Rahasia Hidup Bahagia

Kunci kehidupan yang berbahagia menurut teladan Kristus adalah kehidupan yang selalu penuh syukur dan berbagi kepada sesama.

Tuhan Yesus memberikan contoh dalam berbagai kesempatan bagaimana Ia selalu mengucap syukur dan berbagi untuk orang lain, dalam kesempatan bersama murid-murid-Nya maupun orang-orang lain yang mengikutiNya.

Dalam Lukas 22:19 tertulis:  “Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

Tuhan Yesus mengucap syukur dan membagi-bagikan makanan,bahkan lebih daripada itu, Ia memberikan hidupNya bagi seluruh umat manusia.

Mari ikuti teladan Tuhan kita Yesus Kristus:
Mengucap syukur senantiasa dan berbagi untuk sesama kita, maka hidup kita akan penuh kebahagiaan dan sukacita.

3 Karakteristik Iman

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. (Ibrani 11:1)

Perlu diingat bahwa Iman yang kita bicarakan adalah Iman di dalam Tuhan Yesus Kristus, yang telah dinubuatkan oleh para nabi dan yang dinanti-nantikan kedatanganNya.

Ada 3 karakteristik iman yaitu:
1. Iman percaya kepada janji Allah.
Orang yang beriman adalah orang yang percaya kepada janji-janji Allah.  Tindakan “Percaya” itu melampaui argumentasi intelektual manusia.  Itu sebabnya seringkali, akal logika tidak dapat menerima dan mengakui apa yang dipercayai, bahkan cenderung menolaknya, tetapi oleh iman, kita percaya akan hal yang tidak dapat dijelaskan itu, dan oleh iman kita mengerti bahwa janji Allah itu “ya” dan “amin”, sesuatu yang tidak mustahil, tetapi pasti.

2. Iman mengerti kehendak dan kuasa Allah.
Apa yang dilihat oleh mata jasmani seringkali dapat mengaburkan iman kita, bahkan menggoyahkan kepercayaan kita, apabila, sekali lagi apabila, ya apabila kita tidak kokoh dalam memahami dan mengerti akan kuasa dan kehendak Allah.  Manusia memiliki pikiran, perasaan dan kehendak, yang dapat “ditipu” dan “diperdayai” oleh keadaan hidup yang sulit atau tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.  Namun, orang yang beriman tidak menilai situasi dari apa yang dilihat oleh mata jasmaninya, tidak menilai situasi dari apa yang dirasakannya, tidak pula menilai situasi dari kehendak pribadinya, melainkan menilai segala sesuatu berdasarkan pengertian akan kehendak dan kuasa Allah.

3. Iman taat kepada perintah Allah.
Ketaatan merupakan manifestasi dari iman.  Jika kita berkata bahwa kita beriman, namun kita tidak melakukan apa yang dituntut dari iman itu, maka iman kita adalah iman yang kosong.  Iman itu taat kepada perintah Allah. Jadi, bukan sekedar menantikan janji Allah, bukan sekedar mengerti kehendak dan kuasa Allah, tapi iman itu harus disertai dengan ketaatan kepada perintah-Nya.

Bagaimanakah karakteristik iman kita saat ini?  Apakah ketiga hal tersebut di atas ada dalam kehidupan iman kita? Ataukah ada satu atau dua hal yang tidak nampak dalam keimanan kita?

Ambillah komitmen hari ini untuk berubah, apabila ada satu, dua atau bahkan ketiga karakteristik itu tidak ada dalam hidup keimanan kita.  Oleh kasih anugerah Tuhan Yesus Kristus, maka kita akan dikuatkan dan dimampukan untuk hidup dalam iman yang kokoh, asalkan kita pun rela untuk berserah sepenuhnya kepada Tuhan.