Kapal Yang Tidak Bisa Tenggelam

Saat kapal Titanic tenggelam, seorang penginjil dari Amerika sedang berada di Belfast, Irlandia.  Kapal Titanic dibuat di Belfast, dan penduduk disana merasa bangga karena pembuatan kapal yang megah itu.

Kapal Titanic disebut-sebut oleh para pembuatnya sebagai kapal yang tidak bisa tenggelam.  Enam belas anggota jemaat gereja di Belfast, yang adalah para ahli mekanik berpengalaman, ikut naik kapal Titanic dalam perjalanannya yang pertama itu.

Walikota berkata bahwa Belfast tidak pernah mengalami dukacita semacam ini sebelumnya, seperti yang saat itu terjadi ketika kapal Titanic yang menjadi kebanggaan, tenggelam ke dasar laut.

Ketika berita tenggelamnya Titanic telah terkonfirmasi dan dipastikan benar, dukacita menyelimuti kota Belfast.  Orang-orang saling berpegang tangan saat bertemu di jalanan dan menangis.

Hari minggu setelah peristiwa itu, sang penginjil itu berkotbah di gereja.  Gedung gereja penuh sesak.  Ada disana para bangsawan, dan pendeta-pendeta dari berbagai denominasi.  Di antara jemaat yang hadir, terdapat keluarga dari para korban yang merupakan ahli mekanik dari kapal itu.

Penginjil itu berkhotbah tentang “Kapal yang tidak bisa tenggelam.”  Tapi, ia tidak sedang berbicara tentang Titanic, yang dalam perjalanan pertamanya saja sudah langsung tenggelam.

Penginjil itu berbicara tentang kapal yang lain, ya, kapal yang tidak bisa tenggelam, yang diambil dari Alkitab, yaitu tentang sebuah kapal di danau Galilea.  Kapal kecil yang kita sebut sebagai perahu.   Perahu itu tidak pernah bisa tenggelam karena ada Sang Master, Tuhan dari segala daratan dan lautan.  Sang Master itu, yakni Yesus Kristus, sedang tertidur saat terjadi badai yang hendak menenggelamkan perahu para murid.  Murid-murid takut dan gentar menghadapi badai dan merasa perahu mereka akan tenggelam.  Mereka membangunkan Yesus, dan Sang Master itu berkata kepada angin badai, “Diam, tenanglah!”  Tuhan masih dan selalu ada dalam kedaulatan-Nya atas segala sesuatu.  Dia yang mengontrol dan mengatur semuanya.

Bila “perahu kehidupan” kita sedang mengalami badai dan gelombang yang besar, yang hendak menenggelamkan, ingatlah dan panggilah nama Yesus Kristus, dan biarkanlah Dia yang mengatur seluruh kehidupan kita, pasti tidak akan karam dan tenggelam.

“Kapal Kehidupan” kita akan tetap berlayar di atas gelombang-gelombang kehidupan.  Kapal kehidupan kita tidak akan bisa tenggelam karena kehadiran Kristus, dan akan mencapai tujuannya dalam kemuliaan Kristus.

Ayat Alkitab:
“Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.” (Markus 4:39)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *