Sekarang ini ukuran perangkat penyimpanan data seperti harddisk, memiliki ukuran yang semakin kecil. Flashdisk pun demikian, dulu ukurannya cukup besar dengan kapasitas penyimpanan yang kecil, tapi sekarang kebalikannya, ukurannya makin kecil dengan kapasitas yang semakin besar.
Membuat chip penyimpanan yang ukurannya mikro merupakan perkara yang sulit. Perlu puluhan tahun baru manusia dapat membuat chip yang ukurannya kecil dengan kapasitas penyimpanan besar. Dan biaya pembuatan serta research teknologi ini sangatlah mahal sebelum tercipta sebuah microchip.
Namun, dibandingkan microchip buatan manusia, Allah telah membuat suatu “chip” yang ukurannya sangat kecil bahkan jauh lebih kecil dibandingkan dengan microchip yang ada saat ini. “Chip” yang dimaksudkan itu adalah otak seekor semut, dan lebih dari sekedar chip, di dalamnya terdapat juga processor atau cpu. Perhatikanlah ukuran kepala dari seekor semut yang kecil, dan bayangkanlah di dalam kepala semut yang kecil itu terdapat otak dengan ukuran yang pastinya lebih kecil lagi dari ukuran kepalanya. Menurut para ahli, kekuatan dan kemampuan pengolahan data otak semut sebanding dengan komputer Macintosh II. Wow, sungguh sesuatu yang luar biasa.
Dalam Alkitab terdapat firman Tuhan yang berbicara tentang semut. Seperti dalam Amsal 6:6 yang tertulis: “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak.” Demikian pula dalam Amsal 30:25 yang berkata: “semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas,…”
Dibandingkan dengan otak semut yang kecil, manusia memiliki otak yang jauh lebih besar. Ukuran dan kapasitas otak manusia yang besar memberikan kekuatan dan kemampuan berpikir yang jauh lebih besar pula dibandingkan semut. Bila kemampuan otak semut sebanding dengan Macintosh II, maka otak manusia akan mempunyai kekuatan yang sebanding dengan komputer super canggih.
Tapi, apa yang terjadi? Masih banyak orang yang tidak menggunakan otaknya. Otak tidak dipakai untuk berpikir tetapi dibiarkan begitu saja. Akibatnya tidak ada sesuatu yang dikerjakan dan dihasilkan dalam kehidupan ini. Otak yang tidak dipakai berarti orang itu malas untuk berpikir, bekerja dan berkreasi. Andai saja otak ini dipakai dengan maksimal maka kita akan jauh melebihi semut.
Jika semut saja bisa begitu rajin, meskipun tubuhnya tidak kuat dibandingkan dengan makhluk lainnya, tapi semut menyediakan makanannya di musim panas untuk keperluan di musim dingin. Cobalah letakkan remah-remah roti di lantai, tidak lama kemudian akan nampak kerumunan beberapa ekor semut yang mengambil remah-remah itu.
Mari, jangan berputus asa dan malas, tetapi biarlah kita terus memakai otak kita untuk berkarya. Bila otak semut adalah mahakarya Allah, maka lebih lebih lagi otak kita yang luar biasa ini. Mintalah hikmat Tuhan agar pikiran dibukakan, pengetahuan Dia berikan dan hal-hal yang tersembunyi disingkapkan oleh-Nya.
Tuhan Mengerti Hatimu
Kesaksian Jim Caviezel Aktor "Passion of Christ"
Jim Caviezel memberikan kesaksian mengenai perannya dalam film “Passion of The Christ” di “Rock Church” AS. Ternyata, pembuatan film ini serta perannya mengalami berbagai tantangan dan pergumulan, namun dalam semuanya itu Jim merasakan benar-benar bagaimana Yesus menderita bagi umat manusia, ketika Ia disiksa, memikul salib dan mati bagi manusia.
Sebagai orang Kristen, kita harus memikul salib-Nya dan mengikut Dia. Jangan hidup secara duniawi, tapi hiduplah sesuai dengan kehendak Bapa. Ia mau agar kita hidup benar dan kudus.
Saksikan kesaksian Jim Caviezel, yang begitu bermakna bagi kehidupan rohani kita.
[youtube https://www.youtube.com/watch?v=HUoqodiI15Y&w=560&h=315]
Perjanjian Yang Baru
Sebab Ia menegor mereka ketika Ia berkata: “Sesungguhnya akan datang waktunya,” demikianlah firman Tuhan, “Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan dengan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka, pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Sebab mereka tidak setia kepada perjanjian-Ku, dan Aku menolak mereka,” demikianlah firman Tuhan. (Ibrani 8:8)
Suatu kali, saya dimintai tolong untuk mengetikkan sebuah dokumen perjanjian sewa-menyewa rumah. Dokumen perjanjian tersebut terdiri dari beberapa halaman dan di dalamnya terdapat pasal-pasal yang berisi aturan-aturan sewa menyewa antara pihak pemilik dan pihak yang menyewa. Aturan-aturan tersebut misalnya adalah “pihak kedua (yang menyewa) menyewa bangunan rumah untuk jangka waktu selama dua tahun dan selama jangka waktu tersebut, bangunan yang disewa tidak dapat disewakan oleh pihak kedua kepada pihak lain.”
Dari semua pasal yang ada dalam dokumen itu, ada satu pasal yang menarik untuk dibagikan disini, yakni pasal yang berbunyi: “Apabila pihak kedua (yang menyewa bangunan) melakukan pelanggaran atas aturan pasal-pasal perjanjian ini, maka perjanjian sewa menyewa ini menjadi batal dan oleh karena itu, pihak kedua harus segera keluar dari bangunan rumah tersebut selambat-lambatnya 2×24 jam tanpa memperoleh pengembalian biaya sewa atau kompensasi berupa apapun.”
Perhatikan kata-kata yang digaris miring, dimana jelas bahwa perjanjian tersebut batal apabila salah satu pihak melanggar kesepakatan atau perjanjian tersebut. Perjanjian menjadi batal oleh karena pelanggaran.
Demikian pula halnya Perjanjian Lama, yaitu perjanjian antara Allah dengan orang-orang Israel, telah menjadi batal karena Israel telah melakukan pelanggaran atas perjanjian itu. Mereka dituntun keluar dari Mesir dan di padang gurun, mereka menerima perjanjian dari Allah, agar hidup benar sesuai kehendak dan perintah Allah. Tetapi aturan perjanjian itu berkali-kali dilanggar oleh kaum Israel. Dengan demikian, Perjanjian tersebut menjadi batal.
Namun, Allah tidak membiarkan manusia hidup dalam permusuhan dengan-Nya. Ia menyampaikan kehendak-Nya melalu nabi Yeremia, bahwa Ia akan membuat suatu perjanjian yang baru (Yer. 31:31). Apakah Perjanjian Baru itu? ialah Perjanjian Kasih Karunia yang dimeteraikan dengan darah Yesus Kristus. Kita semua yang hidup sekarang ini ada di bawah hukum Perjanjian Baru yang dibuat Allah, yakni hukum kasih karunia, oleh pengorbanan Yesus Kristus di atas salib. Mari kita bersyukur atas inisiatif dan anugerah Allah. Pelanggaran dan dosa kita dihapuskan-Nya dan kita diberikan anugerah hidup baru dan keselamatan di dalam Dia.
Kristus Menjadi Pendamaian Bagi Kita
Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. (2 Korintus 5:19)
Dunia telah menjadi musuh Allah oleh karena dosa. Yang dimaksudkan dengan dunia disini adalah segenap umat manusia ciptaan-Nya. Dosa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa, yakni dengan memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, telah membuat manusia terpisah dari Allah dan kehilangan kemuliaan Allah. Secara turun temurun, manusia terus membawa kutuk dosa dan memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa, sebab keinginan hatinya selalu jahat dan tidak sesuai kehendak Allah.
Pelanggaran dosa ini memiliki konsekuensi kutuk dan kebinasaan. Cara untuk menebus kesalahan, dosa atau pelanggaran manusia kepada Allah adalah dengan melakukan suatu pengorbanan dengan pencurahan darah, yang pada waktu itu adalah darah hewan kurban seperti domba, kambing atau lembu. Melalui korban-korban tersebut manusia diperdamaikan dan dosanya diampuni. Namun, apa yang dilakukan dalam Perjanjian Lama merupakan gambaran akan datangnya suatu korban yang sempurna yang akan mendamaikan semua manusia dengan Allah sekali untuk selamanya, korban penebusan yang akan menghapus dosa seisi dunia sekali untuk selamanya, yaitu korban yang datangnya dari Allah sendiri sebab korban yang dari dunia pada hakekatnya tidak sempurna dan tidak dapat menghapuskan dosa manusia.
Ayat di atas menyebutkan arti penebusan Yesus Kristus di atas kayu salib. Ia tersalib bukan karena suatu kebetulan atau pemberontakan, tetapi tersalibnya Yesus merupakan suatu rancangan yang sudah ditetapkan Allah sendiri, untuk menjadi suatu korban yang sempurna untuk menghapuskan dosa seluruh isi dunia, dan dengan demikian mendamaikan manusia dengan Allah. Ketika Ia melakukan penebusan dan pengorbanan itu, Allah tidak memperhitungkan pelanggaran manusia lagi. Semua pelanggaran manusia telah dihapuskan Allah, oleh karena penebusan oleh Kristus Yesus.
Kita semua sudah diperdamaikan oleh darah-Nya yang mahal. Kita semua sudah ditebus melalui pengorbanan Yesus Kristus dan diperdamaikan dengan Allah. Orang yang berdamai dengan Allah pasti akan diterima Allah, sebab tidak ada lagi permusuhan. Perdamaian itu terjadi hanya oleh karena penebusan dan korban Yesus Kristus di atas kayu salib.
Jika saudara ingin bertemu dengan Allah, maka saudara harus berdamai terlebih dulu dengan Allah. Mengapa? Karena semua manusia telah berdosa, dan tidak ada satupun yang dapat melakukan sesuatu untuk menebus dosanya sehingga semua manusia telah menjadi musuh atau seteru Allah. Siapa yang menjadi musuh Allah tidak akan dapat bertemu dengan Allah. Tapi ada kabar baik buat kita semua, Allah telah mendamaikan kita dengan diri-Nya oleh Kristus.
Yesus Kristus tersedia buat saudara dan saya sebagai korban pendamaian atas segala dosa kita. Maukah saudara menerima dan menghargai pengorbanan dan penebusan Yesus Kristus di atas salib buat saudara? Jangan menolak Dia yang datang dari Sorga, jangan menolak Dia yang telah bersedia berkorban bagi saudara, jangan sia-siakan anugerah Allah yang begitu besar buat saudara. Saudara dapat memiliki kehidupan kekal jika sudah berdamai dengan Allah, perdamaian itu sudah Dia sediakan, tapi saudara harus menerima, menghargai dan mempercayai korban pendamaian itu.
Hari ini, saat saudara membaca tulisan ini, bukalah hatimu kepada Yesus Kristus, sang Juruselamat dan Penebus dosamu. Tidak ada jalan lain untuk saudara dapat masuk kerajaan surga, hanya Yesuslah jalan menuju kesana. Percayalah maka engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu!
Here I Am Lord
[youtube https://www.youtube.com/watch?v=K6fYAiqV-Bs&w=420&h=315]
I, the Lord of sea and sky,
I have heard My people cry.
All who dwell in dark and sin,
My hand will save.
I who made the stars of night,
I will make their darkness bright.
Who will bear My light to them?
Whom shall I send?
Here I am Lord, Is it I Lord?
I have heard You calling in the night.
I will go Lord, if You lead me.
I will hold Your people in my heart.
I, the Lord of wind and flame,
I will tend the poor and lame.
I will set a feast for them,
My hand will save
Finest bread I will provide,
Till their hearts be satisfied.
I will give My life to them,
Whom shall I send?
Here I am Lord, Is it I Lord?
I have heard You calling in the night.
I will go Lord, if You lead me.
I will hold Your people in my heart
Singer: John Michael Talbot
Persaingan Yang Sehat
Sewaktu pergi ke Bali dengan menggunakan kendaraan mobil, sepanjang perjalanan dari Jakarta hingga tiba di Bali ada sesuatu yang berkesan dalam perjalanan, yaitu seringnya kita bertemu dengan dua minimarket yang saling berdekatan yaitu Indomart dan Alfamart. Kami melewati jalur pantai utara Jawa, melewati daerah Indramayu, Cirebon, Tegal, Semarang, Surabaya, Sidoarjo, hingga ke pelabuhan penyebarangan Ketapang, lalu sampai di Bali. Dimana-mana ada indomaret dan alfamart, layaknya keberadaan pompa bensin yang selalu ada setiap jarak tertentu.
Mengapa kedua minimarket ini selalu berdekatan? Bahkan terkadang di satu lokasi yang sangat berdekatan ada tiga minimarket. Menurut salah satu petinggi perusahaan pemilik minimarket tersebut, hal ini terjadi karena keinginan untuk bersaing merebut pasar konsumen. Bahkan, salah satu pihak perusahaan menuduh yang lain sebagai peniru dari ide dan strategi marketing mereka.
Secara sederhana, orang yang awam dapat melihat bahwa tingkat persaingan bisnis antara kedua minimarket ini sudah tidak sehat. Dapat dikatakan bahwa pola persaingannya sudah pada tahap “saling mematikan”, “adu kuat”, “siapa yang bertahan dia akan menang”. Tentu saja, dengan sangat dekatnya lokasi, akan mengurangi pemasukan karena porsi yang terbagi-bagi. Sementara itu, banyak “fixed cost” yang harus ditanggulangi, dan belum lagi berbagai biaya-biaya lainnya.
Tuhan mengajar kita untuk mengalah dan membiarkan orang lain untuk hidup dengan bisnis usahanya tanpa kita harus mengganggu keberlangsungan hidup mereka. Jaman dulu, para gembala Lot pernah bertengkar dengan para gembala Abraham, mengenai lahan padang rumput yang menjadi tempat sumber makanan bagi domba dan ternak mereka. Apa yang dilakukan Abraham adalah ia memilih untuk mengalah dan menyuruh para gembalanya untuk mencari tempat yang lain, bahkan pada akhirnya ia mengupayakan jalan keluar yang baik dengan memberikan pilihan bagi Lot untuk menentukan daerah mana yang akan dijadikannya tempat tinggal dan tempat berusaha.
Prinsip untuk tidak mengganggu keberlangsungan usaha dan kehidupan orang dapat kita peroleh dari berbagai kisah dalam Alkitab. Salah satu contoh teladan adalah Ishak. Ketika ia diganggu oleh penduduk Gerar mengenai masalah sumur air untuk keperluan hidup mereka dan ternak mereka, Ishak memilih untuk mengalah dan mencari tempat yang lain. Berkali-kali ia diganggu soal sumur air, sebab air sangat diperlukan untuk keberlangsungan hidup, namun Ishak selalu mengalah dan mencari tempat yang lain. Sehingga ia dan keluarganya serta orang-orangnya dan ternaknya dapat hidup dengan damai dan tenteram, dan demikian pula penduduk Gerar dapat hidup dengan sentosa.
Yesaya 5:8 berkata: “Celakalah mereka yang menyerobot rumah demi rumah dan mencekau ladang demi ladang, sehingga tidak ada lagi tempat bagi orang lain dan hanya kamu sendiri yang tinggal di dalam negeri!”
Janganlah mengupayakan untuk mematikan orang lain dengan cara merebut ladang mereka, dalam masa kini, hal ini bermakna, agar kita jangan mematikan orang lain melalui cara-cara persaingan usaha yang tidak sehat. Biarlah orang lain bisa makan dan hidup sentosa, dan kita pun juga melakukan usaha bisnis dengan pikiran yang damai dan tenteram tanpa rasa iri hati, dengki atau kebencian terhadap pelaku usaha yang sama.
Marilah kita hidup bersama-sama untuk saling membantu dan menghidupkan. Jangan kita bertindak seenaknya sendiri, egois dan hidup sendiri, sementara yang lain “mati”. Jadilah pribadi yang menjadi berkat bagi sesama. Tuhan Yesus memberkati.
Pikiran Yang Berkenan
Seorang psikolog pernah mengatakan bahwa dalam sehari setiap orang rata-rata memikirkan 10 ribu hal. Sungguh angka yang fantastis, dan bila dikalikan jumlah hari dalam setahun, maka akan menjadi 3.500.000 hal yang dipikirkan oleh setiap manusia dalam satu tahun saja. Dari jumlah yang sedemikian banyak itu, berapa banyakkah pikiran yang berkenan kepada Allah? Apakah persentase pikiran jahat yang lebih dominan? Kejadian 6:5 menyebutkan bahwa segala kecenderungan hati manusia adalah jahat.
Alkitab mengajarkan untuk berpikir yang baik, yang benar, yang kudus dan berkenan kepada Allah. Filipi 4:8 berkata: “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
Namun, dengan upaya diri sendiri, kita tidak mampu melakukan hal itu. Sebab pikiran manusia itu sudah berdosa dan manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Langkah pertama agar kita dapat memikirkan perkara-perkara yang baik dan suci yaitu dengan cara dibaharui oleh firman Tuhan dan kuasa darah Yesus yaitu dengan mengalami kelahiran baru di dalam Dia. 2 Korintus 5:17 berkata : “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”
Langkah kedua, adalah tindakan untuk mempersembahkan tubuh kepada Tuhan sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan. (Roma 12:1), jadi harus berserah dan tunduk kepada kehendak Tuhan. Dan langkah ketiga adalah berubah oleh pembaharuan budi yang telah dikerjakan oleh Roh Kudus di dalam kita. (Roma 12:2)
Apa yang kita pikirkan itu akan berbuah dalam perbuatan dan tindakan. Jika pikiran jahat, maka perbuatan pun akan jahat, tetapi jika pikiran baik maka perbuatan pun akan baik. Oleh karena itu, kita perlu memasukkan hal-hal yang baik ke dalam perbendaharaan hati kita, yaitu firman Tuhan. Bacalah Alkitab, dengarkanlah firman Tuhan dan kesaksian yang benar, nyanyikanlah nyanyian rohani, fokuskan diri kepada Kerajaan Allah, yaitu kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
Ahli Taurat Dan Orang Farisi
Matius 23 berisi banyak kecaman Tuhan Yesus terhadap Ahli Taurat dan orang Farisi. Kata-kata yang digunakan untuk mengecam mereka juga merupakan kata-kata kecaman yang tegas dan keras yaitu “Celakalah”.
Salah satu kecaman Yesus adalah :
“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.” (Matius 23:27-28)
Bila kita mempelajari dengan seksama makna dari kecaman Tuhan Yesus, maka kita akan mengerti bahwa Tuhan Yesus tidak memarahi dan mengecam posisi mereka sebagai ahli Taurat dan orang Farisi, melainkan kemunafikan mereka lah yang dikecam oleh Tuhan.
Ahli Taurat adalah golongan orang-orang yang mempunyai keahlian dalam hal hukum Taurat dan mereka menerangkan makna hukum Taurat dalam kehidupan umat Israel. Ahli Taurat juga adalah orang-orang yang bertugas mempelajari dan menafsirkan hukum Taurat secara teliti. Mereka mengajarkan hukum Taurat kepada anak-anak dan segenap kaum Israel, agar mereka senantiasa hidup dalam ketaatan penuh kepada hukum Taurat.
Golongan Farisi adalah orang-orang yang bertugas untuk menegakkan pelaksanaan syariat hukum Taurat. Mereka bertugas sebagai pengamat dan penegak hukum Taurat dalam kehidupan masyarakat. Mereka suka memperhatikan hal-hal yang sangat kecil, sehingga kesalahan sekecil apapun harus dihukum sesuai hukum Taurat sebab mereka yakin bahwa Allah mencintai orang yang taat kepada hukum Taurat dan menghukum orang yang tidak taat.
Melihat fungsi dan tugas mereka dalam masyarakat Israel yang dipimpin oleh Taurat, maka kedudukan para Ahli Taurat dan orang-orang Farisi begitu penting dan terhormat di masyarakat. Mereka disegani dan seringkali juga ditakuti. Mereka dianggap sebagai orang-orang yang bersih dan taat sepenuhnya kepada hukum Taurat.
Namun, apa yang nampaknya bagus di luar, ternyata tidak demikian di dalamnya. Tuhan Yesus menyebut mereka sebagai orang-orang yang munafik dan tidak punya belas kasihan. Kepada orang lain mereka mengenakan penghakiman yang begitu ketat, sedangkan mereka sendiri berbuat dosa dan tidak menerima penghukuman.
Makna yang begitu luar biasa dari kecaman Yesus memiliki sangkut paut juga dengan kehidupan kita di masa kini. Firman Tuhan dalam Matius 23 masih relevan sampai saat ini. Kehidupan sebagai pelayan Tuhan, teolog, gembala, atau pendeta menghadapi tantangan dari kecaman Tuhan Yesus. Apakah kita sudah hidup benar? Ataukah kita hidup dalam kemunafikan? Apakah kita mengajar orang lain untuk hidup kudus, sementara kita sendiri hidup dalam kenajisan? Apakah kita memberikan beban “syariat keagamaan” kepada jemaat dengan begitu berat, sementara kita sendiri tidak melaksanakan “syariat” yang kita buat itu? Patokan kita adalah firman Allah, bukan firman manusia.
Kecaman Tuhan Yesus mengandung konsekuensi penghakiman bagi mereka yang hidup dalam kemunafikan. Kemunafikan merupakan dosa yang tidak disukai Allah. Kita boleh memakai topeng di depan orang lain, dan orang lain tidak tahu bagaimana dan siapa sebenarnya kita, tetapi Tuhan maha tahu siapa kita sebenarnya.
Jadi sekali lagi, bukan soal profesi sebagai ahli taurat atau farisi yang dikecam Tuhan, melainkan kemunafikannya. Sebab Alkitab menyiratkan dengan jelas bahwa ada ahli-ahli Taurat yang hidup benar di hadapan Allah dan menjadi utusan Allah bagi umat-Nya. Perhatikan ayat dalam Matius 23:34 demikian tertulis: “Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota,” Jadi jelas disini bahwa Tuhan mengutus ahli-ahli Taurat juga. Jadi ada orang yang diberikan tugas sebagai ahli Taurat dan mereka melaksanakannya dengan baik dan benar tanpa kemunafikan dalam hidup mereka. Dan ahli-ahli Taurat yang hidupnya benar itu, sebagian mengalami pembunuhan dan penyaliban, sedangkan yang lain disesah dan dianiaya, oleh karena mereka hidup benar dan menyampaikan kebenaran.
Jadilah teolog yang benar, jadilah pendeta yang benar, jadilah pelayan dan hamba Tuhan yang benar, jangan hidup dalam kemunafikan maka Tuhan tidak akan mengecam kita melainkan memuji kita sebagai hamba yang baik dan setia. Amin.
Dan Kebahagiaan Itu ….
Kebahagiaan tidak terletak pada rumah yang megah,
juga tidak terdapat pada mobil yang mewah,
Kebahagiaan tidak ditemukan pada jabatan yang tinggi,
juga tidak diperoleh dari harta kekayaan.
Seorang pria mencari kebahagiaan di sebuah rumah yang besar dan megah, ia mengetok dan pintu terbuka. Sang pria bertanya: “apakah disini ada kebahagiaan?” Terdengar suara: “Tidak ada”
Ia kemudian pergi mencari kebahagiaan dengan menaiki kapal, hendak menyeberangi lautan, sebab dipikirnya mungkin ia akan menemukan kebahagiaan itu di suatu tempat nun jauh di sana.
Sesampainya disitu, ia bertanya: “apakah disini ada kebahagiaan?”
Terdengar jawaban: “tidak ada”.
Lalu dia pergi ke sebuah keluarga yang terdiri dari suami yang ganteng dan istri yang cantik, tapi yang ditemukannya disitu justru sebuah rencana perceraian dari mereka berdua. Ternyata kecantikan lahiriah tidak menjamin kebahagiaan.
Ia pun pergi ke berbagai tempat yang lain, tapi juga tidak menemukan kebahagiaan itu.
Di tempat-tempat hiburan pun tidak ada kebahagiaan.
Dengan begitu kecewa, sang pria pulang ke tempat asalnya. Ia merasa gagal menemukan kebahagiaan.
Ketika kakinya melangkah memasuki pekarangan rumahnya yang sederhana,
di depan pintu telah berdiri dua orang anaknya yang masih kecil dengan tawa mereka yang lucu,
nampak di belakang mereka, istrinya dengan wajah yang penuh penantian karena menunggu kedatangannya dengan penuh harap,
saat itu, entah mengapa hati sang pria diliputi rasa kebahagiaan.
Dan sejenak ia berhenti, merenungkan pencariannya selama ini dan menyadari bahwa kebahagiaan itu terletak pada hati yang bersyukur dan terpelihara dalam kehidupan bersama keluarga yang saling mengasihi dan mengampuni.
Seringkali orang mengabaikan hal-hal utama dalam hidupnya untuk mencari sesuatu yang fana.
Keluarga adalah yang utama, berbahagialah bersama mereka.
Bukan pada barang-barang, harta dan kekayaan, terletak kebahagiaan, bukan pula pada jabatan dan pangkat tinggi atau pekerjaan yang bagus, dan bukan juga pada keadaan fisik yang cantik atau ganteng, tapi kebahagiaan itu ada pada hati yang selalu bersyukur.
Bersyukurlah selalu dalam segala keadaan!
Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah; kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.
(Mazmur 67:3)

