Mengosongkan Diri, Bentuk Kerendahan Hati

Yesus Kristus, meninggalkan kemuliaan-Nya dalam sorga, dan turun ke bumi menjadi sama dengan manusia.  Filipi 2:7 mencatat tentang sikap Kristus yang demikian merendahkan diri-Nya sendiri: “melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”

Ia merendahkan diri-Nya, menunjukkan kerelaan dan kebesaran hati-Nya untuk menjadi hamba bagi orang lain. Ia datang ke dunia, dengan satu tujuan yaitu untuk melayani.  Perbuatannya terkonfirmasi melalui perkataan-Nya bahwa barangsiapa yang ingin menjadi yang terbesar, hendaklah ia menjadi yang terkecil.  Dan barangsiapa yang ingin menjadi pemimpin, hendaklah ia menjadi pelayan bagi semuanya.

Yesus Kristus adalah Tuhan, Raja alam semesta, penguasa bumi dan surga, tapi Ia rela merendahkan diri-Nya.  Mari kita perhatikan baik-baik hal ini:  IA RELA MERENDAHKAN DIRI-NYA.

Bagaimanakah dengan kita? Sudahkah kita mencontoh teladan Tuhan Yesus? dengan cara merendahkan diri di hadapan sesama? tidak menganggap diri kita lebih penting dan lebih utama, melainkan mengambil posisi sebagai hamba?

Bulan ini, kita mengingat kembali kelahiran Kristus yang datang ke dunia untuk menebus dosa manusia.  Ia tidak datang dengan kemegahan dan kemuliaan-Nya, melainkan datang dalam keadaan yang nampak hina di hadapan manusia, terlahir di kandang domba.  Namun, itulah bukti kerendahan hati Allah, yang mau serendah-rendah-Nya, menempatkan diri-Nya di antara manusia yang dikasihi oleh-Nya.

Bersukacitalah Ketika Susah

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4)

Jiwa manusia yang terdiri dari pikiran, perasaan dan kehendak, terkadang mengalami tekanan, keputusasaan, kekecewaan, kesedihan, kesusahan, atau “kegalauan”.   Penyebabnya dapat bermacam-macam, berbeda antara satu dengan lain orang.

Ayat ini di atas berbicara tentang sukacita di dalam Kristus, sebagai orang-orang percaya.  Konteksnya mungkin berbeda pada jaman itu, namun, ayat ini relevan sampai hari ini dan relevan juga terhadap semua masalah yang ada.

Bila kita merasakan kesusahan dalam hati, datanglah pada Tuhan Yesus, yang sanggup memberikan kelegaan dan penghiburan sejati.  Ia memiliki segala jawaban yang kita perlukan.  Dia menerima keberadaan kita dan mengampuni ketika kita datang kepada-Nya memohon belas kasih-Nya.

Tuhan Yesus akan memperbaharui hati kita dan memberi semangat yang baru, untuk berjalan dan meninggalkan masa lalu, untuk menyongsong masa depan yang cerah bersama-Nya.

Bersukacitalah di dalam Tuhan Yesus!

Ketidaksabaran Menghasilkan Dosa

Ketidaksabaran manusia akan membawa kepada tindakan yang dapat menimbulkan dosa. Sebenarnya, ketidaksabaran itupun sendiri adalah sudah merupakan sifat berdosa.  Salah satu buah roh yang disebutkan dalam Alkitab adalah sabar.

Sewaktu Musa sedang berbicara dengan Tuhan di atas gunung Sinai, orang-orang Israel menjadi tidak sabar dan menduga bahwa Musa mungkin telah mati, sebab ia tidak turun turun dari Gunung Sinai.
Ketidaksabaran mereka dalam menantikan Musa yang sedang berhadapan dengan Tuhan memunculkan ide keduniawian yang sesat.  Mereka meminta Harun untuk membuat patung tuangan berupa anak lembu emas yang akan mereka jadikan sebagai tuhan yang akan disembah oleh mereka.  Mereka berkata: “Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir – kami tidak tahu apa yang terjadi dengan dia.” (Keluaran 32:1b)

Kisah ketidaksabaran seperti orang-orang Israel ini secara esensi seringkali sama dihadapi oleh kita sekarang ini. Ada saat dalam hidup, dimana kita diuji dalam hal kesabaran oleh Tuhan. Adakalanya saat-saat penantian tersebut membuat sebagian orang untuk memilih jalan alternatif lain untuk memuaskan harapan dan keinginannya.
Ada orang-orang yang berbalik dari Tuhan dan mencari allah lain.  Adapula yang melepaskan pengharapannya kepada Tuhan dan berharap kepada yang lain.  Ada orang yang mencari jalan pintas karena tidak sabar menunggu jawaban Tuhan.  Ada sebagian orang yang menjadi tidak peduli lagi dengan soal-soal iman dan malah mentertawakannya karena ia tidak sabar dalam ujian atau penderitaan.

Bagaimana dengan kita? Apakah ketika dalam penantian, kita senantiasa sabar?  Sabar bukan hanya sekedar kesediaan untuk menunggu, melainkan juga kerelaan untuk tunduk kepada kehendak Tuhan.

Sabarlah dan bersukacitalah. Ada pengharapan yang pasti, dan ada rencana yang indah di dalam Tuhan.

Jangan Kecewa

“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku.” (Yohanes 16:1 )

Tuhan Yesus mengatakan kepada murid-murid hal-hal yang akan terjadi yang dapat membuat mereka kecewa secara duniawi.
Mengikut Tuhan Yesus berarti siap menanggung “salib”.
Perjalanan hidup seorang murid Kristus akan menghadapi tantangan demi tantangan.   Tantangan itu merupakan ujian-ujian iman yang diijinkan oleh Tuhan untuk memurnikan kita.

Apabila kita menghadapi berbagai macam situasi yang tidak baik, oleh karena kita adalah murid Kristus, maka janganlah kecewa dan mundur dari Tuhan.  Sebab semuanya itu telah dikatakan oleh Tuhan Yesus sendiri, agar kita siap dan tidak kecewa secara duniawi.

Pandangan iman kita jangan diarahkan ke dunia, tapi harus diarahkan ke sorga.  Bila kita fokus pada dunia ini, dan melihat diri kita sebagai murid Kristus, maka kita bisa menjadi kecewa. Tapi bila kita fokus kepada kekekalan, maka tidak pernah sedikitpun kita akan merasakan kecewa karena mengikut Kristus.

Sekalipun jalan hidup kita nampak “berliku, mendaki dan sulit”, banyak rintangan, dan bahkan ancaman, tapi hati kita tetap teguh dan bersuka di dalam Dia yang telah menyelamatkan kita.  Janganlah kecewa, karena semuanya itu telah dikatakan-Nya kepada kita!

Hadiah Terbaik

Hadiah terbaik yang dapat diberikan untuk musuh kita adalah pengampunan,
untuk yang berbeda pendapat dengan kita: toleransi,
untuk seorang sahabat: hati,
untuk anak: teladan yang baik,
untuk seorang ayah: rasa hormat,
untuk seorang ibu: perbuatan yang membuatnya bangga,
untuk diri sendiri: penghargaan,
dan untuk semua orang: kemurahan hati.

(Lord Balfour)

“Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.
Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.
Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.
Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.
Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.
Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.
Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”
(Lukas 6:29-36)

Hasil Survey Terhadap Wanita Menunjukkan….

Sebuah survey yang pernah di lakukan terhadap para wanita tentang kriteria pria yang mereka idamkan sebagai suami, menunjukkan hasil sebagai berikut:
–  kriteria pertama yang mereka inginkan dari  pria adalah sikap yang humoris,
– kriteria kedua adalah pria yang memperlakukan mereka dengan baik,
– kriteria ketiga adalah pria yang menyukai anak-anak
Dari hasil survey itu, ternyata hanya 4% kriteria mengenai ketampanan pria.
Jadi, wanita tidak terlalu mementingkan ketampanan seorang pria, melainkan sikapnya yang baik.
Maka dari itu, buat para pria, jangan merasa minder dengan penampilan lahiriah, karena hal itu bukanlah yang utama buat wanita. Jadilah pria yang memiliki nilai dan sikap hidup yang baik dan luhur, karena itulah yang terutama.

“Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.”
(Kolose 3:19)

Rahasia Kepuasan Hidup

Kita akan merasakan kepuasan hidup hanya bila kita memiliki hubungan pribadi dengan Allah. Hanya Dialah yang memungkinkan kita menemui, merasakan dan menikmati kepuasan hidup itu. Makna kepuasan hidup terletak di dalam hati yang terhubung dengan Allah, sehingga apabila kita makan, minum dan bekerja, semuanya akan terasa nikmat karena dikerjakan di dalam hubungan dengan Allah. Semua pekerjaan dan kegiatan yang kita lakukan menjadi terasa menyenangkan dan hati kita tenteram. Disinilah esensi dari kepuasan hidup itu. Bukan soal nyaman atau tidak nyaman, kaya atau miskin, senang atau menderita, namun apabila kita ada dalam persekutuan yang erat dengan Allah, maka hati kita akan selalu terpuaskan.

Kitab Pengkhotbah pasal 2 ayat 24-25 berkata: “Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa inipun dari tangan Allah. Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?”

Inti dari ayat ini adalah bahwa di luar Allah, kita tidak dapat menikmati hidup dengan sebenar-benarnya. Kenikmatan sejati hanya ada dan kita temukan di dalam Dia. Dan kita juga harus menyadari bahwa semua yang ada dalam hidup ini, termasuk hidup itu sendiri, adalah pemberian Allah. Maka, tidak ada kesombongan pada diri kita, sebab bukan karena kita, melainkan karena Dia, sehingga semuanya ada dan kita dapat menikmati kehidupan ini.

Yesus Kristus menjadi penggenapan yang sangat jelas dari apa yang disebutkan disini, sebab Alkitab berkata bahwa, “Di dalam Dia ada hidup, dan hidup itu adalah terang manusia.” (Yoh. 1:4) Di dalam Yesus saja ada kehidupan yang sejati dan kenikmatan yang benar di dalam terang-Nya.  Milikilah persekutuan dengan Allah di dalam Yesus Kristus!