Tidak Mencari Popularitas

Tuhan Yesus sering berkata kepada orang-orang yang disembuhkan-Nya agar mereka tidak menyampaikan peristiwa mujzat yang mereka alami kepada orang banyak.  Mengapa?  Hal ini terkadang membuat kita bingung mencari apa penyebab Tuhan Yesus melarang hal yang demikian.

Marilah kita membaca salah satu kisah berikut ini:
“Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu.
Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata!,” artinya: Terbukalah!
Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.
Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya.
Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”  (Markus 7:31-37)

Dalam kisah penyembuhan yang tertulis di atas, ada bagian yang berhuruf tebal.  Bagian tersebut memberikan pengertian kepada kita demikian:
1.  Pelayanan mujizat bukanlah sesuatu yang harus dipertontonkan.
Tuhan Yesus melakukan mujizat secara pribadi, tidak dengan maksud motivasi sebuah “show” atau pertunjukan.  Ia memisahkan orang yang sakit itu dari orang banyak dan melakukan mujizat itu ketika hanya sedikit orang disitu.  Meskipun Yesus adalah Tuhan, namun karakter rendah hati dan tidak ingin menjadi sorotan publik, dimiliki oleh-Nya dan menjadi pelajaran buat kita dalam melayani Tuhan dan sesama.  Janganlah kita suka untuk mencari kemuliaan dan pujian bagi diri kita sendiri.  Mujizat Tuhan tidak untuk dipertontonkan dengan motivasi kemuliaan bagi diri pribadi. Pelayanan rohani itu bersifat pribadi, dalam bentuk pelayanan apapun, apakah itu doa untuk orang sakit, besuk, maupun pelayanan lain-lainnya.  Tidak perlu kita mengupload foto-foto pelayanan kita pribadi di situs-situs media sosial untuk dipertontonkan.  Janganlah kita mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain, janganlah kita mengambil kemuliaan di atas kehinaan orang lain.  Lakukanlah semua itu secara pribadi, dimana Tuhan melihat dan membalas apa yang kita kerjakan.

2. Tidak ada tempat bagi popularitas dalam diri seorang hamba Tuhan.
Tuhan Yesus menyuruh mereka untuk tidak menyampaikan kabar mujizat itu kepada orang banyak.  Mengapa?  Ia mengajarkan kita, bahwa seorang pelayan Tuhan dan kekristenan bukanlah ajang mencari popularitas.   Pelayanan kita, bukanlah tempat untuk mencari popularitas.  Biarlah Nama Yesus yang semakin ditinggikan, bukan nama kita.   Pelayan Tuhan bukanlah seorang selebriti, yang ingin semakin populer, dicari dan dihormati orang.  Gereja bukanlah panggung.  Bila kita masih mencari “panggung” untuk kehormatan dan popularitas kita sendiri, maka kita perlu mengintrospeksi diri, jangan-jangan kita tidak sedang melayani Tuhan,  melainkan sedang melayani hawa nafsu diri sendiri.

Belajarlah seperti Tuhan Yesus, yang meskipun berkuasa atas segala sesuatu, tetapi mengambil sikap sebagai hamba, yang mau melayani, tidak mencari popularitas, dan merendahkan diri-Nya selalu,  Betapa rendah hati sifat Tuhan Yesus Kristus.  Hal yang berbeda 180 derajat dengan ciri sifat kemanusiaan kita, yang selalu ingin dipuji dan terkenal.  Jangan  …. janganlah…. ingin menjadi populer.
Melayani Tuhan dengan hati yang tulus dan selalu ingin menjadi yang paling rendah, itulah hakekat penting dalam melayani Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *