Menghakimi Tuhan

Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Lukas 6:5)

Bacaan Alkitab: Lukas 6:1-11

Yesus menyatakan status diri-Nya sebagai Tuhan dalam ayat ini. Orang-orang Farisi menghakimi Yesus dan para murid atas apa yang mereka lakukan pada hari Sabat.

Orang-orang Farisi adalah  golongan yang menegakkan syariat Hukum Taurat. Karenanya, mereka selalu mencari-cari kesalahan orang lain dan menjustifikasi mereka. Mereka tidak akan segan-segan untuk memerintahkan perajaman atau penghukuman tertentu terhadap orang yang kedapatan melakukan kesalahan.

Tuhan Yesus tidak membalas orang Farisi untuk membungkam mereka tapi Ia menunjukkan dan menjawab dengan cara-Nya sendiri. Seandainya kita adalah Tuhan yang punya kuasa, mungkin kita langsung memakai kuasa itu untuk mendatangkan petir atas orang-orang Farisi tersebut. Tapi Tuhan Yesus tidak melakukannya. Tuhan tidak bersifat demikian.

Kepada mereka Tuhan Yesus memberikan jawaban yang sangat jelas maknanya yaitu:
“Aku adalah Tuhan atas hari Sabat.”
Inilah arti ungkapan ayat di atas. Ungkapan ini juga bermakna seperti ini:
“Aku adalah Tuhan.”

Orang-orang Farisi tidak menyadari bahwa mereka sedang menghakimi Tuhan. Saking terbiasanya mereka menghakimi, mereka mengira Tuhan ada di pihak mereka, padahal mereka sedang menghakimi Tuhan yang berseberangan dengan mereka.

Kebiasaan Menghakimi Orang Lain
Orang yang terbiasa menghakimi orang lain, ibaratnya sama dengan orang Farisi. Mari perhatikan bahwa jika seseorang menghakimi orang lain, maka ia merasa bahwa dirinya di posisi yang benar dan orang lain salah. Tuhan Yesus mengatakan agar kita jangan menghakimi. Pesan ini bukan berarti kompromi terhadap dosa, ketidakadilan atau kejahatan. Kita harus menyuarakan kebenaran dan melawan dosa serta kejahatan. Kebiasaan menghakimi itu soal lain lagi.
Contohnya adalah: Menyalahkan kebiasaan atau cara orang menyanyi di gereja. Kenapa orang ini bertepuk tangan kalau lagi menyanyi? Kenapa jemaat itu tidak bertepuk tangan? Saudara yang terkasih, janganlah kita menghakimi hal-hal yang demikian, sebab baik yang bertepuk tangan maupun yang tidak bertepuk tangan, semuanya memuji Tuhan.

Contoh lain:
Misalnya seorang pemimpin pujian sedang memimpin ibadah pujian dan ada yang mengatakan bahwa ibadahnya terasa tidak “naik” atau tidak merasakan hadirat Tuhan, lalu muncul penghakiman, “mungkin pemimpin pujian sudah berbuat sesuatu dosa”, atau mungkin “pemimpin pujiannya kurang doa nih.”  Itu sudah merupakan penghakiman yang tidak kita sadari sudah jadi makanan dan kebiasan sehari-hari.

Perhatikan orang Farisi dalam kisah ini. Mereka mengira bahwa Tuhan ada di pihak mereka, padahal Tuhan ada di pihak lain, dan mereka sedang menghakimi Tuhan.  Mereka menghakimi para murid, padahal para murid sedang berjalan bersama Tuhan.

Janganlah kita suka menghakimi, sebab jangan-jangan kita sedang “menghakimi Tuhan”. Jangan-jangan kita sedang menghakimi orang-orang yang sedang “berjalan bersama Tuhan.”

Orang yang menghakimi itu pasti punya kesombongan rohani. Ingatlah bahwa Tuhan tidak menyukai kesombongan, tetapi Ia suka dengan orang yang rendah hati.

Ingatlah hal ini, jangan menghakimi tapi koreksilah diri kita sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *