Jangan Degil, Tapi Percayalah!

Nats Alkitab:
“sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.” (Markus 6:52)

Ayat ini muncul setelah kisah redanya angin ribut di danau, saat Yesus naik ke atas perahu murid-murid.   Meredanya angin ribut itu membuat para murid tercengang heran dan bingung, kok bisa ya? Kenapa Guru bisa meredakan angin ribut? Itulah kira-kira yang ada di dalam benak mereka.

Sebelum peristiwa ini, maka flashback ke belakang, adalah mujizat pemberian makan untuk 5.000 orang laki-laki (belum termasuk perempuan dan anak-anak).   Di saat itu murid-murid bingung, mana bisa memberi orang-orang itu makan.  Mereka sempat bertanya, mungkin dengan nada tidak percaya, “apakah kami harus membeli roti seharga dua ratus dinar?”  Ini suatu bentuk pertanyaan yang muncul dari kedegilan dan ketidakpercayaan.   Dua ratus dinar bukanlah uang yang sedikit. Upah seorang pekerja dalam sehari, kala itu, adalah sekitar 1 dinar sehari.  Jadi, 200 dinar berarti upah untuk 200 hari kerja.  Bayangkan, betapa mahalnya biaya makan untuk semua orang yang ada saat itu.

Tapi Yesus Kristus hanya butuh 5 roti dan dua ekor ikan, untuk memenuhi sebuah kebutuhan makan orang banyak itu. Ia mengucap syukur dan memecah-mecahkan 5 roti dan dua ikan yang ada.  Setelah itu para murid membagi-bagikan makanan itu, semua orang mendapatkan, mereka makan sampai kenyang dan masih ada sisa pula sebanyak 12 bakul.  Semua orang tercukupi kebutuhannya.

Peristiwa ini harusnya membuat mereka percaya akan kuasa di dalam Tuhan Yesus. Tapi mereka masih belum memahami siapa Yesus itu sebenarnya.  Itulah sebabnya, ketika mereka di datangi oleh Yesus, mereka mengira bahwa Yesus adalah hantu.   Mereka semua ketakutan karena melihat ada seorang yang berjalan di atas air.

Dalam keadaan perahu yang terombang-ambing itu, Yesus Kristus  naik ke atas perahu dan angin itu pun redalah.  Nah, yang lucunya adalah para murid tercengang keheranan.  Seharusnya sikap mereka tidak demikian. Melakukan mujizat adalah hal yang biasa bagi Tuhan Yesus.  Ketidakpercayaan mereka terjadi berulang kali, dan mereka tidak belajar dari peristiwa roti itu.

Kisah ini, mengajar kita untuk mempercayai Tuhan Yesus dalam segala sesuatu.  Ia sanggup melakukan segalanya dan tidak ada satupun yang mustahil bagi Tuhan.  Bila kita mengalami keadaan sulit atau tantangan hidup yang berat, percayalah bahwa Tuhan Yesus sanggup menolong.

Jangan keheranan dan putus asa, tetapi percayalah bahwa Tuhan Yesus selalu ada bersamamu dan bersedia memberikan pertolongan.
Jangan degil dan jangan kehilangan iman pengharapan di dalam Tuhan.  Haleluya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *