Berani Menegakkan Kebenaran

truth-combined-copySelamat pagi saudara yang dikasihi Tuhan, hari ini kita akan belajar tentang hidup yang menegakkan kebenaran Allah.
Hidup yang menegakkan kebenaran Allah adalah hidup yang dilandasi pada kebenaran firman Allah dan berbuahkan kebenaran. Tidak ada rasa takut kepada manusia kecuali kepada Tuhan sang pencipta, dalam menegakkan kebenaran.
Beberapa hari ini kita mendengar informasi berita mengenai ditangkapnya wakil ketua KPK oleh Polri. Banyak sekali isu yang beredar tentang pelemahan KPK dan diperalatnya POLRI oleh pemerintah. Kedua institusi ini, KPK dan Polri, adalah sama-sama dua institusi penegak hukum. Sebagai penegak hukum mereka tentunya harus menegakkan kebenaran dan keadilan. Akan tetapi, mengapa kedua institusi ini tidak bisa akur satu samane lain? Oknum-oknum bisa saja salah dan harus dihukum, namun lembaga-lembaga ini tidak boleh menjadi mandul dalam menegakkan hukum yang benar dan tidak boleh bertengkar satu sama lain.
Ibarat kendaraan transportasi bus yang melaju di jalan raya, janganlah saling mendahului sesama bus. Kedua lembaga ini harus berjalan bersama untuk menegakkan kebenaran dan keadilan di Indonesia, dan tidak boleh diperalat oleh siapapun untuk melakukan sesuatu hanya demi kepentingan sekelompok orang tertentu.
Dalam kitab Yesaya 32:1 tertulis ayat: “Sesungguhnya, seorang raja akan memerintah menurut kebenaran, dan pemimpin-pemimpin akan memimpin menurut keadilan,” Ini adalah gambaran raja yang benar dan pemimpin yang benar.
Prinsip dari seorang raja yang benar adalah ia memerintah menurut kebenaran, dan prinsip seorang pemimpin yang benar adalah memimpin menurut keadilan. Pada hakekatnya, kebenaran dan keadilan berjalan beriringan dan tidak akan saling bertentangan.
Raja disini berbicara soal pemimpin suatu bangsa atau pemerintahan. Dalam masa sekarang hal ini berarti presiden atau perdana menteri. Seorang presiden harus memerintah menurut kebenaran, inilah syarat seorang presiden yang benar di hadapan Tuhan dan rakyat. Kalau presiden memerintah menurut pendapat seseorang, ini sangat tidak benar, apalagi bila menurut kepentingan seseorang atau golongan tertentu.
Pemimpin-pemimpin semua lembaga pemerintahan juga harus memerintah menurut keadilan, bukan menurut perintah seseorang yang tidak benar. Lembaga-lembaga yang ada haruslah menjalankan fungsinya sesuai dengan kebenaran dan keadilan.
Lebih lanjut dalam Yesaya 32:8 tertulis: “Tetapi orang yang berbudi luhur merancang hal-hal yang luhur, dan ia selalu bertindak demikian.” Ini merupakan sumber awal bagaimana sikap dan tindakan seseorang itu akan menjadi benar dan adil atau sebaliknya, salah dan tidak adil.
Seorang pemimpin apakah presiden maupun pemimpin yang lain, haruslah memiliki budi luhur agar yang ia rancangkan hanyalah hal-hal yang luhur, dan selalu bertindak luhur. Bila budi kita sudah tidak luhur, melainkan luntur oleh keinginan berkuasa, motivasi harta, ketakutan akan manusia, takut miskin, takut kehilangan, takut ini dan itu, maka niscaya semua yang dilakukan tidak akan membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain.
Hari ini kita belajar suatu prinsip kebenaran dari Alkitab tentang bagaimana kita harus memiliki budi luhur dan menegakkan kebenaran dan keadilan. Prinsip ini bukan hanya untuk pemimpin melainkan untuk kita semua, karena dalam lingkup tertentu dan dalam scope yang lebih kecil, kita adalah seorang pemimpin, yaitu pemimpin bagi keluarga, pemimpin bagi kelompok masyarakat, pemimpin grup, dan terutama pemimpin bagi diri sendiri. Oleh karena itu, sejak awal kita harus punya dan memegang kokoh prinsip kebenaran ini. Sebab sikap seorang pemimpin besar ditentukan dari sikapnya dalam memimpin diri sendiri.
Kiranya kita semua selalu berada dalam kasih dan karunia-Nya. Kita doakan bangsa dan negara kita Indonesia agar para pemimpin diberikan hati yang kuat seperti “hati singa”, untuk berjalan dalam kebenaran dan keadilan, dan agar kita sendiri pun hidup dalam kebenaran dan keadilan itu. Tuhan Yesus memberkati.

Pernikahan Adalah Ikatan Perjanjian Suci

marriage3Selamat pagi sahabat Suara Injil, salam dalam kasih Kristus! Hari ini saya ingin berbagi tentang pentingnya kesetiaan dalam pernikahan.
Sebuah survey yang pernah diadakan di negara Amerika Serikat menunjukkan bahwa sejak tahun 1970 hingga sekarang telah terjadi peningkatan angka perceraian dalam pernikahan. Tren ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Amerika Serikat tetapi juga hampir di seluruh bagian dunia ini termasuk Indonesia.
Indonesia tidak dapat ditutup-tutupi memiliki angka perceraian yang termasuk tinggi. Beberapa propinsi menunjukkan tingkat perceraian yang lebih tinggi dibandingkan propinsi lain. Diantaranya adalah Jawa Barat termasuk yang tinggi, begitu juga Sulawesi Utara yang mayoritas penduduknya Kristen, seharusnya di Sulawesi Utara tidak terjadi hal yang demikian, namun faktanya itu terjadi.
Firman Tuhan dalam Maleakhi 2:16 berkata demikian: “Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel — juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!”
Kita harus mengerti dan memahami dengan sungguh-sungguh bahwa Allah sangat membenci perceraian. Sejak awal Tuhan sudah menciptakan laki-laki dan perempuan yaitu Adam dan Hawa dengan maksud untuk mengikat mereka dalam suatu perjanjian pernikahan yang kudus dan yang tidak dapat dibatalkan oleh apapun juga.
Dalam Lukas 16:18, Tuhan Yesus berkata: “Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah.”
Pernikahan itu sesuatu yang sakral, kudus, suci adanya. Dan di dalamnya ada suatu ikatan perjanjian yang dimeteraikan oleh Tuhan, sehingga Ia sendiri berfirman bahwa apa yang telah dipersatukan Tuhan tidak dapat diceraikan oleh manusia.
Fakta bahwa semakin meningkatnya angka perceraian menunjukkan semakin lunturnya kesetiaan para suami dan istri terhadap perjanjian pernikahan. Ini bukanlah perjanjian yang sama seperti perjanjian yang sekarang ini lagi trend di kalangan selebritis yang akan menikah, dimana dibuatkan perjanjian pra nikah dan semacam itu. Perjanjian yang dimaksudkan Alkitab dalam bahasa Inggrisnya adalah “Covenant” yang mengandung makna yang begitu dalam. Tidak seperti politisi yang hari ini berjanji lalu besok mengingkari, pernikahan tidak boleh dan tidak bisa seperti itu.
Sekarang ini, banyak istri yang materialistis yang menuntut pemenuhan materi semata, sehingga bila kebutuhan materinya tidak terpenuhi ia meminta cerai dan mencari pria lain yang kaya. Sebaliknya, banyak suami yang hidupnya dikuasai hawa nafsu seksual, sehingga bila istrinya tidak dapat memenuhi keinginan dan hawa nafsunya, maka ia mencari perempuan lain, lalu akhirnya rumah tangga hancur berantakan, anak-anak menjadi ‘broken home’.
Pernikahan bukan soal harta materi dan seks. Pernikahan adalah perjanjian antara dua orang untuk saling mencintai dengan cinta yang suci yang tidak tergantung oleh situasi dan kondisi apapun serta berjangka waktu selamanya, sampai kematian memisahkan.
Pernikahan nabi Hosea dengan seorang yang dulunya adalah pelacur, merupakan contoh bagaimana setiap pasangan dalam pernikahan harus menjunjung tinggi ikatan pernikahan mereka. Meskipun berulang kali dikhianati oleh istrinya, nabi Hosea terus menerus memberikan pengampunan kepadanya, dan tidak menceraikan dia, hingga akhirnya kehidupan pernikahan mereka dipulihkan. Kitab nabi Hosea merupakan gambaran Kasih Allah yang sempurna kepada umat-Nya, dimana umat-Nya berulangkali berkhianat kepada Tuhan, tetapi Tuhan dengan kasih setia memberikan pengampunan dan menyelamatkan mereka.
Jangan cepat mengeluarkan kata-kata cerai kepada istri atau suami. Dalam pernikahan kita harus mengembangkan sikap mengampuni dan mengerti satu sama lain. Semakin hari harus makin mengerti satu sama lain, jangan sebaliknya malah jadi semakin tidak mengerti. Pengampunan dan pengertian serta kasih sayang harus terus dikembangkan dalam kehidupan pernikahan dengan cara tunduk dan taat kepada Firman Tuhan dan memberikan perhatian yang tulus kepada istri atau suami.
Pengadilan bukanlah tempat menyelesaikan masalah pernikahan, tetapi hanya di bawah kaki Tuhan dan di dalam hati yang mau taat, setia, dan mengampuni, disitulah akan ada penyelesaian atas segala persoalan dalam rumah tangga.
Tantangan keluarga masa kini bisa jadi lebih berat, namun bila kita dekat dengan Tuhan maka semua tantangan itu akan teratasi, dan rumah tangga serta keluarga kita akan selalu berbahagia dalam perlindungan dan berkat Tuhan.
Doa saya agar setiap keluarga yang membaca ini dapat menerapkan kasih Kristus dalam rumah tangganya agar ada kebahagiaan dan sukacita dalam keluarga saudara. Amin.

Tuhan Ada Bersama Kita

godwithusSelamat pagi sobat Suara Injil, salam sejahtera dalam kasih Kristus.
Nats hari ini:
Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. (Yosua 1:5)
Ayat hari ini berbicara tentang penyertaan Tuhan dalam kehidupan setiap orang percaya.  Firman ini muncul saat peralihan kepemimpinan dari nabi Musa kepada Yosua untuk memimpin bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian, tanah yang telah ditinggalkan oleh Yakub  saat terjadi kelaparan hebat di negeri itu. Dan kini, mereka hendak memasukinya lagi karena inilah tanah yang dijanjikan Allah kepada Abraham, Ishak dan Yakub dan keturunannya.  Yosua dikuatkan oleh Tuhan untuk menyadari akan kebersamaan dan penyertaan Allah dalam perjalanan dan kepemimpinannya.
Ada sebuah cerita kesaksian pengalaman seorang misionaris muda ketika melayani di bagian barat daratan Cina. Suatu hari, sekumpulan massa marah dan mengejar hendak membunuh dia.  Massa itu tidak menyukai pelayanan misionari ini di daerah mereka.  Missionaris muda ini lari sekencang-kencangnya, dan mencapai sebuah sungai.  Di sungai itu ada sebuah kapal dan ia menaikinya.  Namun, massa yang marah itu berhasil masuk juga ke kapal tersebut.  Sang misionaris pun kemudian melompat ke sungai. Gerombolan massa itu melempari tombak-tombak ke sungai untuk membunuhnya.  Akan tetapi, hal yang ajaib terjadi, secara mujizat  misionaris muda ini selamat dan tidak mengalami luka sedikitpun.
Setelah peristiwa itu, seorang teman misionaris ini bertanya, “Ayat Alkitab apa yang datang kepadamu saat kau berada di bawah air di sungai itu untuk menghindari amuk massa?” Sang misionaris menjawab: “Ayat? Mengapa? Tuhan sendiri ada besertaku saat itu!”
Saudara yang dikasihi Tuhan, terkadang dalam situasi sulit, kita sering berusaha memunculkan ayat firman Tuhan yang menguatkan. Akan tetapi, kurang menyadari bahwa sesungguhnya sang pemilik ayat yaitu Tuhan sendiri ada bersama kita. Tuhan Yesus berjanji untuk menyertai kita sampai kepada akhir jaman.  Memang kita butuh ayat firman Tuhan yang menguatkan, namun marilah kita menyadari bahwa ada Tuhan Yesus yang bersama di samping kita, menyertai setiap langkah kita dalam keadaan apapun. Amin.

Logic in Arithmetic?

faithNow faith is the substance of things hoped for, the evidence of things not seen. (Hebrews 11:1)
“Figures can’t lie,” said the professor earnestly. “For instance if one can build a house in 12 days, 12 men can build it in one.”
“Yes?” interrupted a student. “Then 288 will build it in one hour, 17.280 in one minute, and 1.036.800 in one second. And I don’t believe they could lay one brick in that time.”
While the professor was still gasping, the smart “ready reckoner” went on:
“Again, if one ship can cross the Atlantic in six days, six ships can cross it in one day.  I don’t believe that either, so where’s the truth in arithmetic?” Then he sat down.
From this story we can learn something seriously about people concerning the faith. Many people are driven by their logical way of thinking.  So everything must be logic. This story is already happened long time ago, and I am very sure that there is gap in the way the student’s thought. But, also the professor did the same wrong way of thinking. Sometimes the mathematical logic can not put on to real life for some condition.
What I want to tell you is that this is the small picture of explanation of faith. We can understand faith by our logical way of thinking. We will have thousands questions about how the miracle happen? How God can do that thing? How can I be healed? and many more questions.
But to think how is not our part, it is God’s part. God will think about it, we should never burden ourselves with any question how.  From the scripture above we learn again today: “Now faith is the substance of things hoped for, the evidence of things not seen.” (Hebrew 11:1).  This is the definition of faith that is not to be quarelled about. We receive it and walk our lives by faith in Christ.

Kerendahan Hati

rendahhatiNats Alkitab:
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.  Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:5-8)
Untuk belajar kerendahan hati kita tidak usah cari contoh yang lain selain Yesus Kristus Tuhan. Dia adalah contoh sempurna dari kerendahan hati.
Pada hakikatnya Yesus Kristus selalu adalah Allah, setara dengan Bapa, sebelum, selama dan sesudah masa hidup-Nya di bumi. (Yoh. 1:1; 8:58)  Akan tetapi, sekalipun Ia adalah Allah sendiri, Ia rela untuk merendahkan diri-Nya hingga pada keadaan yang paling rendah dan hina di antara manusia, disalibkan menanggung segala kutuk dosa.
Sulit rasanya menemukan kerendahan hati bahkan dalam diri kita sendiri seringkali masih banyak kesombongan dan sifat egosentris.  Rata-rata manusia berpusat kepada dirinya sendiri, bukan kepada Tuhan apalagi sesama.  Manifestasi dari kesombongan dan egosentris ini termanifestasikan dalam tingkah laku seperti ketidakpedulian dan tidak punya belas kasihan kepada sesama, menganggap orang lain lebih rendah, dan melecehkan orang lain.
Betapa berdosanya kita bila tidak memiliki kerendahan hati.  Alkitab mengatakan bahwa Allah membenci orang yang congkak dan mengasihi orang yang rendah hati.  Jikalau kita mau dikasihi Allah maka kita harus rendah hati.
Mengapa kita harus rendah hati?  Ada banyak sekali alasan mengapa kita harus rendah hati, dan begitu banyak alasan mengapa kita tidak boleh sombong.  Kita harus sadar bahwa sesungguhnya kita ini adalah makhluk yang hina dan berdosa, terlepas dari Kristus, dan tidak ada satupun yang dapat dibanggakan dari diri kita.  Segala sesuatu datangnya dari Tuhan.  Harta, kekayaan, kepandaian, ilmu, dan semua yang lainnya yang ada pada kita adalah dari Tuhan.  Dan dalam semuanya itu, Tuhan juga melibatkan orang-orang di sekitar kita untuk mewujudkan semua yang ada pada kita sekarang ini. Jadi, apa yang dapat kita banggakan dari diri kita?
Yesus Kristus merendahkan diri-Nya serendah-rendahnya sehingga Ia dapat melakukan kehendak Bapa. Hal ini berbicara tentang kerelaan untuk melepasan hak.  Banyak orang menuntut haknya, dan malas melakukan kewajiban.  Tapi Tuhan Yesus memberi teladan bagaimana Ia sendiri rela melepaskan hak-Nya, posisi-Nya, kemuliaan-Nya, keagungan-Nya dan menjadi manusia yang hina, hina karena menanggung seluruh dosa manusia.
Kerendahan hati seperti Tuhan Yesus Kristus merupakan suatu sifat penting yang harus ada dalam diri setiap orang percaya.  Sebagai bukti kerendahan hati itu, baiklah kita rela hidup berkorban, tidak mementingkan diri sendiri, mempedulikan orang lain, dan berbuat baik kepada sesama.

Cermin Raja Yordania

concave-jpg
(photo from glogster.com)

Nats Alkitab:
Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. (Yakobus 1:23-24)
Seorang kepala penjara di Leeds, Inggris, dulunya adalah seorang ajudan dari Raja Abdullah di Yordania.  Dia mengatakan bahwa Raja Abdullah memiliki dua cermin yang dia letakkan di ruangan-ruangan dimana dia menerima tamu-tamu kerajaannya. Cermin pertama, membuat orang yang bercermin nampak kurus, diletakkan di ruangan dimana para tamu berkumpul sebelum makan malam. Sedangkan cermin yang kedua, yang membuat orang yang bercermin nampak gemuk, diletakkan di ruangan dimana para tamu berkumpul setelah makan.  (Eternity)
Efeknya bermacam-macam terhadap berbagai orang, dan lucunya banyak orang yang merasa dirinya kurus sehingga harus makan banyak, namun setelah makan, mereka menyesal karena badan mereka bertambah gemuk.
Kisah ini merupakan suatu contoh bagaimana orang begitu cepat lupa akan penampilan wajah dan bentuk tubuhnya. Baru saja ia bercermin, ia sudah lupa bagaimana rupanya.  Hal ini dikatakan di dalam surat Yakobus 1:23-24 sebagaimana nats di atas. Dan Yakobus mengambil kebiasaan sehari-hari kita dalam bercermin untuk dijadikan gambaran tentang bagaimana seorang yang lupa untuk melakukan firman Tuhan.
Firman Tuhan adalah cermin bagi keadaan diri kita. Firman Tuhan akan menyatakan kesalahan dan mengoreksi kita. Dengan membaca Alkitab kita dapat bercermin apa yang salah pada kita dan bagaimana keadaan hidup rohani kita. Akan tetapi, banyak orang yang setelah membaca firman Tuhan menjadi lupa dan kemudian kembali kepada kebiasaan yang lama yang tidak berkenan pada Tuhan.
Marilah kita selalu bercermin pada Firman Tuhan yaitu dengan membaca Alkitab dan menjadi pelaku-pelaku Firman Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin.

Ada Tertulis

alkitab 03Nats Alkitab:
Lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangan-Nya , supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” (Matius 4:6)
Peristiwa pencobaan yang dialami Yesus oleh iblis merupakan peristiwa yang patut kita pelajari dengan seksama.  Perhatikan bahwa iblis memakai firman Allah untuk mencobai Yesus agar berbuat dosa.  Namun, Yesus sendiri sangat mengenal setiap Firman-Nya karena Dia berasal dari-Nya dan satu hakekat dengan Allah.
Penting untuk kita pelajari bahwa berbagai cobaan oleh iblis seringkali memakai firman Tuhan untuk menjatuhkan orang-orang beriman.  Hanya saja, pemakaian firman Tuhan oleh iblis tidaklah lurus apalagi tulus melainkan diputarbalikkan dan hendak menjatuhkan. Iblis berkata: “Ada Tertulis!”  Seolah-olah apa yang dikatakannya itu benar berdasarkan firman Allah, padahal sebenarnya adalah dusta.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus waspada terhadap pemutarbalikan ayat firman Tuhan oleh seseorang untuk mengajak kita berbuat dosa.  Perlu kehati-hatian dan kewaspadaan bagi siapa saja, baik orang tua terlebih lagi orang-orang muda, agar tidak mudah termakan bujukan dan rayuan seseorang dengan berdalih pakai ayat Alkitab.
Sudah banyak korban pencobaan dan rayuan berdasarkan pemutarbalikkan ayat Alkitab dan penafsiran ayat Alkitab secara sembarangan. Ayat Alkitab bila tidak ditafsirkan secara benar sesuai konteksnya dan dibandingkan dengan ayat-ayat lain dalam satu kesatuan, akan mengakibatkan kesalahan pemahaman dan lari dari arti yang sebenarnya.
Setiap orang percaya harus benar-benar memahami Firman Allah dan jangan kompromi dengan dosa atau tawaran-tawaran lain yang menggiurkan yang sebenarnya merupakan tabiat-tabiat berdosa.
Belajarlah firman Tuhan dan mintalah pengertian dan hikmat yang benar yang dari atas.  Roh Kudus yang akan membimbing kita untuk masuk ke dalam seluruh kebenaran-Nya, apabila kita teguh berpegang pada kebenaran-Nya.

Jalan Orang Benar dan Jalan Orang Fasik

image
Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.
Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;
sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.
(Mazmur 1:1-6)

Hidup Kita Harus Kudus

Nats Alkitab:
sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.  (1 Petrus 1:16)
Dengan semakin canggihnya teknologi, maka selain membantu banyak hal secara positif, di sisi lain hal ini menyebabkan semakin mudah bagi seseorang untuk jatuh ke dalam dosa. Contohnya adalah dosa perzinahan.
Definisi perzinahan dinyatakan sebagai ketidakkudusan dalam pikiran, berpikir yang cabul dengan seseorang, atau tindakan perbuatan cabul dengan seseorang. Jadi, perzinahan bisa terjadi dalam pikiran melalui mata. Tuhan Yesus berkata: jika kamu memandang seorang perempuan dan menginginkannya kamu sudah berbuat zinah dengan dia.
Indonesia menjadi negara nomor dua pengakses situs porno. Melihat pornografi merupakan dosa perzinahan. Internet bila digunakan dengan maksud dan tujuan yang tidak benar akan membuat orang berdosa. Gunakanlah internet dan teknologi lainnya untuk kemajuan diri dan kemuliaan nama Tuhan.
Internet merupakan sumber berbagai informasi yang positif dan membangun, tapi dapat juga bersifat merusak, tergantung orang yang memakainya.
Jadilah orang yang hidup kudus seperti Tuhan adalah kudus!

Stamina Rohani

Nats Alkitab:
Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. (2 Timotius 4:7)
Mengikuti lomba lari 10 km membutuhkan latihan fisik yang cukup lama agar stamina semakin meningkat dalam berlari.  Yang lebih lagi harus dilakukan adalah untuk lomba marathon yang jarak tempuhnya mencapai 42,195 km, latihan fisik harus menjadi kebiasaan jauh sebelumnya agar stamina tubuh prima.
Dalam lomba lari marathon, pada umumnya yang menjadi juara adalah atlet-atlet dari Afrika. Padahal dari segi fisik kelihatannya tubuhnya kurus dan kurang makan. Namun, dibalik itu tersimpan stamina yang tinggi dibandingkan  atlet dari negara maju.
Mengapa hal demikian bisa terjadi? Salah satu penyebabnya adalah karena mereka telah terbiasa dengan keadaan cuaca panas dan lingkungan alam yang keras.  Keadaan tersebut telah menempa mereka sehingga memiliki daya tahan yang kuat untuk berlari jarak jauh.
Ibarat seorang pelari, rasul Paulus menganalogikan keadaannya seperti atlet yang berstamina tinggi.  Ayat diatas berkata: “aku telah mencapai garis akhir,” mengandung makna tentang stamina rohani orang percaya.  Stamina iman yang tinggi akan membuat seseorang dapat bertahan dan terus berlari hingga garis terakhir.
Untuk sampai kepada kemenangan, iman harus tetap ada.  Meskipun banyak tantangan namun itu merupakan latihan bagi iman agar semakin kuat untuk berlari dalam pertandingan iman hingga mencapai finish.
Mari jaga stamina iman kita dengan terus melatihnya melalui doa, perenungan firman Tuhan dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.