Datangnya Kiamat

“Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa”
(2 Tesalonika 2:3)

Sudah banyak orang yang tersesat dengan ajaran tentang kiamat.  Beberapa orang yang mengaku dirinya nabi atau utusan Tuhan, telah menyesatkan banyak orang di dunia dengan suatu ajaran tentang kedatangan Tuhan Yesus pada hari dan tanggal tertentu.

Mereka menyebutkan secara spesifik hari tanggal dan tahun kedatangan Tuhan. Anehnya, banyak yang percaya akan hal itu, padahal Tuhan Yesus telah berkata bahwa tentang Hari itu hanya Bapa yang tahu.

2 Tesalonika 2 mengajar kita untuk tidak bingung, tidak bimbang dan tidak tersesat oleh berbagai pengajaran tentang hari kiamat.  Ada salah satu tanda yang akan muncul sebelum hari kedatangan Tuhan kedua kali yaitu munculnya antiKristus atau yang disebut si murtad.

Akan ada tanda-tanda yang muncul sebelum kedatanganNya: perang antar bangsa, bencana alam yang dahsyat, peristiwa alam yang aneh dan bencana di langit (matahari, bulan dan bintang), kenajisan dan kejahatan yang semakin merajalela di bumi, dan munculnya pemerintahan antiKristus.

Tanda-tandanya memang sudah menunjukkan bahwa kita hidup dalam periode akhir jaman. Namun, jangan percaya dengan ajaran spesifik tentang tanggal kedatangan Tuhan.

Yang terpenting adalah kita selalu setia dan berdiri teguh di atas firman-Nya serta selalu memegang prinsip-prinsip kebenaran. Setialah, setialah, dan setialah kepada Tuhan.

Kehidupan 18+

Anak saya bertanya: “pa, kok bunyi peringatan di iklan rokok lucu sih, katanya merokok membunuhmu tapi disampingnya ada tanda 18+”.

Saya berpikir sejenak dan mulai mengerti isi pikiran anak saya.  Memang, hal itu bisa menimbulkan salah persepsi.
Coba mari baca sekali lagi:
“Peringatan: Merokok membunuhmu (18+)”

Apa yang terbersit dalam pikiran kita? Mungkin gak ada dan terasa biasa. Tapi bagi anak-anak, ini menjadi suatu kebingungan dan bisa timbul salah persepsi.

Persepsi kocaknya tuh begini:
“Berarti, kalau udah usia 18 tahun keatas boleh dibunuh”.
Atau:
“Yang udah 18 tahun boleh membunuh dirinya dengan rokok”.

Banyak orang mengira bahwa kalau usia sudah dewasa berarti boleh bebas melakukan apa saja.
Tapi sebenarnya kebebasan sejati hanya ada dalam Tuhan.
Kebebasan yang bagaimana yang boleh kita lakukan ialah kebebasan yang bertanggung jawab dan yang sesuai dengan firman-Nya.

“namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Galatia 2:20a)

Yesus Mengerti Kebutuhan Kita

Tuhan Yesus datang untuk memberikan kehidupan yang berkelimpahan. 

Matius 14:13-21 menceritakan tentang peristiwa dimana Yesus memberi makan 5000 orang.  Ini bukan cerita tentang catering yang dibayar oleh Tuhan Yesus untuk menyediakan makanan bagi orang banyak.  Waktu itu gak ada yang jualan bakso, pempek, gorengan, bakmi, dan sebagainya. Gak ada pedagang yang jualan di tempat dimana mereka berada saat itu.

Kalau sekarang ini kan biasanya kalau ada KKR atau ibadah di lapangan terbuka, pasti banyak tuh yang jualan makanan dan minuman.  Sampai-sampai, lebih banyak yang fokus pada makan minum daripada fokus ke acara ibadah.

Nah, walaupun misalnya, di jaman Yesus saat itu, ada yang jualan makanan, murid-murid pasti berpikir darimana uang buat beli makanan untuk orang sebanyak ini? Inilah pikiran-pikiran tanpa iman, padahal Yang Maha Kuasa ada beserta mereka.

Waktu itu, gak ada yang jualan makanan di dekat mereka, yang terdekat itu ada di kampung-kampung yang jaraknya lumayan jauh. Tambahan lagi, hari sudah mulai malam.

Tuhan Yesus menyuruh murid-murid memberi mereka makan. Sebaliknya, murid-murid ingin menyuruh orang-orang itu pulang.
Tuhan Yesus gak mau orang-orang itu pulang dalam kondisi kelaparan karena bisa pingsan.

Nah, disinilah kita melihat bagaimana hebatNya Tuhan Yesus. Dalam situasi yang menantang akal logika itu, sepertinya tak ada jalan keluar, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Ia berkuasa melipatgandakan apa yang ada.
Waktu itu, hanya ada 5 roti dan 2 ikan.  Kalau untuk orang Manado, katanya sih gak cukup segitu buat dimakan sendiri.  Buat diri sendiri aja belum kenyang, kata orang Batak.

Tapi, dengan kuasa Tuhan Yesus, apa yang nampak sedikit, ternyata mampu mencukupi kebutuhan orang banyak. Kuasa Tuhan dimanifestasikan dalam pelipatgandaan 5 roti dan 2 ikan itu.

Makna dari peristiwa mujizat ini adalah:
1. Yesus adalah Roti Kehidupan
Mengalami mujizat macam ini, kita harusnya tidak fokus pada berkatNya tapi kepada Dia sebagai pribadi yang agung.  Siapakah Dia sebenarnya? Inilah yang harus kita pertanyakan. Tapi biasanya kita malah berkata: asyik… dapat berkat..dapat makanan..dapat ini….dapat itu… dan lupa kepada Dia sebagai Tuhan yang harus kita sembah dan taati.
Yesus adalah roti hidup berarti bahwa bersama Dia kita tidak akan pernah kekurangan dan kelaparan secara rohani.  Yesus adalah segalanya dalam hidup kita.
2. Yesus sanggup mengadakan mujizat apapun.
Yang nampak tidak mungkin bagi kita, dapat dilakukan oleh Tuhan. Ia berkuasa atas segala sesuatu dan pekerjaanNya adalah melakukan perkara-perkara yang hebat dan penuh mujizat.
3. Yesus mengerti kebutuhan jasmani kita.
Tuhan Yesus tahu dan mengerti bahwa tubuh jasmani kita perlu makan. Hal ini menunjukkan pada kita untuk tidak kuatir akan soal-soal hidup ini karena ada Tuhan Yesus yang mengerti kebutuhan kita dan yang mau mencukupi serta memelihara kita.
4. Apa yang sedikit pada kita, dapat menjadi berkelimpahan bila dipersembahkan kepada Tuhan dan diberkati oleh-Nya.

Apa masalah hidup saudara? Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.  Dia sanggup menolong saudara. Percayalah!

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Menyadari Keberadaan Kita

Shalom saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, mari kita membaca ayat firman Tuhan yang terambil dari 1 Raja-raja 18:17-18, demikian bunyi firman Tuhan:

Segera sesudah Ahab melihat Elia, ia berkata kepadanya: “Engkaukah itu, yang mencelakakan Israel?”
Jawab Elia kepadanya: “Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau ini dan kaum keluargamu, sebab kamu telah meninggalkan perintah-perintah TUHAN dan engkau ini telah mengikuti para Baal.

Ahab adalah raja Israel yang sangat jahat di mata Tuhan.  Ia melakukan kejahatan yang melebihi para raja terdahulu, sehingga menimbulkan kekejian bagi Tuhan.  Ia menyembah dewa baal di kuil baal yang didirikannya di Samaria dan membuat suatu mezbah persembahan bagi baal. Selain itu, raja Ahab juga membuat patung Asyera. Dengan demikian, raja Ahab tidak menuruti perintah Tuhan bahkan ia tidak menyembah TUHAN pencipta langit bumi dan segala isinya.
Pada zaman pemerintahannya itu terjadi kekeringan dan kelaparan yang hebat dan ia mempersalahkan Elia, menganggap bahwa Elia adalah penyebab semua bencana itu.

Perhatikanlah apa yang dikatakan Ahab ketika ia bertemu Elia: “Engkaukah itu, yang mencelakakan Israel?” Sudah sekian lama Ahab mencari Elia dan tidak menemukannya sehingga samar-samar ia nampaknya agak lupa dengan penampilan Elia.  Namun, ia cukup yakin bahwa itulah Elia, dan ia menyalahkan Elia atas semua malapetaka yang terjadi di Israel.

Inilah salah satu ciri utama orang yang jahat, yaitu tidak menyadari bahwa ialah yang sebenarnya berdosa dan hidup menyakiti hati TUHAN.  Ia malah merasa dirinya benar dan menyalahkan orang yang hidupnya benar.

Elia menegur Ahab dan menyatakan bahwa malapetaka di Israel adalah akibat perbuatan Ahab dan keluarganya yang tidak menyembah TUHAN tetapi malah menyembah baal.

Yesaya 59:2 berkata: “tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.”

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, apa yang memisahkan kita dari Tuhan? Dosa-dosa kitalah yang memisahkan kita dari TUHAN.
Keterpisahan dari Tuhan merupakan situasi yang membahayakan hidup kita baik secara jasmani maupun rohani.

Keterpisahan dari Tuhan menyebabkan secara jasmani kita tidak berada dalam perlindunganNya, dan secara rohani menuju kebinasaan kekal.
Jangan mempersalahkan Tuhan, jangan mempersalahkan firman-Nya, dan jangan mempersalahkan orang-orangNya yang benar, ketika sesuatu yang buruk menimpa kehidupan ini.  Tetapi, introspeksi diri, carilah Tuhan dan kehendakNya, carilah firmanNya, dan baiklah kita bertobat dari dosa dan kejahatan yang mendukakan Tuhan.

Tuhan ingin agar semua orang diselamatkan dan itulah sebabnya Ia memberikan teguran-teguran untuk membuat insaf dan sadar akan dosa dan agar berbalik kepada hidup yang benar dan berkenan pada Tuhan.

Ibrani 12:7  berkata: “Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?”

TUHAN Allah adalah Bapa yang baik yang menghajar kita untuk maksud penyelamatan. Kalau kita mengalami hajaran dan teguran dari Tuhan, marilah kita merendahkan diri dan minta pengampunanNya.

Tuhan Yesus telah datang menjadi korban pengampunan bagi segala dosa kita.  Keterpisahan dengan Allah telah dijembatani oleh pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib. KematianNya telah memperdamaikan kita dengan Allah, dan kebangkitanNya memberikan jaminan akan kebangkitan kita, kenaikan-Nya ke surga memberikan pengharapan yang pasti bagi kita bahwa Ia menyediakan tempat bagi kita dan akan menjemput kita dalam kedatangan-Nya kembali.

Jangan pandang enteng kemurahan Tuhan, hiduplah dalam kebenaran dan muliakanlah Tuhan senantiasa. Amin.

Zaman Nabi Nuh : Tanda Zaman

Salah satu tanda yang akan muncul pada akhir zaman adalah keadaan dunia menyerupai keadaan pada zaman Nabi Nuh.

Matius 24:37 tertulis: “Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.
Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera,
dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.

Pernyataan ini dikatakan oleh Tuhan Yesus agar kita mengenali situasi dan kedatangan-Nya yang kedua kali agar kita selalu siap sedia.

Bagaimana dan apa yang terjadi pada zaman nabi Nuh?
Dalam ayat 38 disebutkan bahwa orang-orang pada masa itu hidup dalam pesta pora (makan minum) dan kawin mawin. Tentu saja, ini tidak berbicara tentang pesta yang wajar yang dilakukan dalam Tuhan seperti pesta ulang tahun yang diadakan dengan diisi ucapan syukur kepada Tuhan. Kawin dan mengawinkan yang dimaksud juga bukanlah pernikahan yang dilakukan dalam Tuhan. Akan tetapi, kawin mawin secara nafsu di luar pernikahan.

Jadi, ciri-ciri hidup manusia zaman nabi Nuh adalah senang pesta pora, kemabukan, dan melakukan dosa-dosa seksual.
Zaman memang berubah tapi hakekat dari dosa-dosa tersebut adalah kehidupan yang selalu memenuhi hawa nafsu kedagingan duniawi.

Saat ini, semakin berkembang bentuk dari dosa seksual. Seks bebas, homoseksual, lesbian, pernikahan sejenis bahkan dilegalkan oleh negara, pornografi, dan sebagainya.

Kehidupan yang penuh pesta-pesta pora duniawi pun berkembang dalam dunia modern. Pub, diskotik, cafe dengan house music dan DJ yang memimpin para pengunjung untuk berjoget menari yang merupakan pemujaan secara duniawi, konser-konser yang tidak memuliakan Tuhan, pesta minuman keras dan sebagainya.

Baiklah kita memperhatikan tanda-tanda ini dan selalu berjaga-jaga dan berdoa agar tidak menjadi bagian dari itu semua tetapi kita menjadi orang-orang yang tetap setia sampai Tuhan Yesus datang menjemput kita.

Kelahiran Yesus Adalah Penggenapan

Dalam Matius 1:21-22 tertulis: “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi.

Perhatikan ayat terakhir yang menyatakan bahwa kelahiran Yesus Kristus merupakan penggenapan dari apa yang telah dinubuatkan oleh para nabi.

Ribuan tahun lalu para nabi sudah menubuatkan kelahiran sang juruselamat dunia. Nubuat itu bukan nubuat yang dibuat-buat manusia melainkan berasal dari firman Tuhan sendiri.

Hal ini menunjukkan bahwa kelahiran Yesus Kristus merupakan hal yang ajaib dan mulia dan membawa kesukaan bagi semua bangsa.  Keajaiban dari kelahiran-Nya bukan saja terletak pada penggenapan nubuatan para nabi namun juga nampak dari kemahakuasaan Tuhan yang memanifestasikan mujizat kehamilan seorang perawan bernama Maria.

Ayat ini mengkonfirmasikan kebenaran tentang legalitas Yesus Kristus sebagai Yang Dinanti-nantikan dan Yang Membawa Keselamatan bagi manusia.
Juga merupakan konfirmasi bagi semua orang untuk tidak mempercayai yang lain selain Yesus Kristus ini.  Dialah Anak Allah yang telah datang, Dialah Firman yang menjadi manusia, Dialah terang yang datang kepada gelap, Dialah sang pembebas, Dialah sang juruselamat.

Betapa Hebat Kasih-Nya

Dari Kejadian sampai Wahyu, apakah yang bisa nampak sebagai yang utama muncul dari semua kitab dan surat yang luar biasa ini?
Apakah soal kekayaan atau kejayaan Israel? Ataukah soal kesembuhan yang dialami orang-orang sakit? Ataukah soal penghukuman dan bencana akibat murka Allah pada manusia?
Apakah tema besar dan yang merupakan inti dari Alkitab?

Tema utama itu ialah KASIH.
Ia menjadikan dunia dan isinya oleh sebab kasih, Ia memberi hajaran karena kasih, Ia menebus manusia karena kasih, Ia memberikan kerajaanNya bagi kita karena kasih.
Sebab Allah begitu mengasihi kita dan inilah kisah Kasih yang begitu luar biasa.

Kisah Kasih yang melampaui kisah Romeo dan Juliet, juga melampaui kisah Rama dan Shinta, serta melampaui semua kisah cinta yang ada.

KasihNya kekal, KasihNya tanpa syarat, kasihNya memulihkan yang rusak, kasihNya membebat, kasihNya
Menyelamatkan.
Inilah kasih itu bahwa Allah lebih dulu mengasihi kita bahkan ketika kita masih berdosa. Betapa luar biasa kasihNya. Itulah kasih Tuhan Yesus. Hargailah kasih-Nya.

Allah adalah kasih. (1 Yohanes 4:8)

Pecahan Kaca Yang Berharga

Pecahan-pecahan kaca dari barang rumah tangga saya buang di tempat sampah.  Cukup banyak juga pecahan kaca itu, tapi itu semua sudah tidak berharga, menurut saya. Tidak lama kemudian, saya hendak membuang sampah lagi, dan tentunya harus ke tempat sampah di depan rumah.  Ada perasaan kaget karena melihat pecahan-pecahan kaca yang tadi dibuang sudah tidak ada di tempat sampah, tapi sampah yang lainnya masih ada disitu.  Rupanya, pemulung sampah yang mengambilnya.  Aneh juga, untuk apa?

Lama setelah kejadian itu, saya berbincang dengan seorang paman yang pernah bekerja di pabrik kaca. Ia mengatakan bahwa kaca-kaca yang sudah pecah bisa dilebur kembali bersama dengan kaca-kaca lain, untuk kemudian dijadikan suatu produk kaca yang baru.  Ada yang dibentuk menjadi gelas, piring, dan mangkok yang bentuknya beragam, dari yang sederhana sampai yang indah.

Ternyata, sesuatu yang menurut pikiran saya sudah tidak berharga, pada kenyataannya sungguh sangat berharga.  Pabrik dengan mesin produksinya menghancurkannya dan meleburnya serta membentuknya kembali menjadi sesuatu yang baru.

Cerita di atas, ada kemiripan dengan kehidupan kita.  Adakalanya kita merasa hidup kita sudah tidak berharga.  Semua harapan nampaknya hancur, cita-cita tidak kesampaian, situasi kehidupan terasa kacau, rumah tangga morat-marit, pekerjaan berantakan, usaha bangkrut, pelayanan stagnan dan lain sebagainya. Dan kita merasa semuanya sudah berakhir, tidak ada lagi harapan.

Renungkanlah ini saudara, jika pecahan-pecahan kaca itu dapat dilebur dan dibentuk kembali oleh pabrik kaca, maka kehidupan kita yang nampak hancur berkeping-keping sekalipun, juga dapat dibentuk kembali oleh sang Pencipta kita, yaitu Tuhan.  Ia akan ‘melebur setiap kepingan harapan’ dan mengubahnya menjadi karya yang indah.  Ia adalah ahlinya dalam memulihkan kehidupan kita.  Meskipun kehidupan kita nampaknya hancur dan tak berharga, bagi Tuhan hidup kita sangat berharga.

Percayalah bahwa selalu ada harapan di dalam Tuhan. Apa yang nampaknya tidak mungkin bagi manusia, sangat mungkin bagi Tuhan. Dia berkuasa memulihkan dan membentuk kembali kehidupan kita, menjadi sesuatu yang sangat indah di tangan-Nya.

Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu. (Yesaya 64:8)

Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.  (Yeremia 18:4)

“Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel! (Yeremia 18:6)

God bless you!

Gereja Bukan Gedung

ImageSangat menarik sekali dan sekaligus mengherankan bahwa kata gereja tidak terdapat di dalam Alkitab bahasa Indonesia.  Bila kita mencoba mencari kata ‘gereja’ dalam Alkitab tertulis maupun Alkitab elektronik, secara manual ataupun secara komputerisasi, maka hasilnya nihil alias tidak ada.

Mengapa? Bukankah gereja itu identik dengan kekristenan dan tidak pernah terlepas dari kehidupan kita sehari-hari.  Setiap minggu kita ke gereja, hari-hari biasa juga ada kegiatan di gereja, bahkan dalam lagu-lagu pujian rohani ada yang memuat kata gereja. Lalu mengapa bisa kata itu tidak ada dalam Alkitab?

Buat saudara-saudara semua, janganlah bingung dan janganlah heran, hal ini disebabkan kata gereja yang dipakai oleh kita di Indonesia, berasal dari kata dalam bahasa lain.  Kata ‘Gereja’ berasal dari bahasa Portugis: igreja.  Kata ‘igreja’ itu sendiri berasal dari bahasa Yunani: εκκλησία (ekklêsia) atau eklesia yang berarti dipanggil keluar (ek= keluar; klesia dari kata kaleo= memanggil).

Jadi, sebenarnya yang dimaksud gereja adalah eklesia dalam bahasa Yunani, atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai ‘jemaat’. Pengertian asli dari gereja adalah kumpulan orang yang dipanggil keluar.  Seperti bangsa Israel yang dipanggil keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian, dari perbudakan kepada kemerdekaan, begitu pula gereja adalah kumpulan orang yang dipanggil keluar dari perbudakan dosa menuju kepada kemerdekaan di dalam Kristus.

2 Korintus 5:17 menyebutkan: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”  Semua orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus adalah ciptaan baru. Kita yang telah beriman pada Tuhan adalah orang-orang yang telah dipanggil keluar dari posisi kita sebagai ciptaan lama (dari daging/jasmaniah/hawa nafsu kedagingan) kepada posisi sebagai ciptaan baru (dari roh/rohaniah/hidup dipimpin Roh Kudus).

Dengan demikian, benarlah bahwa gereja bukanlah soal gedung, karena firman Tuhan sendiri berkata bahwa “Bait Allah itu ialah kamu.” (1 Korintus 3:17).  Jadi, yang dimaksud gereja, dalam bahasa Inggris disebut ‘church’, adalah saya dan saudara, kita semua yang telah menjadi percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.

Karena saudara adalah gereja, maka saudara dapat memuji Tuhan dimanapun saudara berada, tidak tergantung kepada tempat atau gedung, tidak tergantung kepada ketersediaan alat musik atau lampu warna-warni, juga teknologi media yang canggih.  Damai dan ketenangan ibadah itu ada dalam hati kita, ketika kita menyadari bahwa kita adalah gereja-Nya, bait kudus-Nya, tempat kediaman-Nya.

Saudara dapat menyembah Tuhan di rumah, di kamar saudara yang kecil, atau di bawah kolong jembatan, di tempat kost, di tempat pengungsian, di bawah pohon, di pinggir pantai, di gedung lantai 50, di basement lantai bawah, di gunung, atau di lembah, di lautan, atau di udara, di mana saja, sebab saudara adalah gereja-Nya.

“…Saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem….Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (Yohanes 4:21-24)

Haleluya, Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

Mengandalkan Tuhan

Yeremia 17:7  berkata: “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”
Tentu saja firman ini tidak muncul begitu saja, namun punya latar belakang yang terkait erat dengannya.  Manusia cenderung punya berbagai andalan dalam kehidupannya. Dan andalan-andalan tersebut tanpa disadari membuatnya kurang bergantung kepada Allah.

Orang yang kuat biasanya mengandalkan kekuatannya, sehingga ia merasa ia lah yang terhebat di dunia ini,dan tidak ada yang dapat mengalahkannya.  Orang yang cantik mengandalkan kecantikannya, orang yang gagah mengandalkan kegagahannya. 

Begitu pula orang kaya, mengandalkan kekayaannya dan merasa aman karena jumlah harta yang banyak. Orang pintar merasa hebat dan mengandalkan kepandaiannya.  Orang yang berkuasa mengandalkan kekuasaannya, orang yang berpangkat mengandalkan pangkatnya. Orang yang terkenal mengandalkan popularitasnya.

Ada juga orang yang tidak memiliki sesuatu di dirinya, tapi mengandalkan sesuatu yang ada pada orang lain.  Ada orang miskin yang mengandalkan orang kaya, ada orang yang mencari pekerjaan mengandalkan pejabat yang berkuasa. Ada rakyat jelata yang begitu mengandalkan penguasa.

Manusia memang tidak dapat hidup sendiri.  Ia punya keterikatan dan “ketergantungan” dengan orang lain.  Anak kecil bergantung pada orangtuanya, dan mereka mengandalkan orangtuanya dalam berbagai macam perkara.

Mengandalkan sesuatu atau orang lain dalam batas yang wajar bukanlah sesuatu yang salah.  Namun, yang salah adalah sikap yang selalu dan selalu mengandalkan sesuatu itu, karena melampaui ketergantungan dan pengharapan kita kepada Tuhan.

Ketika menderita dan dalam kesusahan, siapakah yang kita andalkan? Apakah ada sesuatu yang lain yang menjadi andalan kita melebihi daripada Tuhan? Kalau kita berharap pada manusia, maka kita akan kecewa. Kalau kita berharap pada kekayaan atau kekuasaan, kita akan kecewa.

Bukan hanya kecewa, namun kita juga akan terjebak dalam rasa putus asa, stres, dan kehilangan semangat dan harapan, bila kita mengandalkan yang lain selain dari Tuhan. 

Dalam segala pergumulan dan persoalan, marilah kita selalu mengandalkan Tuhan.  Hanya Dialah tempat berlindung dan tempat untuk mengaduh. Hanya Tuhan Yesus sumber pertolongan dan pengharapan yang pastinya tidak mengecewakan.
Kebergantungan penuh pada Tuhan, akan menghasilkan jiwa dan pikiran yang tenteram, hati yang damai meski di tengah “badai”, dan satu hal yang pasti, kita akan memperoleh jawaban dan pertolongan yang kita perlukan.

Andalkanlah Tuhan maka hidupmu akan mengalami berkat-berkat-Nya. Amin.

Kabar Keselamatan Untuk Anda