Keluhuran Sikap Daniel Dalam Pembuangan

Nats Alkitab:
“Jadi, ya raja, biarlah nasihatku berkenan pada hati tuanku: lepaskanlah diri tuanku dari pada dosa dengan melakukan keadilan, dan dari pada kesalahan dengan menunjukkan belas kasihan terhadap orang yang tertindas; dengan demikian kebahagiaan tuanku akan dilanjutkan!” (Daniel 4:27)

Bacaan Alkitab: Daniel pasal 4

Dalam pembuangan di Babel, Daniel mendapatkan posisi penting di kerajaan dan dapat memberikan dampak bagi raja dan seluruh rakyat, melalui keteguhan iman dan kesetiaannya kepada Tuhan.

Daniel masih remaja saat diangkut ke Babel, namun dalam usia muda ia sudah memiliki prinsip iman yang kokoh, sehingga di Babel ia tidak mencemarkan dirinya dengan hal-hal yang tidak berkenan kepada Allah.

Kita dapat belajar beberapa hal dari kisah dalam kitab Daniel, yaitu:

1. Dalam segala keadaan, jangan tinggalkan Tuhan.
Meskipun ikut dalam pembuangan, Daniel tidak meninggalkan Tuhan. Pembuangan bukanlah sesuatu yang menyenangkan, di masa awal Daniel pasti mengalami ancaman kematian dan kesulitan hidup. Namun, ia tetap percaya kepada Tuhan dan tidak meninggalkan iman pada Tuhan.
Dalam situasi apapun, kita harus senantiasa setia kepada Tuhan dan beriman kepada-Nya. Meskipun situasi susah atau menderita, harus setia, jangan tinggalkan Tuhan gara-gara masalah ekonomi, sakit penyakit, kesendirian, rumah tangga, sekolah dan berbagai masalah lainnya.  Dalam situasi yang baik, makmur dan sejahtera, ketika ekonomi baik dan segala sesuatu berjalan dengan baik, jangan lupakan Tuhan. Daniel mengalami dan merasakan kemewahan di istana raja karena ia mendapatkan perkenanan di hati raja, tapi Daniel tidak mengubah gaya hidup dan imannya. Daniel tetap dan selalu setia dalam situasi apapun. Marilah kita juga berlaku demikian.  Mazmur 37:3 berkata: “Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia”.

2. Milikilah hati yang berbelas kasihan.
Ketika hendak menafsirkan mimpi raja Nebukadnezar, Daniel terkejut karena arti mimpi yang buruk yang akan terjadi kepada raja. Daniel menyatakan isi hatinya yang berbelas kasihan pada raja dengan mengatakan agar arti mimpi itu tidak menimpa raja.  Dan kemudian setelah mengartikan mimpi, Daniel menasehati raja agar meninggalkan dosa supaya tidak ditimpa kemalangan dan sesuatu yang buruk.   Ini adalah bukti bahwa Daniel memiliki belas kasihan kepada jiwa-jiwa.  Dalam Matius 22:39 tertulis: “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Marilah kita mengasihi sesama kita dengan belas kasih sorgawi.

3. Jagalah hubungan persekutuan dengan Roh Kudus
Daniel dikenal sebagai orang yang dipenuhi dengan Roh Allah. Raja Babel menyebutnya “penuh dengan roh para dewa”.  Dia menjaga agar hidupnya kudus di hadapan Allah, sehingga Roh Allah dapat tinggal di dalam dirinya. Daniel berjalan dalam pimpinan Roh Allah.  1 Tesalonika 5:19  berkata: “Janganlah padamkan Roh”.

4. Jadilah saksi bagi Tuhan
Siapapun raja di Babel, Daniel memiliki sikap untuk dapat menjadi saksi bagi Tuhan, sehingga raja Darius dan raja Nebukadnezar mengalami kuasa jamahan Tuhan yang menyelamatkan dan mereka menjadi percaya kepada Allah.
Di sekitar kita banyak orang terhilang yang butuh keselamatan Marilah kita menjadi pribadi yang suka untuk bersaksi kepada orang lain. Tuhan Yesus berjanji bahwa Ia akan menyertai kita sampai akhir jaman.
Kisah Para Rasul 1:8  berkata: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Tuhan Yesus memberkati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *