayanan yang sama baiknya untuk pasien kelas VIP, kelas 1, 2 dan 3. Sang perawat berkata: “Bapak, sudah menjadi tugas saya untuk melayani dan merawat pasien dengan sebaik-baiknya tanpa membeda-bedakan. Saya diberikan gaji untuk melayani semua pasien, baik kelas VIP maupun kelas di bawahnya. Semua pasien berhak mendapatkan pelayanan dan perawatan yang terbaik, entah dia kaya atau miskin. Melayani pasien merupakan pelayanan saya kepada Tuhan, maka dari itu saya selalu berusaha memberikan pelayanan yang terbaik.”
Sikap perawat ini berbeda dengan kebanyakan perawat lainnya. Bila menghadapi pasien VIP maka biasanya perawat akan bersikap lebih baik, padahal gajinya tetap sama saja tidak mengalami kenaikan karena melayani pasien VIP. Berbeda bila melayani pasien kelas lebih rendah, perawat akan bersikap seadanya bahkan terkadang merendahkan dan melecehkan pasien, padahal gajinya yang diterimanya tetap sama, tidak berkurang.
Bagaimana dengan kita? Apakah dalam posisi kita sebagai seorang pelayan Tuhan, pegawai atau profesi apapun, kita bersikap membeda-bedakan atau tidak?
Tuhan Yesus mengajar kita untuk tidak membeda-bedakan orang.
Firman Tuhan dalam Yakobus 2:1 demikian: “Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.”
Dan Yakobus 2:8-9 berkata:
Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kamu berbuat baik.
Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.
Mari melayani dan mengasihi sesama tanpa memandang muka. Amin.
