Memahami Rancangan Tuhan

Selamat Tahun Baru 2016!
Kita telah memasuki tahun yang ke-16 di era millenium. Masih teringat di tahun 2000, enam belas tahun yang lalu, saya berada di sebuah pulau kecil bersama keluarga, menantikan pergantian tahun dari 1999 menuju 2000. Saat itu, begitu santer berita mengenai millenium bug dan akhir dunia. Di saat tengah malam, tiba-tiba lampu penerangan di seluruh pulau padam. Seolah ingin menunjukkan adanya millenium bug, pihak pengelola pulau sengaja mematikan lampu. Namun, di kejauhan kami melihat lampu-lampu dari gedung-gedung menjulang yang nampak di seberang pulau. Sesaat kemudian lampu menyala kembali dan bunyi petasan terdengar. Tak ada millenium bug, dunia belum kiamat.

Kita tidak pernah tahu kapan tanggal dan waktu kedatangan Tuhan. Yang pasti kedatangan-Nya akan terjadi di suatu masa dengan didahului tanda-tanda.

Tapi satu hal yang perlu kita sadari juga adalah mengenai kehidupan kita di dunia ini. Tuhan Yesus berkata bahwa selama bumi masih ada, tidak akan henti-hentinya musim menabur dan menuai. Siklus kehidupan akan terus berjalan selama bumi masih ada, dan Tuhan turut berkarya di dalam semuanya itu. Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatu, juga bertanggungjawab dalam memelihara segala ciptaan-Nya itu. Kita ada dalam perhatian dan pemeliharaan Allah.

Hidup dalam dunia diwarnai dengan kekuatiran akan masa depan, kadangkala kekecewaan dialami karena tidak terwujudnya harapan, dan seringkali hati menjadi ragu dan merasa tidak pasti untuk berjalan maju. Sebagian orang ingin mundur dan mengingat masa lalu, sebagian lagi benar-benar “mundur dari kehidupan” dan memilih mati. Saya menyadari bahwa kita tidak akan kuat kalau berjalan dengan kekuatan sendiri. Kita butuh kekuatan Tuhan. Kekuatan itu kita bisa peroleh dari firman-Nya ketika hati mempercayai dengan penuh. Sandaran teguh kita bukan harta, pekerjaan, kekuatan fisik, atau kepandaian, bukan pula pada penguasa atau raja-raja. Sandaran teguh kita hanya pada Tuhan. Penulis Amsal berkata,”Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Lebih baik berharap kepada Allah daripada berharap kepada manusia.

Menatap masa depan harus didasarkan kepada firman-Nya, bukan pada horoskop, ramalan nasib, atau yang lainnya. Kebuntuan pikiran saat mencoba untuk menduga apa yang akan terjadi di masa depan. “Bagaimana nasib saya?” “Apa yang akan terjadi?”, tidak akan muncul bila kita mendasarkan seluruh kehidupan kita pada firman-Nya.

Apakah rencana Allah bagi saya?
Tuhan memberikan janji pasti dalam firman-Nya yang berkata:
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)

Masukilah tahun yang baru, dengan memahami bahwa rancangan Allah bagi kita adalah rancangan damai sejahtera, untuk memberikan hari depan yang penuh harapan.

“Berjalan bersama Tuhan, memberikan jaminan bahwa segala sesuatunya akan menjadi yang terbaik.”