Diangkat Atau Ditinggalkan

Nats Alkitab:
Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. (Matius 24:40-42)

Film “Left Behind” yang diproduksi Hollywood sedang ramai ditonton dan dibicarakan, terlebih karena isinya adalah mengenai kisah pengangkatan orang-orang percaya. Dalam satu keluarga ada yang diangkat dan ada yang ditinggalkan.  Peristiwa pengangkatan terjadi secara serempak di seluruh dunia, di dalam pesawat, kendaraan, mall, gereja, rumah dan di berbagai tempat, yang menimbulkan kepanikan masyarakat karena keluarga mereka tiba-tiba menghilang.  Film ini mendasari ceritanya pada sebuah buku laris yang diinspirasi oleh Alkitab dan hendak mengingatkan bahwa waktunya tidak lama lagi dan semua orang harus bersiap sedia.

Peristiwa pengangkatan gereja Tuhan akan terjadi pada masa sebelum penganiayaan besar terjadi.  Dalam nats di atas jelas disebutkan mengenai adanya orang yang dibawa dan orang yang ditinggalkan.

Siapa yang dibawa? Dan kemana mereka dibawa? Ini adalah pertanyaan yang baik yang jawabannya ada dalam Alkitab. Orang-orang yang dibawa atau diangkat adalah orang-orang yang setia dalam iman kepada Yesus Kristus.  1 Tesalonika 4:16-17 menjelaskan tentang kemana perginya orang-orang yang dibawa itu yakni mereka diangkat menyongsong Tuhan di angkasa.

Dalam Perjanjian Lama, ada peristiwa yang membuktikan bahwa pengangkatan itu benar-benar ada dan akan terjadi lagi di akhir jaman.  Peristiwa tersebut adalah diangkatnya Henokh oleh Tuhan (Kejadian 5:24) dan terangkatnya nabi Elia ke surga dengan kereta kuda berapi (2 Raja-raja 2:11).

Bagaimana dengan yang tertinggal?  Orang-orang yang tertinggal adalah orang-orang yang hidup dalam dosa dan kejahatan dan tidak setia kepada Tuhan Yesus Kristus.  Yang tertinggal akan memasuki masa kesusahan dan penganiayaan besar yang akan segera terjadi sesudah peristiwa pengangkatan.

Nats Alkitab diatas menegaskan agar kita berjaga-jaga.  Ini adalah perintah Tuhan Yesus sendiri untuk kita. Berjaga-jagalah selalu seperti lima gadis yang bijaksana yang selalu menyimpan minyak untuk persediaan, baiklah kita juga selalu menjaga iman dan kesetiaan kita kepada Tuhan Yesus agar kita menjadi bagian dalam keangkatan gereja Tuhan di akhir jaman.

Melawan Pencobaan Iblis

Nats Alkitab:
Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”  Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus. (Matius 4:10-11)

Iblis berupaya mencobai Yesus agar melenceng dari ketaatan yang sempurna kepada kehendak  Allah.  Apabila Yesus jatuh dalam dosa maka seluruh rencana penebusan Allah akan gagal total. Namun hal ini tidak terjadi karena Yesus selalu melawan setiap pencobaan iblis dengan kuasa firman Allah.

Kita dapat belajar beberapa hal dari peristiwa ini :
1. Setiap kita, orang yang beriman, haruslah menyadari bahwa iblis akan berusaha mencobai kita agar kita jatuh ke dalam dosa dan ketidaktaatan kepada kehendak Allah yang sempurna. Kita terlibat dalam peperangan rohani setiap hari melawan kuasa-kuasa kejahatan dan kegelapan yang tidak nampak namun begitu nyata.

2. Kita harus hidup dengan penuh ketundukan kepada pimpinan Roh Kudus dan mematikan setiap keinginan daging kita. Mintalah agar Roh Kudus selalu memenuhi kehidupan kita dan kita pun harus memiliki kerelaan untuk hidup dipimpin dan dikuasai oleh Roh Kudus. Kepekaan kepada suara Roh Kudus akan semakin tajam ketika kita terus belajar untuk mendengar dan mengikuti setiap dorongan dan perintah Roh Kudus di dalam hati kita. Dengan ketaatan dan kepekaan ini, kita akan sanggup mengatasi setiap pencobaan dan mengalahkan dosa.

3. Pakailah Firman Tuhan yang berkuasa untuk melawan setiap pencobaan dari iblis. Perkatakan firman Tuhan kepada setiap situasi pencobaan yang kita alami. Untuk hal ini, kita perlu selalu membaca dan merenungkan firman Tuhan setiap hari.  Firman Tuhan akan menjadi “amunisi” atau “peluru” kita untuk melawan godaan dan pencobaan. Tuhan Yesus selalu memakai Firman Allah untuk melawan pencobaan iblis, kita pun haruslah demikian sebab firman Allah mengandung kuasa.  Firman Allah juga memberikan kepada kita kekuatan sorgawi untuk hidup benar dan kudus serta kesanggupan untuk melawan iblis.

Jangan berkawan dengan iblis, tapi usirlah dan lawanlah dia agar dia pergi meninggalkan kita sebab kita tidak memberikan tempat dan kesempatan baginya. 

Marilah kita hidup dalam ketaatan penuh kepada kehendak Allah yang sempurna dan memakai setiap firman Tuhan untuk melawan iblis dan pencobaannya.  Haleluya!

Mendoakan Penganiaya

Nats Alkitab:
Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (Matius 5:44-45)

Saat-saat sekarang ini kita terus mendengar berita mengenai ISIS yang melakukan pembunuhan massal terhadap orang-orang Kristen yang berada di wilayah yang mereka kuasai.

Mosul, kota kedua terbesar di Irak termasuk wilayah yang sudah dikuasai mereka. Disini, ada banyak anak-anak Tuhan yang dibunuh dengan cara dipenggal, ditembak atau disalibkan.

Meskipun mereka mengalami aniaya yang sedemikian berat, para pendeta dan jemaat Tuhan yang ada disana menyerukan agar semua orang Kristen di seluruh dunia berdoa bagi ISIS agar Allah mengampuni mereka dan menerangi hati mereka yang gelap.

Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita untuk mendoakan orang yang menganiaya kita.  Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan tapi balaslah kejahatan dengan kebaikan. Kasihilah orang yang memusuhi kita dan doakan mereka.  Dengan melakukan ini maka kita layak disebutkan sebagai anak-anak Allah Bapa sorgawi yang memberikan kemurahan kepada orang yang baik dan orang yang jahat.

Apakah saudara sedang mengalami kesusahan atau situasi yang tidak enak karena perbuatan orang lain? Apakah saudara sedang mengalami penganiayaan dari orang lain? Mungkin itu fitnah, gosip atau siksaan fisik yang saudara alami. Jangan membalas mereka dengan kejahatan, jangan mengutuk tapi berkati mereka dan berdoalah bagi orang yang menganiaya saudara dengan penuh kasih.

Marilah kita doakan saudara-saudara kita di Irak dan Suriah, doakan juga kelompok ISIS agar hati mereka diterangi oleh firman Tuhan dan memperoleh kasih karunia Allah sehingga mereka bertobat dari jalan yang sesat. Dan berdoalah untuk orang yang menganiaya atau memusuhi saudara.

Tuhan Yesus memberkati.

Yesus Dibaptis Yohanes

Nats Alkitab:
Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanes pun menuruti-Nya. (Matius 3:15)

Pembaptisan Yesus oleh Yohanes merupakan peristiwa yang menyebabkan banyak orang bertanya-tanya, jika Yesus memang Allah mengapakah Dia harus dibaptis?  Kebingungan dan pertanyaan ini sebenarnya muncul juga dalam diri Yohanes pembaptis sendiri, ketika Yesus datang kepadanya dan meminta untuk dibaptis.  Yohanes merasa heran akan hal itu sehingga ia mencegah Yesus dengan berkata: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau datang kepadaku?” (Matius 3:14)

Mengapa Yesus dibaptis oleh Yohanes?  Ada 3 alasan mengapa Yesus dengan rela hati merendahkan diri-Nya untuk dibaptis, yaitu:
1. Untuk menggenapkan seluruh kehendak Allah.
Melalui baptisan di depan umum, Yesus Kristus menyerahkan diri kepada Allah dan kerajaan-Nya sehingga dengan demikian menggenapi tuntutan Allah yang benar.
2. Ia menempatkan diri-Nya setara dengan orang berdosa sekalipun Ia sendiri tidak perlu bertobat dari dosa (2 Kor. 5:21 ; 1 Petrus 2:24).
3. Menghubungkan diri-Nya dengan gerakan baru dari Allah yang memanggil setiap orang kepada pertobatan. (Yoh. 1:23, 32-33).

Sekalipun Yesus sebenarnya tidak perlu dibaptis namun Ia dengan rendah hati menuruti segenap kehendak Allah.  Tuhan Yesus hendak memberikan contoh teladan kepada umat manusia bahwa setiap orang harus tunduk kepada perintah Allah dan melakukan yang benar.

Kerelaan Tuhan Yesus untuk bersedia dibaptis mengajar kita untuk bersikap selalu rendah hati.  Yesus saja yang sempurna mau merendahkan diri-Nya, apalagi kita orang-orang yang berdosa haruslah selalu ingat akan Tuhan dan merendahkan diri di hadapan Tuhan dan manusia, tidak malu mengakui pertobatan kita di depan umum, dan menyatakan kepada dunia bahwa kita adalah milik Allah oleh Kristus Yesus yang telah menyelamatkan kita.

Pelajaran hari ini adalah jadilah pribadi yang rendah hati dan taat kepada seluruh kehendak Allah.  Bila saudara belum dibaptis, maka ambillah keputusan untuk dibaptis hari ini atau secepatnya sebagai tindakan pertobatan dan penundukan diri kepada Allah.  Marilah kita hidup benar sesuai dengan kehendak Allah.

Doa:  Ajarlah aku Tuhan untuk selalu tunduk dan taat kepada kehendak-Mu.  Berilah aku kerendahan hati untuk mengakui bahwa aku adalah orang yang berdosa yang memerlukan Tuhan.

 

 

Berdoa Dengan Penuh Percaya

matius2122

Nats Alkitab:
Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya. (Matius 21:22)

Tuhan Yesus berbicara tentang iman dan doa dalam ayat ini.  Doa tanpa iman bukanlah doa, karena doa erat hubungannya dengan iman dan harus mengandung iman di dalamnya.

Jawaban atas doa tergantung dari iman kita.  Bila kita percaya dengan sepenuh hati dan kepercayaan kita itu selaras dengan kehendak Allah maka apa yang kita doakan pasti akan terjadi.  Segala sesuatu yang selaras dengan kehendak Tuhan dapat dilaksanakan atau diterima oleh mereka yang tidak ragu-ragu.

Dalam sejarah bangsa Mesir, tertulis tentang peristiwa berpindahnya gunung Mokkatam oleh karena doa orang-orang Kristen.  Adanya ancaman terhadap iman mereka karena Khalifah Al-Muiz menantang untuk membuktikan perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 17:20 mengenai iman yang sanggup memindahkan gunung, membuat mereka berada dalam posisi sulit dan karena itu mereka semua berdoa dengan sungguh-sungguh meminta pertolongan Tuhan. Setelah seluruh umat berdoa dan berpuasa selama 3 hari yang dipimpin oleh Patriarch Abraam bi zara, seorang pemimpin umat Kristen Koptik di Mesir kala itu, Tuhan menjawab doa mereka dan gunung Mokkatam berpindah dari tempatnya sejauh 3 kilometer.

Kita tidak dapat mengandalkan yang lain selain Tuhan untuk menolong kita menghadapi berbagai persoalan.  Jika semua pintu keluar tertutup, maka kita dapat mengetok pintu sorga dengan menaikkan doa-doa kita.  Tuhan berdaulat penuh atas kehidupan kita dan Dia sanggup melakukan mujizat yang melampaui akal pikiran kita.

Hari ini, bila engkau sedang mengalami “jalan buntu”, berlututlah dan naikkanlah doa dengan penuh kepercayaan kepada Tuhan. Janji-Nya ya dan amin, pasti dan tidak akan pernah terlambat.  Bila Tuhan sudah berjanji dalam firman-Nya maka janji itu akan ditepati.  Tuhan berjanji untuk menjawab doa-doa kita, maka doa kita pun pasti dijawab oleh Tuhan.

Selalu ada jalan bagi orang-orang yang berdoa dengan iman. Haleluya!

Mengetahui Keberadaan Tuhan

Nats Alkitab:
Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. ( Mazmur 100:3 )

Ayat ini merupakan pemberitahuan dan sekaligus perintah agar kita mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan adalah Allah yang telah menjadikan kita.

Ayat ini tidak mengajak untuk berdiskusi apakah Allah itu ada atau tidak, tetapi mengajak kita untuk, tanpa argumentasi apapun, mengetahui bahwa Allah ada.

Alkitab banyak bertutur tentang keberadaan atau eksistensi Allah. Allah itu ada dan sungguh nyata.
Kesadaran akan adanya Allah akan membuat kita menjadi orang-orang yang selalu berserah dan tunduk kepada perintah-Nya.

Di dunia ini ada paham agnostik yang mengajarkan bahwa manusia tidak dapat mengetahui apakah Allah itu ada atau tidak. Selain tidak mengetahui, paham ini berteori bahwa manusia pun tidak mampu untuk memahami Allah. Orang-orang yang menganut paham agnostik pada umumnya menjadi skeptis atau tidak peduli dengan Tuhan dan hal-hal yang rohani.

Padahal manusia dapat mengetahui keberadaan Allah melalui alam ciptaan-Nya. Firman-Nya dalam Mazmur 19:1 bahwa “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.”  Selain, alam semesta, hati nurani manusia pun berbicara mengenai eksistensi Tuhan.

Kehadiran Allah menjadi manusia yakni Yesus Kristus menambahkan kejelasan akan eksistensi atau keberadaan Allah, melalui kelahiran-Nya yang ajaib, karya mujizat yang dikerjakan-Nya dan pernyataan Tuhan Yesus mengenai Bapa Sorgawi.

Kita tidak perlu bimbang dan ragu lagi mengenai apakah Tuhan ada atau tidak. Tapi yang harus kita lakukan adalah menghormati dan menyembah Tuhan dengan cara hidup sesuai kehendak-Nya.

Hidup Dalam Pertobatan

uturnNats Alkitab:
“Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” (Matius 3:8)

Pertobatan yang sejati akan diikuti dengan buah-buah kebenaran, yaitu sikap dan tindakan yang baik dan berkenan kepada Tuhan.  Contohnya, bila dulu sebelum bertobat sifatnya adalah pemarah, maka setelah bertobat harus berubah menjadi lebih sabar dan mengampuni.

Iman dan pertobatan harus nyata dalam kehidupan yang meninggalkan dosa dan menghasilkan buah kesalehan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang mengaku percaya kepada Yesus Kristus dan menjadi anak Tuhan, namun kehidupannya tidak menghasilkan buah yang baik, harus mewaspadai akan bahaya penghukuman yang akan datang dalam kehidupannya sebab Tuhan Yesus sendiri berbicara tentang orang-orang semacam ini yang dianalogikan dengan pohon yang tidak berbuah yang siap untuk ditebang dan dicampakkan ke dalam api.

Moody Monthly memuat artikel mengenai “Apa itu dosa?”  seperti berikut ini:

What Is Sin?
Man calls it an accident, God calls it an abomination
Man calls it a blunder, God calls it a blindness
Man calls it a defect, God calls it a disease
Man calls it a chance, God calls it a choice
Man calls it an error, God calls it an enmity
Man calls it a fascination, God calls it a fatality
Man calls it an infirmity, God calls it an iniquity
Man calls it a luxury, God calls it a leprosy
Man calls it a liberty, God calls it a lawlessness
Man calls it a trifle, God calls it a tragedy
Man calls it a mistake, God calls it a madness
Man calls it a weakness, God calls it a willfulness

Inti dari apa yang ditulis dalam “Moody Monthly” itu adalah bahwa manusia seringkali menyebutkan dosa itu dengan berbagai pengertian-pengertian sendiri yang lebih cenderung kepada pembenaran untuk melakukan dosa, namun Tuhan mendefinisikan dosa sebagai ketidaktaatan, kekejian dan kebutaan secara rohani.

Mungkin kita dapat berkata bahwa kita khilaf, tapi bagi Tuhan itu merupakan suatu kekejian. Kita dapat menganggap bahwa dosa itu sepele, tapi bagi Tuhan itu adalah suatu tragedi.  Intinya adalah dosa adalah sesuatu yang harusnya tidak lagi ada dalam kehidupan kita.

Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia belaka.  Kita harus hidup dalam iman kepada Kristus dan dalam pertobatan, keduanya merupakan suatu kesatuan yang harus kita jalani sebagai orang beriman.  Menghasilkan buah-buah kebenaran dalam hidup merupakan kehendak Tuhan bagi setiap anak-anak-Nya. Marilah kita hidup dalam kehidupan yang berbuah-buah dalam Roh Kudus.

 

 

 

Pelayan Tuhan Tidak Akan Mundur

hugging_kittensNats Alkitab:
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10 )

Seorang anak muda diberi tugas mengajar dalam sebuah pelayanan Sekolah Minggu.  Setiap hari Minggu ia harus datang dan mengajar anak-anak dalam kelas yang dipercayakan kepadanya.  Selama beberapa kali mengajar, akhirnya ia menjadi kehilangan semangat karena jumlah anak-anak yang diajarnya begitu sedikit, hanya beberapa orang saja yang hadir dalam kelas Sekolah Minggu nya.

Lalu, ia memutuskan untuk berhenti dari pelayanannya.  Meskipun rencananya tidak pernah dia utarakan kepada murid-murid, namun ada seorang murid yang mengetahui keinginan sang guru untuk berhenti.

Pada hari Minggu terakhir saat ia berencana untuk berhenti, tanpa sengaja, anak muda ini mendengar percakapan dari dua anak laki-laki yang dia layani di kelas Sekolah Minggu.   Anak yang satu berkata bahwa ia tidak mau datang lagi ke Sekolah Minggu apabila guru Sekolah Minggu akan berhenti mengajari mereka.  “Kalau dia berhenti, saya juga akan berhenti, saya tidak mau datang ke Sekolah Minggu lagi,” ujarnya.

Mendengar hal itu, anak yang kedua berkata, “Mengapa? Itu tidak mungkin.”  “Guru kita tidak akan berhenti dari pelayanannya.  Saya adalah anak pertama yang ikut Sekolah Minggu di kelasnya, dan suatu hari, guru kita berkata bahwa ia diutus oleh Tuhan untuk mengajar kita  yang ada di Sekolah Minggu.  Ia juga berkata bahwa Tuhan Yesus adalah bos nya, dan ia harus melakukan apa yang diperintahkan Tuhan.
Dia adalah utusan Tuhan, Dia adalah hamba Tuhan, saya yakin ia tidak akan pernah mundur.

Mendengar percakapan itu, anak muda ini, sang guru Sekolah Minggu, merasa ditegur Tuhan sehingga kemudian ia mengambil keputusan untuk tetap melayani anak-anak di Sekolah Minggu, meskipun jumlahnya hanya sedikit.

Bagaimana dengan kesetiaan kita kepada panggilan Tuhan dan pelayanan?  Apakah tantangan akan membuat kita berputus asa? Apakah karena yang dipercayakan kepada kita begitu kecil, maka kita tidak bersemangat untuk melayani Tuhan?

Bukan soal jumlah atau kuantitas, bukan pula soal kehebatan atau ketenaran, dalam melayani Tuhan yang terutama adalah kesetiaan kita.
Setialah dalam berbagai situasi pelayanan meskipun mungkin terasa berat dan seolah tidak ada perkembangan.  Tuhan hanya minta agar kita setia melakukan panggilan-Nya itu.  Soal yang lain-lainnya adalah urusan Tuhan.

Doa: Ajar kami Tuhan untuk selalu setia dan berilah kami hati yang mau taat senantiasa

Mempercayai Allah Yang Berkuasa

Nats Alkitab:
Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ. (Mat 13:58)

Mujizat adalah suatu pekerjaan atau perbuatan ajaib yang mengandung kuasa yang tidak dapat dikerjakan menurut hukum alam, dan dalam hal ini memperlihatkan kemahakuasaan Allah!

Mujizat diadakan Tuhan dengan maksud untuk memperlihatkan Kekuasaa-Nya, untuk menetapkan Keilahian Kristus, dan untuk menempelak ketidakpercayaan dan keangkuhan manusia.  Kalau kita percaya bahwa Allah itu ada, maka seharusnya kita dapat percaya juga bahwa mujizat ada dan bisa kita alami dalam hidup ini.

Nats Alkitab di atas menjelaskan tentang mengapa tidak banyak mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus di tempat asalnya. Sebabnya ialah penduduk disana tidak percaya sehingga mereka pun tidak mengalami mujizat.  Padahal Firman Tuhan katakan:”Jadilah sesuai dengan imanmu”.  Disini jelas ada satu faktor yang mempengaruhi terjadinya mujizat yaitu iman atau percaya.

Ketika Lazarus meninggal dan telah dikuburkan, Yesus datang memenuhi panggilan dari saudara-saudara Lazarus yaitu Maria dan Martha. Sewaktu berjalan, Tuhan Yesus mengatakan kepada Maria: “Bukankah telah kukatakan kepadamu,  apabila engkau percaya, maka engkau akan melihat kemuliaan Allah?” Jadi, percaya akan menghasilkan kemuliaan Allah.

Kita harus menyadari bahwa Allah sanggup melakukan segala perkara.  Tidak ada yang mustahil bagi Dia.  Dalam persoalan apapun, sakit penyakit, jodoh, rumah tangga, pekerjaan, anak, dan segala perkara lainnya, percayalah bahwa selalu ada mujizat yang tersedia dari Allah untuk menolong kita.  Hanya, apabila kehidupan kita penuh dengan dosa, maka berbaliklah kepada Allah, minta ampun dan bertobat, supaya mujizat dan lawatan Allah terjadi dalam hidup kita.

Di jaman yang serba modern ini, pengagungan terhadap logika berpikir kritis, ditambah sikap apatis dan dosa yang merajalela, merusak iman percaya seseorang kepada Tuhan. Masihkah anda mau percaya kepada Allah? Masihkah anda percaya bahwa ada harapan di dalam Dia?

Allah masih tetap ajaib, tetap berkuasa dan Allah selalu menyediakan mujizatnya bagi kita.  Marilah kita percaya dan terus belajar untuk percaya kepada Tuhan. Amin.     

 

 

 

Menerima Pemimpin

Nats Alkitab:
Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. (Roma 13:1)

Presiden RI, Bapak Jokowi sudah dilantik dan secara sah adalah pemimpin Indonesia saat ini.  Namun, kepemimpinannya masih banyak yang tidak dapat menerima.  Bentuk penolakan pun bermacam-macam.  Ada yang menghina dengan memodifikasi foto berwajah Jokowi, ada pula yang tidak memajang foto Jokowi dan Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil presiden di ruangan kerjanya, dan ada pula yang sering menghina atau menjelekkan melalui media sosial seperti facebook dan twitter.

Sebagai orang beriman, kita harus menyadari bahwa kepemimpinan yang sekarang ini ada merupakan ketetapan dari Allah.  Dengan demikian, bapak Jokowi adalah orang yang telah diangkat dan ditetapkan Tuhan sebagai pemimpin Indonesia.  Hal ini, suka atau tidak suka, harus diterima oleh semua orang apalagi orang-orang yang sudah mengerti tentang kebenaran firman Tuhan ini.

Semua persaingan pada masa kampanye lalu harus ditinggalkan, dan sekarang saatnya untuk menatap masa depan bangsa.  Bukan lagi saatnya menjelekkan dan menjatuhkan, tetapi saatnya bagi kita untuk berdoa buat pemimpin bangsa, pemerintahan yang ada.

Bersikaplah seperti Daud yang menerima kepemimpinan raja Saul, dan jangan menjadi seperti raja Saul yang menolak dan hendak membunuh Daud yang telah diurapi Tuhan menjadi raja untuk menggantikan dirinya.  Terimalah dan taatlah kepada pemerintahan yang sudah ditetapkan-Nya.