Bagaimana Memperoleh Kebahagiaan

ImagePertanyaan ini banyak muncul dalam pikiran sebagian besar orang yang hidup di dunia.  Setiap orang ingin berbahagia dan untuk itu mereka mencari tahu bagaimana caranya.  Namun, cara-cara untuk berbahagia tiap-tiap orang ternyata berbeda-beda sesuai dengan apa yang menjadi dasar pemikirannya masing-masing.

Kalau yang menjadi dasar pemikiran tentang kebahagiaannya adalah terletak pada harta, maka ia akan berusaha mencari tahu bagaimana cara supaya banyak harta.  Bila, dasarnya adalah ketenaran, maka ia akan mencari cara bagaimana supaya populer dan tenar di jagad ini. Kalau sukses yang menjadi dasar, maka ia akan berusaha mencari cara agar hidupnya bisa sukses.

Tapi rupanya, kebahagiaan menurut Alkitab tidaklah demikian. Kita tidak dapat mendasarkan kebahagiaan kita kepada harta, ketenaran dan tidak pula pada kesuksesan.
Kebahagiaan kita haruslah lahir dari pengenalan yang benar akan Allah.
Matius 5:1-12 mengungkapkan tentang ucapan Bahagia Tuhan Yesus yang ditujukan kepada 9 macam keadaan.  Orang-orang yang miskin di hadapan Allah dikatakan berbahagialah, karena mempunyai kerajaan Sorga. Orang yang berdukacita, yang lemah lembut, yang lapar dan haus akan kebenaran, yang murah hati, yang suci hati, yang membawa damai, dan yang dianiaya oleh sebab kebenaran, dikatakan oleh Tuhan Yesus berbahagialah, karena masing-masing akan memperoleh berkat dan jawaban Tuhan tersendiri untuk masing-masing.

Apa makna dari ayat dalam Matius 5:1-12 itu? Maknanya ialah bahwa kebahagiaan itu tidak  tergantung kepada suatu keadaan tertentu.  Engkau bisa berbahagia kapan pun dan dalam situasi apapun.  Bahagia bukanlah soal kaya atau miskin, sukses atau gagal, terkenal atau terbuang, namun bahagia itu adalah soal hati kita yang terpaut kepada Tuhan.

Maka tidaklah heran bila kita membaca Habakuk 3:17-18, ketika nabi Habakuk berkata: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.”  Inilah yang dinamakan kebahagiaan yang sejati, karena kebahagiaan itu didasarkan kepada cinta akan Allah, yang tidak tergantung kepada situasi apapun.  Dalam problema yang dihadapi, tetap bisa bersukacita dan bersyukur kepada Allah karena mata iman yang memandang kepada-Nya.

Jangan tunggu situasi tertentu terjadi dalam hidup kita, baru kita akan bahagia.  Jangan tunggu harapan dan cita-citamu terjadi baru engkau akan berbahagia.  Jangan tunggu masalahmu selesai, baru engkau akan berbahagia.  Jangan tunggu waktu di depan baru kita mau berbahagia.  Kebahagiaan itu sudah Tuhan berikan, sebab kebahagiaan yang Dia berikan berbeda dengan apa yang dunia berikan.  Kita bisa berbahagia sekarang jika kita mau dan mengubah cara berpikir kita yang salah.  Hati yang penuh syukur kepada Tuhan dan berserah kepada-Nya, itulah yang dapat membuat kita selalu merasa bahagia.

Berbahagialah sekarang juga! Jangan biarkan diri kita terkurung dalam belenggu kepahitan, kekecewaan dan kesedihan yang tak putus.  Ia memberikan kebahagiaan itu kepadamu saat ini juga.  Dia akan menguatkan kaki yang goyah dan menghapuskan air mata, Dia yang menyayangi kita akan menyelamatkan kita.  Tuhan Yesus memberkati!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *