About Us

Tuhan memanggil kita untuk menjadi alat di tangan-Nya. Ia berkata bahwa tuaian banyak namun pekerja sedikit. Suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" (Yes.6:8), itulah respon nabi Yesaya ketika ia diperhadapkan dengan suatu pertanyaan panggilan dari Allah.

Tahun 1995, Tuhan memanggil saya untuk melayani Dia dalam ladang pelayanan penginjilan. Saat itu, saya masih kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung. Seorang malaikat datang kepada saya dalam mimpi yang seperti nyata. Malaikat itu tinggi besar, sehingga saya takut, namun Ia berkata agar jangan takut. Seketika kemudian saya melihat seperti sebuah slide video terlihat didepan mata saya, ada banyak jiwa-jiwa yang butuh keselamatan.
Malaikat itu kemudian memberikan suatu tugas untuk saya memberitakan Injil. Tapi saya meragukan diri saya. Saya beralasan saya tidak berani, saya takut, saya tidak pandai bicara, apa yang harus saya sampaikan. Ia mengatakan bahwa nanti Tuhan yang akan memampukan saya berbicara.
Saya terus menolak dan bernegosiasi dengan malaikat itu, sampai akhirnya malaikat itu mengatakan bahwa Dia harus pergi karena hari sudah pagi. Ia langsung berjalan dengan cepat dari kamar saya, dan saya mengejarnya. Pintu-pintu seperti tidak terkunci bagi Dia. Ketika malaikat itu membuka pintu di garasi, saya memegang jumbai jubahNya dan menahan agar Ia tidak pergi. Malaikat itu menoleh dan berkata:"Baca Yesaya 45:2!". Mendengar itu, saya melepaskan pegangan saya dan membiarkan-Nya pergi.
Saat itu juga saya terbangun dan saya cepat-cepat melihat dari jendela depan, yang pertama benar, hari sudah mulai pagi, saya melihat jam saat itu kurang lebih jam 5 pagi. Lalu saya ambil Alkitab, dan membuka Yesaya 45:2 yang berkata:
"Aku sendiri hendak berjalan di depanmu dan hendak meratakan gunung-gunung, hendak memecahkan pintu-pintu tembaga dan hendak mematahkan palang-palang besi."
Waktu itu, ayat ini belum pernah saya dengar dan baca, sehingga saya merasa heran dan takjub dengan ayat itu. Pengalaman ini saya ceritakan ke beberapa orang dan saya terus simpan dalam hati.
Selesai kuliah, di tahun 1999, saya menikah dan kemudian berwiraswasta, dan meskipun aktif pelayanan di gereja, suara panggilan Tuhan dalam mimpi itu terus menerus mengetuk pintu hati saya, dan membuat saya tidak tenang.
Selama 10 tahun lebih saya mengalami jatuh bangun dan pergumulan dalam usaha serta kesehatan yang terganggu. Akhirnya saya berkeputusan untuk mengikuti panggilan Tuhan. Satu hal yang paling saya takutkan adalah mati tanpa melakukan panggilan-Nya dalam hidup saya. Kalau seperti itu, maka saya adalah orang yang sangat malang, tidak setia dan tidak dapat dipercaya.
Tahun 2005, saya putuskan masuk Sekolah Teologi di Bandung. Itupun masih merupakan pergumulan, karena masalah keuangan dan godaan untuk terus bekerja di luar panggilan Tuhan, sangat sering membuat saya goyah untuk menyelesaikan sekolah teologi.
Tahun 2010, saya berhenti dari pekerjaan dan ternyata itulah kehendak Tuhan agar saya menyelesaikan S2 teologi saya dan kemudian masuk dalam pelayanan. Tuhan menyatakan pemeliharaan-Nya dan menunjukkan bahwa Ia bertanggung jawab atas para hamba-Nya.
Saya teringat sebuah ayat : "Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya" (2 Timotius 2:4).
Terus terang, saya kuatir dengan masalah penghidupan, apa yang harus saya makan nanti, bagaimana menghidupi keluarga saya, istri dan anak saya yang 3 orang? Tapi, ayat itu muncul dan meneguhkan saya untuk masuk dalam panggilan Tuhan dan menyelesaikan tanggung jawab saya di dunia ini sebagai seorang penginjil.
Saudara dan saya adalah mitra kerja Allah bagi penyelamatan jiwa-jiwa suku-suku bangsa yang ada di dunia ini.
Tuhan Yesus berkata:
"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yoh. 14:6)
Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. (Yoh. 3:18)
Setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, memiliki hidup yang kekal dan diberi-Nya kuasa untuk menjadi anak-anak Allah, ahli waris kerajaan Sorga.
Seperti respon nabi Yesaya terhadap panggilan Tuhan, maka saya pun bersedia: "Tuhan, ini aku, utuslah aku, jadikan aku alat-Mu untuk membawa kemuliaan-Mu di muka bumi ini."

Dalam kasih-Nya,

Pdt. Billy K. Tambahani, MA.
(SuaraInjil.com / Diakonia Internasional)

LAYANAN DOA DAN KONSELING:
sms. 08986886701
hp. 082117910033
email: suarainjil@ymail.com