Bermegah Dalam Kesengsaraan

“Dan bukan hanya itu saja, kita malah bermegah dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan.” (Roma 5:3)

Kontradiktif dengan konsep dunia, dimana orang biasanya bermegah dengan keadaan yang baik, makmur atau sentosa, Firman Allah mengajarkan kepada kita, suatu konsep ilahi tentang atas dasar apa kita bermegah. Bermegah di dalam konsep sorgawi sangatlah berbeda dengan cara dunia bermegah.

Ayat di dalam Roma 5 ayat 3 ini mengajarkan tentang bagaimana kita seharusnya dapat bermegah di dalam kesengsaraan. Orang mungkin akan menertawakan hal ini, akan tetapi ini merupakan firman kebenaran, yang mengandung kuasa kehidupan bagi orang yang melakukannya.

Mengikut Yesus Kristus sebagai murid-Nya, merupakan suatu kebanggaan dan karunia. Namun, mengikut Kristus juga berarti bersedia untuk memikul salib yang Dia berikan. “Salib-salib” atau “kesengsaraan” yang Tuhan ijinkan terjadi adalah sesuatu yang atasnya kita dapat bermegah.

Kesengsaraan itu dapat bermacam-macam, tergantung pada situasi kita pribadi, mungkin itu adalah penderitaan jasmaniah, penyakit, kesulitan keuangan, dipecat dari pekerjaan, kebangkrutan, penganiayaan, celaan dan hinaan, keterpurukan, kesendirian, kesusahan dan berbagai hal lainnya.

Di tengah-tengah kesulitan semacam itu, Tuhan tetap memberikan kasih karunia-Nya bagi kita sehingga kita dapat tetap menjalani hidup ini dengan hati yang penuh sukacita dan kesabaran. Keadaan itu membuat kita lebih bersungguh-sungguh mencari Tuhan dan berserah penuh kepada-Nya, dimana roh kita diperkuat dan sifat tabah kita menjadi lebih bertambah. Maka, ayat ini berbicara tentang ketekunan yang dihasilkan oleh karena penderitaan itu.

Sadarilah bahwa bila kita sedang mengalami “kesengsaraan” itu, kasih karunia Tuhan tetap melimpah atas kita dan kasih setia-Nya tidak pernah berubah. Tuhan sedang membentuk kita menjadi pribadi dengan roh yang kuat dengan sifat sabar, tabah dan tekun serta setia dalam iman pada Kristus.

Pada akhirnya, ayat selanjutnya yaitu di ayat 4 berkata tentang suatu pengharapan yang pasti di dalam Tuhan kita, Yesus Kristus. Pengharapan kita tidak akan mengecewakan, demikian firman Tuhan. Jangan lihat hanya pada “kesengsaraan-kesengsaraan” itu, namun arahkanlah pandangan kita kepada pengharapan di dalam Kristus. Dia yang memanggil kita adalah setia, dan setia jugalah Dia dalam menolong kita. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *