Tag Archives: tulus

Layani Dengan Gratis

Santer terdengar berita tentang tokoh agama yang membuka praktik pengobatan alternatif untuk berbagai penyakit namun meminta imbalan uang jutaan rupiah dari pasiennya. Secara etika moral pelayanan maka hal seperti ini tidaklah dibenarkan, sebab apabila ia mengaku dapat menyembuhkan oleh karena Yang Kuasa, maka seharusnya ia tidak meminta bayaran. Dapat gratis harus memberinya juga gratis.

Pelayanan gerejawi pun harus mengedepankan sikap melayani tanpa pamrih.  Para hamba Tuhan atau pelayan Tuhan mesti memiliki ketulusan dalam melayani orang lain.  Bila mendoakan toko atau usaha yang baru dibuka, janganlah berpikir harus menerima “fee” dari pengusaha atau pemilik toko itu. Apalagi menuntut persembahan secara diam-diam dalam hati, bila melihat toko/usaha yang didoakan mengalami kemajuan.

Matius pasal 10 mulai ayat 5 bertutur tentang pengutusan para murid untuk melayani.  Tuhan Yesus menekankan pentingnya bagi mereka untuk memberitakan tentang kerajaan sorga. Inti pelayanan haruslah kena-mengena pada perkara keselamatan sebab hal ini lah yang menjadi tujuan dari pelayanan para murid.  Artinya, harus berfokus pada pewartaan Injil Kerajaan Allah kepada setiap orang yang dilayani agar mereka bertobat dan diselamatkan serta hidup dalam kasih karunia Allah.

Matius 10:8  mencatat perkataan Tuhan Yesus: “Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Perintah untuk menyembuhkan yang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta dan mengusir setan-setan, tentu berhubungan dengan pelimpahan kuasa dan karunia untuk melayani, sehingga para murid yang diutus dapat memanifestasikan mujizat dan kuasa Allah dalam pelayanan mereka.  Dalam hal ini, para hamba Tuhan, tidak terbatas pada orang-orang yang menyebut dirinya pendeta, gembala, atau rasul bahkan nabi, -jadi semua orang percaya yang adalah juga hamba Tuhan – diperlengkapi dengan karunia-karunia oleh Roh Kudus untuk dipakai dalam melayani orang lain. Dan karunia-karunia itu haruslah dipakai secara kontinu dalam pelayanan.

Perintah untuk melayani orang lain dengan menggunakan karunia dan kuasa sorgawi itu disertai juga perintah untuk memberinya secara cuma-cuma.
Tuhan Yesus mengatakan bahwa semua kuasa itu diberikan kepada mereka secara cuma-cuma alias gratis, jadi haruslah diberikan pula dengan cuma-cuma.
Para hamba Tuhan haruslah memiliki sikap yang demikian. Jangan menuntut persembahan dari orang yang dilayani melainkan berusahalah untuk melayani mereka setulus-tulusnya dengan karunia dan kuasa Allah yang dimiliki.

Rasul Paulus memberi contoh melayani tanpa menuntut pemberian dari jemaat yang ia layani meskipun ia layak untuk itu bahkan meskipun harusnya ia dicukupkan dengan “upah sebagai pemberita Injil”.  Namun, rasul Paulus tidak menuntut upahnya itu melainkan berupaya untuk dapat mencukupi kebutuhannya sendiri agar supaya Injil dapat diterima dan tidak dipermalukan.

Para hamba Tuhan, pendeta, gembala, semua kita orang percaya harus memiliki karakter pelayanan sorgawi yang tulus seperti Tuhan Yesus, tanpa motif-motif ekonomi atau yang lainnya.

Tuhan Yesus menyebut diriNya sebagai gembala yang baik (Yoh. 10:11) yang menunjukkan bahwa diriNya adalah Sang Gembala, yaitu Tuhan Allah pencipta langit dan bumi, yang menuntun segenap umatNya. Sekaligus ayat tersebut, bila kita baca kelanjutannya, menunjukkan kriteria seorang gembala yang baik dan kriteria gembala upahan.
Seorang gembala yang baik punya sikap rela berkorban nyawa, mengasihi domba dan mencari yang terhilang serta melakukannya tanpa pamrih, domba-domba mengenal suaraNya dan Ia mengenal domba-dombaNya.
Tapi, kriteria gembala upahan adalah mempunyai motif ekonomi dalam melayani, mempunyai motif pengagungan diri sendiri, pengkultusan terhadap dirinya, dan ia tidak mengenal domba-dombanya, serta menuntut sesuatu apakah itu persembahan atau “fee” atau apapun namanya.

Kembali lagi ke konteks awal dari apa yang disampaikan disini, melayani Tuhan dan sesama haruslah dengan sikap yang tulus dan tanpa menuntut pemberian apapun. Layanilah mereka yang miskin dan menderita, jangan hanya yang kaya saja. Semua orang harus dilayani dengan pelayanan yang terbaik secara cuma-cuma.

Marilah kita miliki semangat melayani seperti Yesus yang mengutamakan orang lain dan rela berkorban. Karunia apapun yang kita miliki dari Tuhan, baiklah dipakai untuk kemuliaan nama Tuhan serta untuk pewartaan Injil Kerajaan Sorga bagi semua orang.
Roh Kudus akan memampukan kita.  Tuhan Yesus memberkati kerja dan pelayanan kita semua. Haleluya.

(BT)