Hidup Dalam Pertobatan

uturnNats Alkitab:
“Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” (Matius 3:8)
Pertobatan yang sejati akan diikuti dengan buah-buah kebenaran, yaitu sikap dan tindakan yang baik dan berkenan kepada Tuhan.  Contohnya, bila dulu sebelum bertobat sifatnya adalah pemarah, maka setelah bertobat harus berubah menjadi lebih sabar dan mengampuni.
Iman dan pertobatan harus nyata dalam kehidupan yang meninggalkan dosa dan menghasilkan buah kesalehan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang mengaku percaya kepada Yesus Kristus dan menjadi anak Tuhan, namun kehidupannya tidak menghasilkan buah yang baik, harus mewaspadai akan bahaya penghukuman yang akan datang dalam kehidupannya sebab Tuhan Yesus sendiri berbicara tentang orang-orang semacam ini yang dianalogikan dengan pohon yang tidak berbuah yang siap untuk ditebang dan dicampakkan ke dalam api.
Moody Monthly memuat artikel mengenai “Apa itu dosa?”  seperti berikut ini:
What Is Sin?
Man calls it an accident, God calls it an abomination
Man calls it a blunder, God calls it a blindness
Man calls it a defect, God calls it a disease
Man calls it a chance, God calls it a choice
Man calls it an error, God calls it an enmity
Man calls it a fascination, God calls it a fatality
Man calls it an infirmity, God calls it an iniquity
Man calls it a luxury, God calls it a leprosy
Man calls it a liberty, God calls it a lawlessness
Man calls it a trifle, God calls it a tragedy
Man calls it a mistake, God calls it a madness
Man calls it a weakness, God calls it a willfulness
Inti dari apa yang ditulis dalam “Moody Monthly” itu adalah bahwa manusia seringkali menyebutkan dosa itu dengan berbagai pengertian-pengertian sendiri yang lebih cenderung kepada pembenaran untuk melakukan dosa, namun Tuhan mendefinisikan dosa sebagai ketidaktaatan, kekejian dan kebutaan secara rohani.
Mungkin kita dapat berkata bahwa kita khilaf, tapi bagi Tuhan itu merupakan suatu kekejian. Kita dapat menganggap bahwa dosa itu sepele, tapi bagi Tuhan itu adalah suatu tragedi.  Intinya adalah dosa adalah sesuatu yang harusnya tidak lagi ada dalam kehidupan kita.
Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia belaka.  Kita harus hidup dalam iman kepada Kristus dan dalam pertobatan, keduanya merupakan suatu kesatuan yang harus kita jalani sebagai orang beriman.  Menghasilkan buah-buah kebenaran dalam hidup merupakan kehendak Tuhan bagi setiap anak-anak-Nya. Marilah kita hidup dalam kehidupan yang berbuah-buah dalam Roh Kudus.
 
 
 

Pelayan Tuhan Tidak Akan Mundur

hugging_kittensNats Alkitab:
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10 )
Seorang anak muda diberi tugas mengajar dalam sebuah pelayanan Sekolah Minggu.  Setiap hari Minggu ia harus datang dan mengajar anak-anak dalam kelas yang dipercayakan kepadanya.  Selama beberapa kali mengajar, akhirnya ia menjadi kehilangan semangat karena jumlah anak-anak yang diajarnya begitu sedikit, hanya beberapa orang saja yang hadir dalam kelas Sekolah Minggu nya.
Lalu, ia memutuskan untuk berhenti dari pelayanannya.  Meskipun rencananya tidak pernah dia utarakan kepada murid-murid, namun ada seorang murid yang mengetahui keinginan sang guru untuk berhenti.
Pada hari Minggu terakhir saat ia berencana untuk berhenti, tanpa sengaja, anak muda ini mendengar percakapan dari dua anak laki-laki yang dia layani di kelas Sekolah Minggu.   Anak yang satu berkata bahwa ia tidak mau datang lagi ke Sekolah Minggu apabila guru Sekolah Minggu akan berhenti mengajari mereka.  “Kalau dia berhenti, saya juga akan berhenti, saya tidak mau datang ke Sekolah Minggu lagi,” ujarnya.
Mendengar hal itu, anak yang kedua berkata, “Mengapa? Itu tidak mungkin.”  “Guru kita tidak akan berhenti dari pelayanannya.  Saya adalah anak pertama yang ikut Sekolah Minggu di kelasnya, dan suatu hari, guru kita berkata bahwa ia diutus oleh Tuhan untuk mengajar kita  yang ada di Sekolah Minggu.  Ia juga berkata bahwa Tuhan Yesus adalah bos nya, dan ia harus melakukan apa yang diperintahkan Tuhan.
Dia adalah utusan Tuhan, Dia adalah hamba Tuhan, saya yakin ia tidak akan pernah mundur.
Mendengar percakapan itu, anak muda ini, sang guru Sekolah Minggu, merasa ditegur Tuhan sehingga kemudian ia mengambil keputusan untuk tetap melayani anak-anak di Sekolah Minggu, meskipun jumlahnya hanya sedikit.
Bagaimana dengan kesetiaan kita kepada panggilan Tuhan dan pelayanan?  Apakah tantangan akan membuat kita berputus asa? Apakah karena yang dipercayakan kepada kita begitu kecil, maka kita tidak bersemangat untuk melayani Tuhan?
Bukan soal jumlah atau kuantitas, bukan pula soal kehebatan atau ketenaran, dalam melayani Tuhan yang terutama adalah kesetiaan kita.
Setialah dalam berbagai situasi pelayanan meskipun mungkin terasa berat dan seolah tidak ada perkembangan.  Tuhan hanya minta agar kita setia melakukan panggilan-Nya itu.  Soal yang lain-lainnya adalah urusan Tuhan.
Doa: Ajar kami Tuhan untuk selalu setia dan berilah kami hati yang mau taat senantiasa

Mempercayai Allah Yang Berkuasa

Nats Alkitab:
Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ. (Mat 13:58)
Mujizat adalah suatu pekerjaan atau perbuatan ajaib yang mengandung kuasa yang tidak dapat dikerjakan menurut hukum alam, dan dalam hal ini memperlihatkan kemahakuasaan Allah!
Mujizat diadakan Tuhan dengan maksud untuk memperlihatkan Kekuasaa-Nya, untuk menetapkan Keilahian Kristus, dan untuk menempelak ketidakpercayaan dan keangkuhan manusia.  Kalau kita percaya bahwa Allah itu ada, maka seharusnya kita dapat percaya juga bahwa mujizat ada dan bisa kita alami dalam hidup ini.
Nats Alkitab di atas menjelaskan tentang mengapa tidak banyak mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus di tempat asalnya. Sebabnya ialah penduduk disana tidak percaya sehingga mereka pun tidak mengalami mujizat.  Padahal Firman Tuhan katakan:”Jadilah sesuai dengan imanmu”.  Disini jelas ada satu faktor yang mempengaruhi terjadinya mujizat yaitu iman atau percaya.
Ketika Lazarus meninggal dan telah dikuburkan, Yesus datang memenuhi panggilan dari saudara-saudara Lazarus yaitu Maria dan Martha. Sewaktu berjalan, Tuhan Yesus mengatakan kepada Maria: “Bukankah telah kukatakan kepadamu,  apabila engkau percaya, maka engkau akan melihat kemuliaan Allah?” Jadi, percaya akan menghasilkan kemuliaan Allah.
Kita harus menyadari bahwa Allah sanggup melakukan segala perkara.  Tidak ada yang mustahil bagi Dia.  Dalam persoalan apapun, sakit penyakit, jodoh, rumah tangga, pekerjaan, anak, dan segala perkara lainnya, percayalah bahwa selalu ada mujizat yang tersedia dari Allah untuk menolong kita.  Hanya, apabila kehidupan kita penuh dengan dosa, maka berbaliklah kepada Allah, minta ampun dan bertobat, supaya mujizat dan lawatan Allah terjadi dalam hidup kita.
Di jaman yang serba modern ini, pengagungan terhadap logika berpikir kritis, ditambah sikap apatis dan dosa yang merajalela, merusak iman percaya seseorang kepada Tuhan. Masihkah anda mau percaya kepada Allah? Masihkah anda percaya bahwa ada harapan di dalam Dia?
Allah masih tetap ajaib, tetap berkuasa dan Allah selalu menyediakan mujizatnya bagi kita.  Marilah kita percaya dan terus belajar untuk percaya kepada Tuhan. Amin.     
 
 
 

Menerima Pemimpin

Nats Alkitab:
Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. (Roma 13:1)
Presiden RI, Bapak Jokowi sudah dilantik dan secara sah adalah pemimpin Indonesia saat ini.  Namun, kepemimpinannya masih banyak yang tidak dapat menerima.  Bentuk penolakan pun bermacam-macam.  Ada yang menghina dengan memodifikasi foto berwajah Jokowi, ada pula yang tidak memajang foto Jokowi dan Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil presiden di ruangan kerjanya, dan ada pula yang sering menghina atau menjelekkan melalui media sosial seperti facebook dan twitter.
Sebagai orang beriman, kita harus menyadari bahwa kepemimpinan yang sekarang ini ada merupakan ketetapan dari Allah.  Dengan demikian, bapak Jokowi adalah orang yang telah diangkat dan ditetapkan Tuhan sebagai pemimpin Indonesia.  Hal ini, suka atau tidak suka, harus diterima oleh semua orang apalagi orang-orang yang sudah mengerti tentang kebenaran firman Tuhan ini.
Semua persaingan pada masa kampanye lalu harus ditinggalkan, dan sekarang saatnya untuk menatap masa depan bangsa.  Bukan lagi saatnya menjelekkan dan menjatuhkan, tetapi saatnya bagi kita untuk berdoa buat pemimpin bangsa, pemerintahan yang ada.
Bersikaplah seperti Daud yang menerima kepemimpinan raja Saul, dan jangan menjadi seperti raja Saul yang menolak dan hendak membunuh Daud yang telah diurapi Tuhan menjadi raja untuk menggantikan dirinya.  Terimalah dan taatlah kepada pemerintahan yang sudah ditetapkan-Nya.
 
 

Bekerjasama Dengan Allah

Nats Alkitab: 
Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.”
Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir,… (Matius 2:13-14)
Ayat Alkitab di atas menceritakan kisah dimana Yusuf disuruh oleh Tuhan untuk lari ke Mesir dengan membawa Maria istrinya dan Yesus, Anak yang dilahirkan Maria.  Tak lama setelah itu, terjadi pembunuhan anak-anak yang berumur 2 tahun ke bawah.
Dengan pergi ke Mesir, bayi Yesus luput dari pembunuhan massal terhadap bayi-bayi di Betlehem.
Kisah ini menarik untuk kita renungkan, karena ada makna yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita setiap hari. Melihat kenyataan bahwa Yusuf dan keluarganya lari ke Mesir, menunjukkan adanya kerjasama antara Yusuf dengan Allah.  Yusuf menaati perintah Allah dengan pergi ke Mesir.
Pikiran kita bertanya-tanya, mengapa Allah tidak melindungi Yusuf, Maria dan Yesus sehingga mereka tidak perlu ke Mesir? Atau mengapa Allah tidak melakukan suatu mujizat sehingga dengan tiba-tiba Yusuf, Maria dan Yesus langsung berpindah ke Mesir? Atau mengapa Tuhan tidak mencegah Herodes melakukan pembunuhan? Mengapa Tuhan tidak menyingkirkan Herodes? Bukankah Allah maha kuasa dan dapat melakukan segala sesuatu?
Ya benar, Allah itu maha kuasa, dan tak ada yang mustahil bagi Dia.  Namun, Allah seringkali meminta agar kita melakukan bagian yang menjadi tanggung jawab kita. Melakukan bagian kita yang dikehendaki Allah merupakan manifestasi dan bukti ketaatan kita kepada seluruh kehendak Allah.
Adakalanya dalam hidup ini, kita menerima mujizat dan pertolongan dengan hanya berdiam diri tanpa melakukan sesuatu. Tapi kadangkala kita juga diharuskan untuk melakukan sesuatu yang disuruh Tuhan.  Jika demikian, maka kita harus mengerjakan apa yang Tuhan mau kita lakukan.
Ada yang mengeluh karena banyaknya piring kotor di tempat cucian dapur. Piring itu akan bersih bila kita bertindak mencucinya, tidak usah menunggu mujizat Allah lalu tiba-tiba piring bersih semuanya. Kita punya bagian yang harus kita kerjakan.
Ada orang yang mengeluh tidak punya pekerjaan. Ia mau bekerja tapi tidak membuat lamaran kerja, sehingga tidak mengirimkan lamarannya ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan.
Ada orang yang mengeluh tidak punya pasangan hidup.  Ia ingin menikah tapi tidak berupaya mencari orang yang akan menjadi pasangan hidupnya.  Banyak contoh dalam Alkitab dimana seseorang harus melakukan bagian yang ditentukan baginya. Seringkali, jawaban Tuhan akan kita raih di saat kita bertindak.
Apa yang menjadi perintah Tuhan akhir-akhir ini bagimu? Mungkin saudara tidak tahu alasannya mengapa Tuhan menyuruh melakukan ini atau itu. Tapi, biarlah kita menjadi seperti Yusuf yang mau mentaati semua perintah Tuhan.
Tuhan tetap ajaib dan kuasa-Nya tidak berkurang meskipun ada keterlibatan kita dalam mewujudkan rencana Allah itu. Allah mau mengajar kita untuk belajar melangkah dalam iman yang semakin kuat di dalam Dia. Bekerjasamalah dengan Allah, hiduplah dalam ketaatan penuh kepada-Nya. Amin.
 
 

Pilihlah Kehidupan

Nats Alkitab:
Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, (Ulangan 30:19)
Adam dan Hawa diberikan kebebasan untuk memilih tapi mereka memilih kematian.  Dalam taman Eden ada dua pohon yang secara spesifik disebutkan namanya, yaitu pertama, pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, dan kedua adalah pohon kehidupan.  Buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat membawa kematian, sedangkan buah dari pohon kehidupan membawa kehidupan kekal. Tapi anehnya Adam dan Hawa tidak mengambil dan memakan buah dari pohon kehidupan melainkan buah dari pohon yang membawa kematian.
Kepada kita yang hidup sekarang ini, juga diberikan pilihan oleh Tuhan. Ada dua macam pilihan yang dapat kita pilih, yaitu kehidupan atau kematian. Kehidupan akan membawa berkat, kematian akan membawa kutuk.
Nats Alkitab diatas berbicara tentang pilihan-pilihan itu, dan Allah menghendaki agar kita memilih kehidupan.
Memilih kehidupan berarti dua hal, yang pertama adalah memilih untuk percaya Yesus Kristus, Sang Kehidupan itu, sebab Dia adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yoh. 14:6).
Yang kedua adalah memilih untuk melakukan semua kehendak Allah, yaitu hidup dalam buah-buah pertobatan. Dalam Galatia 5 tertulis 9 buah-buah Roh yang membawa kehidupan yaitu sifat dan sikap yang harus kita miliki sebagai orang beriman kepada Yesus Kristus. Berlawanan dengan itu, dalam ayat 19-21 ada juga tertulis mengenai buah-buah perbuatan daging yang akan membawa kepada kematian kekal.
Hari ini, kita kembali diingatkan bahwa kepada kita diberikan pilihan kehidupan dan kematian. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu. Haleluya.

Tuhan Tidak Pernah Melupakan

Nats Alkitab:
Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.  (Yesaya 49:15)
Seekor kucing dewasa menyeberang jalan sambil membawa seekor kucing lain yang lebih kecil ukurannya dengan menggunakan gigi mulutnya.
Rupanya kucing dewasa itu adalah induk atau ibu dari kucing yang lebih kecil yang sedang dibawa. Sang induk membawa anaknya ke tempat yang dirasanya aman. Dan setelah itu ia pergi lagi mengambil anak-anaknya yang lain yang sedang berada di tempat berbeda agar berkumpul di satu tempat yang sama yang lebih aman.
Melihat tindakan kucing itu terhadap anak-anaknya, saya dapat menyimpulkan betapa kasihnya sang induk kucing terhadap anak-anaknya. Suatu nilai moral yang sangat berharga yang dapat kita pelajari dari seekor kucing.
Manusia yang diberikan kelebihan oleh Tuhan dibandingkan hewan-hewan lainnya terkadang malah tidak dapat menyayangi anak-anaknya.  Ada orangtua yang tega menjual anaknya. Ada ibu yang tega membuang bayinya sampai mati. Bahkan di Korea Selatan, ada orangtua yang tega tidak memberi makan anaknya yang masih balita karena keasyikan bermain game online.
Di panti-panti asuhan, banyak anak-anak yang sering mempertanyakan mengapa mereka dibuang oleh orangtua mereka.  Ada banyak pula yang ingin tahu siapa orangtua mereka. Ketiadaan kasih sayang orangtua menyebabkan anak-anak ini kurang percaya diri dan berada dalam kebingungan serta kebimbangan.
Namun, kabar baik datang dari Tuhan sang pencipta alam semesta dan semua isinya. Ia berkata dalam nats Alkitab di atas:
Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.
Suatu pernyataan yang mengandung kepastian bahwa Allah tidak pernah melupakan kita. Tuhan mengingat kita dan tidak meninggalkan kita sendirian. Ini merupakan suatu hal yang luar biasa dari Tuhan. Saudara tidak pernah sendiri sebab ada Tuhan yang Immanuel yang selalu beserta kita.

Metanoeo

Nats Alkitab:
“Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Matius 3:2)
Kata bertobat dalam ayat ini dalam bahasa aslinya berasal dari bahasa Yunani yaitu “Metanoeo”, yang arti dasarnya adalah “berbalik”.
Maksud dari kata metanoeo atau berbalik ini adalah berbalik dari cara hidup yang jahat kepada jalan hidup yang dikenan oleh Tuhan.
Keputusan untuk berbalik dari dosa dan mempercayai Yesus Kristus merupakan keputusan yang mencakup dua hal penting dan utama.  Apakah itu?  Yang pertama adalah keputusan untuk mempercayai dan menerima Yesus Kristus sebagai juruselamat yang telah menebus kita dari dosa.  Kita percaya bahwa Yesuslah sang Mesias yakni juruselamat yang telah dinanti-nantikan itu, Ia lah jalan penebusan dan pendamaian bagi kita dengan Allah Bapa sorgawi.
Hal yang kedua adalah menempatkan Yesus Kristus sebagai Tuhan dalam hidup kita.  Yang pertama dan kedua merupakan hal yang sangat penting agar kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Hal yang pertama menyangkut iman akan penebusan Kristus di atas salib.  Hal yang kedua menyangkut tindakan hidup sehari-hari yang tunduk kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan atas hidup kita. Sebagai Tuhan berarti Dia adalah yang utama dan yang harus kita taati dalam hidup ini.
Banyak orang yang hanya sampai di hal pertama, yakni percaya kepada Yesus sebagai juruselamat, namun lupa untuk melangkah dalam hal yang kedua yaitu hidup sesuai dengan kebenaran dan kehendak Allah.   Percaya Yesus berarti juga meninggalkan dosa.  Orang yang mengaku percaya kepada Yesus namun masih hidup dalam dosa termasuk orang-orang yang masih berada dalam tahap pertama, yaitu “sekedar mempercayai Yesus.”
Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia.  Tuhan menghendaki agar kita beriman yang disertai dengan perbuatan. Maka Tuhan Yesus berulangkali menyatakan pentingnya “buah-buah yang baik” dalam kehidupan kita, yaitu buah-buah Roh Kudus.  Iman yang menyertakan pertobatan adalah syarat untuk memperoleh keselamatan. Bukan hanya sekedar di mulut mengaku Yesus sebagai juruselamat, namun langkah penting selanjutnya adalah kita hidup dalam pertobatan, dimana kita menempatkan Yesus sebagai Tuhan atas seluruh aspek kehidupan kita.

Amarah Membawa Maut

Nats Alkitab:
“….Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu — seperti yang telah kubuat dahulu — bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” (Galatia 5:21)
Apa sebenarnya pengertian atau definisi tentang amarah? Kita harus benar-benar mengerti bagaimana amarah yang dimaksudkan oleh firman Tuhan, sebab hal ini penting dan berakibat pada masuk tidaknya kita ke dalam kerajaan sorga.
Amarah adalah kemarahan yang dilandaskan pada kebencian mendalam dan dendam serta bertujuan untuk merusak, menghancurkan bahkan mematikan orang lain.  Itu sebabnya amarah termasuk dalam kategori perbuatan daging yang konsekuensinya adalah penghukuman kekal di neraka.
Amarah akan menyebabkan kerugian bagi diri sendiri, orang lain dan menggagalkan kita untuk menerima kehidupan kekal.
Kejadian 4:5-8 menceritakan Kain yang panas hati atau penuh amarah kepada adiknya sendiri, Habel. Akibatnya, ia membunuh adiknya sendiri. Amarahnya telah membawa maut bagi adiknya dan ia terpisah dari persekutuan dengan Allah, hatinya tidak tenang dan ia menjadi seorang pengembara.
Apakah marah dibolehkan? Marah yang dibolehkan adalah kemarahan yang dilandaskan kasih yang bertujuan untuk kehidupan dan kebaikan orang lain.  Marah yang diperbolehkan adalah kemarahan terhadap ketidakadilan, ketidakkudusan dan ketidakbenaran.  Kita harus membenci dosa dan tidak kompromi dengan dosa, tetapi kita harus mengasihi orang berdosa sebagaimana Yesus sendiri datang untuk mencari dan menyelamatkan orang yang terhilang yakni orang-orang yang hidup dalam dosa. Tuhan Yesus mengajar kita untuk selalu bersabar dan mengampuni. Pembalasan adalah haknya Tuhan.
Setiap orang yang percaya Yesus, harus merelakan dirinya dipimpin oleh Roh Kudus. Salah satu ciri orang yang berjalan dalam pimpinan Roh Kudus adalah sabar.  Sabar disini berarti kemampuan untuk menahan emosi, bersikap tenang dan memohon hikmat Allah dalam memgambil keputusan berdasarkan kasih Kristus.
Mari kita mengambil sikap untuk sabar dan tidak memiliki sifat amarah karena itu tidak berkenan kepada Tuhan.

Lambat Untuk Marah

AngerNats Alkitab:
Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; (Yakobus 1:19)
Dalam suatu perjalanan menuju sebuah gereja dimana saya akan menyampaikan khotbah tentang emosi negatif, saya melihat seorang bapak yang mengendarai motor bersama anaknya tepat di depan kendaraan saya. Bapak ini memakai kaos warna putih dengan tulisan yang dapat mengundang respon negatif.
Tulisan di kaosnya berisi hinaan kepada pendukung tim sepakbola yang bermarkas di Jakarta. Hinaan itu cukup ‘luarbiasa’, menyamakan pendukung tim itu dengan anjing, monyet, babi dan tempat sampah. Tidak heran pendukung kedua tim sepakbola ini seringkali tawuran bahkan rusuh dalam setiap pertemuan pertandingan akibat saling hina, saling memaki dan membenci satu sama lain, padahal masalahnya hanya sepele yaitu urusan sepakbola.
Jika kita mengalami hinaan dari orang lain bagaimanakah respon kita? Apakah kita marah dan membalas? Marah memang reaksi yang spontan dan wajar, namun bagi setiap orang yang hidup di dalam Kristus, respon kita haruslah berbeda. Tuhan Yesus berkata agar kita membalas kejahatan dengan kebaikan, mendoakan orang yang menganiaya kita dan memberkati orang yang mengutuk kita.
Nats Alkitab di atas berbicara tentang bagaimana seharusnya kita meresponi sesuatu. Hendaklah kita lambat untuk berkata-kata dan lambat untuk marah. Artinya adalah bahwa kita harus menahan emosi kita.
Salah satu buah Roh adalah kesabaran, dan lawan dari kesabaran adalah amarah (Galatia 5:19-21). Amarah kita tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yak. 1:20). Dengan kata lain, amarah merupakan dosa.
Apakah saudara mengalami hinaan, ejekan, fitnah, atau aniaya? Sabarlah dan bersedialah untuk mengampuni sebagaimana Kristus telah memberikan teladan kasih, kesabaran dan pengampunan.