Apa Yang Kupunyai Kuberikan Padamu

“Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan padamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” (Kisah Para Rasul 3:6)

Orang lumpuh yang tiap hari duduk meminta sedekah kepada para pengunjung Bait Allah di Yerusalem, berharap akan diberikan uang oleh Petrus dan Yohanes, saat disuruh untuk menatap mereka.   Ia tidak berpikir tentang kesembuhan dan ia sama sekali tidak mengira bahwa hari itu adalah hari dimana ia akan disembuhkan secara total dari kelumpuhannya.

Perkataan Petrus kepada orang lumpuh ini, merupakan perkataan yang didasarkan kepada keyakinan penuh akan otoritas kuasa Tuhan Yesus yang telah diterimanya sebagai rasul dan murid.  Bukan sekedar sebuah perkataan sia-sia dari Petrus namun perkataan yang mengundang kuasa sorga.

Ia tidak memberikan uang, emas atau perak.  Dari sini kita dapat menyadari bahwa emas dan  perak tidak dapat menolong orang yang lumpuh ini.  Banyak orang yang mengira bahwa uang adalah segalanya, emas adalah segalanya, harta adalah segalanya, tapi tidak menyadari bahwa uang, emas dan harta bukanlah segala-galanya.  Ada saatnya dimana uang, emas dan harta tidak dapat menolong kita.  Lagipula di saat-saat dimana sepertinya uang, emas atau harta telah menolong, sesungguhnya pertolongan itu bukanlah disebabkan oleh hal-hal itu, tapi hakikat pertolongan itu datangnya dari Tuhan, sang Pencipta.

Perkataan Petrus memposisikan emas dengan kuasa Allah secara berseberangan.   “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai kuberikan kepadamu”, demikian kata Petrus.  Apa yang dimiliki Petrus? Kuasa Kristus.   Bukankah kedua hal ini yang seringkali menjadi pertentangan berat dalam hati manusia yang menyebabkan mundurnya, jatuhnya, bimbangnya, dan murtadnya manusia dari Tuhan?

Uang, emas, harta duniawi, telah menyebabkan banyak orang terjatuh ke dalam jerat dosa dan ikatan duniawi.  Nampaknya, harta duniawi lebih mempesona daripada kuasa dan hadirat Allah.  Banyak orang jatuh dalam dosa kesombongan karena bergelimang harta sehingga menyepelekan kuasa Allah.  Sebaliknya, banyak orang juga yang jatuh dan mundur karena merasa tidak mendapatkan pernyataan kuasa Allah dalam hidupnya.  Padahal kuasa Allah sesungguhnya telah dan sedang bekerja di dalam kehidupannya.

Petrus bukanlah seorang hamba Tuhan yang bergelimang harta duniawi.  Ia adalah seorang hamba Tuhan yang benar-benar mengandalkan hidupnya berlandaskan iman yang sungguh-sungguh kepada Tuhan Yesus Kristus.  Sehingga di dalam hatinya tidak ada kebimbangan dan kekuatiran akan hari ini, esok dan nanti.  Ia pun tidak bimbang ketika ada tantangan dalam pelayanan karena Ia percaya penuh kepada otoritas kuasa Kristus yang ada di dalam dirinya.

Seorang hamba Tuhan yang bimbang dan ragu akan soal penghidupan dan berbagai masalah kehidupan, perlu mengoreksi diri dan kembali kepada dasar iman.  Benarkah kita telah beriman penuh kepada Kristus? Ataukah kita beriman setengah kepada harta kekayaan duniawi?  Bukankah hidup itu bukan hanya soal makanan dan pakaian? Lalu mengapa kekuatiran masih ada? Bila diri kita sungguh-sungguh adalah anak-anak Tuhan, maka kita tidak akan kuatir dan takut dengan apapun juga, karena ada Tuhan yang kuasa-Nya selalu bekerja di dalam kita.

Pada akhirnya Petrus berkata kepada orang lumpuh itu, “Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!”  Lalu orang lumpuh itu bangkit dan berjalan.   Kuasa Tuhan dinyatakan melalui kesembuhannya.  Masalah demi masalah bisa saja terjadi di dalam hidup kita, dari yang terkecil sampai yang terberat, tapi menghadapi masalah, kita tidak dapat mengandalkan harta duniawi sekalipun harta saudara mungkin banyak. Kita tidak dapat mengandalkan apa-apa selain daripada Tuhan Yesus Kristus.   Berharaplah kepada Yesus Kristus yang sanggup melakukan segala perkara.  Ketika masalah menerpa kita, berdoalah dan berkata-katalah dalam kuasa Tuhan. Perkatakan firman Tuhan dan kata-kata iman dengan penuh kepercayaan kepada Kristus.

Kita dapat menilai diri kita sendiri seberapa besar iman kita kepada Kristus saat kita berkata-kata, sebab akan terasa seberapa besar keyakinan dan seberapa besar kebimbangan dalam hati kita.  Janganlah mendasarkan pada pikiran kita sendiri di saat kita berdoa dan memperkatakan kuasa iman dan firman itu. Tapi landaskanlah  kepada Yesus Kristus.  Dia sanggup melakukan segala perkata, kita tidak sanggup, tapi Yesus sanggup.

Masalah apa yang saudara hadapi? Hadapilah dengan kuasa otoritas Tuhan Yesus melalui perkataan mulut saudara. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *