Logic in Arithmetic?

faithNow faith is the substance of things hoped for, the evidence of things not seen. (Hebrews 11:1)

“Figures can’t lie,” said the professor earnestly. “For instance if one can build a house in 12 days, 12 men can build it in one.”

“Yes?” interrupted a student. “Then 288 will build it in one hour, 17.280 in one minute, and 1.036.800 in one second. And I don’t believe they could lay one brick in that time.”

While the professor was still gasping, the smart “ready reckoner” went on:
“Again, if one ship can cross the Atlantic in six days, six ships can cross it in one day.  I don’t believe that either, so where’s the truth in arithmetic?” Then he sat down.

From this story we can learn something seriously about people concerning the faith. Many people are driven by their logical way of thinking.  So everything must be logic. This story is already happened long time ago, and I am very sure that there is gap in the way the student’s thought. But, also the professor did the same wrong way of thinking. Sometimes the mathematical logic can not put on to real life for some condition.

What I want to tell you is that this is the small picture of explanation of faith. We can understand faith by our logical way of thinking. We will have thousands questions about how the miracle happen? How God can do that thing? How can I be healed? and many more questions.

But to think how is not our part, it is God’s part. God will think about it, we should never burden ourselves with any question how.  From the scripture above we learn again today: “Now faith is the substance of things hoped for, the evidence of things not seen.” (Hebrew 11:1).  This is the definition of faith that is not to be quarelled about. We receive it and walk our lives by faith in Christ.

Kerendahan Hati

rendahhatiNats Alkitab:
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.  Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:5-8)

Untuk belajar kerendahan hati kita tidak usah cari contoh yang lain selain Yesus Kristus Tuhan. Dia adalah contoh sempurna dari kerendahan hati.
Pada hakikatnya Yesus Kristus selalu adalah Allah, setara dengan Bapa, sebelum, selama dan sesudah masa hidup-Nya di bumi. (Yoh. 1:1; 8:58)  Akan tetapi, sekalipun Ia adalah Allah sendiri, Ia rela untuk merendahkan diri-Nya hingga pada keadaan yang paling rendah dan hina di antara manusia, disalibkan menanggung segala kutuk dosa.

Sulit rasanya menemukan kerendahan hati bahkan dalam diri kita sendiri seringkali masih banyak kesombongan dan sifat egosentris.  Rata-rata manusia berpusat kepada dirinya sendiri, bukan kepada Tuhan apalagi sesama.  Manifestasi dari kesombongan dan egosentris ini termanifestasikan dalam tingkah laku seperti ketidakpedulian dan tidak punya belas kasihan kepada sesama, menganggap orang lain lebih rendah, dan melecehkan orang lain.

Betapa berdosanya kita bila tidak memiliki kerendahan hati.  Alkitab mengatakan bahwa Allah membenci orang yang congkak dan mengasihi orang yang rendah hati.  Jikalau kita mau dikasihi Allah maka kita harus rendah hati.

Mengapa kita harus rendah hati?  Ada banyak sekali alasan mengapa kita harus rendah hati, dan begitu banyak alasan mengapa kita tidak boleh sombong.  Kita harus sadar bahwa sesungguhnya kita ini adalah makhluk yang hina dan berdosa, terlepas dari Kristus, dan tidak ada satupun yang dapat dibanggakan dari diri kita.  Segala sesuatu datangnya dari Tuhan.  Harta, kekayaan, kepandaian, ilmu, dan semua yang lainnya yang ada pada kita adalah dari Tuhan.  Dan dalam semuanya itu, Tuhan juga melibatkan orang-orang di sekitar kita untuk mewujudkan semua yang ada pada kita sekarang ini. Jadi, apa yang dapat kita banggakan dari diri kita?

Yesus Kristus merendahkan diri-Nya serendah-rendahnya sehingga Ia dapat melakukan kehendak Bapa. Hal ini berbicara tentang kerelaan untuk melepasan hak.  Banyak orang menuntut haknya, dan malas melakukan kewajiban.  Tapi Tuhan Yesus memberi teladan bagaimana Ia sendiri rela melepaskan hak-Nya, posisi-Nya, kemuliaan-Nya, keagungan-Nya dan menjadi manusia yang hina, hina karena menanggung seluruh dosa manusia.

Kerendahan hati seperti Tuhan Yesus Kristus merupakan suatu sifat penting yang harus ada dalam diri setiap orang percaya.  Sebagai bukti kerendahan hati itu, baiklah kita rela hidup berkorban, tidak mementingkan diri sendiri, mempedulikan orang lain, dan berbuat baik kepada sesama.

Cermin Raja Yordania

concave-jpg
(photo from glogster.com)

Nats Alkitab:
Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. (Yakobus 1:23-24)

Seorang kepala penjara di Leeds, Inggris, dulunya adalah seorang ajudan dari Raja Abdullah di Yordania.  Dia mengatakan bahwa Raja Abdullah memiliki dua cermin yang dia letakkan di ruangan-ruangan dimana dia menerima tamu-tamu kerajaannya. Cermin pertama, membuat orang yang bercermin nampak kurus, diletakkan di ruangan dimana para tamu berkumpul sebelum makan malam. Sedangkan cermin yang kedua, yang membuat orang yang bercermin nampak gemuk, diletakkan di ruangan dimana para tamu berkumpul setelah makan.  (Eternity)

Efeknya bermacam-macam terhadap berbagai orang, dan lucunya banyak orang yang merasa dirinya kurus sehingga harus makan banyak, namun setelah makan, mereka menyesal karena badan mereka bertambah gemuk.

Kisah ini merupakan suatu contoh bagaimana orang begitu cepat lupa akan penampilan wajah dan bentuk tubuhnya. Baru saja ia bercermin, ia sudah lupa bagaimana rupanya.  Hal ini dikatakan di dalam surat Yakobus 1:23-24 sebagaimana nats di atas. Dan Yakobus mengambil kebiasaan sehari-hari kita dalam bercermin untuk dijadikan gambaran tentang bagaimana seorang yang lupa untuk melakukan firman Tuhan.

Firman Tuhan adalah cermin bagi keadaan diri kita. Firman Tuhan akan menyatakan kesalahan dan mengoreksi kita. Dengan membaca Alkitab kita dapat bercermin apa yang salah pada kita dan bagaimana keadaan hidup rohani kita. Akan tetapi, banyak orang yang setelah membaca firman Tuhan menjadi lupa dan kemudian kembali kepada kebiasaan yang lama yang tidak berkenan pada Tuhan.

Marilah kita selalu bercermin pada Firman Tuhan yaitu dengan membaca Alkitab dan menjadi pelaku-pelaku Firman Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin.

Ada Tertulis

alkitab 03Nats Alkitab:
Lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangan-Nya , supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” (Matius 4:6)

Peristiwa pencobaan yang dialami Yesus oleh iblis merupakan peristiwa yang patut kita pelajari dengan seksama.  Perhatikan bahwa iblis memakai firman Allah untuk mencobai Yesus agar berbuat dosa.  Namun, Yesus sendiri sangat mengenal setiap Firman-Nya karena Dia berasal dari-Nya dan satu hakekat dengan Allah.

Penting untuk kita pelajari bahwa berbagai cobaan oleh iblis seringkali memakai firman Tuhan untuk menjatuhkan orang-orang beriman.  Hanya saja, pemakaian firman Tuhan oleh iblis tidaklah lurus apalagi tulus melainkan diputarbalikkan dan hendak menjatuhkan. Iblis berkata: “Ada Tertulis!”  Seolah-olah apa yang dikatakannya itu benar berdasarkan firman Allah, padahal sebenarnya adalah dusta.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus waspada terhadap pemutarbalikan ayat firman Tuhan oleh seseorang untuk mengajak kita berbuat dosa.  Perlu kehati-hatian dan kewaspadaan bagi siapa saja, baik orang tua terlebih lagi orang-orang muda, agar tidak mudah termakan bujukan dan rayuan seseorang dengan berdalih pakai ayat Alkitab.

Sudah banyak korban pencobaan dan rayuan berdasarkan pemutarbalikkan ayat Alkitab dan penafsiran ayat Alkitab secara sembarangan. Ayat Alkitab bila tidak ditafsirkan secara benar sesuai konteksnya dan dibandingkan dengan ayat-ayat lain dalam satu kesatuan, akan mengakibatkan kesalahan pemahaman dan lari dari arti yang sebenarnya.

Setiap orang percaya harus benar-benar memahami Firman Allah dan jangan kompromi dengan dosa atau tawaran-tawaran lain yang menggiurkan yang sebenarnya merupakan tabiat-tabiat berdosa.

Belajarlah firman Tuhan dan mintalah pengertian dan hikmat yang benar yang dari atas.  Roh Kudus yang akan membimbing kita untuk masuk ke dalam seluruh kebenaran-Nya, apabila kita teguh berpegang pada kebenaran-Nya.

Jalan Orang Benar dan Jalan Orang Fasik

image

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.
Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;
sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.
(Mazmur 1:1-6)

Hidup Kita Harus Kudus

Nats Alkitab:
sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.  (1 Petrus 1:16)

Dengan semakin canggihnya teknologi, maka selain membantu banyak hal secara positif, di sisi lain hal ini menyebabkan semakin mudah bagi seseorang untuk jatuh ke dalam dosa. Contohnya adalah dosa perzinahan.

Definisi perzinahan dinyatakan sebagai ketidakkudusan dalam pikiran, berpikir yang cabul dengan seseorang, atau tindakan perbuatan cabul dengan seseorang. Jadi, perzinahan bisa terjadi dalam pikiran melalui mata. Tuhan Yesus berkata: jika kamu memandang seorang perempuan dan menginginkannya kamu sudah berbuat zinah dengan dia.

Indonesia menjadi negara nomor dua pengakses situs porno. Melihat pornografi merupakan dosa perzinahan. Internet bila digunakan dengan maksud dan tujuan yang tidak benar akan membuat orang berdosa. Gunakanlah internet dan teknologi lainnya untuk kemajuan diri dan kemuliaan nama Tuhan.

Internet merupakan sumber berbagai informasi yang positif dan membangun, tapi dapat juga bersifat merusak, tergantung orang yang memakainya.

Jadilah orang yang hidup kudus seperti Tuhan adalah kudus!

Stamina Rohani

Nats Alkitab:
Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. (2 Timotius 4:7)

Mengikuti lomba lari 10 km membutuhkan latihan fisik yang cukup lama agar stamina semakin meningkat dalam berlari.  Yang lebih lagi harus dilakukan adalah untuk lomba marathon yang jarak tempuhnya mencapai 42,195 km, latihan fisik harus menjadi kebiasaan jauh sebelumnya agar stamina tubuh prima.

Dalam lomba lari marathon, pada umumnya yang menjadi juara adalah atlet-atlet dari Afrika. Padahal dari segi fisik kelihatannya tubuhnya kurus dan kurang makan. Namun, dibalik itu tersimpan stamina yang tinggi dibandingkan  atlet dari negara maju.

Mengapa hal demikian bisa terjadi? Salah satu penyebabnya adalah karena mereka telah terbiasa dengan keadaan cuaca panas dan lingkungan alam yang keras.  Keadaan tersebut telah menempa mereka sehingga memiliki daya tahan yang kuat untuk berlari jarak jauh.

Ibarat seorang pelari, rasul Paulus menganalogikan keadaannya seperti atlet yang berstamina tinggi.  Ayat diatas berkata: “aku telah mencapai garis akhir,” mengandung makna tentang stamina rohani orang percaya.  Stamina iman yang tinggi akan membuat seseorang dapat bertahan dan terus berlari hingga garis terakhir.

Untuk sampai kepada kemenangan, iman harus tetap ada.  Meskipun banyak tantangan namun itu merupakan latihan bagi iman agar semakin kuat untuk berlari dalam pertandingan iman hingga mencapai finish.

Mari jaga stamina iman kita dengan terus melatihnya melalui doa, perenungan firman Tuhan dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

Berkobar Dalam Roh

giftsoftheHolySpirit1Nats Alkitab:
“Janganlah padamkan Roh,” (1 Tesalonika 5:19)

Seseorang yang telah diberikan suatu karunia oleh Roh Kudus apakah itu karunia berbahasa roh atau karunia bernubuat dan berbagai karunia lainnya, haruslah memakai karunia-karunia itu untuk membangun dirinya dan jemaat Tuhan.

Seringkali ada kecenderungan untuk mengabaikan karunia-karunia yang pernah diberikan Tuhan di masa lalu.  Ada orang yang dulu mempunyai satu atau dua karunia Roh tetapi tidak memakai karunia Roh itu lalu lama kelamaan ia tidak lagi merasakan adanya karunia Roh itu di dalam dirinya. Hal ini disebut pengabaian dan secara tidak sadar telah terjadi pemadaman Roh.

Beberapa hal yang bersifat memadamkan Roh adalah adanya tindakan meremehkan dan menolak penyataan adikodrati Roh Kudus yang disampaikan oleh seseorang karena digerakkan Roh Kudus.  Dalam hal ini memang perlu pengujian atas setiap roh, karena bisa terjadi ada roh-roh lain yang menyusup. Namun, intinya adalah agar kita jangan meremehkan dan mengabaikan serta memadamkan berbagai karunia Roh dalam pelayanan, sebab karunia Roh merupakan pemberian Tuhan yang berguna untuk menguatkan diri pribadi dan membangun jemaat.

Menolak penggunaan dan manifestasi karunia Roh seperti bernubuat atau karunia lainnya, akan mengakibatkan hilangnya manifestasi dan karya Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya.  Dalam ibadah umum maupun ibadah lainnya, keterbukaan dan penerimaan akan berbagai karunia Roh harus nampak dengan memberikan keluasan bagi Roh Kudus untuk bekerja dan berkarya seturut dengan kehendak Tuhan.

Nubuatan harus diuji, dan setiap karunia Roh harus diuji, tetapi jangan ditolak apalagi dipadamkan. Pakailah setiap karunia Roh Kudus yang telah diberikan Tuhan kepada saudara, jangan padamkan Roh!

Christ Rules Over All Nations

abraham-lincoln-bible-quote“and in Christ you have been brought to fullness. He is the head over every power and authority.” (Collosians 2:10)

William J. Wolfe has called Abraham Lincoln “one of the greatest theologians of America”.  He added that Lincoln’s theology was profound, “not in the technical meaning of producing a system of doctrine, certainly not as the defender of some one denomination, but in the sense of seeing the hand of God intimately in the affairs of nations.” (Gospel Herald)

Some situations make us thinking about the sovereignty of God over all nations and question “why this happened?”, “Why God seems like not willing to stop all the chaos and terror in the world?”  Our thought could not reach the full understanding of what God is doing in the world because our lack of wisdom and poornees of intimacy with the Holy Spirit and God’s Word.  All thoughts that make us believe that there is no intervention of God in everything that happened, are the thought that should be discarderd from our mind.

From the scripture above, today we are reminded again that Christ rules over all the nations.  It is said that “He is the head over every power and authority.”  We may still see terror and wickedness in the world, but the time will come that all evil would be destroyed by the hand of Christ.

Do not be afraid of anything but surender all our struggle to Jesus Christ and trust Him in every way. Amen.