Tampilan Baru Tukang Sihir

Suatu studi antropologi di Temple University membahas dan mempelajari segala sesuatu tentang sihir.  Sang dosen, Dr. Lucy Gatrretson, berkata bahwa “gambaran tentang penyihir di Amerika telah berubah secara drastis.”  Dia menunjukkan bahwa dalam berbagai cara, ilmu sihir atau sihir telah menjadi sesuatu yang dihormati.  Penyihir juga sudah tidak berpenampilan seperti cerita-cerita dimana dia bertampang jelek dan menakutkan, atau seperti perempuan tua bertopi panjang dan lebar dengan sapu dan gagang yang ia pegang.

Sebaliknya, para penyihir telah berubah dalam penampilan dan berperan layaknya seorang pebisnis dan juga lulusan universitas.  Banyak dari penyihir itu yang berprofesi sebagai ahli penyembuhan herbal, ahli penyembuhan alternatif, dan orang-orang yang berprofesi sebagai psikiatris dan penyembuh iman.
( Pastor’s Manual )

Mari kita berhati-hati dengan berbagai fenomena yang ada di sekeliling kita dengan terus bersandar dan meminta hikmat pimpinan Roh Kudus supaya tidak terjerumus ke dalam praktek sihir atau menjadi korban karena kesalahpamahan dan ketidakmengertian.  Carilah Tuhan maka kamu akan hidup. Jangan terlalu bergantung dan mengutamakan mujizat-mujizat, melainkan bergantung dan utamakan Tuhan saja.

“Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, ” (2 Tesalonika 2:9)

Hati Yang Baru Si Opung

Ada seorang napi yang sudah tua dan dipanggil “Opung” oleh yang lain.  Kesaksian hidupnya membuat kita menyadari bahwa Tuhan begitu mengasihi setiap orang dan Ia hendak menyelamatkan semua dari dosa dan maut.

Opung sudah berumur 76 tahun tapi masih sehat dan hal itu sangat disyukuri olehnya.  Ia bersaksi bahwa dulu ia hanyalah seorang yang beragama tapi tidak sungguh-sungguh mengenal Tuhan Yesus Kristus.  Kehidupannya tidak sesuai dengan kehendak Firman Allah. Maka, ia sangat bersyukur karena di dalam penjara ia dapat mengenal Tuhan lebih dalam.

Keluarganya belum ada yang mengunjungi, namun ia dapat merasakan kasih Tuhan dan indahnya persekutuan bersama napi yang lain dalam ibadah.  Tahun yang lalu, ia dibaptis di sebuah kolam ikan yang ada di dalam Lapas.  Dan ia hidup dalam sukacita pertobatan.  Ini semua terjadi oleh karena kasih karunia Tuhan.

Setiap orang yang telah menjadi percaya kepada Kristus memiliki hati yang baru dan kehidupan yang baru di dalam Tuhan.

Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. (Yehezkiel 36:26)

Bersyukur Masuk Penjara

Ada yang berbeda hari ini, ketika saya berbincang dengan seorang napi di sebuah lapas di Bandung.  Ia menjalani hukuman penjara karena kasus narkoba.  Tapi uniknya dia bukanlah pemakai atau pun pengedar narkoba.  Dia hanyalah korban akibat tipu daya temannya sendiri.  Suatu hari ia dititipkan sebuah bungkusan.  Ia tidak tahu apa isi bungkusan itu, hanya diberi tahu bahwa itu adalah tembakau yang bikin mabuk.  Karena kepolosannya ia menerima saja titipan temannya itu di kamar kosnya.

Tidak lama kemudian, muncullah petugas kepolisian dan menggeledah seluruh kamar kos.  Di saat itulah, petugas menemukan bukti bungkusan berisi ganja di kamarnya. Dan dengan bukti itu, ia tidak bisa berbuat apa-apa meskipun sudah berargumen dengan polisi.  Bukti ganja itu menjadi alasan kuat bagi petugas untuk menangkapnya.

Sekarang ia sedang menjalani masa hukuman di dalam penjara, tapi yang luar biasa adalah ia bisa mengucap syukur kepada Tuhan Yesus karena hal ini.  Ia mengatakan bahwa dulu hidupnya kacau dan tidak punya tujuan, tetapi sekarang ia mengerti dan lebih mengenal Tuhan Yesus yang memberikannya arti kehidupan.

Kepada temannya yang telah memperdayainya, ia tidak merasa dendam dan malah sudah mengampuninya. Ini adalah suatu tindakan yang hanya bisa dilakukan oleh seorang yang telah dijamah hatinya oleh kasih Tuhan.

Karya Roh Kudus bekerja kepada para napi, dan di dalam penjara mereka justru menemukan Tuhan dan menjadi pribadi yang diubahkan bagi kemuliaan Tuhan.

Dalam setiap keadaan, marilah kita selalu mengucap syukur kepada Tuhan, meskipun mungkin hal itu sulit untuk dilakukan karena situasi hidup yang susah, menderita atau teraniaya.  Tuhan menghendaki agar kita selalu mengucap syukur kepada-Nya dalam segala perkara. Marilah naikkan syukur, berikanlah pengampunan kepada orang-orang yang bersalah, dan teruslah belajar mengenal Tuhan lebih dalam.

Bersyukurlah kepada Tuhan segala tuhan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. (Mazmur 136:3)

Takkan Berhenti Sampai Akhir

Nubuatan dan khotbah tentang akhir jaman telah menimbulkan respon berbeda pada tiap-tiap orang.  Salah satu respon tersebut diantaranya adalah: “Berhenti dari pekerjaan dan segala aktifitas sambil menunggu kedatangan Tuhan atau akhir jaman terjadi.”

Tahun 1991 sempat gencar terdengar adanya seseorang yang meramalkan akan terjadinya akhir jaman pada tahun itu, yang menyebabkan salah seorang teman SMA memutuskan untuk berhenti sekolah dan menunggu kedatangan Tuhan.

Pada tahun 2003 yang lalu, muncul suatu yang disebut sekte kiamat yang dipimpin oleh Mangapin Sibuea.  Mereka diajar bahwa Tuhan Yesus akan datang pada tanggal 10 November 2003.  Karena hal itu, mereka semua yang percaya menjual semua harta benda mereka, tanah dan rumah, serta berhenti dari pekerjaan dan studi.

Ketika ternyata yang dikatakan oleh bapak Sibuea tidak terjadi, mereka menjadi stress dan trauma karena sudah meninggalkan dan menjual segala sesuatu.

Kedatangan Tuhan memang akan segera terjadi, namun tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan pasti tanggal dan harinya.  Meresponi kedatangan Tuhan dan akhir jaman, bagaimana sikap yang benar? Apakah meninggalkan segala aktifitas kita, dan berhenti dari segala rencana pekerjaan?  Menjual semua harta dan rumah serta tanah yang dimiliki? Berhenti dari studi pendidikan?

Ayat Alkitab di dalam Kejadian 8:22 berkata: “Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.”  Makna dari ayat ini adalah bahwa menantikan akhir jaman itu bukan berarti kita duduk berpangku tangan dan berhenti dari segala rencana dan pekerjaan serta pelayanan.

Kita harus berjaga-jaga dan tetap memiliki “minyak” seperti yang dikatakan Tuhan Yesus dalam perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana. Tapi hal ini bukan berarti bahwa kita berhenti dari segala sesuatu dan hanya menantikan kedatangan Tuhan dan akhir jaman itu.

Tetaplah bekerja, melayani dan lanjutkan setiap rencana yang dibawa di dalam Tuhan.  Karena selama bumi masih ada, takkan berhenti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.  Dan berjaga-jagalah, lakukan yang baik dan hidup benar dalam kasih karunia Tuhan Yesus Kristus. Amin.

Istri Yang Cakap

Kriteria istri yang cakap menurut Alkitab:
Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.

1. Suaminya percaya kepadanya dan beruntung
Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.

2. Berbuat baik dan tidak jahat kepada suami sepanjang umurnya
Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.

3. Senang bekerja
Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya.
Ia serupa kapal-kapal saudagar, dari jauh ia mendatangkan makanannya.

4. Rajin
Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan.

5. Pandai berinvestasi dan melihat peluang
Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya.

6. Sigap dan selalu aktif untuk hal yang baik
Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya.
Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam.
Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal.

7. Murah hati kepada yang miskin dan menderita
Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin.

8. Punya rencana dan strategi perlindungan buat keluarga
Ia tidak takut kepada salju untuk seisi rumahnya, karena seluruh isi rumahnya berpakaian rangkap.

9. Suaminya dihormati karenanya
Ia membuat bagi dirinya permadani, lenan halus dan kain ungu pakaiannya.
Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri.
Ia membuat pakaian dari lenan, dan menjualnya, ia menyerahkan ikat pinggang kepada pedagang.

10. Bersukacita menyambut hari depan
Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan.

11. Bertutur kata yang baik
Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya

12. Mengawasi rumah tangga
Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya.

13. duhormati dan dipuji oleh suami dan anak-anaknya
Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia:
Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.

14. Takut akan Tuhan
Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.
Berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya, biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang!

(Amsal 31:10-31)

Arti Nama Paulus

Rasul Paulus dulu bernama Saulus.  Sebelum ia menerima kasih karunia Allah, ia adalah seorang yang taat menjalankan perintah agama, dengan menganiaya dan membunuh orang-orang Kristen. Tapi, setelah Tuhan Yesus menampakkan diri kepadanya dalam perjalanan ke Damsyik, ia mengalami perubahan total.

Saulus berasal dari bahasa Ibrani, sah-ool’ atau Shaul, yang artinya “Yang Diinginkan”, atau “Yang didoakan”. Namun, kemudian, Saulus berganti nama menjadi Paulus yang berasal dari bahasa Yunani, Paulos, yang artinya “kecil” atau “rendah hati”.

Perjumpaan dengan Kristus telah membuat Saulus merasa dirinya begitu kecil dan ia sadar bahwa ia harus merendahkan hati dan diri di hadapan Tuhan.  Semua prestasi dan kehidupan masa lalu bukan lagi merupakan kebanggaan, tetapi pengenalan akan Kristus lah yang merupakan hal yang sangat berharga.

Jika Paulus menjadi berubah total dalam hidupnya, maka kita pun hendaknya mengalami perubahan total dalam kehidupan kita, menjadi baru di dalam Kristus.  Kita ini kecil di hadapan-Nya dan dengan demikian haruslah kita rendah hati selalu, karena semua hanya oleh anugerah-Nya.

“namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Galatia 2:20)

Pelukis Yang Menjadi Pendeta

Pendeta Tucker dari Uganda dulunya adalah seorang pelukis. Bagaimana ceritanya dia bisa menjadi seorang pendeta?

Suatu kali, dia sedang melukis sebuah gambar.  Dalam gambar itu ada seorang wanita miskin yang berpakaian tipis di cuaca yang dingin.  Ia tidak mempunyai mantel untuk dipakai.  Di dadanya, ia mendekap bayinya yang mungil dengan erat dan penuh kasih.  Wanita ini sedang berjalan tanpa arah tujuan karena ia adalah seorang tunawisma yang tak punya tempat tinggal.  Lukisan itu menggambarkan suasana malam dingin yang gelap dengan cuaca berangin yang dingin, dan wanita itu dengan bayinya berjalan di sebuah jalan yang sepi.

Sementara, Tucker sedang melukis dan lukisannya semakin menuju penyelesaian akhir, tiba-tiba, Tucker melemparkan kuasnya dan berkata: “Daripada saya melukis orang yang sedang menderita dan terhilang, lebih baik saya pergi kesana dan menyelamatkan mereka.”  Tucker kemudian pergi ke Afrika dan melayani Tuhan disana.

Bila Pendeta Tucker tergerak menjadi seorang pelayan Tuhan oleh karena suatu gambaran penderitaan dan kehilangan dari jiwa-jiwa, maka patut kita bertanya pada diri sendiri, “Apakah gambaran yang telah mendorong diri saya untuk menjadi seorang hamba Tuhan?”  Apakah gambaran tentang kesuksesan, kemewahan dan ketenaran? Ataukah gambaran tentang penderitaan, kehilangan, kemiskinan dan kebinasaan jiwa-jiwa?

Apa yang memotivasi kita untuk melayani Tuhan? Apa motivasi kita mengikuti Dia?
Marilah instrospeksi diri kita dan perbaiki motivasi pelayanan kepada-Nya.

Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”  (Matius 8:20)

Maukah kita mengikuti dan melayani Dia dengan kerelaan yang sungguh?

Merasa Seperti Orang Bodoh

Mantan Anggota Kongres Amerika Serikat, Brooks Hay, bercerita tentang nasehat seorang hamba Tuhan kepada seorang politisi agar ia pergi keluar rumah saat hujan dan menengadahkan kepalanya menghadap ke langit.  “Itu akan memberikan suatu pewahyuan buatmu.”

Besoknya politisi itu menemui hamba Tuhan tersebut dan berkata, “Saya sudah mengikuti nasehatmu dan tidak ada wahyu yang saya dapatkan.  Sewaktu saya menengadahkan kepala menghadap langit, air hujan turun menetes dan membasahi wajah serta mengalir ke leher saya, dan saya merasa seperti orang bodoh.”

Hamba Tuhan itu kemudian menjawab, “Bukankah itu merupakan sebuah wahyu yang bagus untukmu?”

Kisah ini ditulis oleh Wooden Barrel dan hendak menyampaikan secara tersirat bahwa seringkali politisi merasa dirinya paling benar, padahal sebaliknya ia begitu bodoh.

Di negara kita pun sama halnya, banyak politisi yang merasa dirinya paling hebat dan benar dalam pemikiran padahal sesungguhnya bodoh.  Sebagai seorang manusia, hendaklah kita harus selalu mengintrospeksi diri dan mencari hikmat yang dari Tuhan.   Ketika seseorang merasa dirinya paling pintar, ia harus berhati-hati, jangan-jangan ia adalah yang paling bodoh.

Ayat Alkitab hari ini buat kita adalah agar kita selalu sehati sepikir dan jangan memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi mengarahkan diri pada hal-hal yang sederhana, dan jangan menganggap diri kita sendiri pandai!
Menengadahlah ke langit lebih sering, dalam arti memandang kepada Tuhan dan mencari hikmat-Nya lewat doa-doa dan perenungan firman Tuhan setiap hari, agar kita terus diisi dengan pengetahuan dan hikmat sorgawi.

“Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!” (Roma 12:16)

Jubah Untuk Sang Ratu

Ketika sedang dalam perjalanan berjalan kaki bersama Ratu Elizabeth dan rombongan kerajaan, Sir Walter Raleigh melihat di depan sang Ratu ada tanah becek yang akan dilaluinya.  Dengan tanpa pikir panjang, segera Sir Water Raleigh melepaskan jubahnya yang indah dan menghamparkannya di atas tanah becek itu agar Ratu Elizabeth dapat melalui jalan itu tanpa mengotori sepatunya.

Sir Walter Raleigh menyadari dengan sepenuh hati dan jiwanya bahwa apa yang dilakukannya untuk sang Ratu Inggris itu bukanlah suatu kerugian bagi dirinya, sekalipun harus mengorbankan jubahnya yang mahal dan indah.

Kisah ini sungguh menggugah hati kita sebagai orang-orang yang percaya kepada Raja di atas segala raja, yaitu Tuhan Yesus Kristus yang segera akan kembali lagi ke dunia ini, bahwa kita harus memiliki hati yang rela berkorban bagi sang Raja semesta.  Kita harus rela menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti setiap kehendak-Nya.

Kedatangan-Nya begitu cepat dan akan segera terjadi, mungkin sudah banyak yang kita berikan untuk pekerjaan Tuhan ataupun pelayanan, namun marilah kita ingat bahwa Tuhan menghendaki orang-orang yang memiliki hati yang rela berkorban bagi Kerajaan Allah, yaitu yang tidak mementingkan diri sendiri tetapi mengutamakan Tuhan dalam hidupnya.

Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. (Lukas 9:23)

Arti Mengikat dan Melepaskan

Nats Alkitab:
“Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Matius 16:19)

Perkataan Tuhan Yesus di atas disampaikan-Nya kepada Petrus, apa sebenarnya makna dari perkataan ini?
Pengertian mengikat dan melepaskan yang dimaksudkan dalam ayat ini mengandung arti bahwa kepada rasul Petrus, Tuhan memberikan:
1. suatu otoritas untuk memutuskan dan melaksanakan suatu disiplin atau peraturan dalam kehidupan jemaat Tuhan.
Dalam Kisah Para Rasul kita dapat membaca dan mengerti bahwa otoritas rasul Petrus dalam beberapa masalah aturan jemaat begitu berpengaruh bagi tata cara hidup jemaat mula-mula. Dalam Alkitab Bahasa Inggris sehari-hari dituliskan tentang mengikat dan melepaskan sebagai “prohibit and not prohibit”, yang artinya melarang dan tidak melarang. Jadi, pengertiannya adalah suatu otoritas atau kuasa untuk membuat peraturan  dalam kehidupan jemaat Tuhan.
2. Otoritas untuk melakukan kuasa-kuasa yang seperti Tuhan Yesus lakukan.
Rasul Petrus mengadakan berbagai mujizat seperti yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus.  Hanya dengan satu perkataan yang didasarkan kepada kuasa nama Yesus, maka mujizat terjadi dalam pelayanannya. Otoritas ini juga berlaku atas setan-setan dan segala kuasa kegelapan.   Iblis dan segala kuasanya telah ditaklukkan di bawah kaki Yesus.
3.  Otoritas untuk memberitakan Injil Kristus yang menyelamatkan
Roh Kudus memberikan kuasa dan otoritas kepada rasul Petrus untuk berbicara atas nama Tuhan dalam pemberitaan Injil Kristus.  Hal ini menyebabkan adanya kuasa dalam setiap pemberitaan yang disampaikan oleh rasul Petrus.

Apakah bagi kita perkataan ini berlaku?  Apakah kita mempunyai otoritas yang sama seperti itu?
Ayat ini disampaikan oleh Tuhan Yesus juga kepada murid-murid yang lain, hal ini tertulis dalam Matius 18:18.  Kepada setiap murid Tuhan yakni orang yang percaya dan yang mau taat kepada kehendak Tuhan diberikan otoritas yang sama.

Syarat dari hal ini adalah bahwa orang yang diberi otoritas oleh Tuhan harus bergantung sepenuhnya kepada pimpinan Roh Kudus, dan tidak dapat seenaknya melakukan sesuatu atas kehendak atau emosi pribadi.  Ketaatan dan kerelaan untuk menyerahkan seluruh hidup bagi Tuhan untuk dipakai bagi kemuliaan dan kehendak-Nya itulah yang harus kita miliki.