3 Kunci Hidup Sukses

Bila saudara ingin sukses ingatlah ketiga prinsip Alkitabiah ini:
1. Andalkan Tuhan.
Hal ini berarti beriman kepadaNya dan setia melakukan firmanNya. Berharaplah hanya kepada Tuhan, bukan pada manusia, harta atau kekuatan kita.
2. Lakukan bagian kita.
Tuhan mau agar kita mengusahakan  atau mengupayakan, bukan untuk bermalasan-malasan. Tuhan mau bekerja bersama orang-orang yang aktif, bukan pasif. Ia mau kita lakukan tanggung jawab  bagian kita, maka Tuhan akan melakukan tugasNya membuat kita berhasil.
3. Nantikan hasil dengan sabar.
Segala sesuatu ada waktunya. Tuhan bekerja menurut waktuNya. Jangan kita memaksakan untuk dapat hasil yang instan, tapi latihlah diri kita untuk tekun dan bersabar, setia menantikan waktu Tuhan.

Ingatlah 3 hal prinsip ini, dan terapkan dalam hidup kita, maka kita akan sukses.

Yeremia 17:7
Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!

Dimana Letak Kebahagiaan ?

Kita pasti punya keinginan untuk hidup bahagia. Kebahagiaan yang seringkali terpikir oleh kita adalah suatu keadaan tertentu yang harus kita capai, misalnya: “Saya akan bahagia kalau saya punya rumah”, “Saya akan bahagia kalau tinggal di luar negeri”, “Saya akan bahagia kalau punya pekerjaan yang bagus”, atau “Saya akan bahagia kalau saya menikah”, dan lain-lain masih banyak lagi contoh yang berbeda-beda menurut masing-masing orang.

Padahal kebahagiaan itu sebenarnya adalah keadaan hati.  Bahagia itu terletak pada hati yang bersyukur.  Tuhan Yesus mengucapkan 10 ucapan bahagia, diantaranya adalah berbahagialah orang yang miskin, berbahagialah orang yang berdukacita, berbagialah orang yang murah hati, yang kalau kita perhatikan ternyata kebahagiaan itu bukanlah disebabkan oleh keadaan dan tidak bergantung pada keadaan, tapi merupakan pilihan setiap orang, sekaligus juga adalah anugerah.  Kita dapat memilih untuk berbahagia atau tidak berbahagia.

Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan kebahagiaan itu dalam hidup kita, tinggal kita memilih untuk hidup dalam kebahagiaan itu atau tidak.

Bahagia bukan soal dimana kita berada, atau keadaan kita, bukan soal seberapa banyak harta yang kita punyai, bukan soal kehebatan atau kekuatan serta kesuksesan. Kebahagiaan ada di dalam hati yang selalu sadar dan bersyukur.

“Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!” (Mazmur 34:8)

Aku Menggendong Kamu

Di India, ada tradisi  masyarakatnya membawa patung dewa Ganesha yang mereka percaya dapat memberikan berkat.  Patung itu biasanya akan mereka gendong atau pikul bersama-sama, ditaruh di atas bahu mereka lalu pada akhirnya dilarung ke laut atau air sungai.

Bertentangan dengan dewa-dewa ciptaan manusia yang harus diangkut oleh orang yang menciptakannya, Tuhan, pencipta kita, sanggup menggendong kita.

Tuhan sudah memperhatikan kita sejak awal hidup kita, sejak dari dalam kandungan Ia menolong dan menyertai kita dan terus bertindak untuk memelihara kita sampai akhir.

Yesaya 46:4
“Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”

Jangan Terlambat

Seorang bapak seringkali terlambat datang ke gereja. Kadangkala bahkan sudah berjalan satu jam dia baru datang. Dia mengatakan bahwa walaupun terlambat, tapi dia datang, dan menurutnya itu lebih baik daripada tidak datang sama sekali. Itu betul, saya sependapat, karena saya pun termasuk yang seringkali terlambat sehingga saya membenarkannya.  Tentu ada berbagai penyebab mengapa kita bisa terlambat, tetapi memang alangkah terlebih baiknya bila kita bisa datang tepat waktu.

Bila dalam soal kedatangan ke gereja, terlambat masih bisa dimaklumi, tidak demikian dengan respon terhadap panggilan Tuhan atau sikap berjaga-jaga akan kedatangan-Nya.

Matius 25:10-12 mengisahkan tentang 5 gadis yang bodoh yang datang terlambat: “Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.”

Kisah itu bermakna agar kita berjaga-jaga, tapi juga dapat mempunyai makna agar kita tidak terlambat meresponi panggilan-Nya.  Bila kita dipanggil Tuhan untuk bertobat, jangan tunda-tunda dan jangan terlambat, selama masih ada waktu kemurahan-Nya.

Bapa Sorgawi Lebih Hebat

Sebagai seorang ayah, saya menyadari bahwa kemampuan saya terbatas, dari segi pengetahuan, kekuatan, keuangan, kesabaran, kebaikan dan masih banyak lagi.

Kadangkala anak-anak meminta sesuatu yang saya tidak mampu, atau menanyakan suatu pertanyaan yang saya tidak bisa menjawab.

Kita semua yang punya anak, baik para ayah maupun para ibu, mengalami hal yang sama dan menyadari batas kemampuan kita. Ada hal-hal yang kita tidak mampu kerjakan bagi anak-anak kita karena keterbatasan kemampuan.

Tapi ada satu hal yang perlu kita sadari dan juga syukuri, karena ada Bapa sorgawi yang kemampuannya tak terbatas untuk menolong, menopang, menjawab, dan memberikan apa yang anak-anak kita perlukan.  Bapa sorgawi adalah Bapa kita dan Bapa anak-anak kita, sehingga kita bersukacita karena kebenaran ini.

Matius 18:10
Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.

Iman Wanita Yang Sakit Pendarahan

Ketika kita sedang berada dalam masalah atau penderitaan, bagaimanakah sikap hati kita? Apakah pesimis dengan masa depan dan menyerah dengan keadaan?

Kisah seorang wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun  yang mengalami mujizat karena imannya kepada Tuhan Yesus dalam Injil Lukas 8:43-48, menjadi contoh pembelajaran bagi kita tentang sikap yang pantang menyerah dan iman yang luar biasa kepada Tuhan.

Meskipun kondisinya lemah dan dianggap najis menurut tradisi agama Yahudi, namun ia berusaha untuk datang kepada Tuhan dengan iman, “asal aku jamah saja jumbai jubahNya, aku akan sembuh”.  Dan ia mengalami mujizat kesembuhan oleh kuasa Tuhan.

Iman berbeda dengan sugesti. Sugesti berlandaskan pada kekuatan diri sendiri, tapi iman berlandaskan pada kuasa, kekuatan dan kehendak Tuhan.

Jadilah orang yang beriman kepada Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh. Rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh dengan pengharapan.

Saat berdoa, lakukanlah dengan iman, jangan ada kebimbangan dalam hati.

Nats Alkitab:
“Karena katanya dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” (Matius 9:21)

Tanggung Jawab Penjaga

Seorang penjaga sebuah pabrik tidak menelepon pemilik dan para manajer ketika terjadi kebakaran di tempat itu. Ia juga tidak menelepon pemadam kebakaran. Ia hanya duduk diam, tak berbuat apa-apa sambil melihat kebakaran yang semakin lama semakin besar dan tak terkendalikan di pabrik itu, sampai akhirnya ia kabur menyelamatkan dirinya sendiri.

Bagaimana pendapat saudara tentang penjaga tersebut? Layakkah dia dipromosikan ? Atau sebaliknya, dipecat? Tapi sebelum dipecat, kepadanya akan dimintai pertanggungjawaban terlebih dahulu atas kelalaiannya.

Kepada Yehezkiel Tuhan berfirman bahwa Ia menetapkannya sebagai penjaga kaum Israel: “Dan engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku.” (Yehezkiel 33:7)

Yehezkiel harus menyampaikan firman Tuhan yang ia dengar. Dan seperti nabi Yehezkiel, kita pun mendapat tugas sebagai penjaga bagi jiwa-jiwa di sekeliling kita. Tuhan Yesus memberikan tugas untuk menyampaikan kabar Injil ke segala bangsa.

Rasul Paulus berkata: “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.”  Artinya bahwa ia menyadari akan tanggung jawabnya yang besar sebagai seorang pelayan Tuhan yang harus menyampaikan firman Tuhan yakni kabar keselamatan itu, sebab bagi yang tidak bertobat dan percaya kepada Juruselamat, maka hukuman telah disediakan, oleh karena itu tugas kita haruslah menyampaikan agar orang-orang terhindar dari hukuman kekal.  Bila kita sudah menyampaikan dan tidak ada yang mau mendengar, maka tugas kita sudah kita tunaikan dan kepada kita tidak dituntut tanggung jawab.

Kabarkanlah Injil !

Uang Yang Hilang

Uang yang saya taruh di kantong belakang celana hilang. Saya berusaha mengingat apakah uang itu jatuh di rumah atau dalam perjalanan menuju ke sebuah supermarket dekat tempat tinggal.  Saya pun menyusuri kembali jalan yang sudah saya lalui, sambil melihat-lihat ke bawah dimana gerangan uang yang hilang itu.

Saat proses pencarian tersebut, ada perasaan sedih dan sekaligus semangat untuk mencari dengan harapan agar uang itu ditemukan kembali.  Mengapa saya berusaha mencari uang tersebut? Karena uang itu berharga buat saya.

Seperti uang yang hilang, Tuhan Yesus mengumpamakan jiwa terhilang seperti halnya seorang yang kehilangan uangnya dan mencarinya.  Ada banyak jiwa terhilang di dunia ini, dan jiwa-jiwa itu sangat berharga. Maukah kita mencarinya sebagaimana kita mencari barang berharga yang terhilang?

Lukas 15:8-10
“…perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?
Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan.
Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.”

Berdoa Bersama Keluarga

Dalam kehidupan rumah tangga, banyak suami yang merasa sungkan mengajak istri berdoa. Ada perasaan malu untuk mengajak berdoa bersama. Begitupun istri terhadap suami, seringkali merasa sungkan untuk mengajak berdoa. Mengapa bisa seperti itu? Karena doa belum merupakan suatu kebiasaan bersama. Terkadang doa bersama dihalangi oleh perselisihan paham, perasaan rendah diri/tidak layak, menyalahkan, pemikiran bahwa tidak bisa berdoa atau lebih baik pendeta yang berdoa, dan perasaan bahwa doa itu tidak bermanfaat.

Doa harus menjadi sebuah kebiasaan dalam rumah tangga. Latihlah diri untuk berdoa bersama, dengan istri/suami, dan anak-anak. Doa bukan soal kata-kata yang bagus, tapi soal ketulusan hati. Sampaikan kepada Tuhan rasa syukur, pujian, dan juga permohonan dalam kata-kata yang saudara bisa ucapkan.  Jadilah dirimu sendiri dalam berdoa.

Doa bersama mempunyai kuasa yang luar biasa, karena dimohonkan secara bersama dalam kesatuan hati.

“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:20)

“Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (1 Petrus 3:7)

Mengatasi Gosip

Dalam lingkungan masyarakat dimana kita hidup dan berada, selalu ada satu hal yang dapat merusak hubungan antar satu sama lain. Gosip itulah namanya. Membicarakan hal-hal negatif tentang orang lain.

Ada satu prinsip yang harus selalu kita ingat tentang gosip: “Orang yang senang menceritakan keburukan orang lain kepada kita, adalah orang yang akan menceritakan keburukan kita kepada orang lain.”
Oleh karena itu, janganlah kita lekas mempercayai orang untuk curhat masalah kita.  Lebih baik kita curhat kepada Tuhan di dalam doa kita. Tuhan maha mendengar dan lebih dari itu, Ia akan memberikan kekuatan dan jalan keluar.

Bagi kita sendiri harus berlaku prinsip: “tidak mau dan tidak akan menceritakan hal-hal negatif tentang orang lain.”  Kita harus menjaga perkataan kita.

Dan bila kita digosipkan oleh orang lain, biarlah kita berdiam diri dan tidak marah, tetapi mengampuni dan menyerahkan semua kepada Tuhan.

“Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka.” (Mazmur 145:19)

Tuhan Yesus, Engkaulah tempat aku mengeluarkan seluruh isi hatiku, karena Engkau mendengarkan segala ceritaku. Terima kasih Tuhan karena Engkau menolong dan menguatkan aku.