Nats Alkitab:
Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 6:23)
Dalam bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru, bahasa Yunani, dosa disebut sebagai “Hamartia”. Memang ada kata lain yang berarti dosa, yaitu “Adikia” (Yunani) dan juga beberapa kata dalam bahasa Ibrani. Masing-masing kata yang ada, memiliki makna yang spesifik dan khusus yang menjelaskan arti dosa.
Hamartia berarti melenceng dari target sasaran. Apabila seorang pemanah, mengambil anak panah kemudian membidik sasaran lalu menembak, dan anak panahnya menancap 1 meter dari target, maka itu disebut hamartia. Bila kemudian, sang pemanah kembali memanah dan panahnya menancap 1 cm dari sasaran, juga disebut hamartia. Sekali lagi, bila si pemanah memanah lagi dan panahnya menancap 0,1 cm dari sasaran, tetap disebut hamartia. Jadi, tidak peduli seberapa dekat dengan target, bila masih belum mengenai dengan tepat, maka disebut hamartia.
Pengertian ini lebih membuka pemahaman kita akan dosa. Sekalipun dosa yang dilakukan nampak begitu kecil namun itu namanya hamartia yakni melenceng dari sasaran dan target yang ditetapkan Allah. Dan upah bagi dosa adalah maut. Firman Tuhan dengan jelas mengatakan demikian, bahwa upah bagi pelanggaran adalah kutuk dan maut, sekecil apapun pelanggaran itu.
Seorang Peneliti Masyarakat Tranparansi Indonesia, mengatakan bahwa hukuman bagi koruptor tidak adil antara pelaku yang satu dengan yang lainnya. Seorang guru yang melakukan korupsi 54 juta rupiah diganjar hukuman tiga tahun penjara, namun pelaku korupsi lainnya yang melakukan korupsi puluhan miliar rupiah diganjar dengan hukuman yang sama juga yakni tiga tahun. Hal ini menurutnya tidak adil.
Apa yang terjadi dalam peradilan itu, memang nampaknya tidak adil. Namun begitulah sebenarnya konsep mengenai dosa. Tidak ada istilah dosa kecil atau besar, semuanya merupakan pelanggaran dan harus mendapatkan hukuman yaitu maut.
Adanya kebenaran ini membuat kita harus sungguh-sungguh sadar untuk hidup dalam kebenaran. Kita akan menjadi orang-orang yang sangat malang apabila tidak ada juruselamat. Oleh kasih karunia Allah maka Dia sendiri telah datang menjadi manusia sama seperti kita untuk menanggung semua akibat dosa yang seharusnya kita tanggung, dan menjadi penebus bagi segala dosa kita.
Hidup dalam kasih karunia Allah, bukan berarti kesempatan untuk berbuat dosa, tetapi justru kita harus lebih lagi berbuat kebenaran karena kasih kita kepada Tuhan. Jangan pandang enteng dosa-dosa yang nampaknya kecil, karena sekecil apapun dosa itu adalah tetap dosa yang melanggar keseluruhan perintah Allah.
Kasih Seorang Ibu

Nats Alkitab:
“….dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua.” (Amsal 23:22b)
Princess Alice dari United Kingdom adalah seorang ibu dari lima orang anak. Pada jaman dimana dia hidup, belum ada imunisasi untuk penyakit Dipteri. Suatu ketika, empat dari lima anaknya menderita Dipteri, dan anaknya yang paling kecil kondisinya semakin parah dari hari ke hari. Dokter mengatakan kepada Princess agar tidak mencium anaknya yang sedang sakit itu, karena kontak dengan penderita Dipteri dapat menularkan penyakit itu dan dapat membahayakan diri Princess Alice.
Saat-saat menjelang kematian anaknya yang bungsu itu, Princess tidak tega melihat anaknya berjuang untuk bernafas. Nafas anaknya begitu sesak dan melihat itu, Princess, sang ibu, dengan penuh kasih menggendong anaknya itu dalam pelukannya untuk menjaganya tetap dapat bernafas. Menjelang saat terakhir hidupnya, sang anak memandang ibunya, dan berkata: “Mama, cium aku Ma…”
Tanpa memikirkan dirinya sendiri, Princess Alice dengan penuh kasih sayang mencium anaknya itu dan itulah ciuman terakhirnya untuk si bungsu. Setelah itu anaknya meninggal. Beberapa hari kemudian, Princess Alice menderita Dipteri, dan kemudian berpulang ke rumah Bapa sorgawi.
Kisah ini menunjukkan betapa luar biasanya kasih seorang ibu kepada anaknya. Ia tidak memikirkan dirinya sendiri karena begitu sayangnya kepada sang anak. Banyak ibu-ibu di dunia ini yang melakukan hal seperti itu bagi anak-anak mereka. Mengorbankan diri dan segalanya hanya untuk kehidupan anak-anaknya.
Marilah sayangi ibu, yang telah melahirkan kita, berdoalah untuknya dan nyatakanlah perhatian dan kasih kepadanya.
Rela Memberi Persembahan Kepada Tuhan
Nats Alkitab:
“Maka siapakah pada hari ini yang rela memberikan persembahan kepada TUHAN?” (1 Tawarikh 29:5b)
Pasal 29 dari Kitab 1 Tawarikh berisi tentang sumbangan untuk pembangunan Bait Suci. Baik raja dan pembesar-pembesar maupun rakyat biasa dengan rela hati memberikan persembahan untuk pekerjaan pembangunan Bait Suci. Kesukaan mereka memberi persembahan didorong oleh kesukaan mereka akan hadirat dan pimpinan Allah dalam kehidupan mereka serta kesadaran bahwa semua yang mereka miliki adalah berasal dari Tuhan.
Sebuah grup di facebook mempermasalahkan tentang persepuluhan dan para anggota grup tersebut berselisih paham satu sama lain mengenai perlu atau tidaknya memberikan persepuluhan. Sebenarnya, apa yang disebut dengan persepuluhan itu mempunyai makna yang sama dengan apa yang ada pada 1 Tawarikh 29 yaitu suatu persembahan yang dilakukan dengan sukacita kepada Tuhan untuk mendirikan dan mempertahankan eksistensi pekerjaan Kerajaan Allah di muka bumi ini. Bila kita menyadari bahwa nafas hidup ini dan segala berkat yang kita miliki adalah berasal dari Tuhan maka kita akan malu kepada diri sendiri dan kepada Tuhan karena sesungguhnya segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, untuk Dia dan kepada Dia saja.
Pasal 29 ini menggambarkan suatu sikap yang benar dalam memberi bagi pekerjaan Allah. Sebagai orang-orang yang telah ditebus oleh darah-Nya yang kudus, kita harus memiliki:
1) kesukaan dan komitmen kepada Kerajaan Allah
2) kesediaan untuk mempersembahkan diri dan milik kita kepada Allah
3) sukacita yang timbul dari memberi dengan sukarela
4) pengakuan bahwa segala yang kita miliki berasal dari Allah
5) kerendahan hati dan rasa syukur atas hak istimewa untuk mengambil bagian dalam maksud kekal Allah
6) motivasi memberi yang muncul dari hati yang tulus dan hidup yang benar
7) doa bahwa Allah berkenan untuk terus mengarahkan hati kita kepada kesetiaan yang kokoh kepada Dia dan pekerjaan-Nya di dunia
Perhatian sungguh-sungguh Raja Daud dan rakyatnya terhadap persiapan pekerjaan pembangunan Bait Suci mencerminkan kesukaan dan kerelaan mereka untuk memberikan seluruh hidup mereka bagi Allah.
Dalam zaman sekarang ini, pekerjaan-pekerjaan pelayanan Kerajaan Allah masih terus berlangsung. Penginjilan tidak akan berhenti sampai saatnya yang terakhir akan tiba, para pekerja di ladang-Nya, para prajurit Kristus akan terus lahir dan berjuang dengan setia oleh pimpinan Roh Kudus. Bagaimanakah respon kita terhadap gelombang pekerjaan Allah ini? Apakah kita menjadi bagian di dalamnya?
(Referensi: Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan)
Dana Kompensasi Rokok
Nats Alkitab:
Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. (Yesaya 55:2)
Meminjam istilah kompensasi BBM, bayangkanlah apa yang dapat terjadi dalam sebuah keluarga, bila seorang ayah atau ibu yang biasanya merokok kemudian tidak merokok, berapa banyak uang yang dapat disimpan sebagai kompensasi dari tidak merokok? Seperti istilah pemerintah, saya memakai istilah tersebut dan mengubahnya menjadi “Dana Kompensasi Rokok”.
Seandainya seorang bapak yang perokok, berhenti merokok, cobalah hitung berapa uang yang menjadi bermanfaat bagi keluarganya. Bila sehari biasanya ia membeli sebungkus rokok, itu berarti sekitar Rp. 15.000 yang dapat ditabung. Dalam sebulan ia dapat mengalihkan “subsidi rokok” kepada pemenuhan kebutuhan keluarga sebesar Rp. 450.000,-. Jumlah sebesar itu dapat membeli beras dengan kualitas terbaik sebanyak satu karung seharga Rp. 280.000,- dan masih ada sisa Rp. 170.000,- yang dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga selama sebulan dengan menu sederhana.
Jika uang tersebut ditabung, dalam setahun akan menjadi Rp. 5.400.000,- yang dapat dipakai untuk investasi kecil-kecilan buat usaha keluarga, atau untuk rekreasi bersama istri dan anak-anak ke luar kota, juga dapat dipakai untuk keperluan pendidikan anak. Apabila, terus disimpan, maka dalam dua puluh tahun akan menjadi lebih dari Rp. 108 juta rupiah karena ada bunga bank. Bayangkan apa yang dapat terjadi buat keluarga, tentunya kesehatan terjaga dan kondisi ekonomi juga semakin baik.
Nats Alkitab di atas berbicara kepada kita semua. Tuhan bertanya : “mengapa kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti? dan menghabiskan gaji untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan?” Ini perlu dijawab oleh para perokok. Saya masih melihat dan menemui banyaknya orang yang terus berpikir-pikir mengenai “apakah perlu atau tidak saya berhenti merokok?” dan mencari ayat-ayat Alkitab yang berhubungan dengan merokok.
Para perokok di Indonesia kebanyakan adalah masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Dapat diprediksi dengan adanya alokasi dana untuk rokok setiap bulan maka kondisi perekonomian keluarga akan semakin sulit. Belum lagi biaya untuk pengobatan akibat penyakit karena merokok. Sementara pemilik pabrik rokok semakin hari semakin bertambah kaya, para perokok justru semakin hari makin menderita dan sakit-sakitan.
Mari, ingatlah anak dan istri. Bila yang membaca ini adalah istri, maka ingatlah keluargamu. Bila yang membaca masih jomblo, ingatlah kesehatanmu dan masa depanmu. Jangan bersikap cuek, tapi bersikaplah yang benar, responi dengan benar setiap kebenaran firman Tuhan.
Renungan kali ini mengupas dari segi ekonomi, di bagian yang lalu dari segi rohani. Marilah kita bersama menjaga kesehatan ekonomi keluarga dengan menghapuskan “pengeluaran” yang tidak perlu seperti merokok, apalagi merokok itu tidak baik dari segi kesehatan dan kerohanian.
INGATLAH!

Merokok membuat kesehatanmu terganggu, uangmu habis, dan ekonomimu sulit.
Hikmat Dari Membaca Alkitab
Nats Alkitab:
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (2 Timotius 3:16)
Seorang senator yang terpandang dan disegani karena hikmat, pengetahuan dan kebijaksanaannya, ditanyai tentang darimana ia dapat memperoleh semuanya itu tanpa melalui pendidikan di universitas. “Dimanakah dia belajar selama ini?” Demikian pertanyaan banyak orang.
Jawabannya sangat sederhana dan “to the point”. Ia berkata: “Sejak umur 18 tahun, saya menetapkan hati untuk meluangkan waktu saya selama 2 jam sehari untuk membaca buku-buku yang baik dan bermanfaat, majalah, puisi, dan Alkitab.”
Lalu ia melanjutkan, “cobalah apa yang saya lakukan dan kamu akan menjadi orang yang berpendidikan.”
Alkitab bukanlah buku yang biasa tetapi sebuah “buku ajaib” yang berisi hikmat dan pengetahuan yang dari Allah. Bila kita tekun membacanya maka pikiran dan hati kita akan dipenuhi dengan hikmat sorgawi.
Bila kita membaca Alkitab setiap hari selama kurang lebih 15 menit saja maka dalam setahun kita dapat menyelesaikan pembacaan seluruh isi Alkitab.
Bila saudara rindu untuk memiliki hikmat, pengetahuan dan kebijaksanaan dalam kehidupan ini, bacalah Alkitab setiap hari dan renungkanlah itu siang dan malam. Tuhan memberkati.
Tutsy Roll
Nats Alkitab:
Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita. (Efesus 3:20)
Suatu ketika, dalam peperangan melawan musuh, pasukan Amerika telah mulai kehabisan amunisi dan bila terus dalam keadaan itu mereka tidak dapat melawan musuh. Para pasukan juga telah menderita kelelahan karena kehabisan makanan. Namun, di garis depan melawan musuh, amunisilah yang utama diperlukan.
Sang komandan menghubungi pusat komando dan meminta agar dikirimkan “Tutsy Roll”, yang sebenarnya adalah sebuah kode yang berarti meminta pasokan amunisi dan persenjataan untuk pasukan.
Beberapa waktu kemudian, pesawat-pesawat terbang di atas mereka dan menjatuhkan “Tutsy Roll” yang diminta. Para pasukan mengambil dan membuka paket-paket “Tutsy Roll” tersebut namun setelah terbuka mereka semua kaget dan heran karena yang dikirimkan bukanlah amunisi dan persenjataan melainkan permen coklat Tutsy Roll. Bagaimana bisa pusat komando tidak memahami kode yang telah disepakati bersama itu?
Daripada mubazir, permen coklat itu dibagi-bagi kepada para pasukan, dan karena mereka juga memang lelah dan lapar, mereka memakan permen coklat itu dengan lahap hingga mereka memiliki energi baru bagi tubuh mereka. Dalam keadaan kenyang karena Tutsy Roll, mereka maju menyerang dan berhasil mengalahkan musuh.
Kisah diatas mempunyai makna yang mirip dengan perjalanan hidup kita dalam Tuhan. Kadangkala kita berdoa meminta sesuatu kepada Tuhan, tetapi yang Dia berikan berbeda dari yang kita minta. Sebenarnya perbedaan ini terjadi bukan karena Allah tidak mengerti permintaan kita, tetapi justru Allah maha mengetahui dan lebih mengerti apa yang kita butuhkan. Itu sebabnya, terkadang yang Tuhan berikan berbeda dari permohonan doa kita, berbeda dari harapan kita. Terkadang nampaknya Tuhan memberikan melampaui harapan kita, namun terkadang Tuhan memberikan tidak seperti yang kita harapkan, tapi jawabannya pasti jauh lebih banyak yang dari kita minta dan doakan. “Jauh lebih banyak” mengandung makna yang begitu dalam. Percayalah bahwa di dalam semua jawaban-Nya, ada maksud dan tujuan Allah yang baik dan sempurna bagi kita.
Bersyukurlah untuk setiap jawaban doa, bersyukurlah untuk setiap pemberian-Nya, karena semuanya itu pasti yang terbaik bagi kita. Amin.
Siap Sedia Selalu
Nats Alkitab:
Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan.
Tuhan memberikan berbagai karunia pelayanan dalam jemaat. Semua karunia tersebut haruslah dipakai untuk membangun diri sendiri dan jemaat. Pelayanan yang benar adalah pelayanan yang meninggikan dan memuliakan nama Tuhan serta membangun sesama.
Kita dapat melihat bagaimana karunia-karunia tersebut dipakai dalam kegiatan ibadah di gereja. Ada yang memimpin pujian, ada yang memberi kesaksian disertai perkataan hikmat, ada yang berkhotbah dengan pengajaran yang alkitabiah dan kuasa serta ada yang berdoa dengan penuh roh. Kesemuanya itu dipakai bersama untuk kemuliaan nama Tuhan.
Semasa kecil, saya sering mendengar adanya prinsip “5 Siap” di gereja yang berlaku untuk segenap pelayan dan jemaat Tuhan. “5 Siap” yang dimaksud adalah : Siap Berkhotbah, Siap Memimpin Pujian, Siap Bersaksi, Siap Berdoa dan yang terakhir adalah Siap Untuk Tidak Diberi Tugas.
Dari keseluruhan “5 Siap” ini, ada makna yang mendalam dari bagian siap yang terakhir. Banyak orang yang tidak mau ditunjuk untuk berdoa, bersaksi, memimpin pujian dan bahkan berkhotbah, karena tidak siap. Tapi ada juga orang-orang yang tidak siap untuk tidak diberi tugas pelayanan. Jadi, kalau tidak diberi tugas pelayanan maka akan merasa kesal atau kecewa.
Pernah ada kejadian dimana seorang pemain musik gereja marah kepada pemusik lainnya karena bukan dia yang diberi tugas bermain musik hari itu. Karena marah, ia menunjukkan sikap bermusuhan kepada pemain musik yang melayani. Hal ini janganlah terjadi dalam kehidupan pelayanan kita. Dari nats ayat di atas kita memahami bahwa semua pelayanan itu untuk memuliakan nama Tuhan, bukan diri sendiri.
Kita harus siap sedia melayani Tuhan dan juga siap untuk duduk mendengar. Seperti Maria yang mengambil bagian terbaik, ia duduk di dekat kaki Yesus dan mendengar firman-Nya. Marta memang melakukan hal yang baik, yaitu menyiapkan makanan, ia melayani, namun yang terbaik adalah berdiam diri di kaki Tuhan. (Lukas 10:38-42)
Bila kita tidak diberi tugas pelayanan di gereja atau di tempat pelayanan lainnya, maka ingatlah bahwa semua pelayanan itu untuk kemuliaan Tuhan dan ingatlah akan Maria yang telah memilih yang terbaik yakni berdiam dan mendengarkan firman Tuhan.
Penduduk Suriah Mencari Yesus
Nats Alkitab:
Kabar tentang Yesus itu tersebar di seluruh negeri Siria, sehingga banyak orang datang kepada-Nya. Mereka membawa orang-orang yang menderita segala macam penyakit dan kesusahan. Orang-orang yang kemasukan roh jahat, yang sakit ayan, dan yang lumpuh, semuanya disembuhkan oleh Yesus. (Matius 4:24)
Dalam pelayanan-Nya yang penuh mujizat, Tuhan Yesus selalu dicari orang yang datang dari berbagai tempat. Kehadiran Yesus mengandung arti yang sangat besar bagi setiap orang.
Dalam nats di atas, kita dapat membaca betapa kabar berita tentang Yesus mencapai ke seluruh negeri Siria dan orang-orang dari sana datang mencari Yesus lalu mereka membawa semua orang yang mengalami masalah baik itu sakit penyakit, kerasukan setan maupun yang mengalami kesusahan dan mereka semua disembuhkan Tuhan Yesus.
Sekarang ini daerah Siria atau Suriah sedang mengalami gejolak perang, yakni perang antara pemberontak dengan pemerintah, dan juga perang antara pemerintah dengan ISIS. Kekacauan yang terjadi di Suriah saat ini telah memberatkan kehidupan para penduduk sipil, orang lanjut usia, wanita dan anak-anak. Bahkan semakin kacau dengan kehadiran ISIS yang mengklaim sebagai sebuah negara baru.
Kita prihatin dengan keadaan Suriah saat ini, namun bila kita membaca nats di atas, kita mengerti bahwa dahulu Suriah pernah mengalami lawatan Tuhan. Maka hal itu tidak mustahil kembali terjadi saat ini.
Penduduk Suriah memerlukan Tuhan Yesus. Mereka sudah letih dan berbeban berat secara fisik, jiwa dan roh. Mereka perlu Tuhan Yesus.
Marilah kita berdoa agar terjadi lawatan Tuhan buat semua orang di Suriah, bahkan termasuk kelompok ISIS kita doakan agar mereka dilawat Tuhan dan Roh Kudus bekerja di dalam hati mereka sehingga mereka datang kepada Tuhan Yesus.
Berdoalah juga untuk Irak dan negara-negara di sekitarnya. Berdoalah untuk Timur Tengah agar lawatan Tuhan secara besar-besaran terjadi lagi sehingga terjadi bukan hanya gelombang kebangunan rohani yang besar tetapi tsunami kebangunan rohani di seluruh tanah Arab. Karena mereka juga dikasihi Tuhan.
Mari berdoa, berdoa dan berdoa untuk bangsa-bangsa di Timur Tengah!
Ibu Yang Rindu Anaknya
Nats Alkitab:
“Hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 19:19)
Seorang ibu yang baik akan memelihara dan menjaga anaknya sejak lahir hingga dewasa. Keterikatan antara ibu dengan anaknya akan sangat kuat karena pertama, anaknya itu adalah darah dagingnya sendiri dan kedua, karena jalinan batin yang bertumbuh semakin kuat dari sang ibu kepada anaknya. Hal ini menyebabkan seorang ibu akan selalu merasa anaknya masih harus dilayani meskipun sudah dewasa dan berkeluarga. Umumnya ibu mempunyai kerinduan untuk dekat dengan anaknya. Hal ini juga berlaku untuk sebagian besar ayah.
Suatu kali saya berkesempatan ikut pelayanan di sebuah panti werdha atau panti jompo. Selesai acara, saya melihat seorang ibu penghuni panti jompo itu yang berdiri dengan gelisah di dekat pintu masuk panti.
Saya sempat berbincang dengannya dan mendapat informasi dari petugas panti bahwa ibu ini beberapa kali mencoba untuk lari dari panti karena alasan ingin bertemu dengan anaknya.
Tidak seperti penghuni panti lainnya, ibu ini sebenarnya masih dapat dikatakan sehat karena dapat berjalan tanpa tongkat dan beraktivitas secara normal. Tapi mengapa anaknya memasukkan sang ibu ke panti werdha belum dapat diketahui penyebabnya. Padahal menitipkan ibunya ke panti perlu biaya cukup besar yang harus dibayarkan olehnya setiap bulan.
Namun, yang pasti, secara alamiah, seorang ibu pastilah ingin dekat dengan anaknya meskipun ia sudah sangat tua dan tidak dapat berjalan. Keinginan seorang ibu untuk dekat dengan anaknya seharusnya diresponi dengan sikap menghormati, melayani, dan mengasihi oleh anak kepada ibunya maupun ayahnya.
Sedari kecil kita sudah dibesarkan oleh ibu kita, dilayani dengan baik, dibesarkan dengan penuh pengorbanan, tanpa menuntut apa-apa, baiklah di masa tua mereka kita membalas kebaikan ibu kita dengan melayani dan mengasihinya. Kasih Kristus akan memampukan kita untuk melayani dan mengasihi orangtua kita di masa tua mereka. Jangan biarkan mereka sendirian dalam kesepian, namun berikanlah waktu dan perhatian kita buat mereka.
Hormatilah ayah dan ibu kita. Inilah perintah Tuhan untuk kita lakukan bagi mereka yang telah menyayangi kita. Amin.
Tahan Uji
Nats Alkitab:
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” (2 Timotius 4:7)
Pasukan Khusus SAS (Special Air Service) merupakan salah satu unit dari tentara Britania Raya, yang telah menjadi model populer bagi pasukan khusus berbagai negara di dunia. Hal ini disebabkan oleh kualitas dan ketahanan dari prajurit SAS yang begitu luar biasa dalam berbagai hal.
Dari seluruh kandidat yang melamar untuk bergabung, hanya 10% yang berhasil lolos, karena beratnya latihan dan tantangan yang harus ditempuh oleh setiap calon prajurit dalam proses perekrutan. Banyak dari calon prajurit yang mati pada saat proses seleksi karena beratnya ujian yang dihadapi.
Beberapa ujian yang harus ditempuh oleh seorang calon prajurit SAS diantaranya adalah uji ketahanan fisik, dimana mereka harus mampu bertahan di tengah cuaca dingin yang ekstrim. Selain itu, mereka harus menghadapi ujian bertahan hidup, ujian mental, ujian keberanian, ujian perang, ujian terjun ekstrim dan berbagai ujian sulit lainnya.
Salah satu hal yang menarik adalah ujian menghadapi ancaman. Jika mereka tertangkap oleh musuh, mereka tidak boleh membuka rahasia meskipun diancam untuk dibunuh dan mereka harus siap mati demi tugas.
Alkitab menyebut kita sebagai prajurit Kristus, dan dalam kehidupan ini, kita pun menghadapi berbagai ujian iman. Ada 5 macam ujian ketahanan iman yang Tuhan ijinkan bagi kita prajurit-Nya yaitu, ujian penderitaan, ujian ancaman, ujian kemustahilan, ujian godaan, dan ujian waktu.
Alkitab memberikan contoh teladan dari pribadi-pribadi yang layak kita ikuti. Ayub bertahan dalam iman meskipun menderita. Sadrakh, Mesakh dan Abednego bertahan dalam iman meskipun diancam dibakar hidup-hidup. Musa bertahan dalam iman meskipun begitu banyak kemustahilan dalam perjalanan memimpin bangsa Israel. Yusuf bertahan dalam iman meskipun godaan hawa nafsu begitu masif. Dan rasul Paulus bertahan dalam iman hingga akhir hayatnya, sehingga ia berkata: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”
Saudara yang dikasihi Tuhan, marilah kita menjadi prajurit Kristus yang memiliki iman sejati dalam menghadapi berbagai ujian hidup.
(Dari Renungan Harian Nilai Kehidupan, “Ujian Pasukan SAS”, oleh : Ps. Billy Tambahani)
