Nats Alkitab: Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap. (Mazmur 90:10)
Saya menjadi tenaga volunteer di sebuah rumah sakit militer sejak setahun lebih yang lalu. Meskipun sudah jarang kesana karena berbagai kesibukan, namun nama saya masih tercatat dan masih sering diundang dalam berbagai acara disana.
Saya ingat sebuah pembicaraan dengan seorang bapak yang sudah lanjut usianya, umurnya 92 tahun dan ia masih bisa berjalan walau tertatih-tatih. Ucapan yang keluar dari mulut ini, “Luar biasa, bapak sangat diberkati Tuhan dengan umur yang panjang”. Tapi, balasan dari sang bapak adalah,”Kamu ‘gak merasakan keadaan saya, kamu gak tau, makanya kamu bilang begitu.” Ia tersenyum kecil sambil raut wajahnya menyiratkan perasaannya yang terdalam. Baginya, umur panjang sampai 92 tahun bukanlah lagi sebuah kebanggaan, karena ia merasa susah dan berat untuk beraktifitas. Ia malah sudah ingin pergi dari dunia ini.
Ada satu hal yang sama-sama dialami oleh setiap orang di muka bumi ini: “Menjadi Tua”. Kita semua semakin menjadi tua di setiap detik yang berlalu dan itu tidak dapat berbalik.
Dunia ini bukanlah tempat permanen kita, melainkan hanya tempat sementara saja. Baiklah kita selalu menyadari akan hal itu dan ingat akan Tuhan. Mengucap syukurlah kepada-Nya akan kasih dan penyertaan-Nya di sepanjang jalan dan umur hidup kita.
Terima kasih Tuhan buat kasih dan kemurahanMu, berkatilah dan sertailah aku selalu agar kuat dalam iman di sepanjang umur hidupku.
Katak Yang Terkecoh
Nats Alkitab: Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut. (Amsal 16:25)
Sejumlah eksperimen telah dilakukan terhadap katak untuk melihat reaksinya terhadap suhu panas yang meningkat secara perlahan.
Seekor katak ditempatkan dalam sebuah wadah berisi air. Suhu air tersebut dinaikkan secara perlahan sebesar 0,0036 F per detik. Katak itu tidak bergerak, dan tidak melompat keluar wadah. Setelah 2,5 jam, katak tersebut mati.
Para peneliti merasa heran, mengapa sejumlah katak yang dipakai dalam eksperimen tidak melompat keluar wadah. Mereka pun menyimpulkan bahwa katak tersebut tidak menyadari perubahan suhu air yang semakin tinggi. Apabila katak langsung dimasukkan dalam wadah berisi air panas, maka katak itu segera melompat keluar, tapi tidak dengan air yang suhunya meningkat pelan-pelan.
Ada semacam analogi dari eksperimen ini dengan kehidupan orang berdosa. Mereka tidak menyadari hidupnya yang berdosa itu akan berujung pada maut. Ada orang yang menyangka jalannya lurus, padahal ujungnya menuju kepada maut. Maka, berhati-hatilah dan selalu koreksi diri kita, apakah gaya hidup kita melenceng dari kehendak Allah atau tidak.
Jangan sampai kita tidak sadar dan mati dalam dosa. Berserah dan pekalah selalu dengan suara dan pimpinan Roh Kudus.
Tuhan Yesus memberkati kita senantiasa.
Tuhan, tuntunlah aku dalam jalanMu, jangan biarkan hati dan hidupku menyimpang dari kehendakMu.
Keangkuhan Yang Ditundukkan
Bacaan Alkitab: Ibrani 12:5-8
Hwenty Widjaja adalah seorang dokter dengan karir yang sukses dan menjanjikan. Ia bekerja keras dan tidak kenal lelah demi masa depannya. Selain menjadi dokter, bisnis lain pun ia jalani. Satu hal yang ia tidak sadari saat itu adalah betapa angkuh dirinya dan bahwa ia sering merasa dirinya hebat dan paling benar.
Suatu kali, ia mengalami sakit di rahangnya dan setelah melalui pemeriksaan ternyata ada kista. Ia merasakan sakit dan lehernya tidak bisa tegak. Dari diagnosa MRI, diketahui bahwa dua ruas tulang belakangnya hilang. Dia pun harus menjalani operasi pemasangan pen dengan biaya yang cukup mahal.
Seharusnya, dalam dua atau tiga bulan setelah operasi, ia akan normal lagi, namun kenyataannya justru bertolak belakang dengan prediksi dokter yang menanganinya. Ia tidak bisa bangun dari tempat tidur dan harus berbaring berbulan-bulan.
Saat itulah, Hwenty merenungkan tentang kehidupannya dan menyadari bahwa tidak ada lagi yang bisa ia harapkan selain Tuhan. Apa yang selama ini ia andalkan, yaitu uang, kepandaian dan profesinya sebagai seorang dokter, obat-obatan, dan semua kehebatannya tidak dapat menolongnya. Ia sadar bahwa Tuhanlah yang ia perlukan dan satu-satunya yang dapat ia andalkan.
Di saat-saat sakit dan terbaring, ibunya datang dan menemaninya selalu setiap hari. Ia menyadari bahwa selama ini arogansinya telah membutakan mata hatinya terhadap kasih sayang seorang ibu.
Dalam penderitaannya, ia membaca sebuah ayat dalam Alkitab yang menguatkan hatinya, dalam Ibrani 12:5-8, “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.” Hwenty menangis dan berdoa memohon ampun dan pertolongan Tuhan. Ia bersyukur karena Tuhan mengasihi dan menegurnya melalui apa yang ia alami.
Jamahan Tuhan ia rasakan, dan kesehatannya berangsur-angsur pulih. Penyakitnya pun lenyap oleh kemurahan Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhanlah yang menyembuhkan dan memulihkan hidupnya.
Saudara yang terkasih, marilah kita selalu menyadari siapa diri kita. Jangan ada kesombongan dalam hati dan biarlah kita bermegah hanya di dalam Tuhan Yesus, bukan di dalam kepandaian, harta atau kehebatan kita.
Tuhan, Engkaulah yang menjadikanku. Aku ini milikMu, aku mau bermegah hanya karenaMu.
3 Makna Kisah Mujizat Air Menjadi Anggur
Kerinduan Tuhan Yang Sering Kita Abaikan
3 Hal Yang Harus Dilakukan Sebelum Mati
Untuk Apa Aku Hidup
Rendahkanlah Dirimu dan Hatimu
Tuhan memberikan peringatan kepada orang-orang yang hidup dalam dosa dan dalam kesombongan. Penghukuman atas dosa akan dijalankanNya atas mereka yang berbuat dosa. Janganlah kita lupa bahwa kita ini buatan tangan Tuhan, yang harus ingat dan takut akan Tuhan.
Bila kita ditegur olehNya, maka hendaklah kita merendahkan diri dengan hancur hati, bertobat kepadaNya. Sebab Ia mengasihi kita, maka Ia pun akan mengampuni dan memulihkan hidup kita, asalkan kita bersungguh-sungguh hidup benar dan kudus di hadapanNya. Jangan ada lagi noda dosa dalam perkataan kita, jangan ada pikiran yang serong dan tidak benar dalam benak kita, jangan lagi ada perbuatan jahat yang kita lakukan. Hiduplah benar seturut dengan kehendakNya. Maka Ia akan memberkati dan menyediakan upah sorgawi yakni keselamatan bagi kita dan akan memberkati hidup kita di bumi. Ia akan mengenyangkan kita dengan kebahagiaan dan memenuhi mulut kita dengan sukacita dan sorak sorai.
Rendahkanlah dirimu dan hatimu di hadapan Tuhan, sebab Ia ada bersama-sama dengan orang-orang yang rendah hati dan mau merendahkan diri. Ia ada bersama-sama dengan orang-orang yang remuk hati.
Jagalah hatimu agar selalu ingat kepadaNya!
Yesaya 57:15
“Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: “Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.”
Mendengar Suara Tuhan dan Menyampaikan SuaraNya
Nats Alkitab:
Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.(Yesaya 50:4)
Pernyataan Nabi Yesaya tentang pekerjaan Tuhan pada dirinya pribadi, bahwa Tuhan mempertajam pendengarannya setiap pagi sehingga ia dapat mendengar suara Tuhan. Dan Tuhan pun memberikan kepadanya lidah untuk berbicara menyampaikan apa yang ia dengar dari Tuhan.
Saudara pun semuanya dapat dipakai oleh Tuhan asalkan saudara menyediakan diri untuk dipakai-Nya. Sediakanlah waktu setiap pagi untuk membaca dan merenungkan firman-Nya. Saat pagi hari masuklah dalam hadiratNya dengan doa dan ucapan syukur. Berdiam dirilah dan dengarkan suaraNya berbicara dalam hatimu. Kesampingkan egomu dan hawa nafsumu, rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, mintalah Ia berbicara kepadamu, maka Roh-Nya akan berbicara dalam relung hatimu. Latihlah kepekaanmu dalam mendengar dan mengerti suaraNya.
Pakailah lidah dan mulutmu untuk berbicara menyampaikan suaraNya. Kuatkanlah orang orang yang kehilangan semangat dan letih lesu, bangkitkanlah mereka dengan ucapan firman Tuhan yang keluar dari bibirmu. Tegurlah yang salah dan bimbinglah yang lemah ke jalan yang benar.
Ajarkanlah kehendakNya kepada semua orang.
Itulah tugas saudara, tugas kita semua orang yang percaya. Kita semua adalah muridNya, yang terus belajar dan mempraktekkan firmanNya. Jadilah murid yang baik dan setia.
“Ajarlah aku Tuhan untuk peka dalam mendengar suaraMu. Berbicaralah kepadaku, berikanlah hikmatMu agar aku mengerti kehendak dan rencanaMu. Jadikanlah aku saksiMu untuk menyampaikan firmanMu. Pimpinlah aku ya TUHAN.”
