Korupsi Di Bumi

Dalam kejadian 6:12 terjemahan King James tertulis:  “And God looked upon the earth, and, behold, it was corrupt; for all flesh had corrupted his way upon the earth.”

Dalam bahasa Indonesia kata ‘corrupt’ ini diterjemahkan “rusak”. Mengapa rusak atau ‘corrupt’ ? Karena manusia melakukan kehendak hawa nafsunya masing-masing.

Dari kata ‘corrupt’ ini muncullah istilah kata “korupsi” dalam bahasa Indonesia. Tapi pengertian korupsi dalam bahasa Indonesia lebib kepada suatu tindakan ilegal untuk memperkaya diri sendiri dengan cara mengambil uang/harta yang bukan miliknya.

Tapi sebenarnya arti dari korupsi menurut asal katanya lebih luas daripada itu.  Korupsi adalah keadaan yang rusak secara moral oleh karena mementingkan pemenuhan hawa nafsu dosa daripada melakukan kehendak Allah.

Jadi sebenarnya semua orang telah ‘corrupted’ dalam pandangan Allah.  Semua manusia sudah korupsi perintah Tuhan, sudah rusak, tidak ada yang benar.

Tidak ada kebanggaan sedikitpun pada kita karena sesungguhnya kita korup di hadapan Tuhan.

Namun ada kabar baik buat kita. Allah telah menjelma menjadi manusia sama seperti kita, melalui seorang perawan Maria.
Ia dikandung oleh Roh Allah sehingga Ia suci adanya, dan Ia dilahirkan melalui manusia supaya menjadi sama seperti kita.
Tapi Ia, yaitu Yesus tidak korup seperti kita. Dia memberikan contoh hidup yang benar dan tidak rusak/corrupted.

Ia justru menanggung dosa kita supaya kita yang korup ini boleh dibenarkan oleh Allah.
Penebusan kita oleh seorang pribadi yang tidak korup adalah sesuatu yang maha mulia.

Ia yang tidak korup dibunuh di salib, namun maut tidak dapat menahanNya di alam maut karena hanya yang korup yang berdosa yang pantas menerima maut. Maka Ia yang tidak korup itu bangkit dan hidup selamanya.

Kita yang korup menjadi benar. Yang rusak dibenarkan dan kita menjadi ciptaan yang baru.

Bertahan Dalam Pelayanan

Dalam menjalani tugas pelayanan seringkali kita akan merasa seperti tidak berdaya, kehilangan semangat dan bahkan ingin keluar dari pelayanan dan melakukan sesuatu yang lain.

Dalam perjalanan mission trip ke kepulauan Riau khususnya di Bengkalis, ada beberapa tempat yang dikunjungi dan umumnya tantangan para hamba Tuhan disana termasuk cukup berat.  Terutama sekali adalah tantangan dari segi ekonomi.  Umumnya mereka mengalami keterbatasan keuangan dan kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.  Tidak adanya kawan sekerja dan mitra yang menopang dan menguatkan hati mereka, sering membuat lemah dan kehabisan akal.  Belum lagi, tantangan dari masyarakat serta situasi perkembangan pelayanan dalam hal ini pertumbuhan jumlah jiwa yang dilayani yang sangat minim walaupun sudah bertahun-tahun. 
Tantangan juga datang dari internal keluarga, dari istri atau suami yang kadang-kadang imannya menjadi lemah, juga dari anak-anak meskipun anak-anak tidak mengeluh namun mereka butuh kecukupan makanan bergizi dan pendidikan yang baik.

Salah satu hamba Tuhan sebuah gereja bahkan meninggalkan tempat pelayanannya yang terpencil dan pindah entah kemana. Berat memang mengerjakan tugas pelayanan itu.

Dalam Alkitab kita melihat beberapa nabi pun mengalami situasi yang melemahkan iman.  Mereka juga bisa mengalami kehilangan semangat dan kemunduran keteguhan dalam pelayanan.  Nabi Elia pernah mengalaminya, nabi Yeremia juga mengalami dan para rasul juga mengalami. Rasul Paulus mengalami berbagai situasi sulit dalam pelayanannya, ia juga menghadapi ancaman pembunuhan bahkan hampir mati.

Saudara-saudara dalam pelayanan, para hamba Tuhan yang terkasih, kalau semangat sepertinya sedang menurun akibat tantangan yang dihadapi, biarlah kita mengingat kembali panggilan Tuhan dalam hidup kita.

Panggilan sorgawi yang kita terima sebagai suatu tugas adalah panggilan yang mulia yang mengerjakan kemuliaan dalam kekekalan. Iblis berusaha membuat para hamba Tuhan melenceng dari panggilan supaya mereka berdosa kepada Tuhan.  Ingatlah bahwa jika kita menolak tugas panggilan Ilahi maka itu berarti kita berdosa kepada Tuhan. Yunus adalah salah satu contoh, yang menunjukkan bagi kita pentingnya menunaikan tugas panggilan Allah.

Godaan dalam ekonomi, tawaran kemewahan duniawi, tidak jarang membuat para hamba Tuhan meninggalkan ladang pelayanan dan penginjilan.  Padahal, jauh lebih mulia untuk tetap berada dalam garis panggilan TUHAN.

Rasul Paulus mengalami juga sulitnya memenuhi kebutuhan hidup dan untuk itu ia menjadi penjual kemah.  Tujuan utama Paulus adalah melayani Tuhan dan memberitakan injil. Membuat kemah hanyalah untuk membuat dirinya tidak tergantung pada orang lain dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.  “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah!”. Jadi Paulus tidak punya motivasi ketamakan tapi hanya sekedar untuk pemenuhan kebutuhan hidup mendasar.

Bertahan dalam pelayanan adalah sesuatu yang mutlak bagi setiap orang yang telah dipanggil secara khusus oleh Tuhan. Seberat apapun tantangan dan persoalan harus dihadapi dengan iman. Sebab orang benar akan hidup oleh iman.

2 Timotius 4:5  berkata: “Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!”

4 hal agar kita bertahan dalam pelayanan:
1. Kuasai diri dalam segala hal
2. Sabar dalam penderitaan
3. Lakukan tugas pekerjaan pemberitaan Injil, dan
4. Tunaikanlah tugas pelayanan
(Arti dari tunaikanlah adalah lakukanlah sampai selesai, jangan setengah jalan)

Amin. Roh Kudus akan menguatkan kita para hambaNya.

Firman Tuhan Tidak Bisa Dibelenggu

“Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu.”
(2 Timotius 2:9)

Dalam pelayanan pemberitaan Injil Kristus, rasul Paulus menghadapi berbagai tantangan dan aniaya. Paulus pernah dirajam dengan batu dan hampir mati, ia juga pernah hampir mengalami amuk massa dalam situasi lainnya, dan ia juga mengalami dipenjara karena Injil.

Banyak orang membenci Injil sehingga mereka memenjarakan, menganiaya bahkan membunuh para pemberita Injil. Padahal Injil adalah kabar baik, Injil adalah kabar keselamatan dari Tuhan kepada manusia.  Namun, sayangnya, banyak orang yang tidak mau menerima Injil itu.

Firman Tuhan dalam 2 Timotius ini jelas menyatakan walaupun seorang penginjil atau beribu-ribu orang penginjil dibelenggu dengan rantai penjara, namun Injil itu tidak dapat dibelenggu dengan apapun dan oleh siapapun.

Sebab Injil itu adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Karena itu Injil tak akan dapat dan tak akan pernah dapat ditahan dan dibelenggu oleh siapapun.

Datangnya Kiamat

“Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa”
(2 Tesalonika 2:3)

Sudah banyak orang yang tersesat dengan ajaran tentang kiamat.  Beberapa orang yang mengaku dirinya nabi atau utusan Tuhan, telah menyesatkan banyak orang di dunia dengan suatu ajaran tentang kedatangan Tuhan Yesus pada hari dan tanggal tertentu.

Mereka menyebutkan secara spesifik hari tanggal dan tahun kedatangan Tuhan. Anehnya, banyak yang percaya akan hal itu, padahal Tuhan Yesus telah berkata bahwa tentang Hari itu hanya Bapa yang tahu.

2 Tesalonika 2 mengajar kita untuk tidak bingung, tidak bimbang dan tidak tersesat oleh berbagai pengajaran tentang hari kiamat.  Ada salah satu tanda yang akan muncul sebelum hari kedatangan Tuhan kedua kali yaitu munculnya antiKristus atau yang disebut si murtad.

Akan ada tanda-tanda yang muncul sebelum kedatanganNya: perang antar bangsa, bencana alam yang dahsyat, peristiwa alam yang aneh dan bencana di langit (matahari, bulan dan bintang), kenajisan dan kejahatan yang semakin merajalela di bumi, dan munculnya pemerintahan antiKristus.

Tanda-tandanya memang sudah menunjukkan bahwa kita hidup dalam periode akhir jaman. Namun, jangan percaya dengan ajaran spesifik tentang tanggal kedatangan Tuhan.

Yang terpenting adalah kita selalu setia dan berdiri teguh di atas firman-Nya serta selalu memegang prinsip-prinsip kebenaran. Setialah, setialah, dan setialah kepada Tuhan.

Kehidupan 18+

Anak saya bertanya: “pa, kok bunyi peringatan di iklan rokok lucu sih, katanya merokok membunuhmu tapi disampingnya ada tanda 18+”.

Saya berpikir sejenak dan mulai mengerti isi pikiran anak saya.  Memang, hal itu bisa menimbulkan salah persepsi.
Coba mari baca sekali lagi:
“Peringatan: Merokok membunuhmu (18+)”

Apa yang terbersit dalam pikiran kita? Mungkin gak ada dan terasa biasa. Tapi bagi anak-anak, ini menjadi suatu kebingungan dan bisa timbul salah persepsi.

Persepsi kocaknya tuh begini:
“Berarti, kalau udah usia 18 tahun keatas boleh dibunuh”.
Atau:
“Yang udah 18 tahun boleh membunuh dirinya dengan rokok”.

Banyak orang mengira bahwa kalau usia sudah dewasa berarti boleh bebas melakukan apa saja.
Tapi sebenarnya kebebasan sejati hanya ada dalam Tuhan.
Kebebasan yang bagaimana yang boleh kita lakukan ialah kebebasan yang bertanggung jawab dan yang sesuai dengan firman-Nya.

“namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Galatia 2:20a)

Yesus Mengerti Kebutuhan Kita

Tuhan Yesus datang untuk memberikan kehidupan yang berkelimpahan. 

Matius 14:13-21 menceritakan tentang peristiwa dimana Yesus memberi makan 5000 orang.  Ini bukan cerita tentang catering yang dibayar oleh Tuhan Yesus untuk menyediakan makanan bagi orang banyak.  Waktu itu gak ada yang jualan bakso, pempek, gorengan, bakmi, dan sebagainya. Gak ada pedagang yang jualan di tempat dimana mereka berada saat itu.

Kalau sekarang ini kan biasanya kalau ada KKR atau ibadah di lapangan terbuka, pasti banyak tuh yang jualan makanan dan minuman.  Sampai-sampai, lebih banyak yang fokus pada makan minum daripada fokus ke acara ibadah.

Nah, walaupun misalnya, di jaman Yesus saat itu, ada yang jualan makanan, murid-murid pasti berpikir darimana uang buat beli makanan untuk orang sebanyak ini? Inilah pikiran-pikiran tanpa iman, padahal Yang Maha Kuasa ada beserta mereka.

Waktu itu, gak ada yang jualan makanan di dekat mereka, yang terdekat itu ada di kampung-kampung yang jaraknya lumayan jauh. Tambahan lagi, hari sudah mulai malam.

Tuhan Yesus menyuruh murid-murid memberi mereka makan. Sebaliknya, murid-murid ingin menyuruh orang-orang itu pulang.
Tuhan Yesus gak mau orang-orang itu pulang dalam kondisi kelaparan karena bisa pingsan.

Nah, disinilah kita melihat bagaimana hebatNya Tuhan Yesus. Dalam situasi yang menantang akal logika itu, sepertinya tak ada jalan keluar, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Ia berkuasa melipatgandakan apa yang ada.
Waktu itu, hanya ada 5 roti dan 2 ikan.  Kalau untuk orang Manado, katanya sih gak cukup segitu buat dimakan sendiri.  Buat diri sendiri aja belum kenyang, kata orang Batak.

Tapi, dengan kuasa Tuhan Yesus, apa yang nampak sedikit, ternyata mampu mencukupi kebutuhan orang banyak. Kuasa Tuhan dimanifestasikan dalam pelipatgandaan 5 roti dan 2 ikan itu.

Makna dari peristiwa mujizat ini adalah:
1. Yesus adalah Roti Kehidupan
Mengalami mujizat macam ini, kita harusnya tidak fokus pada berkatNya tapi kepada Dia sebagai pribadi yang agung.  Siapakah Dia sebenarnya? Inilah yang harus kita pertanyakan. Tapi biasanya kita malah berkata: asyik… dapat berkat..dapat makanan..dapat ini….dapat itu… dan lupa kepada Dia sebagai Tuhan yang harus kita sembah dan taati.
Yesus adalah roti hidup berarti bahwa bersama Dia kita tidak akan pernah kekurangan dan kelaparan secara rohani.  Yesus adalah segalanya dalam hidup kita.
2. Yesus sanggup mengadakan mujizat apapun.
Yang nampak tidak mungkin bagi kita, dapat dilakukan oleh Tuhan. Ia berkuasa atas segala sesuatu dan pekerjaanNya adalah melakukan perkara-perkara yang hebat dan penuh mujizat.
3. Yesus mengerti kebutuhan jasmani kita.
Tuhan Yesus tahu dan mengerti bahwa tubuh jasmani kita perlu makan. Hal ini menunjukkan pada kita untuk tidak kuatir akan soal-soal hidup ini karena ada Tuhan Yesus yang mengerti kebutuhan kita dan yang mau mencukupi serta memelihara kita.
4. Apa yang sedikit pada kita, dapat menjadi berkelimpahan bila dipersembahkan kepada Tuhan dan diberkati oleh-Nya.

Apa masalah hidup saudara? Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.  Dia sanggup menolong saudara. Percayalah!

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Menyadari Keberadaan Kita

Shalom saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, mari kita membaca ayat firman Tuhan yang terambil dari 1 Raja-raja 18:17-18, demikian bunyi firman Tuhan:

Segera sesudah Ahab melihat Elia, ia berkata kepadanya: “Engkaukah itu, yang mencelakakan Israel?”
Jawab Elia kepadanya: “Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau ini dan kaum keluargamu, sebab kamu telah meninggalkan perintah-perintah TUHAN dan engkau ini telah mengikuti para Baal.

Ahab adalah raja Israel yang sangat jahat di mata Tuhan.  Ia melakukan kejahatan yang melebihi para raja terdahulu, sehingga menimbulkan kekejian bagi Tuhan.  Ia menyembah dewa baal di kuil baal yang didirikannya di Samaria dan membuat suatu mezbah persembahan bagi baal. Selain itu, raja Ahab juga membuat patung Asyera. Dengan demikian, raja Ahab tidak menuruti perintah Tuhan bahkan ia tidak menyembah TUHAN pencipta langit bumi dan segala isinya.
Pada zaman pemerintahannya itu terjadi kekeringan dan kelaparan yang hebat dan ia mempersalahkan Elia, menganggap bahwa Elia adalah penyebab semua bencana itu.

Perhatikanlah apa yang dikatakan Ahab ketika ia bertemu Elia: “Engkaukah itu, yang mencelakakan Israel?” Sudah sekian lama Ahab mencari Elia dan tidak menemukannya sehingga samar-samar ia nampaknya agak lupa dengan penampilan Elia.  Namun, ia cukup yakin bahwa itulah Elia, dan ia menyalahkan Elia atas semua malapetaka yang terjadi di Israel.

Inilah salah satu ciri utama orang yang jahat, yaitu tidak menyadari bahwa ialah yang sebenarnya berdosa dan hidup menyakiti hati TUHAN.  Ia malah merasa dirinya benar dan menyalahkan orang yang hidupnya benar.

Elia menegur Ahab dan menyatakan bahwa malapetaka di Israel adalah akibat perbuatan Ahab dan keluarganya yang tidak menyembah TUHAN tetapi malah menyembah baal.

Yesaya 59:2 berkata: “tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.”

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, apa yang memisahkan kita dari Tuhan? Dosa-dosa kitalah yang memisahkan kita dari TUHAN.
Keterpisahan dari Tuhan merupakan situasi yang membahayakan hidup kita baik secara jasmani maupun rohani.

Keterpisahan dari Tuhan menyebabkan secara jasmani kita tidak berada dalam perlindunganNya, dan secara rohani menuju kebinasaan kekal.
Jangan mempersalahkan Tuhan, jangan mempersalahkan firman-Nya, dan jangan mempersalahkan orang-orangNya yang benar, ketika sesuatu yang buruk menimpa kehidupan ini.  Tetapi, introspeksi diri, carilah Tuhan dan kehendakNya, carilah firmanNya, dan baiklah kita bertobat dari dosa dan kejahatan yang mendukakan Tuhan.

Tuhan ingin agar semua orang diselamatkan dan itulah sebabnya Ia memberikan teguran-teguran untuk membuat insaf dan sadar akan dosa dan agar berbalik kepada hidup yang benar dan berkenan pada Tuhan.

Ibrani 12:7  berkata: “Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?”

TUHAN Allah adalah Bapa yang baik yang menghajar kita untuk maksud penyelamatan. Kalau kita mengalami hajaran dan teguran dari Tuhan, marilah kita merendahkan diri dan minta pengampunanNya.

Tuhan Yesus telah datang menjadi korban pengampunan bagi segala dosa kita.  Keterpisahan dengan Allah telah dijembatani oleh pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib. KematianNya telah memperdamaikan kita dengan Allah, dan kebangkitanNya memberikan jaminan akan kebangkitan kita, kenaikan-Nya ke surga memberikan pengharapan yang pasti bagi kita bahwa Ia menyediakan tempat bagi kita dan akan menjemput kita dalam kedatangan-Nya kembali.

Jangan pandang enteng kemurahan Tuhan, hiduplah dalam kebenaran dan muliakanlah Tuhan senantiasa. Amin.

Zaman Nabi Nuh : Tanda Zaman

Salah satu tanda yang akan muncul pada akhir zaman adalah keadaan dunia menyerupai keadaan pada zaman Nabi Nuh.

Matius 24:37 tertulis: “Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.
Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera,
dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.

Pernyataan ini dikatakan oleh Tuhan Yesus agar kita mengenali situasi dan kedatangan-Nya yang kedua kali agar kita selalu siap sedia.

Bagaimana dan apa yang terjadi pada zaman nabi Nuh?
Dalam ayat 38 disebutkan bahwa orang-orang pada masa itu hidup dalam pesta pora (makan minum) dan kawin mawin. Tentu saja, ini tidak berbicara tentang pesta yang wajar yang dilakukan dalam Tuhan seperti pesta ulang tahun yang diadakan dengan diisi ucapan syukur kepada Tuhan. Kawin dan mengawinkan yang dimaksud juga bukanlah pernikahan yang dilakukan dalam Tuhan. Akan tetapi, kawin mawin secara nafsu di luar pernikahan.

Jadi, ciri-ciri hidup manusia zaman nabi Nuh adalah senang pesta pora, kemabukan, dan melakukan dosa-dosa seksual.
Zaman memang berubah tapi hakekat dari dosa-dosa tersebut adalah kehidupan yang selalu memenuhi hawa nafsu kedagingan duniawi.

Saat ini, semakin berkembang bentuk dari dosa seksual. Seks bebas, homoseksual, lesbian, pernikahan sejenis bahkan dilegalkan oleh negara, pornografi, dan sebagainya.

Kehidupan yang penuh pesta-pesta pora duniawi pun berkembang dalam dunia modern. Pub, diskotik, cafe dengan house music dan DJ yang memimpin para pengunjung untuk berjoget menari yang merupakan pemujaan secara duniawi, konser-konser yang tidak memuliakan Tuhan, pesta minuman keras dan sebagainya.

Baiklah kita memperhatikan tanda-tanda ini dan selalu berjaga-jaga dan berdoa agar tidak menjadi bagian dari itu semua tetapi kita menjadi orang-orang yang tetap setia sampai Tuhan Yesus datang menjemput kita.

Kelahiran Yesus Adalah Penggenapan

Dalam Matius 1:21-22 tertulis: “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi.

Perhatikan ayat terakhir yang menyatakan bahwa kelahiran Yesus Kristus merupakan penggenapan dari apa yang telah dinubuatkan oleh para nabi.

Ribuan tahun lalu para nabi sudah menubuatkan kelahiran sang juruselamat dunia. Nubuat itu bukan nubuat yang dibuat-buat manusia melainkan berasal dari firman Tuhan sendiri.

Hal ini menunjukkan bahwa kelahiran Yesus Kristus merupakan hal yang ajaib dan mulia dan membawa kesukaan bagi semua bangsa.  Keajaiban dari kelahiran-Nya bukan saja terletak pada penggenapan nubuatan para nabi namun juga nampak dari kemahakuasaan Tuhan yang memanifestasikan mujizat kehamilan seorang perawan bernama Maria.

Ayat ini mengkonfirmasikan kebenaran tentang legalitas Yesus Kristus sebagai Yang Dinanti-nantikan dan Yang Membawa Keselamatan bagi manusia.
Juga merupakan konfirmasi bagi semua orang untuk tidak mempercayai yang lain selain Yesus Kristus ini.  Dialah Anak Allah yang telah datang, Dialah Firman yang menjadi manusia, Dialah terang yang datang kepada gelap, Dialah sang pembebas, Dialah sang juruselamat.

Betapa Hebat Kasih-Nya

Dari Kejadian sampai Wahyu, apakah yang bisa nampak sebagai yang utama muncul dari semua kitab dan surat yang luar biasa ini?
Apakah soal kekayaan atau kejayaan Israel? Ataukah soal kesembuhan yang dialami orang-orang sakit? Ataukah soal penghukuman dan bencana akibat murka Allah pada manusia?
Apakah tema besar dan yang merupakan inti dari Alkitab?

Tema utama itu ialah KASIH.
Ia menjadikan dunia dan isinya oleh sebab kasih, Ia memberi hajaran karena kasih, Ia menebus manusia karena kasih, Ia memberikan kerajaanNya bagi kita karena kasih.
Sebab Allah begitu mengasihi kita dan inilah kisah Kasih yang begitu luar biasa.

Kisah Kasih yang melampaui kisah Romeo dan Juliet, juga melampaui kisah Rama dan Shinta, serta melampaui semua kisah cinta yang ada.

KasihNya kekal, KasihNya tanpa syarat, kasihNya memulihkan yang rusak, kasihNya membebat, kasihNya
Menyelamatkan.
Inilah kasih itu bahwa Allah lebih dulu mengasihi kita bahkan ketika kita masih berdosa. Betapa luar biasa kasihNya. Itulah kasih Tuhan Yesus. Hargailah kasih-Nya.

Allah adalah kasih. (1 Yohanes 4:8)

Kabar Keselamatan Untuk Anda