Kota Tua dan Orang Tua

Di berbagai negara, ada bagian dari kota yang disebut sebagai kota tua atau Old Town.  Umumnya, Kota Tua ramai dikunjungi orang dan menjadi daya tarik wisata yang menghasilkan uang bagi pemerintah, pengusaha dan masyarakat sekitarnya.  Kota Tua bagaikan magnet yang menarik orang untuk datang mengunjungi.  Di Jakarta ada Kota Tua, di Praha juga ada Old Town, dua-duanya ramai dengan wisatawan yang tersenyum senang saat berada disana.

Tapi lain Kota Tua, lain pula Orang Tua. Yang sebaliknya justru terjadi pada orang tua yang sudah lanjut umurnya. Mereka sudah tidak menarik lagi dan seolah diabaikan.  Jarang ada yang senang mengunjungi orang tua karena mereka sudah tua dan lemah serta tidak menarik lagi. Bahkan, orang tua banyak yang dititipkan di panti jompo.

Alkitab mengajar kita untuk menghormati, memperhatikan dan memelihara orang tua. Jangan kita biarkan orang tua sendirian dan terabaikan.

1 Timotius 5:4 b
“…hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah.”

Ceria Karena Kertas

Anak-anak memang layak disebutkan oleh Tuhan Yesus sebagai pewaris kerajaan sorga, karena dalam hal ketulusan, kejujuran dan iman, mereka adalah juaranya.

Saya memperhatikan anak saya yang paling kecil, Michael, usianya masih 3 tahun dan ia selalu ceria dan tertawa. Hal-hal sederhana dapat membuatnya gembira, seperti misalnya ketika istri saya memberikannya sebuah tabloid iklan dari sebuah supermarket terkenal di Praha, anak saya bisa berbahagia dengan kertas tabloid yang dipegangnya.  Begitu juga waktu seorang teman memberikannya dua buah plester semacam hansaplast yang masih baru dan disegel, Michael begitu senang dan terus memegang plester itu seakan-akan sesuatu yang menyenangkan.

Bagi orang dewasa, kertas uanglah yang membuatnya tersenyum. Mari kita renungkan sejenak, betapa bedanya kita dengan anak kecil.  Kita sering lupa esensi dari kebahagiaan dan bahkan esensi dari kehidupan. Nikmatilah dengan sukacita hidup yang dikaruniakan Allah kepada kita dalam segala situasi.

Lukas 18:16
Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.

2 Pilihan dari Tuhan

Jangan salahkan Adam dan Hawa kalau mereka gagal dan jatuh dalam dosa.  Bisakah kita memilih taat kepada Tuhan bila kita jadi yang pertama di taman Eden? Nampaknya tidak akan ada yang sanggup.

Sampai saat ini pun kita selalu diperhadapkan pada 2 pilihan, kehidupan atau kematian, ketaatan  atau  pemberontakan pada firman Tuhan, dan seringkali kita gagal.

Ketika diperhadapkan pada pilihan untuk mengampuni, kita lebih memilih menyimpan dendam, dan kita pun gagal menuruti Tuhan.
Ketika diperhadapkan pada pilihan untuk bersabar, kita lebih memilih untuk marah dan ambil jalan pintas, sehingga kita pun gagal menuruti Tuhan.
Ketika diperhadapkan pada pilihan untuk beriman, kita lebih memilih kuatir, dan kita pun gagal menuruti Tuhan.
Ketika diperhadapkan pada pilihan untuk percaya pada Yesus, banyak yang memilih untuk tidak percaya, dan mereka pun gagal menuruti Tuhan.
Banyak situasi dalam hidup kita dimana kita harus memilih untuk taat atau tidak, pilihan antara kehidupan dan kematian, situasi yang selalu mengharuskan kita memilih.

Jangan pilih dosa, jangan pilih kematian, tapi pilihlah kehidupan yaitu mengasihi Tuhan dengan segenap hati kita, dan setia menuruti kehendakNya.

Nats Alkitab:
Kejadian  2:9,16-17
Ulangan 30:19-20
Yohanes 3:16

Bersyukur Bisa Makan Nasi

Pernahkah kita merasa bersyukur karena bisa makan nasi?
Ada banyak orang yang menganggap makan nasi sebagai suatu hal yang mewah dan harus dicapai. Ya, penduduk miskin di pelosok desa dan pedalaman yang biasanya hanya bisa makan umbi-umbian atau sejenisnya, sebagian dari mereka punya cita-cita agar bisa makan nasi setiap hari.

Apa yang kita rasa biasa, mungkin bagi orang lain terasa luar biasa. Kita merasa biasa karena tidak menyadari, nanti setelah keadaan berubah barulah kita akan sadar.

Namun, tentu jangan sampai keadaan malang membuat kita mengerti.  Situasi hidup yang nampaknya buruk bagi kita, bagi orang lain mungkin nampak masih lebih baik.

Hari ini, biarlah kita mengerti bahwa ada begitu banyak kebaikan Tuhan dalam hidup kita dan biarlah kita hendaknya bersyukur atasnya. Baik atau buruknya situasi penilaian akhirnya masih akan lama. Kadang situasi buruk itu bermakna kebaikan dan membawa kepada sesuatu yang berguna.

Bersyukurlah dalam segala keadaan karena Tuhan selalu baik.

Mazmur 136:1
Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

3 Kunci Hidup Sukses

Bila saudara ingin sukses ingatlah ketiga prinsip Alkitabiah ini:
1. Andalkan Tuhan.
Hal ini berarti beriman kepadaNya dan setia melakukan firmanNya. Berharaplah hanya kepada Tuhan, bukan pada manusia, harta atau kekuatan kita.
2. Lakukan bagian kita.
Tuhan mau agar kita mengusahakan  atau mengupayakan, bukan untuk bermalasan-malasan. Tuhan mau bekerja bersama orang-orang yang aktif, bukan pasif. Ia mau kita lakukan tanggung jawab  bagian kita, maka Tuhan akan melakukan tugasNya membuat kita berhasil.
3. Nantikan hasil dengan sabar.
Segala sesuatu ada waktunya. Tuhan bekerja menurut waktuNya. Jangan kita memaksakan untuk dapat hasil yang instan, tapi latihlah diri kita untuk tekun dan bersabar, setia menantikan waktu Tuhan.

Ingatlah 3 hal prinsip ini, dan terapkan dalam hidup kita, maka kita akan sukses.

Yeremia 17:7
Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!

Dimana Letak Kebahagiaan ?

Kita pasti punya keinginan untuk hidup bahagia. Kebahagiaan yang seringkali terpikir oleh kita adalah suatu keadaan tertentu yang harus kita capai, misalnya: “Saya akan bahagia kalau saya punya rumah”, “Saya akan bahagia kalau tinggal di luar negeri”, “Saya akan bahagia kalau punya pekerjaan yang bagus”, atau “Saya akan bahagia kalau saya menikah”, dan lain-lain masih banyak lagi contoh yang berbeda-beda menurut masing-masing orang.

Padahal kebahagiaan itu sebenarnya adalah keadaan hati.  Bahagia itu terletak pada hati yang bersyukur.  Tuhan Yesus mengucapkan 10 ucapan bahagia, diantaranya adalah berbahagialah orang yang miskin, berbahagialah orang yang berdukacita, berbagialah orang yang murah hati, yang kalau kita perhatikan ternyata kebahagiaan itu bukanlah disebabkan oleh keadaan dan tidak bergantung pada keadaan, tapi merupakan pilihan setiap orang, sekaligus juga adalah anugerah.  Kita dapat memilih untuk berbahagia atau tidak berbahagia.

Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan kebahagiaan itu dalam hidup kita, tinggal kita memilih untuk hidup dalam kebahagiaan itu atau tidak.

Bahagia bukan soal dimana kita berada, atau keadaan kita, bukan soal seberapa banyak harta yang kita punyai, bukan soal kehebatan atau kekuatan serta kesuksesan. Kebahagiaan ada di dalam hati yang selalu sadar dan bersyukur.

“Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!” (Mazmur 34:8)

Aku Menggendong Kamu

Di India, ada tradisi  masyarakatnya membawa patung dewa Ganesha yang mereka percaya dapat memberikan berkat.  Patung itu biasanya akan mereka gendong atau pikul bersama-sama, ditaruh di atas bahu mereka lalu pada akhirnya dilarung ke laut atau air sungai.

Bertentangan dengan dewa-dewa ciptaan manusia yang harus diangkut oleh orang yang menciptakannya, Tuhan, pencipta kita, sanggup menggendong kita.

Tuhan sudah memperhatikan kita sejak awal hidup kita, sejak dari dalam kandungan Ia menolong dan menyertai kita dan terus bertindak untuk memelihara kita sampai akhir.

Yesaya 46:4
“Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”

Jangan Terlambat

Seorang bapak seringkali terlambat datang ke gereja. Kadangkala bahkan sudah berjalan satu jam dia baru datang. Dia mengatakan bahwa walaupun terlambat, tapi dia datang, dan menurutnya itu lebih baik daripada tidak datang sama sekali. Itu betul, saya sependapat, karena saya pun termasuk yang seringkali terlambat sehingga saya membenarkannya.  Tentu ada berbagai penyebab mengapa kita bisa terlambat, tetapi memang alangkah terlebih baiknya bila kita bisa datang tepat waktu.

Bila dalam soal kedatangan ke gereja, terlambat masih bisa dimaklumi, tidak demikian dengan respon terhadap panggilan Tuhan atau sikap berjaga-jaga akan kedatangan-Nya.

Matius 25:10-12 mengisahkan tentang 5 gadis yang bodoh yang datang terlambat: “Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.”

Kisah itu bermakna agar kita berjaga-jaga, tapi juga dapat mempunyai makna agar kita tidak terlambat meresponi panggilan-Nya.  Bila kita dipanggil Tuhan untuk bertobat, jangan tunda-tunda dan jangan terlambat, selama masih ada waktu kemurahan-Nya.

Bapa Sorgawi Lebih Hebat

Sebagai seorang ayah, saya menyadari bahwa kemampuan saya terbatas, dari segi pengetahuan, kekuatan, keuangan, kesabaran, kebaikan dan masih banyak lagi.

Kadangkala anak-anak meminta sesuatu yang saya tidak mampu, atau menanyakan suatu pertanyaan yang saya tidak bisa menjawab.

Kita semua yang punya anak, baik para ayah maupun para ibu, mengalami hal yang sama dan menyadari batas kemampuan kita. Ada hal-hal yang kita tidak mampu kerjakan bagi anak-anak kita karena keterbatasan kemampuan.

Tapi ada satu hal yang perlu kita sadari dan juga syukuri, karena ada Bapa sorgawi yang kemampuannya tak terbatas untuk menolong, menopang, menjawab, dan memberikan apa yang anak-anak kita perlukan.  Bapa sorgawi adalah Bapa kita dan Bapa anak-anak kita, sehingga kita bersukacita karena kebenaran ini.

Matius 18:10
Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.

Iman Wanita Yang Sakit Pendarahan

Ketika kita sedang berada dalam masalah atau penderitaan, bagaimanakah sikap hati kita? Apakah pesimis dengan masa depan dan menyerah dengan keadaan?

Kisah seorang wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun  yang mengalami mujizat karena imannya kepada Tuhan Yesus dalam Injil Lukas 8:43-48, menjadi contoh pembelajaran bagi kita tentang sikap yang pantang menyerah dan iman yang luar biasa kepada Tuhan.

Meskipun kondisinya lemah dan dianggap najis menurut tradisi agama Yahudi, namun ia berusaha untuk datang kepada Tuhan dengan iman, “asal aku jamah saja jumbai jubahNya, aku akan sembuh”.  Dan ia mengalami mujizat kesembuhan oleh kuasa Tuhan.

Iman berbeda dengan sugesti. Sugesti berlandaskan pada kekuatan diri sendiri, tapi iman berlandaskan pada kuasa, kekuatan dan kehendak Tuhan.

Jadilah orang yang beriman kepada Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh. Rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh dengan pengharapan.

Saat berdoa, lakukanlah dengan iman, jangan ada kebimbangan dalam hati.

Nats Alkitab:
“Karena katanya dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” (Matius 9:21)

Kabar Keselamatan Untuk Anda