Mempengaruhi, Bukan Dipengaruhi

Kemudian berkatalah Yosua kepada bangsa itu: “Kamulah saksi terhadap kamu sendiri, bahwa kamu telah memilih TUHAN untuk beribadah kepada-Nya.” Jawab mereka: “Kamilah saksi!” (Yosua 24:22) 

Ada sebuah tulisan tentang pertemanan:

“Aku pergi keluar untuk mencari seorang teman, tetapi tak seorangpun kutemukan.
Aku pergi keluar untuk menjadikan diriku sebagai seorang teman, dan aku pun mendapatkan
teman dimana-mana.”

Dalam pergaulan, menjadikan diri kita sebagai teman, merupakan tindakan yang aktif dalam mempengaruhi orang lain.  Seringkali, kita berpikir untuk tidak dipengaruhi oleh pergaulan yang buruk dan oleh karenanya kita pun mengambil sikap untuk menjauhinya. Padahal, ada saat dimana kita dapat berperan untuk memberi pengaruh kepada orang lain tentang kebaikan, sikap hidup yang benar, kejujuran dan kesalehan.

Caesar, seorang mahasiswa asal Meksiko, berada dalam satu kelompok dengan mahasiswa-mahasiswa lain dalam suatu program pendidikan yang dibiayai Erasmus, di sebuah kota di Eropa.  Kebiasaan hidup sebagian besar mahasiswa yang hedonis, tidak mempengaruhi pendiriannya untuk melakukan kebiasaan pergi ke gereja setiap hari Minggu. Sementara teman-teman yang lain tidur dan bersantai di hari Minggu, Caesar justru seringkali mengajak beberapa teman untuk pergi bersama ke gereja.  Dalam komunitas lingkungan pertemanan di kampus, ia tidak dipengaruhi oleh perilaku buruk orang lain, tetapi ia berperan dalam memberikan pengaruh.  Ia tidak menjauhi mereka, tapi ia tinggal bersama mereka, menjadi teman bagi mereka, dan menjadi saksi Kristus.

Pergaulan yang baik bukanlah ditentukan dari orang-orang di sekitar kita, melainkan dari sikap diri kita sendiri. Pergaulan itu dapat dikatakan baik, bilamana kita dapat menjadi terang Kristus dan memberi teladan hidup bagi teman-teman di lingkungan pergaulan kita. (BT)

One thought on “Mempengaruhi, Bukan Dipengaruhi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *