Sabar Memadamkan Perbantahan

Amsal 15:18
“Si pemarah membangkitkan pertengkaran, tetapi orang yang sabar memadamkan perbantahan.”

Dua sikap yang kontradiktif dan memberikan hasil berbeda, marah atau sabar. Seringkali kita lupa untuk bersabar sehingga tidak mengambil jalan untuk mengalah atau berdiam diri.

Tuhan Yesus adalah Pribadi yang sabar. Ia tidak membalas aniaya. Terhadap cemoohan, Ia berdiam diri; terhadap kejahatan yang ditujukan pada-Nya, Ia mengampuni.

Sulit memang untuk bersabar, karena kita harus merendahkan diri dan terkadang memposisikan diri kita sebagai orang yang bersalah. Roh Kudus akan memampukan kita.

Kitab Amsal mengingatkan kita untuk bersabar. Dalam segala aspek kehidupan, dimulai dari rumah tangga, sabarlah selalu agar ada kedamaian.

Doa: Tuhan, berikanlah aku hati yang sabar. Amin.

Hal-hal Besar Dari Yang Terkecil

Hal-hal luar biasa di alam seringkali ditemukan pada yang terkecil.
Seekor kutu dapat melompat setinggi 200 kali dari ukuran panjang tubuhnya, hal ini setara dengan seorang manusia yang melompat setinggi 366 meter.
Seekor lalat membutuhkan 440 langkah untuk berjalan sejauh 7,5 cm, dan ia melakukannya hanya dalam setengah detik, hal ini setara dengan seorang manusia berlari 32 km dalam satu menit.
Seekor semut dapat mengangkat beban hingga 50 kali berat tubuhnya, hal ini bila disetarakan dengan manusia, maka ibarat seseorang mengangkat beban lokomotif kereta api di atas punggungnya sambil berjalan.

Apa yang nampaknya kecil ternyata dapat melakukan hal-hal yang luar biasa. Semua itu karena Tuhan memberikan kemampuan untuk melakukannya.

Kecil bukan berarti tidak mampu. Tuhan justru seringkali memakai yang kecil untuk menyatakan kemuliaan diri-Nya pada dunia.
Oleh karena itu, janganlah takut, janganlah gelisah atau kuatir, sebab yang memampukan kita adalah Tuhan.
Dalam kelemahan kita, kuasa-Nya sempurna bekerja.

Lukas 12:32
“Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.”

Kehidupan Sebuah Pensil

Sebuah pensil yang berukuran panjang 18 cm, dapat menggambar sebuah garis sepanjang 56 km. Pensil itu dapat menulis sekitar 45 ribu kata, dan bila tumpul dapat dipertajam sebanyak rata-rata 17 kali.

Berapa banyak “garis” yang tergambar dalam kehidupanmu? Berapa banyak kata yang keluar dari mulut kita sepanjang kehidupan? Bersediakah kita dipertajam oleh Tuhan untuk dipakai menuliskan yang baik dan berharga?

“jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik.” (Titus 2:7a)

Arti Mujizat di Sungai Yordan Bagi Yosua dan Bangsa Israel

Terbelahnya laut Teberau menjadi mujizat yang diingat bangsa Israel dan dihubungkan dengan kepemimpinan Musa. Mujizat itu menjadi tanda adanya penyertaan Tuhan atas Musa dan bukti bahwa Musa memang dipilih oleh Tuhan untuk memimpin umat-Nya.

Setelah kematian Musa, Yosua menjadi penggantinya untuk memimpin bangsa Israel. Ia masih baru dan belum ada mujizat yang terjadi sebagai bukti bahwa ia disertai TUHAN. Mujizat merupakan bukti yang dinantikan oleh bangsa Israel sebagai legitimasi akan kepemimpinan seseorang. Saat itu, mungkin sebagian dari umat Israel ada yang meragukan kepemimpinan Yosua, namun mereka belum bersuara. Mungkin ada yang menganggap Yosua bukan apa-apa dibandingkan Musa. Kemungkinan semacam itu dapat terjadi mengingat bangsa ini begitu mudahnya menggerutu dan berbalik dari Tuhan.

Dalam kitab Yosua pasal 3, diceritakan tentang bangsa Israel yang hendak menyeberangi sungai Yordan. Pada saat itulah, TUHAN menunjukkan penyertaan-Nya atas Yosua. TUHAN berfirman kepada Yosua: “Pada hari inilah Aku mulai membesarkan namamu di mata seluruh orang Israel, supaya mereka tahu, bahwa seperti dahulu Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau.” (Yosua 3:7).

Pada saat imam pengangkat tabut yang berjalan di depan bangsa Israel mencelupkan kakinya ke dalam air di tepi sungai Yordan, sungai itu menjadi sebak sampai meluap sepanjang tepinya selama musim menuai. Air yang turun dari hulu melonjak menjadi bendungan hingga jauh sekali mencapai sebuah kota di sebelah Sartan. Sedangkan air sungai yang menuju ke Laut Araba atau Laut Asin menjadi terputus sama sekali.

Mujizat ini terjadi di awal kepemimpinan Yosua dan mengandung makna penting terhadap iman umat Israel dan juga Yosua secara pribadi. Bangsa Israel menjadi percaya bahwa TUHAN akan menyertai mereka di bawah kepemimpinan Yosua, seperti pada saat mereka dipimpin oleh Musa. Mujizat ini juga membuat Yosua menjadi semakin teguh akan panggilan TUHAN bagi dirinya untuk memimpin bangsanya.

Di dalam hidup kita, mungkin ada banyak hal yang tidak kita sadari sebagai sebuah mujizat, padahal sebenarnya TUHAN bekerja memberikan pertolongan demi pertolongan untuk membuktikan penyertaan-Nya bagi kita. Bila kita merenungkan dengan sungguh-sungguh maka kita akan menyadari bahwa sesungguhnya hidup kita ini adalah sebuah mujizat dari TUHAN. Perjalanan hidup kita pun merupakan suatu mujizat. Ada banyak hal yang kita lewati, kesulitan dan tantangan, namun kita dapat melaluinya dengan pertolongan Tuhan. Itu sudah cukup menjadi bukti bahwa TUHAN menyertai kita. Namun bila itu tidak cukup menguatkan iman saudara, ingatlah firman-Nya yang berkata: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman” (Matius 28:20). Inilah perkataan Tuhan kita Yesus Kristus. Dia Immanuel artinya beserta dengan kita senantiasa.

Ada satu makna lagi yang terambil dari kisah Yosua pasal 3, yakni ketika Tuhan berfirman kepada Yosua bahwa “pada hari inilah Aku mulai membesarkan namamu”. Hal ini berkaitan dengan penentuan dan penetapan Tuhan untuk membesarkan nama Yosua sebagai pemimpin. Kaitannya dalam kehidupan pelayanan atau kepemimpinan kita adalah :
“Tuhanlah yang menetapkan kapan saatnya pelayanan atau kepemimpinan kita akan dibesarkan oleh-Nya.” Mungkin saudara telah begitu lama melayani Tuhan dan merasa tidak ada perkembangan, tapi tetaplah melakukan pelayanan kepada Tuhan dengan setia, karena ada saatnya dimana Tuhan akan membuat saudara menjadi lebih besar. Prinsipnya adalah setia terus melayani Tuhan.

Dalam usaha apapun, ingatlah bahwa Tuhanlah yang mengangkat kita. Oleh karena itu, kebergantungan dan penyerahan kita kepada Tuhan menjadi hal yang penting. Ketekunan, kesetiaan, keteguhan dan kesabaran menantikan waktu Tuhan haruslah selalu kita miliki. Iman kepada Tuhan Yesus Kristus tidak akan sia-sia. Nama-Nya akan semakin besar dalam kehidupan kita, saat kita semakin dipakai oleh-Nya. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus Kristus.