Bersukacitalah Dalam Keadaan Apapun

Bacaan Firman: Roma 12:12 ; Matius 13:44-46
Kerajaan Sorga itu diibaratkan seperti harta terpendam yang ditemukan oleh seseorang di sebuah ladang dan kemudian saking senangnya,ia menjual semua harta miliknya dan uang hasil penjualan digunakannya untuk membeli ladang itu. Bayangkanlah betapa besarnya sukacita orang tersebut yang rela menjual seluruh hartanya untuk memperoleh harta terpendam yang sangat berharga. Ini berarti bahwa harta yang dimilikinya selama ini, tidak sebanding nilainya dengan harta yang terpendam itu, sehingga ia lebih memilih harta yang terpendam di ladang dibandingkan harta miliknya sendiri.

Setiap orang yang sudah percaya Yesus, seharusnya hidup dalam sukacita, karena telah memiliki “harta terpendam” yang sangat berharga.Tapi sayangnya, banyak orang Kristen yang kehilangan sukacitanya setelah mengikuti Tuhan. Hal ini terjadi karena berbagai tantangan dan kesulitan hidup yang dihadapi, sehingga sukacita itu terenggut dari hati dan pikirannya, padahal sukacita yang kita miliki seharusnya tidak pernah hilang sebab apa? Inilah sebabnya:

1. Sukacita yang kita miliki berbeda dengan yang ada di dunia.
Orang dunia bersukacita karena keadaan baik atau suatu keberuntungan yang dia alami. Waktu keadaan susah, maka orang dunia tidak dapat bersukacita. Itu namanya sukacita semu. Tapi orang percaya memiliki sukacita yang tidak tergantung pada situasi, apakah itu suka atau duka, beruntung atau merugi, sukacitanya tidak dapat hilang. Jadi, sukacita kita tidak mengikuti perasaan emosi. Saat bersedih karena ada keluarga yang meninggal, hati kita bisa tetap dipenuhi sukacita, walau ada kesedihan.

2. Sukacita diberikan oleh Roh Kudus.
Ketika kita percaya pada Tuhan Yesus, maka kepada kita diberikan sukacita oleh Roh Kudus. Ingatlah bahwa sukacita itu sudah diberikan dengan sepenuhnya.  Tidak ada yang dapat mengambil sukacita kita. Hanya seringkali kita ditipudaya oleh iblis dan perasaan emosi kita sendiri.

Perhatikanlah bagaimana respon bangsa Israel ketika ada masalah yang mereka hadapi. Bukannya bersukacita, mereka malah bersungut-sungut. Bukan seperti ini yang Tuhan mau. Hati kita harus selalu bersukacita. Ada pengharapan yang pasti di dalam Tuhan.

Apapun masalah yang kita alami, Allah sanggup memberikan kekuatan dan jalan keluar bagi kita. Sudah seharusnya memang kita bersukacita karena ada pengharapan yang pasti dalam Tuhan.  Pernahkah anda melihat wajah orang yang tidak punya harapan? Begitu kusut dan muram tidak bercahaya. Namun, setiap orang percaya yang sungguh-sungguh sadar bahwa ada kerajaan sorga yang telah menjadi miliknya, dan bahwa ada harapan dalam Tuhan, pasti dan selalu akan dapat bersukacita.

Saya menyadari bahwa memang kadangkala Iblis mencoba merebut sukacita kita, namun kita harus menang atas setiap tipu daya Iblis. Bersukacitalah! Karena itu adalah perkara sorgawi. Dalam setiap persoalan yang kita hadapi, sabarlah! Mungkin persoalan itu tidak berlalu dengan cepat, tapi bersabarlah karena kita tahu bahwa ada Tuhan yang selalu bersama kita. Bersyukurlah dan berdoalah kepada Tuhan.

Panjatkanlah doa permohonan kepada Allah dengan tak jemu-jemu. Meskipun doamu kedengarannya sama setiap hari, yang dipinta itu-itu juga, lakukanlah, karena Tuhan Yesus sendiri mengajar kita untuk berdoa terus dengan tak henti-henti sampai permohonan kita dikabulkan oleh Tuhan.

Jadilah Pelaku Firman Tuhan:

1. Bila akhir-akhir ini saudara kehilangan sukacita, sadari bahwa sukacita kita sudah diberikan dengan penuh oleh Roh Kudus. Kita tinggal mengaktifkannya saja.
2. Jangan terpengaruh dengan situasi di sekelilingmu, jadilah orang yang bersukacita sejati setiap waktu.
3. Sabarlah dalam penderitaan, karena ada kemuliaan di balik itu, dan berdoalah senantiasa pada Tuhan Yesus.

Kemana Sesudah Mati?

ImageBagi saya, kalimat pendek itu cukup kasar didengar,dan yang lebih parah kalimat itu ditujukan kepada saya lebih kurang 31 tahun yang lalu. “Kamu kemana sesudah mati?” tanya seorang gadis yang sebaya dengan saya waktu itu. Terus terang saat itu saya agak tersinggung dan saya tidak menjawab karena saya memang tidak tahu harus menjawab apa. “Kamu percaya ada surga dan neraka?” tanyanya lagi. “Ya,” jawab saya pendek. “Kalau begitu, nanti kamu masuk mana?” dia bertanya itu lagi. “Tidak tahu,” akhirnya saya menjawab dengan bingung. “Kenapa kamu tidak tahu?” dia terus bertanya dengan tenang dan sambil tersenyum. 

Saat itu, saya betul-betul merasa terpojok, ingin lari dari tempat itu tetapi serasa ada sesuatu yang menahan untuk saya tetap tinggal (Kami berdua berada di dalam sebuah ruangan kecil yang memang sudah disiapkan khusus untuk  ruang konseling dalam sebuah KKR). Tidak tahu apa sebabnya, mungkin karena tidak tahu harus menjawab apa, tetapi tiba-tiba ada perasaan takut dalam hati lalu saya menangis. Singkat cerita, mulailah gadis itu menginjili saya. Dia berdoa dan membimbing saya untuk menerima Yesus sebagai juruselamat pribadi. Ayat yang dia berikan datang dari Yoh 3:16 yang berbunyi: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Sesudah berdoa, saya merasa lebih lega dan mulai mengerti lebih banyak akan pribadi Yesus. 

            Beberapa hari kemudian sesudah KKR itu, mulailah si iblis menggoda saya supaya saya mundur dari pengenalan akan Yesus, dengan menanamkan rasa “gengsi” dan “malu” bahwa saya sudah diinjili oleh gadis yang sebaya, bahkan sampai menangis di depan dia. Sungguh memalukan! Tanpa saya sadari, saya mulai menutup dan mengeraskan hati saya kembali untuk mengenal Dia lebih dalam. Saya mulai menjalani hari-hari saya seperti ketika saya belum bertobat. 

            Tetapi Tuhan Yesus memang baik. Dia tidak mau saya kembali kepada cara hidup  saya yang lama. Ada rasa gelisah dan ketidaknyamanan dalam hari-hari yang saya lalui kemudian. Saya bergelut dengan perasaan “gengsi” dan “malu” itu. Jujur saya, saya merasa lelah juga dengan perang perasaan seperti itu. 

            Akhirnya, saya tidak kuat lagi. Pertahanan saya runtuh. Saya kalah, saya menyerah dan saya mulai membuka hati saya kembali untuk Yesus sepenuhnya. Perasaan “gengsi” dan “malu” sebelumnya berubah menjadi rasa syukur dan terima kasih. Ayat dalam Mat 11:28 “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” sungguh-sungguh terasa dalam diri saya. 

            Terpujilah Tuhan Yesus yang begitu mengasihi, yang telah membawa saya kepada terangNya yang ajaib dan memberi saya pengertian baru akan arti keselamatan. 

                        Penuh Kasih Dia Mengajar
                        Panjang Sabar Dia Menanti
                        Satu Jiwa Begitu Berarti
                        Untuk Menerima Keselamatan DaripadaNya

 (Kesaksian dari “SL”)

Anak Kecil Yang Menginjil

about-jesus-640-360Seorang anak laki-laki berumur 14 tahun yang bersekolah dalam sebuah sekolah Misi, pergi berkunjung kepada beberapa temannya.  Dalam perjalanan kunjungannya itu, ia pergi melihat sebuah klenteng.  Hari itu sudah sore, dan ia mendapati seorang yang sudah lanjut usianya sedang berjalan di antara berhala-berhala yang berada di situ, sambil berjalan, berdoa dan mempersembahkan kemenyan.

Hati anak itu tergerak dengan rasa kasihan karena apa yang dilihatnya dan air matanya pun mengalir di pipinya.  Akhirnya, anak itu pergi dan menemui orang tua itu, lalu berkata, “Apakah tuan tidak tersinggung jikalau seorang anak seperti saya ini berb icara kepada tuan?  Saya masih muda, sedangkan tuan sudah tua.”
Orang tua itu tidak tersinggung, dan setelah berbincang-bincang, anak itu pun menceritakan mengenai Allah dan kasihnya yang besar kepada manusia.  Hati orang tua itu terjamah sementara ia mendengar cerita anak itu.  “Nak,” katanya, “Hal seperti itu belum pernah saya mendengarnya.”  Orangtua itu pun membawa anak itu ke rumahnya, lalu meminta agar anak itu menceritakan kepada istrinya tentang cerita yang ajaib itu.
Akhirnya kedua orang tua itu pun dipimpin kepada Tuhan Yesus sang Juruselamat sebelum mereka menemui seorang pengabar Injil.
“The Quiver”

Cara Masuk Surga

Pengkotbah 3:1-2a mengatakan : “untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk
meninggal.”
Manusia tidak berkuasa mengatur kapan ia lahir dan kapan pula ia akan meninggal, sebab itu berada di luar kekuasaannya.
Tuhanlah yang menetapkan hari-hari umur hidup kita di bumi ini. Ia yang menetapkan semuanya, sehingga semuanya ada di bawah kuasaNya.
Di hidup kita ada suka dan ada juga duka, namun di dalamnya Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi Dia.
Pengkotbah 3:11 berkata: “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”
Banyak hal yang kita tidak mengerti dan masih menjadi misteri serta pertanyaan dalam hati, namun ketahuilah bahwa Allah membuat semuanya indah pada waktunya.
Hidup manusia di bumi begitu singkat. Firman Tuhan dalam Mazmur 103:15-18:
“Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang, demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi. Tetapi kasih setia Tuhan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilanNya bagi anak cucu, bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk
melakukan titahNya.”
Firman Tuhan dalam Yakobus 4:14 : “Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.”
Dalam kedalaman hati setiap manusia ada suatu kerinduan dan keinginan untuk selalu hidup. Sesungguhnya tidak ada satupun manusia yang ingin mati, bahkan Allah sendiri menginginkan agar semua
orang hidup untuk seterusnya dan selamanya. Namun, dosa telah menyebabkan setiap manusia menerima penghukuman atas dosa yaitu kematian.
Ada kabar baik buat kita: Hidup kekal Ia anugerahkan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Firman Tuhan dalam Yohanes 3:16 :”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya, tidak binasa melainkan
memperoleh hidup yang kekal.”
Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama sama dengan Allah. Segala sesuatu
dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.  Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.
Dialah Yesus sang Firman yang adalah Allah sendiri, yang telah mengosongkan dirinya dan menjadi sama seperti manusia, dan dengan rela menderita pikul salib dan mati sebagai ganti penghukuman dosa kita, karena sesungguhnya dosa kitalah yang dipikulnya, dan penyakit kitalah yang ditanggungnya, semua kutuk kitalah yang
dibebankan padaNya, agar kita merdeka dan menjadi anak-anak Allah yang hidup.
Tuhan Yesus Kristus berkata: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati. Dan setiap orang yang percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya.”
Maukah saudara masuk surga? Jalannya hanya satu, yaitu melalui Yesus Kristus Tuhan.  Jangan tunggu esok karena esok belum tentu engkau masih ada di dunia ini. Jangan tunda apa yang bisa engkau lakukan hari ini, saat ini.  Percayalah kepada Tuhan Yesus dan berdoalah dengan ucapan sungguh-sungguh demikian :
Tuhan Yesus, aku percaya Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat manusia. Ampunilah dosaku dan masuklah dalam hatiku, serta pimpinlah langkahku dalam kuasa Roh Kudus-Mu.
Amin.
Selamat, anda sekarang adalah ciptaan baru, telah menjadi ahli waris kerajaan Sorga.
Tuhan memberkati saudara senantiasa.

Jangan Putus Asa

Dalam Alkitab terdapat kata-kata “putus asa” baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Kata ini muncul pertama kali dalam kitab kedua dari Pentateukh (5 kitab Musa yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan) yaitu kitab Keluaran.
Menarik sekali untuk direnungkan, sebab justru dalam peristiwa pembebasan terjadi keputusasaan. Tentu ada sebab dan latar belakangnya yang harus kita ketahui dan pelajari.
Apabila kita merenungkannya, maka dapatlah kita simpulkan bahwa sejak semula manusia begitu rentan dengan keputusasaan, terutama ketika menghadapi beban dan cobaan yang berat.
Keputusasaan akan membelenggu orang yang mengalaminya dan menahan orang tersebut untuk mengambil tindakan iman untuk melangkah dalam sukacita.  Itulah sebabnya, Firman Tuhan mengajar
kita untuk tidak berputus asa, karena masih ada harapan di dalam Tuhan.
Dalam Kitab Keluaran 6:9 tertulis demikian: “Lalu Musa mengatakan demikian kepada orang Israel, tetapi mereka tidak mendengarkan Musa karena mereka putus asa dan karena perbudakan yang berat itu.
Marilah kita Perhatikan ayat yang baru saja kita baca. Musa membawakan sebuah harapan kepada bangsa Israel yang tertindas, Musa tidak memberikan harapan palsu, sebab apa yang disampaikannya adalah perintah dari Allah sendiri.
Bila kita membaca ayat-ayat sebelumnya, maka kita akan mengetahui bahwa apa yang disampaikan Musa adalah janji pembebasan Allah atas umat Israel yang
sedang tertindas akibat perbudakan di Mesir. Musa menyampaikan firman Tuhan.
Namun apa respon bangsa Israel? Mereka TIDAK MENDENGARKAN. Luar biasa sekali penolakan mereka kepada janji Allah dengan tidak mendengarkan suara firman Tuhan.
Saudara yang dikasihi Tuhan, respon kita terhadap firman Tuhan akan menentukan bagaimana keadaan kita di masa depan.  Tuhan dapat melakukan pembebasan
atas umat Israel dengan kuasaNya sendiri, tanpa jerih lelah bangsa Israel, namun Tuhan melihat respon mereka.  Tuhan mau kita meresponi janji firmanNya dengan iman yang kuat dan sepenuh hati.
Bangsa Israel tidak mendengarkan firman Tuhan karena dua hal yaitu: “Putus Asa dan Perbudakan yang berat.”
Saudara yang dikasihi Tuhan, saudara bisa saja mengalami “perbudakan-perbudakan jaman ini”, yaitu hal-hal yang membuat saudara merasa terbelenggu
dan tertindas, masalah hidup sehari-hari yang membuatmu lelah, tapi janganlah putus asa.
Orang yang menang adalah orang yang tidak pernah putus asa meskipun menderita berbagai beban pergumulan yang berat. Penderitaan berat boleh saja
ada, tapi putus asa jangan!
“Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali.” (Amsal 24:16)
Apa artinya itu bagi kita? Artinya adalah masih ada harapan dalam hidup ini, karena janji firman Tuhan akan
pertolongan dan penyertaan serta kuasaNya yang ajaib yang bekerja di dalam hidup kita.
Ketika saudara mendengarkan seorang hamba Tuhan menyampaikan firman Tuhan, bagaimanakah respon saudara? Apakah engkau tidak mendengarkan? Mungkin saudara sedang mengalami
putus asa.  Apakah saudara selalu sinis terhadap firman Tuhan? cobalah periksa hati saudara, sebab itu tanda-tanda keputusasaan.
Jangan batasi kuasa Tuhan dengan pemikiran kita yang sempit. Logika kita seringkali mengecilkan kuasa kerja Allah yang ajaib. Walaupun beban itu masih ada, jangan pernah putus asa, dan jangan berhenti berharap, jangan kehilangan iman karena orang benar akan hidup oleh
iman dan oleh firmanNya engkau akan hidup.
“Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.” (Ibrani 12:3)
Tuhan Yesus memberkati saudara!

Yang Nyata Walau Tak Kelihatan

Image
Di sebuah tembok sel salah satu penjara di Eropa terdapat sebuah tulisan yang ditulis oleh seseorang yang pernah mendekam disitu:
“Aku percaya adanya matahari meskipun ia tidak menyinariku.
  Aku percaya adanya kasih meskipun aku tidak merasakannya.
  Aku percaya adanya Allah meskipun Ia berdiam diri.”
Saudara yang dikasihi Tuhan,
Apa yang tidak engkau lihat dengan matamu, bukan berarti bahwa hal itu tidak ada.
Apa yang engkau tidak rasakan, bukan pula berarti bahwa itu tidak nyata.
Apa yang nampaknya sunyi, justru disitulah sedang terjadi pekerjaan besar.
Tuhan Yesus berkata:”Berbahagialah mereka yang tidak melihat, tetapi percaya.”
Orang benar hidup oleh iman dan percayanya.
Iman berjalan tanpa dipengaruhi oleh yang kelihatan.  Tetapi apa yang tidak kelihatan, yaitu kekuatan dan kuasa-Nya yang turut bekerja di dalam kita.
Bila hari-harimu terasa sulit dan berat, percayalah masih ada harapan.
Bila engkau merasa sendirian, ketahuilah bahwa di sekelilingmu ada begitu banyak saksi sorgawi.
Tuhan berkata: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau, dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”
Hiduplah oleh iman, sebab Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. (Ibrani 11:1)

Berhasil Keluar dari Mesir, Tetapi Gagal Masuk Tanah Perjanjian

ImageTahukah saudara?
Dari seluruh umat Bangsa Israel yang keluar dari perbudakan Mesir selama kurang lebih 430 tahun, hanya 2 orang saja yang berhasil masuk ke tanah yang dijanjikan Allah?
Diperkirakan ada kurang lebih 2 juta orang Israel yang keluar dari Mesir, namun hanya 2 orang yaitu Yosua dan Kaleb yang berhasil masuk ke tanah Kanaan, tanah perjanjian itu.  Bahkan Musa pun, nabi yang dipilih Tuhan untuk memimpin bangsa Israel, tidak bisa masuk ke sana.  Dia hanya dapat melihatnya dari jauh.
Lalu, siapakah orang-orang yang masuk ke tanah Kanaan, bersama dengan Yosua dan Kaleb?
Mereka adalah keturunan yang dilahirkan oleh orang-orang Israel di padang gurun.
Mengapa mereka gagal masuk? Penyebabnya adalah (1 Korintus 10:6-10):
1.  Menginginkan yang jahat
2.  Menyembah berhala
3.  Melakukan percabulan
4.  Mencobai Tuhan
5.  Bersungut-sungut
Akibat dari sikap mereka yang jahat, murka dan hukuman Allah menimpa dan membinasakan mereka.
Mereka mati bukan karena sudah tua atau lanjut usia, tetapi karena penghukuman Allah akibat kejahatan mereka.
Biarlah kita menjadi orang-orang yang berhasil keluar dari perbudakan dosa, dan berhasil masuk ke tanah perjanjian yang kekal yaitu surga yang mulia. Tuhan Yesus sudah menebus kita dan memimpin kita ke jalan kehidupan yang menuju surga, Yerusalem baru. Lakukanlah yang baik dan setialah kepada Tuhan Yesus.

Memulai Dengan Doa

image
 
Tuhan Yesus berkata: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Markus 14:38)
Beberapa hal penting dari ayat ini adalah:
1. roh penurut, tetapi daging lemah.
Sifat kedagingan manusia cenderung ingin memuaskan hawa nafsunya. Itulah sebabnya, kita harus hidup dalam roh bukan dalam daging.  Yaitu hidup menuruti keinginan roh dan bukan menuruti keinginan daging.
2. Karena kecenderungan kedagingan yang lemah, maka manusia dapat jatuh ke dalam pencobaan.
Jatuh dalam pencobaan hanya ada satu penyebabnya: karena hidup menuruti hawa nafsu dan keinginan daging.
Kita harus membenci dosa dan menjauhkan diri dari dosa.  Sikap kompromi terhadap dosa akan membuka celah bagi kita untuk jatuh dalam dosa.
3. Agar tidak jatuh dalam pencobaan, kita harus berjaga-jaga dan berdoa.
Tidak ada cara lain untuk terhindar dari kejatuhan dalam pencobaan, selain berjaga-jaga dan berdoa kepada Tuhan.

Mengatasi Kemiskinan – Gereja Yang Melakukan Misi

Image
Kemiskinan di dunia masih begitu tinggi.  Lalu apa dan bagaimana peran gereja Tuhan?
Peran gereja sebagai bagian dari Kerajaan Tuhan dalam karya-Nya adalah menanamkan pengajaran, manfaat, fungsi bagi anggota jemaat serta masyarakat sekitarnya. Gereja dan orang Kristen, baik ke dalam dan keluar selalu menghadapi orang-orang miskin, baik secara jasmani dan rohaninya yang miskin, tidak mengenal Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan penyelamatnya. Pandangan gereja harus seimbang terhadap segala hal, termasuk melihat kemakmuran dan melihat kemiskinan, keduanya tidak dapat dipisahkan. Semua masyarakat, semua negara menghadapi keduanya. Untuk menjadi kaya semua tidak mungkin, untuk menjadi miskin semua juga tidak mungkin, karena dipengaruhi oleh banyak faktor, dari faktor pribadi orangnya sampai pada kehendak Tuhan.
Adapun secara umum penyebab kemiskinan diantaranya:

  1. Kemalasan.

  2. Kebodohan dan pemborosan.

  3. Bencana alam.

  4. Kejahatan, misalnya dirampok

  5. Genetik dan dikehendaki Tuhan, baik genetik orang tua, tempat lahir, keadaan orang tua yang miskin, misalnya orang lahir di daerah minus, telah berusaha supaya rohaninya baik, setia, dsb, namun disebabkan faktor genetiknya, maka orang tersebut menegaskan ini kehendak Tuhan. Solusinya diperlukan keseimbangan yang kaya terhadap si miskin, daerah perkotaan terhadap pedesaan atau terpencil, artinya memerlukan empati dari banyak orang kaya untuk berperan mengatasi kemiskinan, sedangkan kemiskinan hanya dapat ditekan, namun sulit mengusahakan agar tidak ada orang yang miskin, sebabnya banyak sekali, antara lain: jumlah penduduk yang besar, pengangguran yang banyak, tingkat pendidikan yang rendah, kebodohan, persaingan hidup dalam meraih kekayaan yang semakin kuat, yang mengakibatkan timbulnya kalangan miskin di tengah masyarakat dan negara.

Peran gereja dan masyarakat Kristen adalah memberi solusi mengatasi kemiskinan, sifatnya menekan, mengurangi jumlahnya, supaya jangan semakin membesar, ini memerlukan pendidikan, ketrampilan, uluran tangan si kaya untuk modalitasnya, membuka lapangan kerja, memberikan pelatihan ketrampilan untuk mendapatkan uang. Di tengah masyarakat, problem kemiskinan didapati disemua daerah dan karena kesulitan akibat tingginya harga berbagai kebutuhan dan rendahnya pendapatan masyarakat, maka kemiskinan seperti lingkaran setan, sulit diatasi, namun dapat dikurangi, dan menanamkan sikap rajin, tekun, ulet, trampil, mau kerja keras, dan jangan lupa iman kepada Tuhan.

Jangka Pendek dan Panjang

Kita sebagai anggota gereja haruslah melihat langkah jangka pendek dari jangka panjangnya, jangka panjang adalah mengurangi kemiskinan, namun jangka pendek di mana kita melihat kemiskinan di depan mata kita, lalu apa peran gereja atau orang Kristen terhadap kemiskinan? Apakah hanya simpati, atau hanya menonton, baik di depan mata juga lewat media? Gereja dan orang Kristen harus berperan aktif dalam menekan angka kemiskinan, memberikan ketrampilan, menyekolahkan, memberikan modal usaha, memberikan pekerjaan, dsb.

Jangka pendeknya seperti dalam 2 Korintus 8:14 kelebihanmu mencukupkan kekurangan mereka, artinya orang miskin, kekurangan selalu ada di sepanjang zaman, yang dibutuhkan adalah uluran tangan dalam jangka pendek untuk meringankan beban si miskin. Dan bila gereja dan orang Kristen “cancut tali wondo” disemua daerah mau bangkit dan membangun jembatan kaya – miskin, maka peran gereja semakin kuat dan masyarakat akan melihat empati gereja atau orang Kristen dan oleh kuasa-Nya jalur ini akan dapat dipakai-Nya untuk penginjilan, sehingga dapat memenangkan banyak jiwa baru, mereka percaya kepada Tuhan Yesus dan hidupnya diubahkan menjadi semakin baik.

Pandangan-Pandangan Alkitab Pada Kemiskinan

  1. Patahkan Titik Kelemahan

    Kekuatan diri dikembangkan, namun titik-titik kelemahan dihancurkan, kelemahan itu misalnya, malas, sembrono, ceroboh, tidak terampil, kurang pendidikan dll. Soal malas dapat dilihat dalam Amsal 6:6-11, kemalasan mengakibatkan kemiskinan, namun ini hanya salah satu sebab. Masih ada lagi penyebab kemiskinan yang lainnya, misalnya: boros, tidak terampil, kejahatan, genetik dan kehendak-Nya dll. Namun yang penting mari kita cari solusinya, khususnya Hamba Tuhan bisa terampil mengkonseling jemaatnya, mencari penyebab kemiskinan serta mencarikan jalan keluarnya, sehingga dapat menekan kemiskinan, meningkatkan taraf hidup dan penghasilan jemaat semakin bertambah naik.

  2. Perwujudan Tuhan Yesus

    Di dalam Matius 25:34-40 maka kita diperhadapkan kepada empati untuk yang lapar, haus, telanjang, sakit, orang asing, dan orang terpenjara. Artinya orang miskin selalu ada di depan kita di manapun juga kita hidup, tetapi masalahnya, bagaimana empati kita? Saat kita manghadapi seperti di dalam Matius 25:34-40? Kita tutup mata, lipat tangan atau kita segera ambil bagian untuk melakukan perintah Tuhan ini, dan gereja atau orang Kristen telah bertahun-tahun diajar Matius 25:34-40 ini, namun seberapa jauh kita taat atas perintah Firman Tuhan ini? Begitu banyak orang Kristen yang cukup dan yang kaya, namun seberapa banyak mereka ambil bagian dalam ketaatan (Matius 25:34-40)?

  3. Kunci Mengalami Kelimpahan

    Banyak pengkhotbah mengkhotbahkan bagaimana menemukan kunci sukses, namun terlalu sedikit yang mengkhotbahkan Amsal 11:25 yang menyatakan siapa banyak memberi akan diberi kelimpahan. Firman Allah ya dan amin. Banyak memberi ada dua penafsiran, Pertama, diartikan memberi dengan nilai besar, misalnya Rp 10 juta dll, sampai milyaran. Kedua, banyak diartikan berulang-ulang memberi sehingga jumlahnya banyak, banyak dalam makna perkalian, meski nilainya kecil atau tidak besar seperti pada yang pertama. Adanya orang miskin sesungguhnya supaya ada kesempatan bagi banyak orang percaya mengalami kelimpahan dari Tuhan dengan mau memberi banyak, banyak memberi. Amsal 11:25 juga untuk membangun jembatan kaya dan miskin, perkotaan dan pedesaan, pedalaman. Sebab secara umum perkotaan memang beda secara materi dengan pedesaan dan pedalaman. Di pedesaan dan pedalaman ada banyak faktor penyebab kemiskinan, misalnya: pendidikan, kurangnya ketrampilan, transportasi sulit, lapangan pekerjaan sangat sedikit, lahan pertanian sudah tandus, hutan sudah gundul, bencana alam banjir dll. Sehingga masyarakat perkotaan yang berkecukupan selayaknya mengulurkan tangan untuk mencukupkan kesulitan masyarakat miskin.

  4. Menjadi Penanggung Sesama

    Makna ini di dalam Kekristenan memiliki fungsi yang mendalam, yaitu fungsinya menolong sesamanya, bahkan dalam Hukum Kasih di dalam Matius 22:37-40 bagaimana wujud mengasihi sesamanya itu? Apa cukup hanya diucapkan saja? Pastilah tidak, wujudnya ialah menanggung sesamanya dalam kesulitan mereka. Amsal 6:1 menjadi penanggung sesamanya. Lihatlah sekitar kepada yang kesulitan:

    1. Mungkin ada orang butuh modal yang tidak terlalu besar, dan Anda sesungguhnya dapat menolongnya, kerjakan itu …

    2. Mungkin ada orang yang sakit tidak punya uang untuk berobat, dan Anda sesungguhnya dapat menolongnya.

    3. Anda kelebihan sembako dan ada banyak orang tidak dapat makan, mengapa tidak membagi sembako Anda? Begitu banyak masyarakat terkena busung lapar, mengapa? Padahal begitu banyak orang kaya, bahkan hidup dalam dugem (dunia gemerlap), mobil mewah, mobil lebih dari satu.

Kesimpulan dan Penutup

Marilah komunitas gereja atau orang Kristen semakin berempati kepada kemiskinan, menurunkan kemiskinan, berpartisipasi aktif dalam mengulurkan tangan membantu si miskin. Tuhan Memberkati. Amin.

Diambil dari:
Gema Kalvari, Edisi 67, Mei-Juni 2006, Sumadi Adikusuma, hal. 3-7.

Peduli Pada Yang Miskin dan Menderita

Image

Mengapa di dunia ini ada kemiskinan? Apa respons anak-anak Tuhan terhadap orang-orang yang miskin?
Tuhan Yesus sendiri berkata: “Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu,…” (Yohanes 12:8a), tentu menjadi perhatian dan pertanyaan kita mengapa ini bisa terjadi dan mengapa Allah membiarkannya? Bukankah Tuhan memelihara setiap ciptaan-Nya?
Kita tidak perlu mempersalahkan orang-orang yang miskin, oleh karena mempersalahkan mereka tidak akan membantu sama sekali.  Tetapi berusaha bersimpati dan berempati terhadap pergumulan serta penderitaan mereka haruslah menjadi yang utama.
Allah adalah pemelihara ciptaan-Nya.  Dia yang menciptakan semua dan Dia juga yang bertanggungjawab atas kelangsungan hidup ciptaan-Nya, terlebih lagi manusia yang dibuat-Nya serupa dan segambar dengan-Nya.
Lalu mengapa ada kemiskinan? salah satu sebabnya adalah mereka ada untuk menguji semua orang, orang kaya dan miskin di sekitar mereka, apakah kepedulian masih ada atau tidak? sebab tanpa kasih tidak mungkin ada kepedulian, tanpa kepedulian tidak mungkin ada tangan yang terulur.
Tuhan Yesus berkata bahwa Ia memberikan kabar baik kepada orang-orang miskin.  Kata miskin yang digunakan dalam perkataan tersebut bermakna miskin sebenarnya yaitu miskin materi. Dengan demikian, Tuhan Yesus menunjukkan dengan nyata bagaimana ia sangat mengasihi orang-orang yang miskin dan peduli dengan penderitaan mereka.
Orang-orang Kristen di dunia, tidak semuanya hidup dalam kecukupan pangan, sandang dan papan.  Masih banyak yang hidup kekurangan makanan, pakaian dan tidak punya tempat tinggal.  Kebutuhan-kebutuhan hidup yang semakin membesar jumlahnya, membuat mereka sulit bahkan untuk hidup dengan sangat sederhana.
Menjadi orang percaya kepada Tuhan Yesus, bukan saja ditunjukkan dengan suara pujian lagu melalui mulut kita, tetapi juga melalui uluran tangan kasih kita kepada mereka yang miskin dan menderita.  Lihatlah sekeliling, ada begitu banyak orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita.  Sebagaimana Abraham diberkati untuk memberkati, maka kita yang percaya Tuhan Yesus pun demikian, karena itulah panggilan kita, yaitu supaya kita menjadi berkat.
Yakobus 2:15-17:
“Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.”
“Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki.” Amsal 28:27 
“Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.” Amsal 11:25