Penyelam Koin

penyelamkoin

“Lempar, om, …..
lempar, tante,….
mas, mba….. lempar….”, teriak anak-anak dari bawah.

Saya berada di atas bersama para penumpang sebuah kapal yang sedang menuju salah satu propinsi. Anak-anak yang berteriak itu adalah anak-anak yang biasa meminta uang koin kepada para penumpang kapal.  Namun, mereka unik dibanding peminta-minta lain.
Mereka berada di dalam air laut, sambil terus berusaha agar kepala mereka berada di atas air laut dan sebagian tubuh mereka berada di dalamnya.

Jika ada yang melempar koin, maka anak-anak itu akan berebutan mengambilnya.  Mereka akan menyelam dan mengambil uang koin yang terjatuh dan tenggelam perlahan.  Luar biasa! Mereka anak-anak yang hebat berenang dan menyelam.  Koin-koin yang dilempar satu demi satu dapat mereka tangkap di dalam air laut.

Senang melihat keramaian itu, tapi dalam hati ada rasa takut akan anak-anak ini, takut kalau-kalau mereka mengalami sesuatu yang buruk di laut.  Coba bayangkan, bila anak kita sendiri, berada di laut, dan meminta-minta uang koin kepada para penumpang kapal, lalu menyelam untuk mengambil koin yang dilempar.  Apakah pikiran kita bisa tenang?  Apakah kita bisa dengan sukacita membiarkan anak-anak kita melakukan hal itu?

Anak-anak itu mengambil resiko atas nyawa mereka demi beberapa uang koin.  Tanpa pelampung dan alat pengaman lainnya, mereka berenang dan menyelam mencari koin.  Apakah yang lebih utama? Koin ataukah nyawa mereka?  Ok, ada yang mengatakan: “No Pain, No Gain”, tapi apakah “Pain” yang dialami sepadan dengan “Gain” ? Seringkali ungkapan itu juga tidak dapat diterapkan di semua lini kehidupan.

Saya merenungkan dan mengingat akan keselamatan hidup kita yang telah diberikan oleh Kristus Yesus.  Betapa berharganya itu.  Namun, masih ada saja yang “bermain-main” dengan keselamatan itu hanya karena harta duniawi yang sementara.  Kita kadangkala lupa mana yang lebih berharga.  Ketika seseorang mengalami kebangkrutan atau PHK, jangan putus asa dan ambil keputusan untuk bunuh diri, hanya gara-gara ekonomi lagi terpuruk.  Nyawa dan keselamatan lebih berharga daripada harta.  Apalagi ada keluarga yang memerlukan kehadirannya.

“Apakah gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *