Siapakah Kita ?

Human Dignity dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai martabat manusia.  Kata lain yang digunakan untuk itu adalah kehormatan, kemuliaan, harkat, gengsi, marwah, dan pangkat.

Setiap orang punya konsep berbeda mengenai martabat orang lain dan dirinya sendiri.  Seringkali kita menilai martabat seseorang melalui pakaian, posisi, pekerjaan, kekayaan, cantik/ganteng atau jelek.  Kalau seseorang wajahnya cantik, kita anggap orang itu bermartabat, sebaliknya kalau jelek, dianggap martabatnya rendah.
Bahkan, konsep penilaian seperti itu juga dipakai untuk menilai diri sendiri, misalnya bila kita menilai diri kita yang gagal, miskin, jelek, sebagai sesuatu yang tidak mulia dan bermartabat, maka kemudian kita menganggap diri kita telah kehilangan martabat atau kemuliaan, alhasil, kita menjadi stress dan mulai kecewa pada diri sendiri, marah pada orang lain, benci dan menyalahkan keadaan, serta terus menerus menyesali diri.  Konsep ini salah sama sekali.

Konsep penilaian demikianlah yang sering membuat kita membeda-bedakan orang.  Kalau orang hitam kita anggap budak. Kalau orang kulit putih dan rambut pirang, kita kagumi dan beri nilai tinggi.  Orang dari suku tertentu kita anggap rendahan, dan dari suku yang lain kita anggap lebih mulia.
Bahkan, kita menganggap suku kita pribadi melebihi semua suku lain yang ada di dunia ini, nah ini jelaslah sesuatu yang salah dalam pemahaman tentang human dignity.

Evolusi atau Penciptaan?
Pencarian akan siapa saya atau siapa kita akan dimulai dari pemahaman asal usul.  Mungkin kita berusaha mencari siapa nenek moyang kita, siapa bapak dan ibu, kakek dan nenek kita, dan seterusnya yang di atasnya.  Lalu, mungkin kita akan berhenti, terhenyak dan tercengang mendapati adanya teori Evolusi Darwin, yang menyebutkan tentang asal usul manusia, yang nampaknya seolah masuk akal penjelasannya, namun tidak benar.  Darwin menjelaskan tentang perubahan secara lambat yang terjadi pada segala makhluk di bumi termasuk manusia.  Maka dari teori Darwin, seolah-olah nenek moyang kita bentuk dan rupanya agak mirip dengan monyet, gorilla, simpanse atau orang utan dengan sedikit perbedaan pada bentuk tubuh.  Bila sampai pada titik teori ini, maka rasanya lenyaplah sudah kebanggaan kita pada martabat kemanusiaan kita.  Ya jelas, kenapa? Asal usul itu menentukan sekali konsep diri dan konsep kita akan martabat.  Nenek kamu kayak monyet, kamu asalnya dari monyet… bayangkan kalau benar seperti itu.

Charles Darwin, mengatakan di akhir masa hidupnya, bahwa semua teori evolusinya adalah sebuah kesalahan dan dia kembali sadar akan kebenaran Allah di dalam Alkitab.

Siapa Kita?
Inilah yang penting untuk dijawab.  Siapa kita, menentukan bagaimana kita akan berpikir, berkata dan bertingkah laku.  Kejadian pasal 1 ayat 26 tertulis demikian:
Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

Sungguh luar biasa dari ayat ini, kita jadi tahu bahwa kita itu diciptakan oleh Allah.  Manusia pertama yang adalah nenek moyang kita itu diciptakan segambar dan serupa dengan Allah.
Betapa mengagumkannya itu.  Segambar dan serupa dengan Allah itu merupakan kehendak Allah bagi kita manusia.  Keserupaan dengan Allah merupakan “human dignity” kita.
Saya dan saudara serupa dengan Allah, luar biasa.
Ada banyak orang yang ingin serupa dengan boneka Barbie dan boneka-boneka tokoh “Super Hero” lainnya, sampai menghabiskan uang banyak untuk operasi plastik.  Ngapain? memang hak masing-masing, tapi jangan biarkan kita ditipu oleh iblis yang selalu ingin menjatuhkan harkat dan martabat diri kita.
TANPA HARUS OPERASI PLASTIK, saya dan saudara sudah segambar dan serupa dengan ALLAH.

Engkau Berharga!
Oke, mungkin di antara saudara masih ada yang galau karena merasa diri tidak dihargai orang lain, ditinggalkan ayah ibu, ditinggalkan teman, ditinggal pacar, ditinggal suami atau istri, dilecehkan, direndahkan, dihina, dan hal itu mungkin membuat kita menjadi merasa terpuruk dalam penyesalan, kekecewaan, keputusasaan, menyalahkan diri sendiri dan sebagainya.
Gak usah kecewa jika kita mengalami hal-hal semacam itu.
Manusia boleh saja mentertawakan, menghina dan merendahkan, akan tetapi yang harus kita pikirkan adalah sebenarnya siapa yang paling menentukan dan paling penting buat kita.   Pribadi yang paling penting buat kitalah yang suaranya harus kita dengarkan dan tanggapi.
Kalau manusia mengatakan kita jelek, hina, rendah dan sebagainya, jangan dipusingkan, martabat kita tidak akan hilang karena semua ejekan itu.
TUHAN lah yang harus kita perhatikan dan dengarkan komentar-Nya tentang kita, karena TUHAN adalah Pribadi yang Terpenting dalam kehidupan kita. Lalu apa kata TUHAN?
TUHAN berkata bahwa kita ini berharga dan mulia (Yesaya 43:4),
dan…. masih ada  kelanjutannya, dan “Aku ini mengasihi engkau”, firman TUHAN.

Bagi saya itu sudah cukup.  Kalau Tuhan berkata bahwa saya berharga dan mulia dan bahwa Tuhan mengasihi saya, itu sudah sangat lebih dari cukup buat saya untuk selalu bersyukur dan semangat menjalani kehidupan.
Dan bukan hanya buat saya, tetapi buat kita semua, umat manusia, yang martabatnya ada pada Tuhan.

Dosa menghilangkan kemuliaan Allah
Saudara yang dikasihi Tuhan, satu-satunya penyebab kita kehilangan dignity/martabat adalah dosa.  Firman Tuhan berkata, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,” (Roma 3:23 ).    Kemuliaan atau martabat kita itu hilang karena dosa.  Tapi, ingat, janganlah kita menghakimi orang lain karena hal yang demikian tidak dikehendaki Tuhan.  Ingatlah bahwa semua kita telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.

Yesus Kristus Memulihkan Martabat dan Kemuliaan Manusia
1 Korintus 15:57 tertulis: “Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”
Tuhan Yesus Kristus memulihkan martabat kita dan mengembalikan kita kepada kemuliaan Allah.  Oleh Tuhan Yesus lah kita diberikan kemenangan.
Tuhan Yesus merupakan bukti akan kasih Allah kepada manusia, yang mana Ia sendiri telah berfirman bahwa kita ini berharga dan mulia dan bahwa Tuhan mengasihi kita.

Sungguh luar biasa kasih Allah, Tuhan kita Yesus Kristus.
Siapakah kita? Kita adalah anak-anak Allah yang hidup.
Berbanggalah karena kita memiliki martabat yang mulia, serta hargailah sesama kita manusia, karena kita diciptakan sama, segambar dan serupa dengan Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *