Kehendak Allah Atau Kehendak Kita?

Kita tidak boleh memakai istilah Kehendak Allah sebagai dalih untuk menjadi pasif dan tidak bertanggung jawab dalam kaitan dengan panggilan-Nya untuk melawan dosa, kejahatan dan kesuaman rohani.   Kehendak Allah adalah baik dan sempurna, namun seringkali peristiwa buruk atau keadaan yang tidak baik dianggap karena kehendak Allah.  Memang ada hal-hal yang dapat dikatakan diizinkan oleh Allah untuk terjadi, namun sesungguhnya Allah punya rencana dan kehendak yang indah dan sempurna.

Dalam pelayanan hari ini, saya merenungkan sikap hidup orang-orang di penampungan.  Di antara mereka ada orang-orang yang berpendidikan, punya gelar bahkan dulunya berprofesi baik.  Tapi sekarang mereka berada dalam keadaan yang terabaikan secara sosial, oleh karena sikap hidup mereka sendiri.  Diantaranya adalah sikap hidup yang menyukai minum minuman keras.  Mereka yang dulunya hebat sekarang ini nampaknya sangat malas melakukan apa-apa.  Salah satu penyebabnya adalah kecanduan alkohol, padahal alkohol dapat merusak otak, sehingga menyebabkan tidak mampu berpikir dengan baik.

Kita hanya bisa menggelengkan kepala melihat apa yang sedang terjadi di kalangan orang-orang pemabuk ini, sekaligus prihatin dan berdoa buat mereka.  Kehidupan mereka yang indah menjadi rusak karena perbuatan mereka.  Apakah ini kehendak Allah?  Apakah ini seijin Allah?  Dapatkah kita mengatakan demikian?  Tentu tidak.  Kehendak Allah adalah memberikan yang terbaik namun Allah tidak memaksakan kehendak-Nya karena Ia memberikan kehendak bebas kepada setiap manusia.

Kuncinya hanyalah terletak pada respon kita.  Apakah kita mau meresponi kehendak Allah itu dengan baik ataukah kita berjalan secara berlawanan ?  Kita harus berperang dengan segala kehendak dan keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.  Allah mau agar setiap orang percaya memerangi segala perbuatan dosa dan kejahatan  beserta segala kuasa-kuasa dunia ini, dengan mengandalkan Roh Kudus.

Bacaan Alkitab:
“supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.” (1 Petrus 4:2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *