Ujian Malas Dan Ngantuk

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10)

Jenderal Douglas MacArthur berkata: “Tidak pernah semalam pun berlalu tanpa saya membaca Alkitab dan berdoa, meskipun badan saya terasa lelah.”  Woodrow Wilson, presiden Amerika Serikat ke-28 berkata: “Saya meminta kepada semua pria dan wanita yang ada agar mulai hari ini menyadari bahwa nasib bangsa Amerika terletak pada pembacaan dan perenungan Alkitab yang saudara lakukan setiap hari.”

Banyak orang kalah ketika menghadapi ujian hidup yang besar karena sudah terbiasa kalah dalam menghadapi ujian yang kecil.  Padahal nats diatas menyebutkan pentingnya kita setia kepada perkara-kecil.  Bagaimana kita dapat menang atas persoalan dan ujian bila kita sudah gagal terus menerus mengatasi hal-hal kecil, seperti berdoa dan membaca Alkitab.

Berdoa dan membaca Alkitab di jaman modern ini nampaknya telah berubah menjadi ujian terbesar bagi setiap orang Kristen, sebab kedua perkara ini dihalangi oleh kemalasan dan rasa kantuk.  Kita diharuskan oleh Tuhan untuk berdoa serta membaca dan merenungkan firman-Nya.  “Kejatuhan” dan kegagalan seseorang diawali dari kegagalan untuk berdoa dan membaca Alkitab.

Bila kita mau menang atas ujian iman, maka kita harus menang terlebih dulu atas rasa malas dan rasa ngantuk ketika hendak berdoa dan membaca Alkitab.    Lakukanlah kedua hal ini terlebih dahulu agar kita dapat mengalami kemenangan atas berbagai ujian iman.

Kalahkanlah kemalasan dan rasa ngantuk, berdoalah dan bacalah Alkitab, supaya kita kuat dan kokoh mengatasi berbagai tantangan.
(RHNK-Billy Tambahani/BT)

Doa:  Terima kasih Tuhan untuk kebenaran firman-Mu pada hari ini.  Saya mengerti bahwa saya harus membiasakan diri untuk setia berdoa dan merenungkan Alkitab agar ketika ujian kehidupan datang melanda, saya tetap dapat berpegang kepada perintah-Mu.  Jamahlah saya ya Tuhan dan ubahkan hidupku menjadi pribadi yang rajin berdoa dan membaca Alkitab.

Bertobat Karena Teladan

“… Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12b)

Menjadi mahasiswa baru di sebuah universitas rasanya begitu berbeda.  Masa-masa ini merupakan masa dimana pencarian jati diri masih berlangsung dan mudah sekali bagi seorang anak muda untuk terjerumus ke dalam pergaulan dan kehidupan yang salah.  Perasaan bebas dan tidak dikekang oleh orangtua umumnya dialami anak-anak muda pada saat masuk kampus.  Pilihan dan keputusan dapat dilakukan sesuai kehendak sendiri, dan disinilah dapat terlihat apakah seseorang benar-benar mengikuti Tuhan atau hawa nafsu orang muda.

Henry Drummond adalah seorang mahasiswa di Universitas Edinburgh yang mengabdikan dirinya bagi Tuhan Yesus.  Ia rajin menyampaikan kabar Injil kepada teman-temannya di kampus. Seringkali teman-temannya menghabiskan waktu dalam pesta-pesta minuman keras dan seks bebas, namun Henry Drummond tidak mengikuti kebiasaan mereka melainkan berdoa dan terus mengabarkan kabar keselamatan.

Suatu hari, ada seorang teman laki-laki yang memohon untuk dapat tinggal di kamar Henry karena ia sedang mengalami masalah keuangan.  Henry mengijinkan temannya itu untuk tinggal  di kamarnya.  Dan selama enam bulan, nampak ketidakcocokan karakter antara Henry dan temannya.  Kebiasaan yang berbeda,  mabuk-mabukan, sikap kasar, tingkah laku yang tidak baik dari temannya kelihatan dalam keseharian.  Tapi Henry dengan tulus dan kasih menerima dia dan melakukan apa yang disampaikan dalam Alkitab tentang pelayanan kasih.   Ia tidak mengusir temannya tetapi terus bersedia untuk menampungnya sambil menasihati dengan kasih Kristus.

Pada akhirnya, temannya itu menerima anugerah Allah.  Ia percaya kepada Tuhan Yesus.  Satu hal yang membuatnya dapat dimenangkan adalah karena ia melihat kasih dan teladan yang baik dari Henry Drummond.  Henry telah menjadi saksi Kristus melalui kehidupannya.  Temannya  kemudian menjadi seorang penginjil di Afrika.

Nats Alkitab di atas merupakan pesan Paulus kepada Timotius, agar sebagai orang muda dapat memberikan teladan yang baik bagi orang-orang di sekitarnya.  Sebab orang-orang lebih banyak memperhatikan cara hidup dan teladan dari seorang pelayan Tuhan daripada mendengarkan perkataannya.   Apakah perkataan selaras dengan perbuatan? Marilah jadi saksi Kristus yang baik. (RHNK-BT)

Doa:
Terima kasih Tuhan untuk firman-Mu hari ini yang mengajar untuk menjadikan hidup ini sebagai teladan bagi orang-orang lain.  Pimpinlah setiap langkah-langkah kami, agar apa yang kami katakan dan lakukan, sesuai dengan kehendak-Mu dan menjadi mata air yang sejuk bagi orang-orang di sekitar kami.

Menjangkau Suku Indian

“Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.” (Kisah Para Rasul 2:41)

Suatu kali di pabrik tempat saya bekerja dulu, kedatangan seorang teknisi dari China untuk mengajarkan cara pakai mesin-mesin produksi yang baru dibeli.  Karena kendala bahasa, komunikasi dilakukan dengan memanfaatkan teknologi internet.  Ia mengetikkan kalimat dalam bahasa Mandarin dan google akan menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Begitu juga sebaliknya, manajer pabrik akan mengetikkan kalimat dalam bahasa Indonesia dan diterjemahkan google ke bahasa Mandarin.  Adanya teknologi memudahkan komunikasi dan banyak hal sekarang ini.     Tidak seperti dulu, komunikasi antar orang berbeda bahasa begitu sulit bila tidak menguasai bahasanya.

David Brainerd, seorang penginjil yang penuh Roh, ketika hendak menjangkau salah satu suku Indian, berdoa dengan penuh kesungguhan meminta kuasa dan pimpinan Roh Kudus agar apa yang dia sampaikan kepada suku itu dapat dimengerti dengan baik supaya mereka bertobat.   Di kedalaman hutan yang lebat, David berdoa sepanjang hari.  Ia sangat bergantung kepada Tuhan karena ia tidak dapat berbahasa suku Indian itu dan tidak ada seorangpun disana yang dapat berbahasa Inggris.  Komunikasi hanya dapat dilakukan dengan bahasa isyarat.

Sepanjang hari ia berdoa dan kuasa Roh Kudus turun mengurapi David.  Ketika David berbicara menyampaikan kabar Injil kepada suku Indian itu, Roh Kudus memampukan seseorang dari suku Indian disana untuk menerjemahkan apa yang David sampaikan, dan saat itu juga puluhan orang suku Indian tersebut bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus.

Apa yang dialami oleh penginjil David Brainerd merupakan campur tangan kuasa Allah yang dahsyat dalam pelayanan.  Semua itu diawali dengan doa yang sungguh-sungguh.  Sebuah doa yang disertai sikap bergantung sepenuhnya kepada Roh Kudus.  Nats Alkitab diatas menyebutkan tentang pertobatan ribuan orang setelah mendengar khotbah Petrus.  Peristiwa ini terjadi dengan didahului oleh doa para rasul di atas sebuah loteng di Yerusalem.  Doa merupakan tindakan iman pertama agar terjadi kebangunan rohani.

Bila kita merindukan terjadi suatu kebangunan rohani, berdoalah. Kita tidak dapat mengandalkan teknologi untuk memenangkan jiwa, kita hanya perlu berdoa dan mengandalkan Roh Allah. (RHNK-BT)

Doa:
Tuhan, ampunilah kami karena seringkali mengandalkan kekuatan sendiri dalam menjangkau jiwa-jiwa.  Kami sadar bahwa kami membutuhkan campur tangan Roh Kudus untuk menjamah setiap hati agar mereka berbalik dari jalan yang sesat.  Kami berdoa ya Tuhan, selamatkanlah keluarga kami, kota kami, dan bangsa kami. Amin.

Tolonglah Aku Yang Tidak Percaya Ini

Mempercayai Tuhan dengan segenap hati merupakan kehendak Tuhan bagi setiap kita.  Ia mau agar kita sungguh-sungguh percaya bahwa Ia sanggup melakukan segala sesuatu.  Tidak ada hal yang mustahil bagi Tuhan.

Ketika seorang ayah dari anak yang dirasuk setan bertemu dengan Tuhan Yesus, ia menjelaskan kondisi anaknya yang seringkali dibanting oleh roh jahat, dan sering juga diseret ke dalam api atau ditenggelamkan ke dalam air.  Ayah dari anak itu bertemu dengan sosok pribadi yang berkuasa, yang sudah terdengar dimana-mana tentang manifestasi kesembuhan yang telah Yesus lakukan.

Tapi saat berbicara dengan Tuhan Yesus, ayah ini memohon dengan mengatakan, “Jika Engkau dapat berbuat sesuatu, maka tolonglah kami dan kasihanilah kami.”

Perkataan ayah itu mengherankan Tuhan Yesus. Ia bertanya mengapa kamu mengatakan jika engkau dapat? Dan Tuhan Yesus menekankan bahwa tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!

Ayah anak tersebut pun merespon dengan berteriak, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”

Ada satu hal yang rupanya sering sama dengan kondisi iman kebanyakan orang sekarang ini, bahkan mungkin sama dengan kita.  Bukankah seringkali kita kehilangan kepercayaan atau bimbang terhadap kuasa Tuhan?  Di saat logika kita bermain di dalam pikiran dan melihat segala sesuatu secara akal manusia, antara mungkin dan tidak mungkin, lalu kita tanpa sadar menepis dan meniadakan kekuasaan Tuhan, maka kita pun kehilangan iman pada kemahakuasaan-Nya.  Mungkin kita masih beriman akan KeTuhanan-Nya, tapi tidak untuk kemahakuasaan-Nya. Hal seperti ini hendaknya jangan terjadi.

Tuhan Yesus mau agar kita percaya dengan sepenuh hati bahwa Dia sanggup melakukan apapun untuk menolong kita.  Di saat kita merasa iman kita lemah, berdoalah dan mintalah kepada Tuhan agar Dia menolong kita yang kurang percaya. Pengakuan semacam ini merupakan kejujuran kita kepada Tuhan, namun sekaligus penyerahan kita kepada-Nya.

Janganlah lemah iman, mintalah kekuatan Tuhan di saat engkau putus asa.  Nyatakanlah segala permohonan di dalam doa dengan ucapan syukur kepada Tuhan.

Masih ada harapan dan masih ada mujizat.  Di dalam Tuhan Yesus selalu ada jalan untuk segala masalah kita. Amin.

“Tak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”

Pelayan Diakonia

Memasak dan menyediakan makanan buat keluarga terkadang dirasa sebagai beban, padahal itu adalah suatu pelayanan.  Sebagian ibu merasa dirinya sebagai pembantu apabila mengerjakan pekerjaan rumah tangga, padahal tidaklah demikian.
Sebagian bapak lebih lagi, merasa tidak pantas untuk mencuci piring, memasak atau membersihkan dapur karena menganggap itu adalah pekerjaan perempuan.

Tapi, apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, kiranya dapat mengubah kita.  Dia berkata dalam Lukas 22:27, “Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.”

Yesus menempatkan diri-Nya sebagai pelayan bagi semua.  Ia tidak mau menjadikan diri-Nya sebagai yang utama, tetapi merendahkan diri-Nya di hadapan orang lain.   Kata pelayan di dalam ayat ini, dalam bahasa Yunani, aslinya tertulis sebagai “diakonon” yang terkait dengan kata “diakonia”.  Diakonia mengandung arti “melayani meja makan.” Namun, arti yang dalam dari kata ini adalah menjadikan diri sebagai hamba dan pelayan bagi orang lain.  Tidak mencari posisi untuk menjadi yang terbesar, tidak punya ambisi jabatan dan gengsi, itulah sikap seorang diakonon atau pelayan.

Jadi, bila Tuhan Yesus saja mau melayani meja, mau menjadikan diri-Nya sebagai hamba dan pelayan bagi yang lain, maka baiklah kita juga hendaknya meneladani Yesus dalam keseharian kita.

Jangan merasa diri rendah ataupun kecewa bila mengerjakan tugas atau pekerjaan yang nampaknya kecil dan rendah.  Sebab melayani adalah habitus dari setiap orang yang beriman kepada Kristus.  Melayani bukan hanya di dalam gedung gereja, tapi melayani yang sejati lahir dari hati dan diimplementasikan dalam segala aspek kehidupan kita, dimulai dari rumah.

Jalan Yang Lurus

dead-end

“Ada jalan yang disangka lurus,  tetapi ujungnya menuju maut. “(Amsal 16:25)

Suatu kali saat mengendarai kendaraan di suatu daerah yang baru, saya memilih suatu jalan yang menurut saya akan membawa ke tempat tujuan.  Setelah menyusuri jalan itu beberapa lama, ternyata itu adalah jalan buntu.

Ada kisah lain tentang seseorang yang mengira jalan yang dia tempuh adalah jalan yang menghubungkan dia dengan tempat kemana ia akan pergi, tapi nyatanya jalan itu berujung di sebuah jurang.

Ayat di atas berbicara tentang “jalan kehidupan” yang kita tempuh.   Hal ini berhubungan dengan pilihan dan keputusan kita, dan mempunyai konsekuensi akhir yang penting dan menentukan kemana kita akan berakhir, apakah maut atau hidup.

“Jalan kehidupan” ini sangat erat dengan pilihan iman kita, karena jalan ini adalah jalan yang berkaitan dengan sorga atau neraka.  Maka, bila jalan itu menuju sorga, kita akan mendapat kehidupan, sebaliknya bila jalan itu menuju neraka, mautlah yang didapat.

Banyak orang memilih jalan yang berbeda-beda dan menganggap semuanya sama pada tujuan akhir.  Pengandaian tentang “Banyak jalan menuju Roma”,  tidak dapat diterapkan untuk Sorga.  Memang benar ada banyak jalan menuju Roma, bahkan bukan hanya Roma, kalau kita mau pergi ke alun-alun suatu kota, biasanya ada banyak jalan yang tersedia menuju kesana.  Tapi jalan ke sorga hanya ada satu.  Darimana kita tahu hanya ada satu jalan ke sorga?  Alkitab telah mengatakannya demikian.

Tuhan Yesus berkata: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak seorangpun sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” (Yoh. 14:6)

Siapakah Bapa yang dimaksudkan dalam ayat ini ? Ialah Bapa Sorgawi, Sang Pencipta segala sesuatu.  Sebab Tuhan Yesus menyebutkan tentang keberadaan “bapa” yang lain, yakni bapa segala dusta, yaitu iblis (Yoh. 8:44).    Dan Bapa dalam  Yoh. 14:6 adalah Bapa kebenaran, berkaitan dengan Kerajaan Sorga.

Ada orang yang mengira dengan membunuh orang lain, maka ia telah melakukan suatu kebaikan dan akan membawa dirinya ke sorga, padahal tidak.  Ini adalah satu contoh tentang jalan yang menuju maut.

Ada banyak agama dan kepercayaan di dunia ini.  Ada banyak tempat tempat ibadah.  Ada banyak patung-patung.  Ada banyak ramalan, sihir, tenung, dan lain sebagainya.  Ada banyak cara hidup.  Manakah yang kita akan pilih agar kita hidup kekal?

Pilihannya hanya satu, Yesus Kristuslah jalan kehidupan.  Dialah jalan yang lurus yang akan membawa kita masuk ke dalam sorga.
Jangan salah memilih jalan! Ambillah keputusan hari ini, untuk berjalan di Jalan Kebenaran.

Kaki Yang Patah

Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,
Ia membimbing aku ke air yang tenang; (Mazmur 23:2)

Seorang turis datang ke Suriah, dulu sekali, ketika keadaan masih aman.  Sang turis menjadi begitu tertarik dengan apa yang dilakukan oleh seorang gembala domba disana.  Setiap pagi, ia memperhatikan, sang gembala membawakan sesuatu untuk seekor dombanya.

Suatu hari turis ini mengikuti sang gembala dan mendapati bahwa ternyata gembala itu membawakan makanan untuk seekor domba yang patah kakinya.

Sang turis memandangi domba itu dan bertanya kepada sang gembala, “Bagaimana kakinya bisa patah? Apakah patah sejak lahir ataukah domba itu mengalami kecelakaan, jatuh ke sebuah lubang atau apakah ada binatang liar yang menyerangnya?”

“Tidak,” kata gembala itu. “Saya yang mematahkan kakinya.”      “Kamu mematahkan kakinya?” tanya sang turis.

“Ya, seperti kamu lihat, ini adalah domba yang bandel, dia selalu lari dari kerumunan dan tidak mau mengikuti saya. Bahkan domba ini bisa membuat kawanan terserak sehingga jauh dari saya. Karena itulah saya mematahkan kakinya dan memberinya makan setiap hari, supaya ia tahu dan percaya bahwa saya adalah gembalanya yang harus ia ikuti. Kakinya akan segera sembuh dan saat itulah ia akan menjadi domba yang baik.

Tuhan membaringkan kita di padang rumput hijau bukan hanya dengan kelemahlembutan namun Ia juga memaksa kita untuk berada disana agar kita tetap berada dalam pengawasan dan bertumbuh dalam iman kepada-Nya serta menikmati kemurahan-Nya.

Saat semua nampak berjalan di luar kehendak kita, percayalah bahwa Tuhan sedang melakukan sesuatu agar kita berfokus kepada Dia dan pada kekekalan. (RHNK-BT)

Doa:
Tuhan, terimakasih buat kasih-Mu yang selalu membimbingku untuk berjalan dalam kehendak firman-Mu.  Engkaulah Tuhan dan Gembalaku yang menuntun aku masuk ke dalam kekekalan.

Yang Paling Berharga

“Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan TUHAN akan kuajarkan kepadamu!”
(Mazmur 34:11)

Bagaimana cara kita mendidik anak? Apakah dengan ajaran Firman Tuhan atau uang?   Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa mereka telah menjerumuskan anak-anak mereka ke dalam suatu degradasi moral akibat memanjakan dengan uang.

Ada orangtua yang setiap hari memberikan uang banyak kepada anak-anaknya supaya mereka senang dan tidak rewel.  Padahal ini telah menjadi penyebab hilangnya generasi yang cinta akan Tuhan.  Banyak anak-anak yang terjerumus ke dalam gaya hidup pesta pora, foya-foya dan narkoba.

Benyamin Franklin mengatakan bahwa uang tidak akan pernah membuat seseorang bahagia.  Uang bukanlah penghasil kebahagiaan.  Semakin banyak uang yang dimiliki, maka akan menjadi semakin tidak puas dan menjadi semakin serakah.  Uang tidak menutupi kekosongan dalam hati, tetapi justru uang akan membuat hati kita kosong.  Sungguh benar apa yang dikatakan Amsal bahwa lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan Tuhan daripada banyak harta dengan disertai kecemasan.

Untuk menghasilkan anak-anak yang baik, Tuhan meminta setiap orangtua mendidik anak dengan ajaran Firman Tuhan.   Anak-anak harus diajari dengan sikap hidup bersyukur dan rasa cukup.  Kepedulian akan muncul dalam diri anak-anak yang diajari dengan hal-hal yang demikian.

Generasi yang tangguh bukanlah dihasilkan dari keluarga yang kaya, tetapi dihasilkan dari didikan yang benar.   Apa yang dianggap paling berharga oleh orangtua akan juga sangat dihargai oleh anak.  Bila orangtua mengagungkan uang, maka anak akan menjadi serakah dan cinta uang.  Tetapi jika orangtua mengagungkan Tuhan, maka anak akan hidup dalam cinta kepada-Nya.   Orang yang mengasihi Tuhan pasti akan diberkati dan disertai oleh-Nya.

Yang paling berharga adalah Firman Tuhan. Ajarkanlah itu kepada anak-anak kita agar mereka menjadi generasi yang kuat dalam iman dan diberkati Tuhan. (RHNK-BT)

Doa:
Tuhan Yesus, berikan aku hikmat-Mu untuk mengajarkan kepada anak-anak untuk setia dan taat kepada Firman-Mu.  Jadikan aku pribadi yang memberi teladan yang baik bagi generasi muda. Amin.

Uang Atau Kebenaran?

“Berdoalah terus untuk kami; sebab kami yakin, bahwa hati nurani kami adalah baik, karena di dalam segala hal kami menginginkan suatu hidup yang baik.” (Ibrani 13:18)

Seorang pimpinan sebuah lembaga pendidikan komputer (LPK) didatangi oleh seseorang yang belum pernah dikenalnya.  Orang itu menyampaikan maksud kedatangannya dengan mulai menceritakan bahwa ia membutuhkan sertifikat  kursus komputer untuk melamar suatu pekerjaan, karena itu merupakan salah satu syarat diterima atau tidaknya berkas lamarannya.

Pimpinan LPK tersebut menyarankan agar ia mengikuti kursus singkat intensif selama satu minggu dan sesudahnya akan mendapatkan sertifikat kelulusan.  Namun, tawaran tersebut ditolak.  Orang itu beralasan bahwa ia tidak punya waktu untuk kursus karena waktunya sudah mendesak.  Ia bersedia membayar sejumlah uang untuk mendapatkan sertifikat tanpa harus kursus.

Sang pimpinan berpikir sejenak dan kemudian menawarkan lagi agar orang itu mengikuti kursus singkat sehari penuh agar dapat memenuhi standar jam pertemuan kursus.  Tapi, tawaran ini pun ditolak. Orang itu menawarkan uang yang cukup banyak kepada pimpinan lembaga kursus tersebut agar diberikan satu lembar sertifikat tanpa harus mengikuti kursus.

Pimpinan LPK ini dengan tegas menolak uang itu dan mempersilahkan orang tersebut mencari tempat lain karena lembaga pendidikannya tidak akan mengeluarkan sertifikat begitu saja meskipun diiming-imingi uang yang banyak. Apa yang dilakukan pimpinan lembaga tersebut menunjukkan integritas yang tinggi sebab ia mengikuti perkataan hati nuraninya yang baik.

Dalam kehidupan kita, seringkali ada saat dimana integritas kita terhadap kebenaran sedang diuji.  Dan ujian itu akan menunjukkan hasil apakah kita orang yang berintegritas atau tidak.  Sesuaikah perkataan kita dengan tindakan? Sesuaikah tindakan kita dengan kebenaran? Apakah kita taat kepada Tuhan dalam segala situasi ataukah  berubah-ubah?  Mari berpikir yang benar, berkata yang benar serta bertindak yang benar agar integritas kita benar-benar nampak kepada dunia. (RHNK-BT)

Doa:
Tuhan, aku mau menjadi pribadi yang memiliki integritas sesuai kebenaran-Mu.  Tuntunlah setiap langkahku agar aku tidak menyimpang dari perintah-Mu. Amin.

Undangan Untuk Tukang Sampah

“Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya.” (Efesus 1:7)

Satu hari sebelum Natal, empat orang tukang sampah sedang bekerja mengangkut sampah di sepanjang jalan Avenue Marigny di belakang Istana Elysee Paris.  Sebagaimana biasanya, pagi itu, mereka mengangkut sampah-sampah dari rumah penduduk dengan giat.   Bau sampah yang menyengat pun menempel di baju dan celana serta badan mereka, sehingga tercium aroma yang kurang sedap dari tubuh mereka.
Saat truk sampah yang mereka kendarai sedang menyusuri jalanan itu, seorang polisi menghentikan laju kendaraan mereka.  Mereka kaget dan bingung apa kesalahan mereka sehingga diberhentikan.
Bapak polisi mengucapkan salam dan menyampaikan suatu kabar yang mengejutkan serta tidak terduga oleh mereka. Presiden Perancis saat itu mengundang mereka untuk hadir dalam acara makan pagi bersama di kediamannya.
Dengan senang hati, tukang sampah itu memenuhi undangan presiden dan saat selesai makan pagi, presiden memberikan hadiah Natal bagi mereka masing-masing serta mengucapkan selamat bekerja dan menikmati hari yang menyenangkan.
Kisah ini terjadi di luar kebiasaan.  Sangat langka terjadi seorang presiden mengundang tukang sampah atau petugas kebersihan untuk makan bersama sekaligus memberikan mereka hadiah.  Tapi ini terjadi dalam kenyataan dan dilakukan oleh seorang presiden Perancis bernama Valery Giscard d’Estaing.
Apa yang terjadi dalam cerita di atas merupakan ilustrasi yang indah tentang bagaimana kasih karunia Tuhan dilimpahkan kepada kita, manusia yang berdosa.   Kita ini “bau dan kotor” dengan dosa.  Hidup kita begitu hina dan menjijikkan.  Namun, sungguh luar biasa, kehinaan dan kekotoran kita, tidak dianggap Tuhan sebagai penghalang kasih karunia-Nya. Malah, Tuhan mau mengundang dan menerima kita sebagai anak-anak-Nya. Dan Dia mengampuni serta menguduskan kita menjadi ciptaan yang baru. Haleluya! (RHNK-BT)

Doa:
Terima kasih Tuhan Yesus untuk kasih karunia-Mu kepadaku sehingga aku diterima sepenuhnya menjadi anak-Mu.  Terima kasih untuk kasih-Mu yang telah menguduskan aku.