“Anjing” Yang Tak Mau Pergi

anjingBeberapa hari ini, saya tidak sempat menulis apalagi mengupload renungan, namun disitulah saya yakin merupakan kesempatan untuk kita semua membuat suatu perenungan secara pribadi dan mengenali identitas diri kita di hadapan Tuhan.  Bagaimanakah saya selama ini ? Apakah saya sudah hidup benar di hadapan-Nya? Apakah tujuan hidup saya? Dan berbagai perenungan lainnya.

Dalam hidup kita yang kita jalani di dunia ini, kita mempunyai suatu tanggung jawab pelayanan.  Ada dua macam pelayanan yang harus kita lakukan yaitu:
1. Pelayanan kepada Allah
2. Pelayanan kepada sesama.
Dua macam pelayanan ini dinyatakan secara jelas dalam perkataan  Tuhan Yesus tentang kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama.  Kasih berhubungan erat dengan pelayanan.  Kasih tanpa pelayanan bukanlah kasih, dan pelayanan yang tidak didasarkan kasih bukanlah sebuah pelayanan.

Berperan sebagai pelayan haruslah menjadi seperti orang yang berdiri di tengah-tengah yang berfungsi sebagai jembatan.  Peranannya dalam posisi tersebut adalah menjadi pendoa bagi orang-orang yang membutuhkan dan pendoa yang berdiri di atas kehendak Allah.

Markus pasal 15:27 tertulis demikian: “Kata perempuan itu: “Benar, Tuhan.  Namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”   Jawaban ini keluar dari mulut seorang ibu yang sedang berjuang untuk memohon kesembuhan dari Tuhan Yesus bagi anaknya yang sakit keras.   Pernyataan ibu ini merupakan pernyataan iman yang keluar dari dalam hatinya yang sangat dalam.  Jawaban Tuhan Yesus kepada ibu tersebut dalam ayat ini merupakan suatu  ujian iman yang nampaknya seolah Tuhan menolak untuk menyembuhkan, padahal sebenarnya Tuhan Yesus sedang menguji dan menguatkan hati ibu ini.

Setelah melihat kegigihan ibu tersebut, Tuhan Yesus mengatakan : “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.”

Ada beberapa hal yang dapat kita renungkan dalam kisah ini sehubungan dengan bagaimana menjadi seorang pelayan Tuhan dan sesama:

1. Seorang pelayan Tuhan harus memiliki belas kasihan kepada sesamanya
Dalam peristiwa dalam ayat tersebut, ibu ini begitu berbelas kasihan kepada anaknya.  Dan kasih yang seperti ini haruslah menjadi motivasi kita dalam melayani sesama.
2. Seorang pelayan Tuhan harus memiliki persekutuan erat dengan Tuhan
Apa yang dilakukan ibu ini menggambarkan bagaimana seharusnya seorang pelayan Tuhan memposisikan dirinya dalam sebuah persekutuan yang erat dengan Tuhan.  Ia berbicara selayaknya seorang hamba yang rendah hati dan begitu mengandalkan Tuhan serta percaya penuh kepada-Nya.
3.  Seorang pelayan Tuhan harus gigih dalam berdoa
Ketekunan dan kegigihan ibu ini menjadi teladan yang benar tentang peran seorang pelayan Tuhan dalam mendoakan sesamanya melalui doa syafaat yang benar-benar dilakukan dari hati yaitu penuh kesungguhan dan ketekunan.
4.  Seorang pelayan Tuhan harus merendahkan dirinya senantiasa
Walaupun diumpamakan seperti seekor “anjing”, ibu ini tidak merasa bahwa harga dirinya diinjak-injak.  Namun, ia dengan rendah hati merefleksikan dirinya seperti seekor anjing itu dan mendapatkan suatu perkataan yang mengagumkan yakni bahwa “anjing itu makan dari remah-remah yang jatuh dari meja tuannya”.   Ini tidak akan terjadi bila sang ibu tidak memiliki kerendahan hati.  Di segala situasi sulit, apapun itu, kita harus selalu rendah hati dan mengesampingkan segala ego dan rasa harga diri kita.

Marilah kita menjadi seorang pelayan Tuhan yang setia dan tekun berdoa, memiliki persekutuan dengan Tuhan dan berbelas kasihan serta rendah hati. Amin.

2 thoughts on ““Anjing” Yang Tak Mau Pergi”

  1. Terima kasih untuk renungannya, bagus sekali dan bisa menginspirasi kita yg dalam
    melayani masih pilih bulu, waktu dan tempat. Kuncinya adalah kerendahan hati.
    semoga ayat Markut 15 : 27 menjadikan kami lbh mau merendahkan hati terutama
    disaat2 kita direndahkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *