Category Archives: Renungan

THE KINGDOM OF GOD

“Therefore go and make disciples of all nations, baptizing them in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit … ”    (Matthew 28:19)

The concept of the kingdom of God is often divided into two, from the point of view of its form. Most people understand the Kingdom of God from the heavenly aspect, while some of the mundane aspects. People who understand the heavenly aspect of the kingdom of God believes that it is later, not now. But, on the contrary, those who understand it from the mundane aspects, was convinced that the Kingdom of God is manifest in earthly life, such as politics, economy and the various aspects of life.
What exactly is the meaning of the kingdom of God? Kingdom of God is a governance in which God govern with the full divine power as king of the universe, because God is the Creator of the universe. The concept of empire is very thick in the Bible. From the beginning, Genesis, and until the end, the Revelation, the Bible declare the kingdom of God, even there will be a thousand year kingdom on earth where believers reign with Christ Jesus.
Jesus Christ came to reestablish what was missing from Adam. What is it? The Kingdom and royal power. Therefore the Lord Jesus said that “the kingdom of God has come” because he has taken and received all authority in heaven and on earth (Matt. 28:18).
Simply, in the smaller scope, that is personal, the kingdom of God is God’s rule over our lives as His human creation. The Lord Jesus is the King who reigns over our lives. The Bible says that Jesus is the King of kings.
Thus, the Kingdom of God include also temporal aspects (the present) and heavenly (the eternal). Therefore, the kingdom of God  should be  manifested also in all aspects of human life on earth.
Then, can we “extend” the kingdom of God on earth? The answer is yes. How? By carrying out the Great Commission of the Lord Jesus, the King of kings, which is:  “Go and make disciples of all nations, baptizing them in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit, and teaching them to obey everything I have commanded you. And surely, I am with you always, even unto the end of time. ”
What else should we do to ‘expand’ the kingdom of God? Nothing more except to be witnesses of Christ Jesus wherever we are.
Hallelujah, God bless you abundantly!

Yang Terakhir Jadi Yang Terdahulu

“Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.”(Matius 20:1-16)

Matius 20:1-16 berisi tentang perumpamaan Tuhan Yesus mengenai para pekerja kebun anggur.  Inti yang disampaikan oleh Tuhan Yesus adalah soal memasuki kerajaan Sorga itu merupakan anugerah Tuhan.

Dalam perumpamaan tersebut, ada orang yang bekerja dari pagi, tapi dibayar sama dengan yang masuk siang bahkan sore hari.  Yang masuk lebih awal merasa tidak adil, karena bayarannya sama.  Namun, sang tuan yang empunya kebun anggur itu berkata:”Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau, bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?”

Perumpamaan tentang pekerja di kebun anggur ini mengajarkan bahwa perihal memasuki kerajaan Allah adalah soal hak istimewa, soal anugerah dari Tuhan, bukan jasa manusia. Disini Tuhan Yesus memperingatkan akan tiga sikap yang salah:

1) Jangan merasa diri lebih unggul karena memiliki kedudukan atau tugas yang menguntungkan.  Mungkin saudara seorang yang sejak kecil sudah Kristen, dan kemudian terus menerus berada dalam pelayanan bahkan menjadi seorang yang terkenal atau berpengaruh dalam kerohanian dan pelayanan gereja, tapi semua itu bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan, karena kita semua adalah hamba, tidaklah pantas seorang hamba untuk merasa lebih unggul dari yang lainnya. Seorang hamba haruslah memiliki sikap hati seorang hamba yang rendah hati dan selalu mau melayani.  Keselamatan kita tidak disebabkan oleh lamanya kita dalam pelayanan, atau tingginya jabatan kita di gereja.

2) Jangan lupa untuk turut merasakan kepedulian Allah yang ingin menawarkan kasih karunia-Nya kepada semua orang.  Kita harus punya hati yang penuh dengan belas kasihan terhadap jiwa-jiwa yang belum mengenal Allah yang benar.  Banyak orang sedang berjalan menuju kebinasaan.  Jangan kita cuek dan merasa enteng menganggap mereka layak menerima hukuman karena begitu bejat kehidupannya.  Mari kita menjadi saluran berkat Tuhan, menjadi penyambung lidah dan suara Tuhan bagi orang-orang yang belum selamat.

3) Janganlah iri hati terhadap berkat rohani yang diterima orang lain.  Ada orang yang senang kalau orang jahat mati. ‘Biarin dia mati, dia pantas mati dan masuk neraka,” kata-kata seperti ini tidaklah pantas kita ucapkan sebagai anak-anak Tuhan. Kita harus punya kerelaan hati dan rasa sukacita bila orang berdosa menjadi bertobat dan diselamatkan Tuhan.

Istilah yang terakhir menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu menjadi yang terakhir tidak mengandung arti bahwa yang sudah percaya lebih dulu akan masuk neraka, dan yang belum percaya dan kemudian percaya akan masuk surga.  Pengertiannya adalah bahwa kedua tipe orang yang percaya ini masuk sorga oleh karena anugerah Allah, hanya waktu pertobatan mereka yang berbeda, yang satu lebih dulu dan yang lainnya terakhir.

 

Mengapa Allah Membiarkan Penderitaan?

Allah tidak pernah bermaksud agar umat-Nya memiliki kondisi dimana mereka berkemah dan tinggal di sekeliling berkat-berkat duniawi yang sifatnya sementara, yang dapat menyebabkan mereka terikat dengan keduniawian.

Sebaliknya, Ia lebih peduli akan menjadi apakah kita kelak, dan juga hal-hal yang akan kita izinkan Dia lakukan di dalam hidup kita. Sasaran yang menyeluruh dari rencana Tuhan adalah: kita diubah dan disesuaikan bagi-Nya dalam seluruh kekekalan. Ini membutuhkan perubahan, sehingga tidak selalu merupakan jalan yang termudah.

TUHAN mencari orang-orang yang mengasihi-Nya, bukan hanya demi berkat-berkat atau apa yang dapat mereka peroleh bagi dirinya sendiri, namun seseorang yang mengasihi-Nya sebagaimana adanya Dia! Kalau tidak, Allah hanya memperoleh seorang ‘anak kecil’ yang egois, berpusat pada dirinya sendiri, mencari keuntungan diri sendiri.  Ia mencari seseorang yang tulus mencintai-Nya.

Bertahun-tahun yang lalu, Setan menuduh seorang laki-laki bahwa ia telah melayani Allah hanya untuk memperoleh berkat-berkat-Nya.  Setan mendakwa,”Ayub hanya melayani-Mu karena Engkau telah membuat hidupnya sejahtera; ambillah semua berkatnya, maka ia akan mengutuki-Mu.”

Dengan demikian, Setan sesungguhnya sedang mengatakan-“Ia hanya melayani-Mu demi apa yang dapat ia peroleh daripada-Mu. Ia hanya memperalat-Mu!

Sayangnya, apa yang dituduhkan Setan kepada Ayub benar-benar berlaku atas sebagian orang percaya, karena kita dapati di dalam Yohanes 6:26-27, bahwa orang banyak mengikuti Yesus hanya karena Ia memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Kebanyakan dari mereka meninggalkan-Nya ketika ujian-ujian kehidupan menerpa mereka.

Setan juga bersalah dalam hal yang sama seperti yang ia tuduhkan kepada Ayub (Roma 2:1).  Ironisnya, tuduhan Setan terhadap Ayub sebenarnya adalah suatu tuduhan terhadap dirinya sendiri, karena ia sendiri telah gagal secara menyedihkan dalam hal yang persis sama. Lucifer hanya melayani TUhan selama semuanya masih memuji dan mengagumi keelokannya.  Ia memiliki pesona, hikmat, kharisma, dan kemampuan-kemampuan dalam bidang musik yang tidak bisa disamai dan ditandingi.  Dahulu ia menjadi buah bibir di surga! Apakah ia bersyukur atas semuanya ini? Tidak! Yang ia inginkan adalah lebih – dan lebih lagi bagi dirinya sendiri.

Ketika Allah terpaksa memecat dan membuangnya karena kebodohan dan keangkuhannya, apakah Lucifer si Setan itu merasa menyesal atau bertobat atas dukacita dan cela yang telah ia datangkan atas Tuhannya? Tidak! Ia hanya menyesal karena ia kehilangan kedudukan, kuasa dan pujian. Dengan demikian, jelaslah bahwa ia melayani Allah hanya demi berkat-berkat-Nya, karena ketika Allah mengangkat berkat-berkat itu, ia “mengutuk” Allah.

Tuhan juga menguji Abraham untuk melihat apa yang merupakan hal utama dalam hidupnya, ketika Ia menyuruhnya untuk mempersembahkan Ishak, anak yang sangat dikasihi dan dinanti-nantikan kelahirannya sedemikian lamanya melalui istrinya, Sara.  Apakah Allah adalah nomor satu, atau janji-janji dan berkat-berkat yang nomor satu?

Tatkala dengan rela Abraham mempersembahkan Ishak kembali kepada Allah, hal itu bukan hanya merupakan kesaksian bagi Allah, namun juga kepada setan.  Karena sebagaimana Paulus katakan di dalam 1 Korintus 4:9, kita adalah “tontonan bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia”.  Setan dan semua roh jahat dengan seksama memperhatikan tindakan kita agar mereka dapat mencari-cari kesalahan kita.

Ayub diuji dalam tujuh cara:

1. Secara ekonomi
Ia kehilangan segala yang ia miliki (harta, mata pencaharian, pegawai-pegawai).

2. Dalam rumah tangga
Ia kehilangan semua anaknya, dan istrinya berbalik melawannya.

3. Secara jasmani
Tubuhnya ditimpa penyakit yang hebat dan juga memalukan.

4. Secara sosial
Keluarga dan teman-teman dekatnya salah menilai dan meninggalkannya. Warga kota memandang rendah kepadanya     dan berbicara jahat tentangnya. Reputasinya yang terhormat hancur berkeping-keping.

5. Secara mental
Ia menjadi sangat bingung.

6. Secara emosional
Ia sangat tertekan, dan keadaan-keadaan di sekitarnya secara alamiah tampak seperti tidak ada harapan.

7. Secara Rohani
Allah berdiam diri selama beberapa waktu.

Reaksi Ayub yang benar terhadap luka hati dan semua penderitaannya telah menyelamatkannya sehingga tidak jatuh ke dalam suatu lubang mental-emosional yang menjerumuskan. Hampir semua kekacauan mental dan emosional, termasuk bunuh diri, adalah hasil dari suatu reaksi yang keliru terhadap suatu luka hati dan penderitaan yang parah.

“Korban ucapan syukur” yang Ayub naikkan setelah kehilangan segala yang dimilikinya, mengubah malapetakanya menjadi kemenangan. Ini adalah salah satu kunci menuju kemenangan.

Karena itu, teladan Ayub memberikan kita suatu pesan yang patut kita jalani, bukan hanya untuk hari ini, tetapi setiap hari dalam hidup kita. Beryukurlah kepada Tuhan dalam segala keadaan, taat dan setia sampai selamanya.

Tuhan Yesus memberkati kita semua!

Diambil dari Mengubah Kutuk menjadi Berkat (“Turning Curse into Blessing”) by Paul G. Caram