Upah Karena Menyambut Orang Benar

Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.  (Matius 10:41)

Tuhan Yesus berbicara tentang hal menyambut seorang nabi dan seorang benar.  Dua macam orang ini adalah orang yang paling sering ditolak dan dianiaya karena dengan mereka dengan teguh mempertahankan kesalehan dan kebenaran (Lihat pasal 5:10). Oleh karena itu, orang yang menyambut para nabi dan orang benar akan mendapat upah atau berkat khusus dari Tuhan.

Apabila pengabdian kita kepada kepada kebenaran dan keadilan begitu kokoh sehingga kita mengabdikan hidup ini untuk menyediakan segala keperluan, bekerjasama dengan, dan memberikan semangat kepada hamba-hamba Allah yang benar, maka upah yang kita terima adalah sama dengan upah nabi atau upah orang benar yang saudara terima.

Sebaliknya, janganlah kita mendukung, memberikan semangat atau bekerja sama dengan para pendeta atau para pengkhotbah yang tidak memberitakan kebenara-Nya sesuai dengan penyataan Allah dalam Perjanjian Baru, atau yang tidak hidup saleh sesuai dengan patokan kebenaran Allah.  Mendukung orang semacam ini akan menyebabkan kita turut mengalami hukuman mereka. (Lihat 2 Yohanes).

– dari Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, hal. 1522 –

Kehilangan Kasih

Salah satu akibat dari  mengabaikan Allah  dan firman-Nya adalah kehilangan kasih kepada keluarga.  Kasih kepada istri atau suami, kasih kepada anak-anak akan senantiasa terjaga di saat kita selalu mencari Tuhan dan mengutamakan firman-Nya.  Jadi, apabila ada orang yang mengaku bahwa ia mengasihi Tuhan namun tidak mengasihi keluarganya, maka hal itu sama saja suatu kebohongan.

Kehilangan kasih yang terjadi bukan hanya kepada keluarga, namun merembet pula kepada sesama.  Kasih kepada sesama menjadi hilang karena pengabaian-pengabaian akan firman Tuhan.  Ada banyak contoh ekstrim dalam Alkitab tentang kehidupan yang kehilangan kasih karena mengabaikan persekutuan dengan Allah.  Persekutuan yang sejati dengan Allah akan memunculkan kasih sejati kepada sesama.  Ada banyak orang pergi ke gereja, melakukan ibadah seminggu sekali namun tidak punya kasih kepada sesamanya.  Hal ini sangat bertolak belakang dengan perintah Tuhan yang utama yaitu untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia.

Israel suatu ketika mengalami pengepungan selama jangka waktu yang cukup lama.  Dan semua stok makanan menjadi habis.  Bangsa Israel tidak lagi mempunyai sesuatu untuk dimakan.  Malah kotoran burung pun sampai dimakan.  Ketika itulah terjadi suatu tragedi kemanusiaan yang di luar nalar manusia.  Ada ibu yang tega memasak anaknya sendiri untuk dijadikan makanan.

Mengapa ? Sekali lagi, karena pengabaian akan Allah dan firman-Nya, bukan karena kesulitan! Kesulitan boleh datang, tapi orang yang berharap pada Tuhan akan tetap kuat dan bertindak yang benar.

Di saat situasi sulit melanda hidup kita, jangan tinggalkan Tuhan.  Tetap setia kepada Allah dan lakukan firman-Nya.  Renungkan firman Tuhan setiap hari, dan percayalah dengan sepenuh hati akan setiap kata-kata firman-Nya. Maka kita akan memperoleh kekuatan dari Allah dan pikiran serta hati kita dipenuhi dengan hikmat dan sukacita sorgawi serta dipenuhi dengan KASIH ALLAH.  Sehingga ketika segala situasi sulit sedang menekan, hati kita tetap mengeluarkan kasih, kasih dan kasih kepada sesama, terutama dan yang pertama, ialah keluarga kita.

Bacaan untuk direnungkan:
2 Raja-raja 6:24-33

Isu Migran dan Perspektif Kita

Isu yang begitu kuat mengenai migran di Eropa memecah masyarakat Uni Eropa menjadi tiga kelompok.  Yang pertama adalah yang menolak migran, kedua adalah mereka yang menerima migran dan yang ketiga merupakan kelompok yang abstain terhadap masuknya migran.  Berbagai masalah yang terjadi di Timur Tengah menjadi penyebab memburuknya situasi dan kondisi kehidupan disana sehingga meningkatkan angka migrasi penduduk dari daerah konflik menuju ke negara-negara Eropa.

Menghangatnya isu ini sedikit banyak telah memunculkan suatu keadaan, dimana para pendatang di Eropa, menjadi tidak disukai dan “dipandang sebelah mata” oleh penduduk asli.  Hal ini bahkan dirasakan juga oleh orang-orang Asia yang tinggal disana, termasuk saya.

Terkadang ada perasaan tidak enak, saat beberapa orang memandang diri saya, dari cara memandangnya.  Tapi, entah apakah itu hanya perasaan yang muncul akibat sedang menghangatnya isu migran tersebut.

Namun, hari ini ada kejadian yang sangat membuat hati saya tersentuh, ketika berada di kereta api menuju tempat tinggal. Saat itu, saya duduk berhadapan dengan seorang bayi yang berada di kereta dorong (Stroller).  Seorang bayi dengan matanya yang biru dan rambutnya yang pirang, ditemani oleh ibu dan neneknya.  Bayi itu memandang saya dengan pandangan matanya yang begitu polos dan saya pun menatapnya dengan sebuah senyuman.

Bayi itu tersenyum lebar hingga giginya nampak terlihat. Kebetulan?  Ternyata bukan kebetulan, karena bayi itu berulang kali memandang saya dan tersenyum. Saat itu, saya merasakan sesuatu dalam hati.  Ada suatu kesadaran tentang bagaimana kita memandang orang lain.  Dan inilah yang saya renungkan saat dalam perjalanan itu.

Ketika kita masih bayi dan kanak-kanak, pikiran kita masih begitu polos dan tidak membeda-bedakan orang berdasarkan warna kulit dan segala latar belakang lainnya.  Kita akan dengan mudah menerima orang lain apa adanya, tidak peduli suku apa, kaya atau miskin, jelek atau cantik.  Kita tidak akan bertanya sedikitpun kecuali hanya menerima keberadaan orang lain.

Tapi ketika kita mulai beranjak dewasa, pikiran kita mulai juga membeda-bedakan orang.  Bahkan kita mengkotak-kotakkan orang lain, mana yang kita suka dan tidak suka, berdasarkan suku, agama, ras, bahasa atau status sosialnya.  Kita menjadi pribadi yang berbeda dibandingkan ketika masih kanak-kanak. Kita menjadi cenderung memandang rendah, memandang lebih tinggi, atau memandang sama tingkat terhadap orang lain.

Saya kembali merefleksikan hal ini terhadap diri saya, dan belajar untuk menjadi seperti seorang anak kecil, yang memiliki hati yang tulus dan mau menerima orang lain apa adanya. Seperti Tuhan yang telah menerima kita apa adanya, demikianlah kita juga harusnya menerima orang lain apa adanya mereka, karena kita semua adalah ciptaan Tuhan.

Bacaan Alkitab:
“Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.” ( Yakobus 2:1)

 

Tidak Tampan Dan Tidak Rupawan

crossIa tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia,
dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.
(Yesaya 53:2b)

Nabi Yesaya menubuatkan tentang Kristus yang akan datang, bagaimana ia dalam penampilan fisik dan lebih khusus keadaan penderitaan yang harus dialami oleh Mesias.
Disebutkan demikian bahwa Mesias akan tampil dalam rupa yang tidak diinginkan dan diminati manusia.  Manusia memandang kepada harta dan kemuliaan duniawi.
Para bangsawan dan raja, pengusaha dan orang terkemuka yang kaya, itulah yang dipandang manusia pada umumnya.  Namun, dalam keadaan yang sebaliknya, Yesus Kristus datang ke dunia, dalam rupa seorang hamba.

Semaraknya tidak ada, secara fisik ia tidak dipandang orang, dan tidak diinginkan manusia, namun mari perhatikan apa yang menjadi kunci perkenanan yang ingin Tuhan ajarkan kepada kita, ialah kemuliaan jiwa dan batin kita.

Tuhan memperhatikan apa yang di dalam, yaitu kepribadian, kesalehan, kesetiaan dan ketaatan kita kepada-Nya.  Dan Dia sendiri memberikan teladan yang demikian, bahwa keutamaan dari pribadi seseorang bukanlah terletak pada hal lahiriah namun pada yang batiniah.

Bukan soal kedudukan, harta, harga diri, kekayaan, kecantikan atau kehebatan fisik, namun soal hati. Bagaimanakah hati kita di hadapan Tuhan?

 

Kehendak Allah Atau Kehendak Kita?

Kita tidak boleh memakai istilah Kehendak Allah sebagai dalih untuk menjadi pasif dan tidak bertanggung jawab dalam kaitan dengan panggilan-Nya untuk melawan dosa, kejahatan dan kesuaman rohani.   Kehendak Allah adalah baik dan sempurna, namun seringkali peristiwa buruk atau keadaan yang tidak baik dianggap karena kehendak Allah.  Memang ada hal-hal yang dapat dikatakan diizinkan oleh Allah untuk terjadi, namun sesungguhnya Allah punya rencana dan kehendak yang indah dan sempurna.

Dalam pelayanan hari ini, saya merenungkan sikap hidup orang-orang di penampungan.  Di antara mereka ada orang-orang yang berpendidikan, punya gelar bahkan dulunya berprofesi baik.  Tapi sekarang mereka berada dalam keadaan yang terabaikan secara sosial, oleh karena sikap hidup mereka sendiri.  Diantaranya adalah sikap hidup yang menyukai minum minuman keras.  Mereka yang dulunya hebat sekarang ini nampaknya sangat malas melakukan apa-apa.  Salah satu penyebabnya adalah kecanduan alkohol, padahal alkohol dapat merusak otak, sehingga menyebabkan tidak mampu berpikir dengan baik.

Kita hanya bisa menggelengkan kepala melihat apa yang sedang terjadi di kalangan orang-orang pemabuk ini, sekaligus prihatin dan berdoa buat mereka.  Kehidupan mereka yang indah menjadi rusak karena perbuatan mereka.  Apakah ini kehendak Allah?  Apakah ini seijin Allah?  Dapatkah kita mengatakan demikian?  Tentu tidak.  Kehendak Allah adalah memberikan yang terbaik namun Allah tidak memaksakan kehendak-Nya karena Ia memberikan kehendak bebas kepada setiap manusia.

Kuncinya hanyalah terletak pada respon kita.  Apakah kita mau meresponi kehendak Allah itu dengan baik ataukah kita berjalan secara berlawanan ?  Kita harus berperang dengan segala kehendak dan keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.  Allah mau agar setiap orang percaya memerangi segala perbuatan dosa dan kejahatan  beserta segala kuasa-kuasa dunia ini, dengan mengandalkan Roh Kudus.

Bacaan Alkitab:
“supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.” (1 Petrus 4:2)

“Stanislav”

Stanislav, terdengar seperti itu namanya ketika ia diperkenalkan.   “Stanislav” sudah tua namun masih energik dan penuh semangat.  Ia melakukan tugasnya sebagai seorang pekerja sosial (Social Worker) di sebuah pusat penampungan di Cesky Tesin.  Selain itu, ia juga mengerjakan tugas lain yaitu sebagai motivator, pemain musik dan pembantu pastor dalam sebuah persekutuan kharismatik di kota ini.

Bersamanya, saya makan siang di sebuah rumah makan yang langganannya kebanyakan adalah para pekerja kasar, seperti tukang bangunan dan pengemudi kendaraan berat.  Disini saya mencicipi makanan bernama Gulas yang terdiri dari kari daging sapi dan 5 potong roti beserta sup yang rasanya aneh.

Saat pulang makan, kami terhenti sejenak di sebuah titik dekat rel kereta api dimana disitu ada dua orang yang sedang duduk di sebuah tempat yang dijadikan lokasi istirahat darurat.  Mereka adalah “homeless people” di Eropa Timur, yang setiap hari tidur di Night Shelter atau tempat penampungan di malam hari.   Setelah itu, kami kembali ke tempat penampungan.

Ada perbedaan antara homeless people di Eropa dan Indonesia.  Suatu sistem layanan sosial disini memberikan mereka tunjangan sosial bulanan yang jumlahnya cukup untuk membeli keperluan makanan sehari-hari.  Namun demikian, Indonesia juga tidak kalah hebat, contohnya Jakarta juga punya program yang memberikan fasilitas rumah susun sewa kepada kalangan yang belum punya rumah.

Ada beberapa hal yang saya renungkan hari ini yaitu:
1.  Setiap orang harus mengambil peran sebagai penyeimbang di dalam lingkungan sosial melalui pekerjaan, pelayanan ataupun uluran tangan untuk membantu sesama  sesuai kebutuhan mereka.
2.  Tuhan bekerja di seluruh dunia sesuai dengan rencana-Nya yang indah.  Bukan hanya di Indonesia ada kegerakan kebangunan rohani, namun dimana-mana Tuhan juga bekerja dengan kuasa-Nya dalam pribadi-pribadi yang mencari Dia.
3. Kita harus memperlakukan orang lain sebagai manusia yang seutuhnya yaitu dengan penuh rasa hormat dan penghargaan akan keberadaan dan dirinya, walaupun orang itu nampak miskin dan kotor serta tidak layak.

Kembali ke awal cerita, sebenarnya apa itu stanislav?  Stanislav mengandung arti kemuliaan perkemahan.  Sebuah nama yang bagus, dan di dalamnya mengandung makna mengenai menjadi alat kemuliaan Tuhan. Stanislav benar-benar telah menjadi pribadi yang membawa kemuliaan Tuhan di tempat penampungan itu.  Demikianlah kita juga harus dapat menjadi kemah kemuliaan-Nya.  Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” (Galatia 5:14)
“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” (1 Petrus 4:10)

 

Minggu Yang “Beristirahat”

polandiaHari Minggu lalu, saya menyempatkan diri pergi ke daerah perbatasan menuju ke area Polandia, di sebuah kota kecil bernama Cyiezin, berseberangan dengan kota Cesky Tesin pada bagian Republik Ceko.  Kotanya nampak indah dan bangunan-bangunan bersejarahnya begitu bagus terpelihara sampai sekarang.  Taman dan lapangan atau mungkin kalau bisa disebut alun-alunnya begitu luar biasa nampaknya.

Namun, ada satu hal yang juga nampak begitu menarik yaitu banyak sekali toko dan layanan yang tutup pada hari Minggu. Seorang teman dari Hungaria mengatakan bahwa di negaranya ada suatu aturan yang melarang toko dan kantor buka pada sabtu dan minggu.  Dan ada sanksi bagi yang melanggar, kecuali untuk beberapa jenis layanan publik.

Melihat itu semua dan mendengar cerita teman, saya merenungkan betapa taatnya mereka terhadap aturan tersebut walaupun mereka sebagian besar bukanlah orang yang beriman pada Kristus. Namun mereka melakukan hal itu sebagai suatu bentuk ketaatan, dengan tidak mempedulikan keuntungan pribadi.

Firman Tuhan berbicara soal lamanya bekerja bagi kita.  Tertulis perintah-Nya agar enam hari lamanya kita bekerja dan pada hari yang ketujuh harus beristirahat.  Ini merupakan suatu aturan yang harus ditaati dan menjadi prinsip bagi kita. Bila Tuhan menyuruh beristirahat satu hari, maka haruslah kita taati dengan sungguh-sungguh karena ada maksud Tuhan yang indah dan baik di dalam setiap perintah-Nya.  Mari lepaskanlah satu hari yang biasanya kita pakai untuk bekerja atau bisnis dan memulai suatu gaya hidup baru yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Bacaan Imamat 23:3

“Anjing” Yang Tak Mau Pergi

anjingBeberapa hari ini, saya tidak sempat menulis apalagi mengupload renungan, namun disitulah saya yakin merupakan kesempatan untuk kita semua membuat suatu perenungan secara pribadi dan mengenali identitas diri kita di hadapan Tuhan.  Bagaimanakah saya selama ini ? Apakah saya sudah hidup benar di hadapan-Nya? Apakah tujuan hidup saya? Dan berbagai perenungan lainnya.

Dalam hidup kita yang kita jalani di dunia ini, kita mempunyai suatu tanggung jawab pelayanan.  Ada dua macam pelayanan yang harus kita lakukan yaitu:
1. Pelayanan kepada Allah
2. Pelayanan kepada sesama.
Dua macam pelayanan ini dinyatakan secara jelas dalam perkataan  Tuhan Yesus tentang kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama.  Kasih berhubungan erat dengan pelayanan.  Kasih tanpa pelayanan bukanlah kasih, dan pelayanan yang tidak didasarkan kasih bukanlah sebuah pelayanan.

Berperan sebagai pelayan haruslah menjadi seperti orang yang berdiri di tengah-tengah yang berfungsi sebagai jembatan.  Peranannya dalam posisi tersebut adalah menjadi pendoa bagi orang-orang yang membutuhkan dan pendoa yang berdiri di atas kehendak Allah.

Markus pasal 15:27 tertulis demikian: “Kata perempuan itu: “Benar, Tuhan.  Namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”   Jawaban ini keluar dari mulut seorang ibu yang sedang berjuang untuk memohon kesembuhan dari Tuhan Yesus bagi anaknya yang sakit keras.   Pernyataan ibu ini merupakan pernyataan iman yang keluar dari dalam hatinya yang sangat dalam.  Jawaban Tuhan Yesus kepada ibu tersebut dalam ayat ini merupakan suatu  ujian iman yang nampaknya seolah Tuhan menolak untuk menyembuhkan, padahal sebenarnya Tuhan Yesus sedang menguji dan menguatkan hati ibu ini.

Setelah melihat kegigihan ibu tersebut, Tuhan Yesus mengatakan : “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.”

Ada beberapa hal yang dapat kita renungkan dalam kisah ini sehubungan dengan bagaimana menjadi seorang pelayan Tuhan dan sesama:

1. Seorang pelayan Tuhan harus memiliki belas kasihan kepada sesamanya
Dalam peristiwa dalam ayat tersebut, ibu ini begitu berbelas kasihan kepada anaknya.  Dan kasih yang seperti ini haruslah menjadi motivasi kita dalam melayani sesama.
2. Seorang pelayan Tuhan harus memiliki persekutuan erat dengan Tuhan
Apa yang dilakukan ibu ini menggambarkan bagaimana seharusnya seorang pelayan Tuhan memposisikan dirinya dalam sebuah persekutuan yang erat dengan Tuhan.  Ia berbicara selayaknya seorang hamba yang rendah hati dan begitu mengandalkan Tuhan serta percaya penuh kepada-Nya.
3.  Seorang pelayan Tuhan harus gigih dalam berdoa
Ketekunan dan kegigihan ibu ini menjadi teladan yang benar tentang peran seorang pelayan Tuhan dalam mendoakan sesamanya melalui doa syafaat yang benar-benar dilakukan dari hati yaitu penuh kesungguhan dan ketekunan.
4.  Seorang pelayan Tuhan harus merendahkan dirinya senantiasa
Walaupun diumpamakan seperti seekor “anjing”, ibu ini tidak merasa bahwa harga dirinya diinjak-injak.  Namun, ia dengan rendah hati merefleksikan dirinya seperti seekor anjing itu dan mendapatkan suatu perkataan yang mengagumkan yakni bahwa “anjing itu makan dari remah-remah yang jatuh dari meja tuannya”.   Ini tidak akan terjadi bila sang ibu tidak memiliki kerendahan hati.  Di segala situasi sulit, apapun itu, kita harus selalu rendah hati dan mengesampingkan segala ego dan rasa harga diri kita.

Marilah kita menjadi seorang pelayan Tuhan yang setia dan tekun berdoa, memiliki persekutuan dengan Tuhan dan berbelas kasihan serta rendah hati. Amin.

Terpenjara Karena Kristus

Efesus 3 ayat 1 tertulis demikian:
“Itulah sebabnya aku ini, Paulus, orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu orang-orang yang tidak mengenal Allah.”

Paulus adalah seorang rasul yang terpenjara karena Kristus Yesus demi pemberitaan Injil agar orang-orang yang tidak mengenal Allah dapat mengenal-Nya dan memperoleh kasih karunia keselamatan di dalam Kristus melalui iman kepada-Nya.

Ayat ini memberikan suatu makna tentang pengorbanan dan kerelaan untuk menderita bagi Kristus Yesus.  Setiap murid Tuhan yang sejati akan memiliki kerelaan untuk menderita karena kerinduan dan belas kasihan kepada jiwa-jiwa yang belum mengenal Allah.

Kerelaan dan kesediaan untuk mengorbankan diri tercermin dalam sikap hidup rasul Paulus yang dalam segala aspek hidupnya benar-benar memberikan diri bagi pekerjaan Kerajaan Allah.  Seorang pelayan Tuhan tidaklah boleh termotivasi untuk mencari keuntungan dalam mengerjakan panggilan Allah.  Inilah yang dapat kita teladani dari rasul Paulus, bukannya mendapat keuntungan materi namun ia mengorbankan segala-galanya bagi Tuhan.

Apakah motivasi kita mengikut dan melayani Tuhan? Hal ini perlu kita renungkan senantiasa.  Apa yang telah mendorong kita untuk melayani Dia? Apa yang membuat kita bertahan dalam kesetiaan kepada-Nya?
Apakah harta, kedudukan dan kehormatan duniawi?  Ataukah sungguh-sungguh hanya iman dan kasih kepada Allah?

Hari ini kita belajar satu hal untuk kita lakukan dalam kehidupan ini yaitu kerelaan untuk mengorbankan diri dan menderita bagi Kristus demi pekabaran Injil keselamatan. Amin.

Tujuan Keberadaan Manusia

Apakah yang menjadi maksud dan tujuan keberadaan kita di dunia ini?
Tentu pertanyaan ini bisa muncul dalam pikiran kita dan memang merupakan satu pertanyaan krusial yang harus ditemukan jawabannya agar kita memiliki suatu tujuan yang benar dan pasti dalam hidup ini.  Sebab kegagalan untuk memahami tujuan hidup akan membawa kita kepada kegagalan.

Tujuan hidup kita ditentukan dan ditetapkan oleh Allah.  Ada gambaran besar dan kecil akan setiap tujuan itu, maksudnya adalah bahwa ada tujuan jangka panjang dan ada tujuan jangka pendek yang ditetapkan Tuhan.  Sebagai contoh, Tuhan memanggil Abraham untuk keluar dari tempat tinggalnya dan pergi ke suatu negeri yang asing baginya.  Tujuan jangka panjang bagi Abraham adalah agar ia menjadi berkat bagi segala bangsa, menjadi bapa segala bangsa dan bapa orang beriman.   Namun, dalam prosesnya ada tujuan jangka pendek yang juga ditetapkan bagi Abraham agar ia capai, seperti mempunyai anak kandung dari istrinya Sara.  Proses-proses ini dapat membuat kita gagal apabila kita tidak memahami gambaran besar dari tujuan Tuhan bagi kita.

Saya menyadari bahwa mungkin bagi sebagian orang akan terasa sulit untuk mencari tahu apa tujuan hidupnya.  Memang hal itu sulit dan pencarian-pencarian akan tujuan hidup ini akan menyebabkan kita pada akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan bahwa tidak ada tujuan hidup lain yang harus kita capai selain memuliakan nama Tuhan.

Tuhan sudah menetapkan suatu gambaran besar dari seluruh tujuan keberadaan kita yaitu agar Nama-Nya dipermuliakan.  Dipermuliakan dengan cara bagaimana? Ialah dengan cara menjalani hidup ini dengan mentaati kehendak-Nya, memberikan kesaksian akan nama-Nya dan segala perbuatan-Nya yang ajaib, dan memberkati orang lain melalui apa yang Tuhan percayakan kepada kita, apakah itu memotivasi, menguatkan, mendorong, mengajar, memberi, menolong, dan sebagainya sesuai karunia-karunia yang Tuhan berikan.

Saat ini, saya berada di Praha, Republik Ceko, suatu tempat yang jauh dari kampung halaman di Indonesia.  Keberadaan saya disini tentu menjadi suatu perenungan bagi saya secara pribadi tentang tujuan Tuhan yang ia tetapkan dalam hidup saya.  Dan saya menyadari bahwa semuanya ini terjadi untuk mempermuliakan nama Tuhan Yesus Kristus di tempat saya berada.

Teringat saya akan satu ayat yang selama ini terus terngiang dalam hati, sebuah ayat yang ditunjukkan oleh seorang abang PA sewaktu  di kampus dulu.  Ayat yang ketika ia bacakan, sangat menyentuh hati saya ketika itu dan hingga saat ini ayat itu masih terus menjadi suatu firman yang memberikan kesan kuat akan tujuan Tuhan bagi saya secara pribadi.  Ayat itu terdapat di dalam Yesaya 49:6 yang berkata: “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.”

Saya memahami ayat ini sebagai suatu panggilan sorgawi dari Tuhan agar saya menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari Tuhan Yesus sampai ke ujung bumi.  Makna ujung bumi itu sesungguhnya adalah keseluruhan bumi ini mendengar berita keselamatan itu.  Mungkin terdengar begitu bombastis, tapi memang begitulah Tuhan Allah kita, demikianlah sabda firman-NYa.  Dan tentu ayat ini juga tidak hanya berbicara untuk saya, melainkan untuk kita semua, karena kita ini adalah umat pilihan-Nya, umat yang telah ditebus oleh-Nya, dan kita adalah pelita-pelita yang menyala untuk menerangi dunia ini, agar keselamatan yang dari pada Tuhan sampai kepada semua orang.

Jadi, apa tujuan hidup kita?  Mempermuliakan nama Tuhan Yesus Kristus agar nama-Nya, kuasa-Nya, kasih-Nya, dan Anugerah keselamatan yang daripada-Nya sampai ke ujung bumi. Amin.